
Setelah Farhan menyuapi Ayu untuk minum obat lewat mulutnya, ada perasaan yang amat membahagiakan baginya, mulut yang masih tersisa rasa pahit terasa sangat manis di lidahnya hanya dengan melihat mantan calon tunangannya.
"Kau memaksaku, itu sangat pahit." Protes Ayu yang mengeluh dengan rasa obat yang begitu pahit sampai di tenggorokan.
"Benarkah? Aku tidak merasa pahit sedikitpun," sahut Farhan dengan enteng dan juga santai.
"Kenapa lidahmu berbeda?" Ayu mengerutkan kening karena rasa penasaran, mengapa rasa lidah mereka berbeda. "Tidak, mungkin indra pengecap ku berbeda darimu. Lagipula lidahku tidak akan salah dalam merasakan sesuatu."
"Lidahku tidak mungkin salah, karena bibirmu terasa manis."
"Kau mengambil kesempatan, jangan mengulanginya lagi." Ketus Ayu yang menatap Farhan dengan jengkel.
"Aku merasa kamu menikmatinya juga, apa kau menyukainya?" goda Farhan membuat Ayu tersenyum kecut.
"Kau yang memaksaku, lupakan saja! Bagaimanapun juga aku harus berterima kasih padamu, aku menganggapnya impas karena kau merebut ciumanku yang entah keberapa." Terang Ayu yang tidak mempermasalahkan itu lagi.
Farhan terdiam dalam lamunan, setelah mencium bibir Ayu dan menikmatinya membuat dirinya memikirkan masa depan, dia bertekad di dalam hati. "Aku akan menghabiskan sisa hidupku bersama dengannya, dan aku akan berjanji pada diriku sendiri. Bagaimanapun juga aku tetap memilih dirinya dibandingkan dengan wanita lain yang mencoba untuk merusak hubungan kami, dan juga Gabriel atau siapapun yang ingin merebut Ayu dariku."
"Mengapa kamu diam saja, apa yang kamu pikirkan?" tanya Ayu yang begitu penasaran.
"Bukan apa-apa, hanya sebuah permintaan hati yang ingin aku capai." Jawab Farhan yang mencoba mengungkapkan isi hatinya dengan kata kiasan.
Karena obat yang diminum oleh Ayu membuat dirinya mengantuk dan memejamkan mata, tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Kini dirinya masuk ke dalam alam bawah sadar dan bermimpi. Farhan menatap wajah cantik dari sekretarisnya yang sudah terlelap dari tidurnya akibat obatnya. "Dia seperti boneka setelah memejamkan mata dan tampak menggemaskan. Kau hanyalah milikku dan tidak akan aku biarkan ada orang lain yang mencoba memisahkan kita, begitu banyak ujian yang kita lewati bersama. Semoga saja kau dan aku berjodoh, dan jika tidak? Aku akan memintamu langsung di depan Tuhan, aku mencintaimu." Ucapnya pelan sembari mengelus rambut Ayu dengan sangat lembut.
Ada kebahagiaan tersendiri saat melihat wajah yang tenang dan juga damai, mengecup kening Ayu dengan lembut dan penuh hati-hati agar tidak menganggu tidur wanita itu. Cukup lama dia memandangi wajah cantik di pangkuannya, dan berinisiatif untuk membenarkan posisi tidur wanita dengan senyaman mungkin.
__ADS_1
Keesokan harinya, Ayu terbangun dari tidurnya dia tidak pagi mengingat apa yang terjadi semalam, karena pengaruh obat yang diminum mengandung efek samping yang membuatnya tidak mengingat seperti amnesia sementara. Memegang kepalanya yang sedikit merasa berdenyut, menyusuri pandangan di sekeliling yang tampak asing. "Hah, aku baru ingat. Ini apartemen milik Farhan, dan dia mengambil kesempatan menciumku." Gerutunya yang masih mengingat betul sikap dari pria itu.
Ayu terbangun dari tidurnya dan melihat kondisi tubuh yang berangsur-angsur memulih dan hal itu membuatnya merasa jauh lebih baik. "Syukurlah, obat itu bereaksi dengan sangat cepat. Dengan cepat, bintik-bintik di kulit wajahku menghilang dan ini sungguh luar biasa." Monolognya yang merasakan efek mujarab dari obat dokter.
