Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 230 ~ Amarah


__ADS_3

Tatapan Gabriel yang selalu mengarah ke hadapan Ayu, tidak peduli jika dirinya ucapan dari semua orang. Menyampaikan pidato sekaligus ingin memberikan wanita itu sebuah kejutan yang pastinya sangat spesial di hari yang spesial juga. 


Semua orang bertepuk tangan setelah pidato singkat yang diucapkan Gabriel, Ayu berhasil menjadi pusat perhatian. "Karena ucapannya, aku di lihat orang-orang. Astaga…ini sangat membingungkanku," batinnya yang berpura-pura tersenyum dan menganggukkan kepala untuk menyambut tatapan semua orang. 


"Hadiah ini aku persembahkan kepada Ayu, dialah yang berhak menerimanya. Semua kerja kerasku tidak akan berhasil, jika dia sangatlah berpengaruh dalam menyemangatiku." Tutur Gabriel yang ingin turun dari podium, tangan yang memegang mikrofon. 


"Apa yang akan dia lakukan?" bisik beberapa orang yang masih memperhatikan, menduga-duga apa yang dilakukan oleh pria itu. Lain halnya dengan Ayu yang mengerutkan keningnya karena rasa penasaran yang melanda, ingin bertanya apa yang dilakukan Gabriel. 


"Mengapa dia menghampiriku?" Ayu mulai bersikap was-was, karena tatapan pria itu mengunci dirinya agar tidak bisa pergi kemanapun. Gugup yang dia rasakan begitu nyata, dan sudah menduga setelah mengetahui dan mencerna situasi dengan sangat baik.


Suasana yang terlihat romantis, dilihat begitu banyak orang bahkan awak media juga ikut serta dalam acara terpilihnya sang idola menjadi aktor terbaik tahun ini. Gabriel sudah memantapkan rencananya yang ingin menyatakan perasaan kepada Ayu, sengaja melakukannya di depan semua orang agar tidak mendapatkan penolakan kesekian kalinya. "Ayo berdirilah!" dia meminta wanita sang pujaan untuk untuk berdiri, jarak diantara mereka hanya setengah meter saja. 


Ayu mematuhi perkataan itu, tapi berusaha untuk menghentikan aksi dari Gabriel yang semakin nekat. Tatapan mereka saling bertemu, membuat chemistry di antara keduanya. Belum lagi bagaimana mereka menjadi pusat perhatian, seakan itu adalah tontonan menarik.


"Aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, kapan, dimana, dan mengapa. Semua terjadi begitu saja tanpa aku sadari, kau seorang wanita yang mempunyai seribu keahlian dan juga sangat cerdas. Aku sudah berusaha untuk memantaskan diri agar bisa berada di sisimu, tolong terimalah penghargaan ku ini." Ucap Gabriel yang memberikan penghargaan itu.


Ayu dengan ragu-ragu menerimanya, tapi dia tak bertindak sesuka hati mengenai bagaimana semua orang menyaksikan, bahkan lampu sorot mengarah ke arahnya. "Gabriel membuatku dalam masalah," batinnya yang meringis, memikirkan nasibnya yang selalu terkena ombak masalah silih berganti.


"Ayu Kirana, aku memberikan penghargaan dan menjadikanmu semangat hidupku. Jadilah kekasihku!" tuturnya sembari menyerahkan setangkai bunga yang diperoleh dari asistennya. Dia berjongkok dan mengangkat setangkai bunga mawar, senyum dengan penuh harap jika perasaannya diterima. 


Ayu cemas memikirkan bagaimana dia mengekspresikan perasaanya, di satu sisi tak ingin membuat sahabatnya di permalukan dengan kata tolakan, dan disisi lain dia tak punya perasaan apapun, hanya sebatas persahabatan saja dan tidak lebih. Bimbang di dalam situasi yang mencekiknya, maju mundur mempunyai rintangannya sendiri. "Bagaimana ini? Aku tak ingin jika Gabriel di permalukan dan di jadikan bahan tertawaan global di depan umum." Batinnya yang memutuskan untuk diam, tidak ada sepatah katapun yang keluar. 

__ADS_1


"Bagaimana? Kau menerimaku atau menolakku? Berikan jawabanmu sekarang juga," desak Gabriel yang menginginkan jika Ayu membalas perasaannya, suatu rencana yang sudah dipersiapkan. 


