Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 55 ~ Tindakan Gabriel


__ADS_3

Setelah memperkenalkan diri, dengan cepat Ayu menarik tangan Farhan untuk menjauhi Gabriel. "Ada apa denganmu?" Tanya Farhan kebingungan. 


"Aku sangat lapar dan tidak bisa menunggu lebih lama lagi," jawab Ayu agar bisa melewati suasana yang menurutnya sangat menegangkan. 


"Hah, baiklah."


Sementara Gabriel menatap punggung mereka yang mulai menjauh, mata yang sendu saat melihat wanita yang dia cintai berusaha untuk menghindar. "Dia mengatakan sibuk, ternyata ini alasannya. Heh, dia pura-pura tidak mengenalku dan berusaha menghindar." Gumam Gabriel yang merasa kecewa. 


Farhan membawa Ayu untuk memasuki ruang VIP, mereka duduk di kursi yang telah tersedia. "Siapa pria tadi?" Tanya Ayu sembari menatap bosnya dengan antusias. 


"Gabriel adalah tetangga sekaligus sahabatku," Sahut Farhan. 


"Apa kau mengenal dengan baik? Maksudku apakah sahabatmu itu menceritakan segalanya kepadamu?" Tukas Ayu. 


"Dia memang dekat denganku, bukan berarti aku mengetahui semua tentangnya. Tapi, kenapa kau menanyakannya?" Farhan menatap manik mata Ayu dalam. 


Ayu tersenyum kikuk, dia bertanya tentang Gabriel untuk memastikan identitasnya tersembunyi dengan baik dan tidak diketahui oleh orang lain, tapi pertanyaannya malah menimbulkan kecurigaan dari Farhan. 


"Aku hanya penasaran saja." Ujar Ayu dengan santai supaya tidak menimbulkan kecurigaan. 


Kemudian keduanya mulai melihat-lihat menu, Ayu tidak berniat karena pikirannya selalu tertuju kepada Gabriel. "Aku merasa bersalah kepada Gabriel, apa yang harus aku lakukan?" Batin Ayu. 


"Kau mau makan apa?" Tanya Farhan dengan semangat memperlihatkan menu makanan. 


"Terserah kau saja." Ayu tak bersemangat dengan itu, menopang dagunya dengan sebelah tangan. 


"Baiklah." Farhan memesan banyak hidangan yang disukai oleh wanita yang ada di hadapannya, mengetahui semua kesukaan Ayu dari informasi yang didapatkan dari asisten Heri. Farhan yang selesai memesan semua menu, tak lama hidangan makanan sudah tersedia di atas meja makan. Dia memesan semua masakan pedas karena Ayu sangat menyukainya, padahal dia sendiri tidak menyukai masakan pedas, demi wanita yang menjadi calon tunangan. 


"Semoga saja Gabriel tidak membocorkan identitasku yang sebenarnya, hari ini aku sangat sial!" Gumam Ayu didalam hati, dia selalu memikirkan Gabriel. Takut jika Gabriel membocorkan jati dirinya, bahwa dia adalah bos di belakang layar perusahaan milik Gabriel. 


"Apa yang kau lamunkan?" Farhan menautkan kedua alisnya menatap wajah Ayu yang sedari tadi terbengong. 

__ADS_1


"Eh, tidak."


"Ayo makanlah! Bukankah tadi kau mengatakan lapar?" 


Ayu menyuapi mulutnya dengan makanan yang ada di atas piring, menikmatinya sambil tersenyum ke arah Farhan. 


"Bagaimana? Apa kau menyukainya?" Seloroh Farhan. 


"Iya, aku sangat menyukainya. Tapi, darimana kau tahu jika semua makanan ini kesukaanku?" Ayu tidak berselera makan, tapi melihat wajah Farhan membuatnya makan makanan itu. 


"Apa kau meragukan aku?" Ucap Farhan bangga. "Tapi aku belum menemukan identitas mu yang sebenarnya," batin Farhan. 


"Kau sangat percaya diri." Cetus Ayu yang berdiri dan menyentak kursinya membuat Farhan tersentak kaget. 


"Kau kenapa?" Ucap Farhan bingung. 


"Aku harus ke toilet, aku akan kembali!" Ayu yang merasa sedikit sakit perut, melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, Farhan tersenyum saat melihat kepergian dari wanita itu. 


"Akhirnya lega," gumam Ayu seraya mencuci tangannya di wastafel. Setelah merasa cukup, Ayu keluar dari kamar mandi, betapa terkejutnya dia saat melihat seorang pria tampan yang berdiri di depan pintu kamar mandi. 


"Hai, aku Gabriel." Celetuk Gabriel yang mengulurkan tangannya seraya tersenyum masam. 


