
Leon begitu tertarik untuk mengerjai sekretarisnya itu, mengetahui suatu kelemahan wanita yang berlari saat menyentuh juniornya sangatlah menyenangkan, bagai hiburan dari kepenatan dalam bekerja. "Dasar wanita, hanya menyentuh si Tole di sudah lari tunggang-langgang, bagaimana jika dia melihatnya saat si Tole mengamuk?" Gumamnya terkekeh saat membayangkan kalau hal itu terjadi, pasti sangat seru. Dia melangkahkan kaki pergi dari ruangan itu menuju kamarnya, bersebelahan dengan sang asisten pribadi sekaligus sekretarisnya di kantor.
Leon buru-buru menutup pintu tanpa menguncinya, dia selalu saja lupa untuk mengunci rapat. Dengan santai dia merebahkan diri di atas ranjang yang berukuran king size seorang diri, sangat nyaman dan di jamin tidur semakin nyenyak, lain halnya dengan dua bocah yang masih menunggu ranjang yang tak kunjung datang.
Mereka mengintip di sela pintu. "Kenapa papa belum mengirimkan tempat tidur yang nyaman?" ucap Abi dengan pelan, wajah yang begitu kecewa dan memikirkan nasib mereka yang akan tidur di atas ranjang berukuran kecil.
"Entahlah, aku sudah menghubungi papa berulang kali tapi tidak ada jawaban," tutur Adit yang jenuh dalam menunggu.
"Coba kau telepon Flo, dan tanyakan sudah sampai di mana barang yang dibawa oleh papa." Adit segera mengeluarkan ponsel mahal yang ada di sakunya menghubungi saudara kembar perempuan, mengorek informasi yang begitu dia butuhkan saat ini.
"Halo."
"Ya, ada apa menelponku?"
"Aku sudah menghubungi papa, tapi tidak dijawab. Apa kau tahu di mana papa?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Apa ada masalah?"
"Minta papa untuk segera mengirimkan barangnya!"
"Hem, baiklah. Apa ada hal yang lain lagi?"
"Tidak."
Flo yang tak merasa obrolan itu bermanfaat baginya segera mematikan dan melempar sembarang arah, dia kembali melanjutkan ngemil. "Semenjak kepergian twins A, papa dan mama ada dimana?" batinnya yang sedikit penasaran, perasaan yang mengganjal segera di hempaskan. "Bukan urusanku," monolognya yang mengangkat kedua bahunya dengan santai.
__ADS_1
Sementara ketiga bocah penasaran dimana kedua orang tua mereka, lain halnya dengan sepasang suami istri yang menghabiskan waktu bersama. Menikmati surga dunia dengan kenikmatan setiap sentuhan dan bersatu dalam ritme, melodi yang begitu indah terdengar. Farhan dan Ayu bermain bagai dua orang yang begitu ahli, saling melampiaskan hasrat memabukkan keduanya.
Seketika sambungan telepon terputus secara sepihak, Adit mendelik kesal saat Flo selalu saja bersikap cuek. "Kenapa dia begitu dingin dan juga tidak sopan?"
"Apanya?" Abi mengerutkan dahi akibat rasa penasaran yang mendera.
"Sikap Flo yang memutuskan sambungan telepon secara sepihak tanpa mengatakan apapun, itu sangatlah menjengkelkan."
"Sudahlah lupakan, dia memang seperti itu." Ujar Abi yang menenangkan adiknya.
"Harusnya dia menghormatiku yang lebih tua sepuluh menit darinya." Geram Adit yang masih saja menatap ponsel di genggaman, kembali menyimpannya. "Apa kita mengungsi saja?"
"Hentikan drama mu ini, apakah punya rencana? Aku tidak ingin tidur di peti mati itu." Abi menunjuk tempat tidur yang tak jauh darinya.
"Aku juga tidak ingin tidur di sana," Abi tersenyum smirk menatap kembarannya yang telah merencanakan sesuatu untuk keuntungan pribadi. "Apa kau tahu apa yang ada di otakku ini?"
