Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 82 ~ Pembelaan Farhan


__ADS_3

Farhan kebingungan karena tidak menemukan Ayu, suara nada dering ponsel menghentikan langkahnya. Mengeluarkan ponsel di saku dan melihat nomor yang tertera di benda pipih itu yang tak lain adalah tim penyelidik sekaligus orang yang memberikannya kabar Ayu saat dia hampir terjebak oleh Vanya. 


"Hem."


"Apa tuan sudah sampai di kantor polisi?"


"Ya, aku mencari Ayu. Dimana dia?"


"Nona Ayu dan nona Laras sedang membuat catatan mengenai kasus percobaan pembunuhan mantan ketua sekretaris."


"Laras?"


"Itu benar, nona Laras lah yang melaporkan nona Ayu dengan tuduhan itu."


"Sial! Aku akan kesana." Segera Farhan menutup telepon, mencari ke ruang tempat Sepupu dan Ayu berada. 


Sedangkan Vanya terdiam saat mengorek informasi yang diberikan oleh Laras mengenai gagalnya rencana akibat mantan ketua sekretaris masih hidup, jauh di lubuk hatinya yang sangat marah dengan Maudi yang tidak bisa memanfaatkan situasi. "Sial, wanita miskin itu tidak bisa diandalkan. Semua rencanaku gagal." Batin Vanya yang menjerit kesal, rencana yang disusun rapi dengan sedemikian hancur saat mendengar kabar Maudi tak berhasil membunuh target. 


Salah satu polisi menghampiri Farhan, menyapanya dengan sangat sopan mengingat pria di hadapannya sangat berpengaruh di kota itu. "Antarkan aku di ruang pengakuan!" titah Farhan dingin. 


"Mari, saya antarkan!" 


Farhan mengikuti polisi itu, hingga sampai di ruang pengakuan. Terlihat Ayu dan Laras yang sedang menyorotnya, kedua wanita itu juga tersenyum saat kedatangan nya. Dia berjalan mendekati Ayu, melihat kondisi yang menurutnya buruk. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya sambil memegang kedua tangan wanita yang membuatnya sangat cemas. 


Dengan cepat Ayu mengangguk, mengurangi rasa cemas yang terlihat dengan jelas. Jangan tanya bagaimana ekspresi Laras saat itu, melihat kedekatan mereka. 


"Kakak? Akhirnya kau datang juga!" tutur Laras yang juga menginginkan perhatian.


"Hem," balas Farhan dengan deheman tanpa meliriknya sama sekali. "Ck, bahkan untuk menoleh ke arahku enggan. Semua ini karena keberadaan wanita kampung itu sangatlah licik," batin Laras. 


"Kau di sini?" Ayu mengerutkan keningnya. 


"Tentu saja, aku datang setelah mendapat telepon, mencarimu hingga ke sini." Jawab Farhan sangat gemas melihat wanita yang ada di hadapannya, menyentil kening membuat sang empunya mengerucutkan bibirnya.


 "Ini kening bukan samsak," ketus Ayu mengusap keningnya yang selalu jadi sasaran dari kegeraman bosnya. 


"Samsak untuk dipukul, bukan di sentil!" ujar Farhan yang membenarkan perkataan. 

__ADS_1


"Aku meng__"


"Hai, Ayu." Sela Vanya yang memotong perkataan Ayu, tersenyum seraya melambaikan tangan. 


Ayu mengalihkan perhatiannya ke asal suara, kembali melirik Farhan secara bergantian. "Kau pergi bersamanya?" tanyanya yang sangat penasaran, meyakinkan hati mendengar kebenaran. 


"Itu benar, kami pergi bersama!" sahut Vanya yang memanasinya, seketika tatapan Ayu mulai meredup. Dia tidak menyukai hal itu, apalagi mengingat Vanya yang mengangkat telepon milik Farhan saat dia menanyai keberadaan dari pria itu. 


"Apa yang aku pikirkan? Aku sangat cemburu dengan Farhan yang menghabiskan malam bersama dengan Vanya, hah!" batin Ayu yang tidak bersemangat. 


"Bagus, sepertinya perkataanku berhasil mempengaruhinya!" batin Vanya tersenyum samar. 


Ayu menjauh dari bos sekaligus calon tunangannya, hatinya sakit dengan rasa cemburu. Sementara Farhan melihat raut wajah sekretarisnya berubah dengan cepat, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. "Kenapa kau mundur seperti menghindariku?" tanyanya. 


"Bukan apa-apa, seharusnya kita tidak terlalu dekat."


"Ada apa dengannya? Apa dia marah sebab aku tidak menepati janji?" batin Farhan dengan praduga yang ada, dengan cepat dia menarik tangan Ayu menjauhi semua orang. 


