
Taqobballahu Minna Wa Minkum Shiyamanna wa shiyamakum. Minal aidin wall Faidzin buat semua yang merayakan...maaf ya bru update sekarang, insyallah abis ini tiap hari akan update min 1 bab lah ya...jangan lupa like, coment sm vote yang say biar emak makin giat nulisnya...maaciii😍😍
***************************************rc **************
#POV Ferry#
Saat di restoran Lia minta pulang ke rumah mamanya, tapi aku menolaknya karena aku ada metting dan juga harus menyelesaikan tugas kuliahku karena besok datelinenya...Jerry terus saja merongrongku untuk melakukan pekerjaan sekaligus merampungkan kuliahku agar gelas master itu segera melekat pada namaku.
Aku terus fokus pada makanan ku dan hanya menjawab pertanyaan Lia sekenanya saja, karena perutku benar-benar laper. Sampai akhirnya pas aku mendongakan kepalaku, aku terpaksa menelan slavinaku karena Lia menggulung rambutnya keatas membuat leher jenjangnya terekspose sempurna ditambah lagi dress yang Lia gunakan model sabrina, membuatku ingin tenggelam di dalam cekung lehernya sambil menghirup aroma white musk yang lembut dan menenangkan jiwa. "Istri ku ini benar-benar cantik dan menggiurkan sekali, rasanya aku ingin sekali langsung menariknya keatas ranjang untuk memadu kasih, aku benar-benar sudah gila sepertinya, belum pernah ada wanita yang bisa membuat adik kecilku menegang hanya dengan melihat leher jenjangnya. Sihir apa yang dia miliki sebenarnya?, keberadaannya begitu mempengaruhi jiwa ragaku" bathinku sambil tak berkedip memandangi istriku yang mulai salah tingkah. "Kaya aku bukan hanya cinta mati dengan Lia, tapi aku sudah tergila-gila padanya".
Lia pun mulai menggerutu karena aku gagal fokus alias nggak fokus dengerin pertanyaan yang dia lontarkan sejak aku memandangi leher jenjangnya.
"Sayang kamu bukannya jawab malah menatapku seperti itu...membuatku grogi saja" gerutu Lia, aku pun senyum-senyum mesum sambil terus menatap wajahnya.
"Kamu cantik banget sayang kalau rambutnya di gulung gitu, bikin aku nggak sabar pengen memakan mu" ucapan ku membuat wajah Lia merona, bikin aku makin gemesh. Walau sudah sering menggombalinya Lia terus saja masih malu-malu hingga pipi putihnya memerah, sama halnya seperti tiap kali dia melihat tubuhku polos tanpa sehelai benang pun, begitu pula sebaliknya jika aku menatap tubuhnya saat dalam keadaan polos dia akan melemparku dengan bantal atau handuk agar aku berbalik badan dan tidak menatapnya.
Padahal saat diatas ranjang kami selalu dalam keadaan polos dan dia slalu menatap setiap inchi tubuhku, bahkan Lia pernah satu kali menyentuh junior ku, memang aku yang mengarahkan tangannya sih tapi dia tidak terlihat malu-malu atau pun jijik saat bermain dengan juniorku, awalnya memang terasa kaku sekali lama kelamaan permainan tangannya membuat juniorku makin mengeras merasakan kenikmatan belaian tangan Lia dan aku pun demikian selalu menatap setiap inchi tubuh Lia saat aku menjamahnya, merematnya, menghisapnya, menjilatinya karena aku suka sekali melihat ekspresi wajah istri ku saat sedang ku cumbu. Bagaimana Lia merem melek dan meremat sprei bahkan Lia pernah mencakar punggungku saat dia ku masuki pertama kalinya. Apa semua itu terjadi tanpa malu-malu karena kami sama-sama diliputi hasrat dan gairah yang menggebu untuk saling memuaskan satu sama lain? ntah lah, aku juga nggak tau penyebab istriku slalu merona malu-malu tiap kali aku membahas urusan ranjang, menggombalinya, mengecupnya ditempat umum atau menggendongnya ditempat umum, herannya aku justru suka sekali saat melihatnya merona bikin makin gemesh ingin memakannya sampai habis.
Lia makin salah tingkah karena aku terus menatap dan menggodanya dengan gombalan-gombalanku, sebenarnya aku juga nggak terlalu paham kenapa Lia bisa sampai salah tingkah hingga menjatuhkan gelas yang masih terisi penuh air membuat meja kami jadi basah semuanya. "Apa jangan-jangan dia membayangkan cumbuaku saat diatas ranjang? hingga geleng-geleng kepala sambil senyum-senyum sendiri saat makan? Hhhhmmm...ntah lah" pikiranku mulai kemana-mana melihat reaksi Lia yang salah tingkah karena ulahku.
