Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 109 - Akhir dari Raina


__ADS_3

Raina sangat malu dan marah dengan rencana yang malah berbalik padanya, meremas sprei yang menutupi tubuh polosnya. Dia menatap semua orang terutama pada Ayu, tatapan penuh kebencian dan amarah akan menjalar ke seluruh tubuh. 


Kemarahan yang tidak bisa ditahan membuat Rains bergerak menuju arah Ayu dan ingin memberinya pelajaran. "Aku sangat membencimu!" pekiknya yang hendak melayangkan pukulan. 


Ayu ingin menghindar, namun seseorang menghadang aksi dari Raina dengan mencekal tangannya. "Jangan halangi aku!" bentaknya seraya mendongakkan kepalanya, menatap orang yang menghalangi jalannya. "Raymond," lirihnya sedikit terkejut dengan kedatangan mantan kekasihnya. 


"Aku pikir kau benar-benar berubah, tapi kau malah merusak kepercayaan ku," jelas Raymond yang kembali kecewa dengan mantan kekasihnya. 


"Untuk apa aku merubah sikapku? Bahkan kau memutuskan aku hanya karena wanita itu." Raina menunjuk Ayu sebagai dalang dan akar dari permasalahannya. 


"Jangan salahkan orang lain, dasar wanita licik!" ucap Raymond yang sangat marah pada mantan kekasihnya, menipu dengan menyia-nyiakan kepercayaannya. 


Seorang pria yang menjadi pelampiasan nafsu Raina menyeringai, dia sangat menyukai hal yang sekarang telah terjadi. Pria suruhan Vanya yang telah dibayar lunas, berpikir jika Raina adalah targetnya. Setelah mengenakan celana pendeknya, dia berjalan kearah Raymond dan juga teman bercintanya. "Kenapa kau marah pada kekasihku? Ini wajar saja terjadi," seru pria itu seraya memeluk Raina dengan sangat intim, membuat semua orang terkejut terutama para reporter. 


"Lepaskan aku!" bentak Raina yang berusaha melepaskan pelukan dari pria yang tak dikenalnya. 


"Sayang, kenapa kau marah? Kita saling mencintai dan juga sepasang romantis, bahkan mereka juga melihat adegan panas." Ucap pria yang bernama Roni, terus memainkan perannya sesuai perkataan dari Vanya. 


"Wah, ternyata dia kekasihmu. Kalian pasangan yang sangat serasi," sela Ayu yang berpura-pura bersimpati. 


"Tutup mulutmu, dasar wanita pembawa sial!" pekik Raina yang menatap Ayu dengan tajam, memegang sprei penutup tubuh polosnya. Roni sengaja memanasi suasana dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping milik Raina, mencium tengkuk wanita itu agar meyakinkan rencana. Tapi dia tidak tahu jika sebenarnya Ayu lah target sesungguhnya. 


Raina menyikut pria itu agar menjauh darinya, merasa jijik dengan dirinya dan juga pria suruhan Vanya. "Jika sekali lagi kau mendekat? Aku akan menghajarmu," ketusnya menoleh ke arah Roni beberapa detik, kemudian mengalihkan pandangan ke arah musuhnya. "Ini semua akibat dirimu, aku sangat membencimu…membencimu!" pekiknya yang kembali menjalankan aksinya untuk memberikan Ayu pelajaran. Lagi dan lagi Raymond kembali menghadangnya, tindakan nekat dari mantan kekasihnya dengan terpaksa ikut campur. 


"Apa kau ini gila? Berhentilah bersikap bodoh." Ucap Raymond sarkas.

__ADS_1


"Kenapa kau menghalangiku? Aku hanya meminta keadilan saja. Aku telah dijebak oleh wanita itu!" ketus Raina yang kembali menunjuk Ayu, memfitnah dengan membalikkan kenyataan. 


"Berhentilah bersandiwara!" ucap Raymond dengan tegas. 


"Aku berkata benar, untuk apa aku berbohong? Ayu yang menjebakku, mencampurkan obat di dalam minumanku." 


"Tunggu dulu, aku hanya diam saja dan kau menyeret namaku? Semua orang disini melihat bagaimana kau bergoyang, berhentilah memfitnah ku!" bantah Ayu. 


Raymond menoleh ke belakang, menatap Ayu seolah ingin meminta penjelasan. Sedangkan Ayu mengerti maksud dari tatapan dari mantan kekasih Raina. Karena tak tahan dengan tuduhan demi tuduhan membuatnya terpaksa membongkar kebusukan dari Raina. 


