
"Designer Lia aku lihat kamu sangat cocok dengan cucu ku Ami, jika aku mengangkat mu menjadi cucu ku apa kamu mau?"
"Ehh...ini..."Lia bingung menatap Ferry mencari tau apa jawaban apa yang harus dia berikan. Ferry menganggukan pelan kepalanya tanda meminta Lia menyetujuinya.
"Designer Lia jangan banyak pikir sudah setujui saja permintaan nenek, aku akan senang sekali kalau kamu jadi kakak angkat ku karena selama ini aku selalu sendirian dan tidak memiliki banyak teman karena sifat ku yang pendiam, keberadaan mu banyak merubah ku. Ku mohon jadilah kakak ku"
Mendengar permohonan Ami, Lia tak punya alasan lagi untuk menolak permintaan Nyonya Magdalena untuk jadi cucu angkatnya.
"Apa tidak apa-apa nantinya? aku takut akan ada masalah dengan keluarga besar Magdalena"
mendengar penuturan Lia, nyonya Magdalena tertawa. "Dasar gadis bodoh, apa yang akan terjadi memangnya? aku hanya punya satu anak, dia suami istri bersama suami ku meninggal saat kecelakaan, yang lainnya tidak usah kamu hiraukan"
"Baiklah kalau begitu aku setuju dengan permintaan mu" sahut Lia dengan senyum manis.
"Bagus sangat bagus, dua hari lagi kamu datang lah berkunjung ke rumah ku. Aku akan menyiapkan konfersi pers untuk mengumumkan pengangkatan mu menjadi cucu ku secara resmi". Pinta Nyonya Magdalena pada Lia.
"Tapi nyonya, saya tidak bisa pergi. lusa saya masuk kampus dan juga mulai melapor untuk datang ke YZ Collection" ujar Lia tak enak hati.
"Aiishh...kalau begitu kita lakukan weekend saja, sampai jumpa sabtu depan. Satu hal lagi mulai sekarang kamu jangan panggil aku nyonya, panggil aku nenek Asri sama dengan Ami"
"Baik nyo...ehhh nenek Asri" ucap Lia gugup sampai hampir salah ucap dan di pelototi nyonya Magdalena begitu Lia salah ucap.
"Jangan salah panggil lagi dan kamu juga tuan muda Goucher, panggil aku nenek Asri karena istri mu adalah cucu ku sekarang" perintah Nyonya Magdalena.
"Baik nenek Asri" sahut Ferry penuh hormat pada yang lebih tua. "Kalau begitu nenek juga cukup panggil aku Ferry saja" lanjutnya lagi.
"Bagus sungguh bagus, kalau kalian sudah ingin pulang sekarang sudah boleh karena aku juga mau kembali ke rumah lagi, tubuh tua ku tak kuat terlalu lama menghadiri acara sampai malam".
"Baik, hati-hati di jalan" ujar Ferry dan Lia bersamaan.
"Ami, kamu ikut pulang atau masih ingin di sini?" tanya Nenek Asri sebelum meninggalkan hall.
__ADS_1
"Aku di sini dulu nek, nanti aku akan pulang dengan supir" sahut Ami cepat.
"Baik lah, jangan minum alkohol terlalu banya. Ingat kamu anak gadis" pesan nenek Asri pada Ami.
"Iya nek, aku mengerti" Gumam Ami menunduk, pasalnya anak seusianya sudah sibuk pacaran sedang dia masih jomblo bahkan minum saja tak pandai semua karena nenek terlalu menjaganya selama ini.
"Ami, kamu kenapa?" tanya Lia melihat Ami murung sepeninggal nenek Asri.
"Tidak ada apa-apa koq kak Lia, aku hanya bosan selalu di awasi seperti anak kecil sama nenek"
"Memangnya kamu sudah besar?" goda Lia membuat Ami nyengir salah tingkah.
"Iya tapi kan aku juga bukan anak kecil kak" gerutu Ami dengan nada mulai kesal.
"Nenek begitu karena terlalu sayang, nenek cuma nggak mau kamu merusak masa muda mu hanya untuk kesenangan sesaat. Kak Lia tau kamu pasti gundah kan teman mu sudah begini begitu sedang kamu tidak pernah seperti mereka"
Mendengar ucapan Lia, Ami hanya bisa terdiam karena apa yang di ucapakan Lia benar adanya.
