
Leon membawa ketiga keponakannya ke taman bermain, sekaligus tebar pesona pada gadis cantik yang lewat. Dia begitu tampan dengan pakaian kasual dari merk terkenal, kemewahan begitu melekat pada dirinya.
"Apa kita akan terus menghabiskan waktu berdiam diri sambil memperhatikan Paman?" keluh Abi yang menghela nafas, karena merasa bosan menunggu pria dewasa bersiap-siap.
"Mama selalu merapikan lipstiknya, sementara Paman selalu saja merapikan baju yang bahkan tidak kusut sama sekali." Sambung Adit.
"Huh, Flo mau es krim." Seru gadis kecil yang tidak memperdulikan apapun selain makanan.
Leon menundukkan kepala menatap ketiga keponakannya, namun fokusnya tertuju kepada Flo, gadis kecil dan juga gembul. "Tuan putriku mau es krim ya?" bujuknya yang berjongkok, menyamakan tinggi dan bisa melihat wajah dari ketiga keponakan kecilnya itu.
"Apa ini? Paman begitu peduli dengan sahutan Flo, dan saat kita mengeluh juga tidak di dengar," bisik Adit pada kakaknya.
"Paman selalu saja pilih kasih dan lebih memilih wanita dibandingkan kita sebagai pria," balas Abi yang juga berbisik.
"Kalian membicarakan aku?" celetuk Leon yang tertawa di dalam hatinya, karena kedua keponakan laki-laki tampak menggemaskan.
"Mau bagaimana lagi? Paman hanya peduli pada wanita saja, bagaimana dengan kami yang membutuhkan keadilan." Seru Adit.
"Yap, seadil-adilnya. Kami ini kembar, lakukan dengan adil, Paman." Sambung Abi.
"Kalian tampak menggemaskan jika sedang kesal, maafkan Paman. Ayo, kita beli ek krim. Di sana ada yang menjualnya," bujuk Leon yang menunjuk pedagang es krim keliling yang tak jauh dari mereka.
Seketika ketiga pasang mata itu berbinar cerah, saat melihat gerobak es krim yang membuat mereka tergiur dan hampir meneteskan air liur. "Ayo," ucap Flo dan twins A serempak.
Leon membawa ketiga keponakannya untuk membeli es krim, hendak memborong nya. "Aku ingin semuanya!" ucapnya yang mengeluarkan beberapa helai uang berwarna merah, dan menyerahkan kepada pedagang es krim.
__ADS_1
"Hei, kau tidak bisa memborong semuanya." Ucap seseorang yang menghentikan pembayarannya.
"Aku tidak peduli!" jawab Leon yang membayar es krim dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Hei, apa kau tuli!" pekik seorang wanita yang menghampiri Leon.
Leon menghentikan langkah kakinya, menyerahkan beberapa kantong plastik kepada ketiga keponakannya itu. "Makan es krim ini sebelum mencair, cari tempat teduh. Jika tidak ingin, kalian bisa membagi nya atau membuangnya ke tempat sampah." Tuturnya yang memberikan nasehat sesat.
"Baik, Paman." Sahut ketiganya dengan kompak.
Leon segera berbalik dan melihat seorang wanita yang tak begitu asing baginya. "Oho, jadi kau disini dan melakukan makan gaji buta?" ucapnya seakan menangkap basah sang penjahat.
"Tu-Tuan Leon?" lirihnya pelan yang masih terdengar di telinganya, dia begitu terkejut saat menemukan sang atasan berada di taman yang sama dengannya, dan bahkan dia menggali lubang kuburannya sendiri saat menantang pria itu. "Tamatlah riwayatmu, Aluna." Batinnya yang diam tak berkutik.
"Ya, ini aku. Mengapa kau tidak masuk ke kantor, hah? Apa kau di bayar hanya untuk ongkang kaki saja?" kesal Leon yang mencengkram tangan dari sekretarisnya itu.
"Mengapa kau tidak masuk kantor hari ini?" tanya Leon dengan tatapan tajam, entah mengapa dia tidak menyukai wanita yang sangat ceroboh seperti sekretarisnya itu.