"Aku sangat malu mengingat tadi malam, dia menciumku? Astaga…itu bagian intinya." Raut wajahnya memerah karena masih membayangkan kejadian tadi malam. Dia menutup kedua matanya menggunakan tangannya, pipih yang bersemu merah akibat ciuman tanpa sengaja.
"Kenapa kau menutupi wajahmu? Apa karena ciuman itu? Bagaimana jika mengulanginya lagi, tapi kali ini lebih hot dan penuh gairah." Celetuk Farhan yang berjalan menghampiri Ayu, dan tak lupa melemparkan senyuman mesum.
Ayu yang kesal melemparkan bantal, dengan cepat Farhan menangkapnya dan duduk di sebelah sekretarisnya. "Ayu melelang bibirku ini untuk kau cium, promo hanya sampai hari ini saja, akan berubah di waktu yang lain. Apa kau tertarik?" tawarnya yang sangat bersemangat, sembari memajukan bibir dan hendak mendaratkannya tepat di bibir merah merekah.
"Apa kau sudah gila? Buatlah dirimu berguna, dan jangan menggodaku!" cetus Ayu menahan bibir Farhan untuk tidak mendarat.
"Oh ayolah, bukan hanya ciuman. Aku bisa melakukan hal yang lebih dari pada itu, mau coba? Siapa tahu kita mendapatkan hadiah."
"Melakukan hal itu untuk mencicil anak kita, kau tenang saja dengan kualitas premium milikku, dan juga bibit unggul. Jika gagal? Kita bisa mengulanginya lagi."
Ayu geram dengan Farhan yang membahas hal yang menurutnya sangat tabu. "Pergilah, dan jangan mengangguku dengan ocehan mu yang malah memperburuk suasana hatimu.
"Hah, kau merusah mood ku."
"Aku hampir muntah mendengar kata-kata mu, sebaiknya kau membantuku saja. Cukup sulit untuk mengolesi salep oereda gatal di punggung ku!"
"Tidak masalah." Farhan segera meraih salep itu dan mengolesinya di bagian punggung yang outih bersih layaknya susu, begitu terlihat kulit sehat terawat.
Ayu kembali mengurungkan niatnya. "Jangan! Ambilkan saja aku obat anti alergi, karena cukup ampuh."
__ADS_1
"Kenapa? Aku baru saja ingin memulainya."
"Tidak, itu tidak efektif."
"Darimana kau tahu? Sudahlah, jangan halangi aku. Menghadap kedepan dan aku akan mengoleskannya." Tutur Farhan yang dengan patuh di setujui oleh Ayu. "Good girl," pujinya.
Farhan menelan saliva dengan susah payah, saat melihat punggung mulus dan juga putih membuatnya ingin menyantap. "Astaga…kenapa pikiran kotorku ingin menguasai diriku?" gumamnya di dalam hati.
Kecanggungan dari dua orang itu seketika menghilang, dimana sesosok pria yang datang menghampiri dan tak lupa membawa dua orang wanita yang akan di tanyai.
"Saya sudah membawa dua orang ini ke hadapanmu, Tuan."
"Hem, bagus." Farhan segera menutup punggung mulus itu dan segera beranjak dari kursinya, menatap dua orang wanita yang mengantarkan buket bunga dan menyebabkan Ayu alergi tak tertahankan dengan rasa gatal.
"Kalian pasti tahu, mengapa aku mengundang kalian dengan cara paksa."
"Maaf, Tuan. Kami tidak bersalah, dan jangan salah paham denganku!" ucap salah satu wanita yang menundukkan kepala, melihat sekilas mata Farhan.
Farhan memperhatikan dengan penuh selidik, tidak ada yang lolos dari matanya. "Apa kalian yakin, tidak mengetahui apapun?"
"Benar, Tuan. Kami tak tahu apapun, apa untungnya jika kami berniat menggerjai artis yang kami idolakan."
"Aku ingin kau menyelidiki hal ini lebih lanjut!" titah Farhan yang menatap asisten Heri, dia ingin jika tangan kanannya menyelesaikan banyak hal tentang kasus ini.
Sementara Ayu mengatakan, bahwa dia ingin orang ini jatuh ke dalam perangkap sendiri. "Aku akan mencari dalangnya dengan sedikt umpan kecil," batinnya tersenyum tipis.
__ADS_1