"Sekolah yang bener, lanjut kuliah dapatkan gelar sampai master sambil terus bantu nenek mengurus hotel" celoteh Lia seperti dengan Bimo, adik laki-laki semata wayangnya Lia
"Soal cinta, cepat atau lambat dia akan datang sendiri di saat yang tepat semua akan indah" ujar Lia membuat Ferry mengelus kepalanya.
"Wanita ku dewasa sekali" bisik Ferry membuat Lia membulatkan matanya kesal.
"Maksud mu aku tua gitu?" dengus Lia dengan kesal.
"Ehh...bukan begitu maksud ku yank" sahut Ferry sambil mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa berat.
"Sudah lupakan saja. Ami, kami pamit pulang duluan ya" pamit Lia sambil mencium kedua pipi Ami lalu berlalu keluar dari hall menuju lobby utam.
Ferry berusaha menyusul Lia tapi selalu saja ada orang yang menghentikan langkahnya untuk berbasi-basi ria menanyakan kabar, bicara bisnis. Ferry kesulitan untuk pergi dan menjauh dari situasinya kali ini, sedangkan Lia makin kesal karena sang suami tidak terlihat menyusulnya. Bahkan Lia sudah sampai di lobby utama batang hidung Ferry belum juga terlihat, Lia mulai gelisah bercampur kesal.
__ADS_1
'nggak mungkinkan aku keluar sendirian mencari taksi dengan gaun pesta kaya gini' bathin Lia sambil mencari bayangan sang suami namun tak juga terlihat.
Arjun Khan yang melihat Lia berjalan sendirian dengan cepat menyusul dan menghampirinya.
"Hallo nona Lia, kita ketemu lagi". sapa Arjun ramah.
Lia yang mendengar ada yang memanggil namanya langsung menoleh memastikan siapa yang menyapanya.
"Kirain siapa? ternyata tuan Arjun ujar Lia tak kalah ramah.
"Kamu disini sedang menunggu seseorangkah?" tanya Arjun yang melihat Lia berdiri dengan gelisah.
"Iya" sahut Lia singkat, Lia makin gelisah bukan karena Ferry tak muncul tapi takut Ferry salah paham kalau melihat Lia berduan sama Arjun gini.
"Kalau Jemputan mu tidak datang, aku antar kamu saja. Bagaimana? kebetulan supir ku sudah tiba" ajak Arjun menunjuk sebuah mobil yang tak kalah mewah dari mobil milik suaminya.
'Ahh...dari pada nunggu si bule trus dia lihat aku ngobrol gini sama cowo ribet mending bilang aja kelamaan nunggu naik taksi pulang' pikir Lia karena kesel juga sama si bule udah ngatain Lia tua bukannya dirayu orang lagi ngambek malah ngilang nggak nongol-nongol ditungguin.
"Gimana nona Lia mau aku antar kamu pulang?" tanya Arjun lagi karena bukannya menjawab Lia malah melamun.
"Apa tidak merepotkan mu?" tanya Lia tak enak hati tapi juga sudah lelah.
"Tidak sama sekali, aku malah senang jadi ada teman mengobrol sepanjang perjalanan" Sahut Arjun dengan raut wajah bahagia.
"Oke lah kalau begitu, maaf jadi merepotkan mu" ucap Lia sambil berjalan beriringan dengan Arjun menuju mobil di mana sang supir sudah membukakan pintu dari tadi.
Ferry yang melihat Lia dari kejauhan bersama seorang pria mengobrol segera melebarkan langkah kakinya dengan cepat.
"Lia Putri Aghata berhenti" teriak Ferry sambil berlari begitu melihat Lia berjalan menuju mobil yang sudah terbuka pintunya.
Lia yang mendengar suara bariton milik sang suami langsung menghentikan langkahnya dan diam terpaku. 'Mampus deh, mau menghindari keributan malah kejebak dalam keributan yang lebih besar' bathin Lia kacau tak tau harus ambil langkah apa untuk menenangkan beruang kutub mengamuk.
__ADS_1