"Apa Tuan sekarang jatuh cinta padaku dan menanyakan hal ini?" jawab Aluna seraya mengedipkan sebelah matanya menggoda sang atasan menggunakan ucapan manisnya, dia begitu penuh percaya diri dengan wajahnya.
"Melihat wajahmu saja membuat aku merasa mual," cetus Leon dingin. Aluna begitu terpojokkan sekarang, hingga dia berusaha untuk mencari jalan keluar agar terbebas dari cengkraman sang atasan yang begitu arogan kepadanya dan selalu menyulitkan dirinya.
Aluna berpikir keras saat, hingga dia menemukan sebuah ide yang pasti akan berhasil. "Kemana perginya si kembar?" ucapnya berpura-pura celingukan. Hal itu menarik perhatian Leon yang segera berbalik, mengecek keadaan ketiga keponakannya yang masih menghabiskan es krim mereka.
Aluna dengan terpaksa menggigit tangan Leon untuk terlepas dari pria itu, segera kabur tanpa berbalik ke belakang. Sementara sang korban meringis kesakitan, terdapat bekas gigitan dari wanita yang sudah berlari menjauh.
__ADS_1
"Dia seperti drakula," gumamnya seraya berjalan menuju keponakannya.
****
Ayu begitu jenuh berada di dalam Mansion, Dia memutuskan untuk pergi ke butik yang tak jauh dari kediaman Hendrawan. Dia sangat merindukan untuk mendesain beberapa gaun yang sudah lama ditinggalkan, akibat mengasuh ketiga anaknya dan tidak ingin menitipkan kepada pengasuh. Begitu banyak waktu luang hingga dia berniat untuk pergi ke kantor sang suami setelahnya, menyiapkan beberapa makanan kesukaan Farhan menjadi salah satu aktivitasnya yang biasa dia lakukan.
Kini dia telah bersiap-siap untuk menuju butik dan membawa mobil sendiri setelah berpamitan kepada kakek Hendrawan dan juga kakek Tirta yang sedang bermain catur.
Di sepanjang perjalanan, dia menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya, menyalakan musik klasik yang selalu dia dengarkan membuat pikirannya merasa tenang. "Aku sangat merindukan anak-anakku, padahal mereka baru saja pergi," gumamnya yang menghela nafas, tidak bisa pergi jauh di sisi ketiga anak kembarnya.
Tak butuh waktu lama untuknya sampai ke butik, disambut oleh beberapa karyawan dan juga staf. Buah kesabaran nya berbuah manis, semua orang mulai menghormatinya, saat identitasnya terbongkar sebelum pernikahan. Dengan ramah dia juga tersenyum, melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan yang sangat dia rindukan itu. Sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, namun cukup nyaman dengan nuasa hijau yang menyegarkan matanya.
Baru saja dia duduk di kursi kebanggaannya, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dan dia segera mempersilahkan salah satu karyawannya. "Ada perlu apa?" tanya Ayu yang menatap karyawannya yang tengah menunjukkan kepala.
"Ada yang ingin bertemu dengan Nona," ucapnya yang sedikit gemetaran mengingat ancaman dari Farhan yang tidaklah main-main.
"Kenapa kau begitu gugup, persilakan orang itu untuk masuk!" Ayu sangat tahu jika karyawannya itu telah diancam oleh Farhan, berusaha agar wanita malam itu tidak ketakutan.
"Baik, Nona. Saya akan mempersembahkan mereka untuk masuk."
Ayu menunggu-nunggu dan menerka siapa yang datang menghampirinya, seorang tamu yang belum disebutkan namanya itu. "Siapa tamuku itu?" gumamnya seraya berpikir keras.
Pandangan matanya tertuju di ambang pintu, terlihat seorang pria yang masuk ke dalam ruangannya, kedua matanya membulat karena sudah lama tidak melihat keberadaan dari Gabriel.
"Bagaimana kabarmu?" ucap Gabriel yang tersenyum.
__ADS_1
"Aku baik, mengapa kau tiba-tiba datang ke sini, apa yang membuatmu menghampiriku?" tanya Ayu begitu penasaran.