"A-apa yang kau lakukan di sini?" Ayu sangat gugup dengan pria yang ada di hadapannya, apalagi mengulurkan tangan hanya untuk menyindirnya. 


"Apa kau terkejut? Aku juga." Gabriel menatap Ayu dengan tajam dan menyeret wanita itu dan mengurung Ayu menggunakan kedua tangan kekarnya. Posisi yang berdekatan membuat Ayu menelan saliva, dia bisa melihat bagaimana pria itu seakan ingin menguliti nya. 


"Tolong lepaskan aku," cetus Ayu datar. 


"Kenapa kau menghindariku?" Gabriel menatap manik mata Ayu yang berada dalam cengkraman nya. "Aku bahkan mengirimkan banyak email, tapi kau tidak menjawabnya?" Serentetan pertanyaan dari Gabriel membuat Ayu bingung untuk menjawabnya. 


"Itu karena aku sangat sibuk, kau bahkan tahu bagaimana aku 'kan, ku harap kau mengerti!" Jawab Ayu dengan asal, karena dia tidak ingin memberikan harapan palsu kepada Gabriel yang menyukainya. Ayu menganggap Gabriel hanyalah sebatas teman, tidak lebih dari itu. Tapi, Gabriel selalu menyatakan perasaannya kepada Ayu tapi selalu saja ditolak tak membuat pria itu putus asa. 

__ADS_1


"Itu bukanlah jawabannya, kenapa kau menghindari ku?" Desak Gabriel. 


"Lepaskan aku!" Ayu tak menjawab, dia berusaha untuk terlepas dari pria itu. 


Gabriel menyukai Ayu saat wanita itu pernah membantunya dan keluarga untuk keluar dari keterpurukan dua tahun lalu, dengan berinvestasi dalam mendirikan perusahaan miliknya. Kemurahan hati Ayu dalam membantu nya menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya. Banyak kenalan dan bahkan kekasihnya pergi meninggalkannya disaat dia mengalami krisis ekonomi, tapi Ayu datang bak pahlawan dengan menolong perusahaan nya. Di hatinya hanya tertera nama Ayu, sang wanita penolong. 


"Aku tidak akan melepaskanmu, sebelum kau mengatakan sebenarnya." Gabriel mengunci pergerakan Ayu. 


"Mengatakan apa? Saat itu aku sibuk dan tidak sempat membalas email darimu." Cetus Ayu yang kesal dengan pria itu. 


"Anggap saja begitu, tapi apa ini? Aku sangat terkejut dengan ucapan Farhan yang mengatakan jika kau adalah tunangannya." Gabriel mengepalkan tangannya dengan erat seraya memukul tembok di belakang Ayu. Pernyataan dari sang sahabat membuatnya sakit hati, cemburu, dan marah menjadi satu.


Ayu menutup kedua matanya saat Gabriel memukul tembok di belakangnya, dia sangat tahu jika pria itu sedang emosi. Dia tidak tahu harus bagaimana, hanya terdiam dan menerima keadaannya. 


"Jangan berharap lebih pada ku?!" Jawab Ayu yang tak ingin memberikan pria itu kesempatan. 


"Apa kurangnya aku? Aku sangat mencintaimu dan akan tetap begitu," keukeuh Gabriel dengan nanar. 


"Jangan katakan itu lagi, sudah berapa kali aku katakan padamu, kita tidak cocok!" Tolak Ayu mentah-mentah, tapi tak di hiraukan oleh Gabriel. 


"Cinta datang saat kebersamaan dari dua orang, berikan aku kesempatan untuk membuktikannya." 


"Tidak, itu tidak akan berhasil." Jawab Ayu secara tidak langsung menolak Gabriel dan tidak akan jatuh cinta kepadanya. Seketika Gabriel kembali kecewa saat mendengar penuturan dari wanita cantik itu. 


"Kenapa? Kenapa kita tidak mencobanya saja." Usul Gabriel pantang menyerah.


"Hah, pria ini sangat berambisi untuk memiliki aku." Batin Ayu yang mendengus kesal. 


"Karena aku hanya menganggapmu sebagai teman."


"Kenapa kau menerima pertunangan itu?" Tukas Gabriel menatap Ayu dengan sendu. 

__ADS_1


Ayu tidak menjawab, memanfaatkan keadaan saat dia menemukan sebuah celah, dengan cepat mengambil situasi itu untuk keluar dari cengkraman Gabriel.


Sementara Farhan melirik jam di tangannya, menunggu kedatangan Ayu tak kunjung tiba membuatnya bergegas pergi mencari keberadaan Ayu yang ada di toilet. Langkahnya terhenti saat melihat Gabriel dan Ayu terlihat sangat dekat, apalagi posisi mereka membuatnya kecewa.


__ADS_2