"Apa yang dikatakan Raina, itu semua kebohongan. Kejadian aslinya malah sebaliknya, dia datang menghampiriku dengan membawa dua buah gelas berisi obat perangsang dosis tinggi, meminta maaf secara mendadak membuatku sedikit curiga, tapi aku menepis pikiran itu dan memaafkan Raina. Dia menawarkan aku segelas minuman beralkohol sebagai permintaan maafnya, tapi aku mencium bau minuman dan ternyata telah dicampur obat perangsang. Aku tidak bodoh, mengelabui Raina seolah-olah aku telah meminumnya. Dan selanjutnya kalian bisa lihat sendiri, senjata makan tuan." Ungkap Ayu. 


"Dia berbohong!" sarkas Raina yang berusaha mendapatkan perhatian semua orang.


"Aku tahu ini akan terjadi, aku sudah mengantisipasinya dengan bukti." 


Ayu tersenyum tipis, memperlihatkan sebuah rekaman yang memperlihatkan bahwa Raina membeli obat perangsang, rekaman Cctv yang dia dapatkan dengan bantuan hacker. Meminta sang hacker untuk mendapatkan informasi dan juga penyelidikan. 


Semua orang terkejut dengan aksi berani yang dilakukan Raina, terutama Raymond yang mengusap wajahnya dengan kasar. Para reporter mulai memberikan komentar, sedangkan Ayu puas dengan memberikan bukti rencana licik Raina, dia memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Raina sangat ketakutan, mengetahui semua rencananya di ketahui oleh semua orang.


Sebelum meninggalkan ruang istirahat, Ayu menatap Raina dengan tajam. "Berpikirlah seribu kali jika kau ingin bermain-main denganku!" ucapnya yang memberikan peringatan kepada wanita itu, dan kembali melangkahkan kaki untuk keluar dari sana. 


Farhan yang melihat kepergian Ayu, memutuskan untuk mengikuti wanita itu, menghampiri wanita itu untuk memberikan perhatian. "Aku sangat terkesan dengan caramu mengungkap kedok seseorang," ucapnya yang basa-basi. 


"Terima kasih," sahut Ayu yang tersenyum sepersekian detik dan kembali menatap lurus.

__ADS_1


"Kau tahu, perkataan Vanya hampir membuat aku takut. Tapi perasaanku menjadi lega saat mendengar suaramu," ungkap Farhan tulus. Memberikan perhatian pada wanita itu, namun tak lupa untuk membuat Ayu cemburu. 


"Yah, setidaknya kau mengetahui kebenarannya." Sambut Ayu yang tidak tertarik dengan pembahasan kejadian tadi. 


Saat keduanya berdiri di depan lift terbuka, Farhan dengan cepat menarik Ayu untuk masuk ke dalam. Tatapan keduanya kembali bertemu hingga beberapa saat, Ayu berusaha mengontrol dirinya dan melepaskan cengkraman dari bos sekaligus calon tunangannya. "Diamlah, jangan bergerak atau kau akan membangun sesuatu dibawah sana!" ucap Farhan yang memberi peringatan. 


Ayu terdiam, takut jika perkataan Farhan terjadi. "Ada apa?" tanyanya yang penasaran. 


"Bagaimana dengan status hubungan kita?" ucap Farhan yang melembut. Suasana di dalam lift menciptakan keromantisan keduanya, belum sempat Ayu menjawab, pintu lift terbuka. 


Suasana yang begitu romantis sekaligus canggung, membuat Ayu segera pergi meninggalkan Farhan, menaiki taksi dan mengirim pesan pada penanggung jawab. 


"Aku ingin pergi ke bar, temui aku di sana!" 


Ayu tersenyum senang, karena dia akan menemui sahabatnya. 


****


Di dalam Bar, saat Ayu sampai di sana, dia celingukan mencari seseorang yang ditunggu nya. Seorang pria mengangkat gelasnya, memberikan isyarat. "Itu dia," gumamnya yang segera menyusul pria itu. "Wah  ternyata kau datang lebih awal," ledek Ayu pada pria itu. 


"Tentu saja, kau mengundangku kesini. Tentu saja aku akan datang dengan undangan dari sahabatku sendiri." Jawab pria itu seraya meneguk minuman. "Oh ya, aku sudah memesan minuman untukmu."


"Hem, terima kasih. Kau masih sama seperti dulu." 


"Tentu saja."

__ADS_1


   


__ADS_2