Lia terus saja menggerutu dan salah tingkah, sedangkan aku terus saja menggodanya sampai saat aku mau berdiri ke toilet pun dia sudah waspada takut aku benar-benar datang mendekatinya untuk memeluk dan memciuminya. "Hahaahahaha...istriku ini bener-bener ngegemesiiiin, aku bener-bener udah nggak sabar membawanya kembali ke penthouse" tawaku dalam hati saat melihat Lia panik melihatku berdiri, padahal aku mau ke toilet ada panggilan alam.
__ADS_1
dreeet....dreeeet....dreeeet
"Ya Jerry ada apa?" ucapku ketika menuju toilet telphon Jerry masuk
"Maaf Tuan Muda aku hanya mengingatkan kalau besok tugas kuliah tuan muda sudah harus dikumpulkan ke dosen dan juga empet puluh lima menit lagi ada metting dengan pihak pengembang...". Ucap Jerry terhenti karena aku memotongnya.
"Iya aku sudah tau, aku sudah melihat email dari mu, jika tidak ada yang lain lagi jangan telphon aku terus" potong ku saat Jerry terus saja bicara tentang tugas-tugasku.
"HhhhhhMmmmm..." tarik nafas panjang ku usai memutus hubungan telphon dengan Jerry, "Untung sekarang ada Lia dalam hidup ku jika tidak hidupku pasti akan sangat membosankan dan mengenaskan seperti sebelumnya". bathinku sambil tersenyum membayangkan wajah cantik Lia yang tersenyum dengan bibir merahnya yang membuatku kecanduan sesaat sebelum masuk ke toilet.
saat aku berjalan menuju kursi tempat Lia menunggu, ada seseorang yang menegurku ternyata om Bram pengacara keluarga Lia.
"Malam Om Bram, apa ini kebetulan atau anda memang berniat bertemu dengan ku?" tanyaku to the poin tak ingin membuat Lia lama menungguku.
"Saya sengaja menemui tuan muda disini, ingin menanyakan bagaimana rencana selanjutnya karena sekretaris saya mengatakan anda mengirim email berisi tentang pembatalan Lia menjadi Babysitter di negara A sambil kuliah disana" jelas Om Bram dengan wajah khawatir.
"Owh soal itu, iya aku tak ingin melanjutkannya. Lia sudah tau rencana itu semua aku yang mengaturnya, tapi aku mau membatalkannya karen aku tidak mau Lia tinggal jauh dari ku di Negara A nanti. Kami akan tinggal satu rumah di negara A agar aku bisa menjaganya setiap saat, karena aku tidak mau papu melakukan hal-hal diluar nalar pada Lia" tuturku membuat wajah khawatir Om Bram lebih santai.
"Syukur lah kalau begitu, biar bagaimana pun Lia sudah om anggap seperti anak om sendiri. Om minta tolong jaga dan sayangi Lia dengan sepenuh hati mu jangan pernah menyakitinya, Lia anak yang sangat baik dan juga cerdas" pinta om Bram pada ku.
"Om Bram tenang saja, tanpa perlu om minta aku pun akan menjaganya dengan nyawaku" ucapku tegas. "Jika tidak ada lagi yang dibicarakan aku pamit dulu, aku tak ingin membuat Lia menungguku sendirian terlalu lama".
__ADS_1
Saat kembali ku lihat pelayan sedang berbicang sambil membersihkan meja kami. senyum di wajah manis Lia terkembang berkali-kali saat bicara dengan si pelayan. "Apa yang mereka bicara sampai membuatnya terlihat bahagia?" bathinku sambil terus melangkah mendekati meja. Saat aku tiba di meja si pelayan pun sudah pergi meninggalkan Lia sendirian.
Aku pun langsung meminta maaf pada Lia karena permintaanya untuk pulang ke rumah mamanya malam ini benar-benar tidak bisa kami lakukan waktunya sudah sangat mepet. Lia berusaha bernegosiasi tapi akhirnya aku terpaksa menegaskannya sekali lagi kalau tidak bisa pulang malam ini, walau dia kecewa dengan keputusan ku Lia tetap bersikap manis padaku. "Wanitaku ini benar-benar pandai menyembunyikan perasaannya, tapi biar lah toh aku benar-benar tidak bisa memenuhi keinginannya saat ini" Bathinku.
Selesai makan pun kami berniat kembali ke penthouse namun Lia tiba-tiba menghentikan ku, ternyata dia menuju kasir memesan iced cappucinno dan meminta ku untuk membayar apa yang dipesan karena dia tidak membawa ponsel dan juga dompetnya. Barulah kami benar-benar kembali ke penthouse dengan aman terkendali tanpa kejadian apapun karena lift penuh terus orang lalu lalang. Saat tiba di penthouse pun aku langsung menuju ruang kerjaku.