"Astaga…ingin rasanya aku mengetuk kepalanya, pasti dia sengaja menyatakan perasaannya di hadapan semua orang. Ini sangat menyulitkanku," gerutu Ayu di dalam hati, hingga tiba-tiba terlintas di otaknya yang mendapatkan ide untuk menyelesaikannya, mempunyai cara setelah memikirkan.


Sebelum Ayu menjawab, terdengar suara tepukan tangan dari belakang. Hal itu mengalihkan perhatian semua yang penasaran siapa yang tiba-tiba mengganggu suasana romantis pernyataan cinta dari Gabriel sang aktor idola.


"Selamat untukmu Ayu, selamat akan prestasi mu yang merebut tunanganku." Kata Yuna yang berjalan menghampiri dua orang dengan perasaan yang sangat terluka, melihat Gabriel yang menyatakan cinta kepada rivalnya. Luka di hatinya begitu semakin teriris, namun mempunyai kesempatan mendapatkan celah. 


"Ya Tuhan…sekarang apa lagi yang aku hadapi kali ini? Begitu banyak orang yang membenciku, dan juga keberadaanku menjadi serba salah." Batinnya yang meringis dengan nasibnya yang malang, tak bisa menghindar selain melawannya.


"Apa kau bahagia sekarang? Sudah menjadi perebut tunanganku? Bahagia di atas penderitaan wanita lain, dan aku tak ingin itu terjadi. Aku mengutukmu di hadapan semua orang!" sarkasnya yang menatap dengan tatapan sinis dan tajam, penuh kebencian dan amarah. Berniat untuk mempermalukan sang rival dengan menggunakan metode lama, masih mengakui Gabriel sebagai tunangannya.


"Ya, aku mengutukmu dari wanita tersakiti seperti ku. Kau tidak pantas untuk mendapatkan cinta siapapun, kau egois yang ingin mendapatkan dua orang pria sekaligus." Bentak Yuna yang menghina Ayu sepuas hatinya.


Gabriel yang masih diam mengepalkan kedua tangannya dengan geram, tak bisa mendengarkan kata-kata yang menjelekkan wanita dicintainya. Sedangkan orang-orang mulai berpikir mengenai kisah cinta di antara ketiganya.


"Astaga, kisah cinta mereka sangatlah rumit. Bahkan pria itu sudah bertunangan, tapi malah menyatakan cinta pada wanita lain." Bisik salah satu yang hadir.


"Apa kau tidak tahu berita ini? Wanita itu hanya mengaku saja, dia bukan tunangannya." 


"Benarkah? Tapi pasti karena wanita itu, makanya pertunangan mereka putus."

__ADS_1


"Hah, jangan bergosip disini. Kita lihat, betapa serunya keadaan ini." Bisik yang lainnya.


"Kau wanita serakah, hanya mengincar kepopuleran Gabriel. Mengambil keuntungan dengan wajahmu itu!" tuduh Yuna yang berteriak.


"DIAM!" Gabriel tak bisa menahannya lagi. "Kau sudah mengatakan apa yang kau katakan, sekarang giliran ku." Tegasnya yang tak bisa berkompromi.


"Gabriel, kau?" 


"Tutup mulutmu itu, sudah cukup kau menghinanya di hadapan semua orang." Gabriel menunjuk wajah Yuna, tak ingin mendengar satu kata pun dari mulut wanita itu.


"Tapi aku__."


"Apa? Kau masih mengatakan aku adalah tunanganmu, begitu? Biar ku ingatkan sekali lagi, mengenai kita. Kau menyebutku tunanganmu 'bukan?" 


Dengan cepat Yuna menganggukkan kepala, seakan memenangkan hati dari pria itu. Dia tersenyum menyambut hal ini. Tapi, dia terkejut saat Gabriel menghempaskan tangannya dengan kasar.


"Lalu, dimana kau saat itu, hah? Kau kabur dengan pria lain di saat aku terpuruk, krisis ekonomi dan kesulitan dalam segala hal. Dimana kau saat itu?" bentak Gabriel membuat Yuna terdiam, hanya bisa menangis menyesali semua perbuatannya.


"Kau masih mencintaiku…kau masih mencintaiku."


"Cinta? Kau bahkan meninggalkanku di saat mendengar kabar kebangkrutan keluargaku, dan pergi bersama dengan pria lain ke luar negeri. Apa kau tidak berpikir mengenai apa yang dirasakan oleh keluargaku saat itu? Tingkah mu membuat keluargaku menanggung rasa malu."

__ADS_1


__ADS_2