
Alunan lagu I Will Survive yang dinyanyikan Diana Ross membuat tidurku terusik, belum lagi sinar matahari yang mengintip daro tirai jendela, membuatku akhirnya membuka mata walau rasanya masih malas dan ingin tidur lebih lama.
"Oaaammm" Suara parauku khas bangun tidur sambil ngulet meregangkan otot-ototku agar ada setitik semangat untuk mengawali hari. Aku pun mengambil handphone diatas nakas yang terus saja berisik karen Alarm masih aktif 5 menit sekali. Baru juga ku matikan Alarm tiba-tiba Handphoneku kembali berbunyi kali ini irama dangdut, lagu berjudul anggur merah kesukaan Mira yang terdengar tanda gadis itu yang menelphoneku. "Ada apa ini cewe super bawel yang sudah jadi sahabatku sejak SMP telphon pagi-pagi", Bathin ku.
"Halo Mira super cantik, ada apa pagi-pagi sudah menelphone ku..hah? tanyaku begitu mengangkat telphon.
"Pasti kamu belum liat BOW ya, disana ada nerita tentang papa mu yang bangkrut dan seluruh harta kalian akan disita bank, kantor papa mu sudah di akuisisi seluruhnya, bahkan disana dikatakan pula papa mu sudah tiga hari koma di ICU, katakan semua itu cuma berita HOAX?". Rentetan pertanyaan dengan menggebu-gebu dilontarkar Mira membuat aku harus menjauhkan handphoneku dari telingaku dari pada gendang telingaku nantinya cidera karena suara melengkingnya, sambil berdiri mangambil laptop di meja belajarku untuk membuka aplikasi BOW untuk melihat berita yang dikatakan Mira.
"Jawab Lia, jangan malah bengong dan diam saja" ocehan Mira kembali terdengar.
"Iya ini aku sambil buka laptop melihat beritanya, "ternyata sudah di umumkan pemindahan kepemilikan perusahaan papa" gumamku yang terdengar Mira.
"Jadi semua itu benar?" tanya Mira kembali.
"iya semua benar" jawabku sambil mengangung yang jelas tidak dapt dilihat Mira.
"Kenapa kamu tidak cerita padaku selama ini? kamu sudah tidak menganggapku sahabat lagi". teriak Mira mulai emosi.
__ADS_1
"Hei tenang cantik, pagi-pagi jangan marah-marah nanti aura cantik mu hilang dan berganti keriput" ledeku sambil tertawa, walau hatiku sedih aku tak mau sahabatku harus ikut menanggu kesedihanku yang tak ada kaitanya dengannya.
"Lia Putri Aghata" Teriak Mira.
"Baik-baik sahabatku yang cantik, nanti aku ceritkaan semuanya ya dikampus". kataku yang langsung ditolak Mira.
"Tidak bisa, kita kuliah sore hari ini itu terlalu lama. Aku ke rumah mu sekarang kamu jangan kemana-mana dulu" pinta Mira sebelum menutup telphon sepihak tanpa memberiku kesempatan menjawab.
"Hhhmmmm" Aku menarik nafas panjang lalu menutup laptop dan meletakannya kembali di meja bersamaan dengan handphone ku, sebelum menuju kamar mandi aku membuka tirai jendela membiarkan sang fajar memasuki seluruh ruang kamarku memberikan kehangatan pada tubuhku yang lelah tak berenergi.
"Pagi ma" sapaku sambil mencium kedua pipi mama lalu mendudukan bokongku di sofa.
"Kamu sudah baca berita pagi ini sayang?" tanya mama mengawali pembicaraan kami. Aku hanya mengangguk dan menunggu kalimat mama berikutnya.
"Mama harap kamu kuat dan bisa menguatkan Bimo, kamu tau sendiri adik mu selama ini gaya hidupnya. Mama khawatir dia nggak sanggup menjalani ini semua" ucap mama mulai berkaca-kaca. Aku lalu pindah duduk disamping mama dan memeluk mama memberinya kekuatan, "mama nggak usah khawatir ya, ada Lia yang akan menjaga Bimo. Lia yakin Bimo kuat dan mampu menjalani semua ini ma, jadi mama tenang ya". ucapku berusaha meyakinkan mama, Bimo baik-baik saja dan bisa menerima semua ini.
Lama mama meluapkan kesedihannya dalam pelukkan ku. Sampai akhirnya aku ingat Bimo di rumah sakit harus pergi sekolah.
__ADS_1
"Mama nggak ke rumah sakit pagi ini?" tanyaku hati-hati.
"Mama tadi minta si mbok yang anter makanan sekalian jaga papa dulu pagi ini karena mama mau bicara sama Lia dulu". Jelas mama.
Obrolan kami pun terhenti saat Mira sudah sampai di rumah ku, ehh salah rumah yang sebentar lagi jadi milik bank dan harus kami ikhlaskan. Rumah yang banyak mengukir kenangan manis dan juga kesedihan. Rumah dimana aku dan Bimo dilahirkan, rumah dimana aku dan Bimo tumbuh sebagai pribadi yang penuh kebahagian, sebentar lagi bukan lagi milik kami dan harus kami tinggalkan, ntah kapan lagi aku bisa kembali ke rumah ini setelah nanti kami keluar dan meninggalkan rumah ini.
"Hei, ayamku kemaren mati karena banyak melamun" ucap mira sambil mengetuk jidatku.
"Aduh...kamu itu cantik-cantik kenapa bar-bar sekali sih?" gerutu ku pada Mira.
"Siapa suruh melamun terus, aku kesini untuk mendengar ceritamu" Ucap Mira tak kalah sengit.
"Hah, selalu tak mau kalah" aku pun mencibikan kedua bibirku, dan memulai ceritaku tentang apa yang terjadi dari A sampai Z. Mira hanya diam mendengarkan dengan tenang sambil kadang mengepal tinjunya dan memaki om Anton atas ulahnya. "Gila itu orang kalau sampe ketemu abis itu orang" maki Mira disela-sela ceritaku. Aku pun sebenarnya tak kalah geram dengan Mira karena aku yang mengalaminya tapi mau bagaimana lagi aku belum bisa membalas semua perlakukan Om Anton pada keluarga ku. Dia bermain sangat lihai sehingga secara hukum dia tidak bisa di tuntut melakukan pengelapan atau pun penipuan.
"Kenapa kamu selama ini tidak cerita padaku?" tanya Mira tiba-tiba sendu.
"Maafkan aku Mir, aku tidak ingin membuatmu ikut merasakan kesulitanku" jelasku berusaha membuat Mira tidak marah atas ketidak terusan ku padanya. semuanya itu hanya karena aku juga memang tak punya banyak waktu untuk mengobrol dengan Mira sejak kejadian itu, aku seperti dikejar-kejar waktu. Mira pun akhirnya berusaha untuk mengerti kondisiku dan tak marah padaku. Kami berpelukan berbagi beban. Sampai akhirnya mama datang ke kamar ku untuk pamit ke rumah sakit karena mang Ujang sudah datang menjemput mama setalah mengantar Bimo ke sekolah.
__ADS_1