Aku langsung menyalakan laptop untuk join pada link yang Jerry berikan, lalu membuka PC untuk mengerjakan tugas kuliah ku, karena metting baru akan di mulai kurang lebih tiga puluh menitan lagi. jadi ku pikir lebih baik menunggu sambil menyelesaikan tugas kuliah ku yang tinggal bab kesimpulan.
"Done, akhirnya selesai juga" ucapku sambil mengirim emailnya keJerry meminta mengecek ketikan ku jika ada yang salah ketik dia bisa memberi tahu agar aku perbaiki. Kuliah metting baru akan mulai 10 menitan lagi jadi ku putuskan untuk ke kamar melihat Lia.
"Gadis ini kenapa senang sekali melamun,,,ckckckk. Apa lagi yang terjadi membuat dia melamun seperti ini?" Gumamku sambil menghampiri Lia dan mengelus lengannya agar dia sadar akan kehadiran ku. Lalu aku membersihkan meja yang sudah basah karena iced capppucinno milik Lia mencair.
Sesudahnya Lia mengucapkan terima kasih dengan cara yang ku mau dengan sebuah ciuman di bibir yang tak ku sia-siakan. Bibir kami pun akhirnya saling berpagut dan kami mulai hanyut dalam ciuman panas dan tanganku pun mulai tak bisa ku kendalikan, aku mulai melucuti dress dan bra yang Lia kenakan. Sialnya saat suasana sudah semakin panas dan penuh gairah ponselku terus berdering, dari nadanya aku tau itu telphon dari Jerry, karena terus berdering akhirnya Lia pun meminta ku mengangkatnya dan benar saja Jerry memberi tahu ku kalo metting sudah akan di mulai tinggal menunggu kehadiranku saja. Aku pun pamit pada Lia dan kembali keruang kerja ku.
Suasanya sangat tegang saat aku mulai hadir dalam rapat online, karena wajah yang ku pasang mungkin sangat menyeramkan...bagaimana tidak menyeramkan, saat sedang berada diatas angin kenikmatan tiba-tiba harus berhenti untuk metting sialan ini.Ntah sudah berapa lama metting berlangsung sampai tiba-tiba ku lihat Lia masuk ke dalam ruang kerjaku dengan membawa nampan berisi susu coklat dan juga risoles mayo. "Gadis ini benar-benar tak bisa ku tebak, ada saja tingkahnya membuatku makin cinta padanya" bathinku saat menunggunya mengambil alat gambar sambil menikmati susu coklat dan risol mayo buatan istriku ini. "Benar-benar pas dengan selera ku, bagaimana bisa pas sekali dengan seleraku baik susu coklat dan juga risolesnya" bathinku. Saat aku bertanya pada Lia, dia malah sok misterius tidak memberi tahukan dan aku pun tidak memperdulikannya lagi dari mana Lia dapat informasi soal minuman dan makanan ke sukaan ku. "Pasti dari Jerry memang siapa lagi yang akan memberi Lia informasi, baiklah nanti akan aku tanyakan pada Jerry untuk kepastianya" pikirku.
Susu coklat dan risoles sudah habis panggilan dari Jerry pun datang, aku pun kembali menekuri pekerjaanku dan Lia sibuk menggambar di sofa ruang kerjaku. "Rasanya bahagia sekali bekerja ditemani istri tercinta, saat lapar ada yang membuatkan minuman dan cemilan...indah sekali andai papi tau bahwa pernikahan ini membuatku sangat bahagia ku harap dia akan merestui pernikahan kami" bathinku saat memandangi wajah istriku yang terlelap di sofa karena menungguku selesai bekerja.
Aku pun mengangkat tubuh Lia dan membaringkannya di ranjang, selesai menyelimutinya. Lia justru terbangun. "Mau kemana lagi?" tanya Lia tiba-tiba sambil menarik tanganku.
"Mau bersih-bersih cintaku, kamu lanjutlah bobo jangan tunggu aku nanti kamu malah nggak bobo sampai pagi" ujarku sambil mengerlingkan mata menggoda Lia. Dia langsung melepas pegangan tangannya padaku dan menarik selimut sampai lehernya dan berbalik memunggungiku. Aku hanya menggeleng melihat tingkah istriku ini dan terus melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu lanjut tidur dengan memeluk pinggang kecil istriku dan menghujanin banyak ciuman di puncak kepalanya, tak perlu waktu lama aku pun terlelap.
__ADS_1