Terdengar suara ketukan pintu, padahal baru saja mata Leon terkatup tapi mendengar suara dari keponakannya terpaksa menghentikan sejenak rutinitas di malam hari. Dia segera beranjak dari ranjang dan memeriksa apa yang terjadi. "Ini sudah malam, kembali ke kamar kalian!"
"Wah, ranjang kilik Paman sangatlah luas. Sepertinya itu sangat empuk dan juga nyaman," puji Adit dengan kedua sorot mata berbinar.
"Tentu saja, itu kualitas terbaik dan bukan model kasur kapuk."
"Bagus," lirih Adit yang tersenyum saat otaknya berpikir cepat sama dengan pikiran Abi. Sudah merencanakan dengan sesekali rupa.
Beberapa saat kemudian, Leon baru menyadari dengan barang bawaan yang begitu banyak, boneka dan bahkan bantal mereka bawa bermaksud untuk mengungsi pindah kamar. "Apa mereka akan tidur di kamarku? Tidak akan aku biarkan," batinnya yang tidak ingin tersiksa. "Kalian tidak boleh__." Belum sempat dia mengatakan persetujuan untuk membiarkan kedua bocah itu masuk ke dalam, tapi twins A lebih dulu menerobos, untung saja tubuh mereka pas di sela sang paman.
__ADS_1
"Astaga…aku belum menyetujuinya tapi kalian sudah masuk, dan jangan perlihatkan wajah tanpa dosa itu membuatku benar-benar kesal." Leon menghilang nafas panjang karena kedua keponakannya masuk tanpa persetujuan.
"Tenang saja lah Paman, tempat tidur ini bahkan berlebih jika kami tidur di atasnya." Adit melompat kegirangan karena berhasil menerobos masuk ke dalam, layaknya trampolin mereka melompat-lompat di atas tempat tidur yang berukuran king size.
"Cepat turun atau kalian akan Paman usir!" tegas Lion yang kesabarannya hampir menipis.
"Mari kita buat kesepakatan," ujar Abi yang melirik saudara kembarnya.
"ya sudah, katakan apa kesepakatannya."
"Paman harus membiarkan kami tidur di sini, dan kami juga akan berjanji tidak merusak ataupun menyentuh barang-barang di kamar paman."
"Apa perkataan kalian bisa dipegang?" selidik Leon yang menyebabkan kedua matanya mengintrogasi layaknya seorang polisi dan menetap sang tersangka secara berganti.
"Itulah prinsip kami," sahur Abi dan adik secara serentak.
"Baiklah, kalian boleh tidur di sini."
Abi dan Adit tersenyum bahagia mereka bersorak dan terbaring di atas ranjang empuk itu. "Apa yang Paman pikirkan? Cepat baring di tengah!"
"Kenapa kalian terlalu banyak aturan? Aku tidak biasa tidur di tengah." Protes Leon yang berusaha untuk mengontrol emosi.
"Maka jangan salahkan kami jika keesokan paginya barang-barang di dalam kamar ini tidak berada di tempatnya," ancam Adit yang dengan cepat disetujui oleh Leon.
"Dasar penindas, bocah cilik ini benar-benar membuat aku hilang akal. kenapa aku baru menyadari kenakalan mereka sekarang?" gumam Leon yang dengan terpaksa tidur di antara dua keponakan kembarnya.
__ADS_1
Leon tidak bisa tidur mengingat dirinya yang belum terbiasa diapit oleh dua orang, menunggu dan saat tertidur dan barulah dia akan memindahkan nya. "Hah, akhirnya mereka tertidur juga. Sifat mereka perpaduan antara Ayu dan juga Farhan, terkadang menggemaskan dan terkadang membuat jengkel. Jika bukan keponakanku, pasti kedua tuyul ini akan aku ikat dan dijadikan umpan buaya." Racaunya yang hendak memindahkan Adit di sebelah Abi.
Tapi dia sangat terkejut, di saat tangan tak sengaja merasakan rembesan air yang terasa sangat hangat mengotori sisi yang terkena air kencing dari Adit. "Dia mengompol? Astaga, ini sudah terlewat batas, aku akan menghubungi Farhan dan mengembalikan putra kembarnya."