"Apa kau marah karena aku tidak menepati janji?" tanya Farhan yang menatap wanita di hadapannya dengan penuh cinta, berusaha untuk menjelaskan alasannya tidak datang. 


"Tidak, aku hanya merasa lelah saja." Jawab Ayu yang tak ingin mengatakannya. 


"Hem." Pikirannya selalu tertuju kepada Farhan dan mengira telah menghabiskan malam bersama dengan Vanya. 


Laras menghampiri Vanya. "Apa yang sebenarnya terjadi?" bisiknya di mencondongkan tubuhnya ke arah wanita di sebelahnya. Bukannya menjawab, Vanya tersenyum semakin membuat Laras penasaran. 


"Maaf, Tuan. Kami ingin melanjutkan penyelidikan ini!" celetuk salah satu polisi. 


"Terserah kalian berbuat apa, tapi Ayu adalah tunanganku. Kalian mengatakan seakan dia tersangka," ucap Farhan yang menatap beberapa polisi itu dengan tajam, mereka menelan saliva dengan susah payah, seakan tersangkut di tenggorokannya. 


"Ta-tapi ka-kami hanya menjalankan tugas saja, Tuan." Ucap salah satu polisi yang gugup. Farhan hanya menatap tajam polisi itu seraya menyeret tangan Ayu dengan lembut, ingin membawa untuk keluar dari tempat itu. 


Para polisi dan ketua polisi tidak ada yang berani menyinggungnya ataupun mengejek perkataan Farhan, orang yang sangat berpengaruh di kota itu, atau mereka bisa kehilangan pekerjaan. 


"Biarkan polisi menjalankan tugasnya, Kak. Wanita itu mencoba untuk membunuh mantan ketua sekretaris," celetuk Laras yang menunjuk Ayu seraya menatap dengan sinis membuat Farhan menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. 


"Sebaiknya Kakak menjauhi wanita licik itu, dia seorang pembunuh," sambung Laras, sedangkan Vanya melihat bagaimana sepupu dari Farhan bertindak. 

__ADS_1


"Aku bukan pembunuh, tapi Maudi lah yang ingin membunuhku." Bantah Ayu yang meninggikan suara. 


Farhan melepaskan genggaman tangan Ayu, mendekati Laras dengan raut wajah dingin dan aura yang menusuk. "Seribu kali pun kau mengatakan dia pembunuh, tapi aku tetap mempercayainya!" 


Hati Ayu seakan berbunga-bunga saat mendengar pembelaan Farhan kepadanya. "Dia mempercayaiku!" gumamnya tersenyum. Tanpa menunda waktu, Farhan kembali membawa Ayu pergi tanpa menoleh sedikitpun. 


Asisten Heri menunggu kedatangan tuannya di parkiran melihat mereka seakan berdebat. "Apa yang terjadi?" gumamnya yang penasaran. 


"Ayo, kau ikutlah bersamaku. Asisten bodoh itu, maksudku asisten Heri telah menunggu di sana."


"Tidak, sebaiknya kau pergi saja. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan!" lirihnya Ayu yang menolak ajakan Farhan. 


"Jangan membohongiku!"


"Aku mempunyai janji dengan Gabriel mengenai audisi iklan itu."


"Kau baru saja terkena masalah."


"Aku tidak ingin menunda pekerjaan!" keukeuh Ayu. 


"Kau wanita yang sangat keras kepala, lakukan apa yang ingin kau lakukan." Bentak Farhan yang kesal dengan sikap Ayu yang tak pernah menurut kepadanya. 


"Aku harap kau mengerti," ujar Ayu yang menatap mata Farhan, terselip rasa kecewa saat termakan omongan Vanya saat di telepon malam itu. 


Farhan menghela nafas berat, memijat pelipis yang terasa pusing menghadapi keras kepala wanita di hadapannya. "Baiklah, jaga dirimu baik-baik."


Ayu tersenyum tipis. "Aku pergi dulu!" pamitnya yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu, sedangkan Farhan menatap punggung Ayu yang mulai menjauh dari pandangan. 


"Dasar wanita keras kepala!" Farhan membuka pintu mobil dam masuk ke dalam. "Ke kantor!" titahnya tanpa menoleh. 


"Baik, Tuan." Jawab asisten Heri yang mengemudikan mobil. 


****


Sesampainya di rumah, Vanya melempar ponselnya sembarang arah, melempar semua benda di jangkauan dengan penuh kemarahan. Dia sangat menginginkan Ayu celaka atau tewas saat pertarungan dengan Maudi. 


"Kenapa wanita kampung itu masih hidup, semua rencanaku gagal." Teriaknya seraya melempar vas bunga memecahkan cermin besar di hadapannya. Matanya memerah, kedua tangan meremas ujung pakaian saat emosinya tidak tersalurkan. 

__ADS_1


  


__ADS_2