Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Tawaran Kerja


__ADS_3

"Malam Semuanya, maaf nih om jadi ganggu acara makan malam kalian" ucap om Bram mengawali pembicaraan.


"Nggak koq om santuy aja" kelakar Bimo.


"Duduk Om, kita makan malem bareng" ajak ku.


"Wah, om jadi enak nih diajak makam gratis...hehehee" ucapan om Bram.


"Makannya emang gratis om tapi begitu selesai makanya yang baru bayar, hari gini nggak ada yang gratis om". celoteh Bimo membuat kami semua tertawa. Rasanya sudah lama sekali rumah ini tak ada canda dan tawa, sejak papa masuk ICU. "Cepet bangun pa, Lia kangen papa" ucapku dalam hati lirih. Buru-buru ku usap air mata yang hampir jatuh tak mau merusak suasana bahagia malam ini.


"Sudah-sudah ayo Bram duduk, kita mulai makan. Bimo pimpin do'a" pinta mama yang dianggukan Bimo.


Kami pun makan dengan tenang, damai dan diselingi canda tawa dan celoteh nggak mutu dari mulut Bimo yang konyol.


Usia makan malam, si mbok sibuk merapikan meja. kami semua ke ruang keluarga. Suasana di ruang keluarga nampak lebih tegang dibandingkan saat duduk di meja makan.


"Jadi maksud Om datang kesini mau nawarin Lia kerjaan yang gajinya lumayan gede kontraknya cuma 1.5 tahun karena om dengar Lia sedang mencari kerja paruh waktu" Om Bram mulai bercerita maksud kedatangannya.


"Kerja apa om?" tanyaku penuh harap.


"Jadi Baby sitter dari anak perempuan temen om usianya delapan tahun". Jreng...Jreng "Baby Sitter" gumam ku, Bimo dan juga mama bersamaan.


"Iya, kalian tenang dulu ini kerjaannya nggak kaya baby sitter di sini. Jadi temen om dan istrinya itu sudah mengantongi izin untuk membuka restoran di Negara A, dia memiliki anak perempuan usia delapan tahun. Mereka akan sangat sibuk dan khawatir tidak bisa mengurus anaknya itu. Kerjaannya hanya mengantar jemput ke sekolah, membantu mengerjakan tugas sekolah. Untuk urusan bersih-bersih, masak, nyuci dan lain-lain mereka sudah hired orang, jadi kamu disana pun bisa melanjutkan kuliah bukannya kamu mendapat beasiswa di Pratt Institute negara A" jelas om Bram panjang lebar.


"Bagaimana om tau Lia mendapat beasiswa di Pratt Institue?" tanyaku merasa aneh karena aku belum membicarakan prihal ini dengan siapa pun kecuali Ferry. "Tidak mungkin kan si bule tengil itu kenal om Bram" bathinku.


"itu karena om Menghubungi dekan kampus mu, tanya om ingin bertanya bisa tidak kuliah mu ditansfer ke negara A, apa prosedurnya mudah atau sulit, memakan waktu lama atau tidak" ucap om Bram masuk akal. Aku hanya mengangguk, tidak dengan mama dan Bimo mereka justru menatapku penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Lia juga baru dapet surat pemberi tahuan soal beasiswa ini tadi di kampus ma, niatnya baru mau Lia bahas dengan mama dan Bimo" ujarku takut mereka salah paham.


"Tapi koq bisa pas banget ya om?". celetuk Bimo. membuat aku dan mama spontan menatap om Bram.


"itu lah hebatnya kuasa Tuhan, kita tidak pernah tau apa yang Tuhan rencanakan untuk hidup kita tapi percayalah semua akan berkahir indah" terang om Bram membuat kami mau tidak mau percaya dengan alasannya.


"kalau Lia mau kapan temen om dan keluarganya berangkat ke Negara A?" tanyaku.


"temen om dan istrinya akan berangkat lebih dulu, Lia nanti berangkat bareng sama Lola anak temen om itu, karena dia masih harus sekolah dan menyelasaikan semester ini dulu dan mengurus surat pindah dan lain-lainnya, Lia juga kan akan UAS dua pekan lagi, abis itu Lia bisa mulai proses transfer kuliah ke Pratt Institute" terang om Bram, aku kembali hanya menganggukan kepala.


"Pergi lah sayang, mama setuju sepertinya ini jalan keluar terbaik. setidaknya kamu tetap akan melanjutkan kuliah mu dan jadi designer seperti cita-citamu dan Bimo pun bisa tetap kuliah dab kehidupan kami disini tidak akan kekurangan dengan sisa tabungan dari papa dan tentunya juga dari hasil kerja mu disana. toh cuma 1.5 tahun pas sekali bukan. kamu lulus kontrak kerja selesai" ucap mama terlihat puas.


"Tapi ma, jika Lia mengambil beasiswa ini setelah lulus Lia wajib magang satu tahun di perusahaan uang mendanai kuliah Lia" jelas ku.


"Ya bagus dong kak, abis lulus langsung dapet kerjaan di luar negri lagi pasti gajinya gede" seloroh Bimo.


"Jadi gimana Lia" tanya om Bram membuyar lamunanku.


"Kalau mam dan Bimo setuju, Lia setuju om" ucapku sambil menatap mama dan Bimo, yang langsung mendapat anggukan kepala dari mereka dengan senyum terkembang bahagia.


"Sepertinya mereka setuju Lia" ucap om Bram, tersenyum bahagia.


"Kalau begitu deal om, Lia juga setuju" ucapku penuh keyakinan.


"Baiklah kalau begitu om Pamit dan om akan mengabari teman om segera". ucap om Bram sambil berdiri dan pamit pulang.


Setelah om Bram pulang, mama, Bimo, si mbok dan aku duduk nonton sinetron yang lagi hot-hotnya dikalangan emak-emak. Sesekali si mbok dan mama akan saut-sautan mengomentari adegan ditv, bahitu juga dengan Bimo yang akan memaki-maki kebodohan si aktor atau aktrisnya. Sedangkan aku tidak paham sama sekali jalan ceritanya, lebih tepatnya tidak perduli. Aku malah sibuk berselancar masuk ke ruang obrol club para designer. membaca obrolan mereka dan postingan design-design mereka. "Oh ya, hampir saja aku lupa. sebaiknya aku menghubungi orang yang kemarin mewaran design baju malam couple rancangan ku, seperti si cupu bilang aku akan menaikan harganya bukan dua kali tapi menjadi tiga kali lipat, lumayan uangnya bisa untuk tambahan tabungan" pikir ku.

__ADS_1


Lalu aku pun mengklik ruang obrol personal, kulihat Jerry orang yang kemarin menawar harga designku online. Langsung saja ku sapa dia.


"Malam kak Jerry" sapaku ramah.


"Malam juga nona Lia, gimana apa anda sudah punya kabar baik untuk ku" jawab Jerry ramah.


"Aku sudah memikirkannya baik-baik, aku bersedia menjual karyaku tapi tidak dengan harga yang kakak Jerry tawarkan" ucapku to the poin.


"Berapa harga yang nona Lia inginkan?" tanya Jerry langsung pada intinya.


"tiga kali lipat dari harga yang kak Jerry tawarkan kemarin, bagaimana mau tidak?" tanyaku langsung.


"tiga kali lipat? 4500 US$" gumam Jerry dengan nada terkejut.


"Iya jika kak Jerry berminat dengan harga segitu aku baru mau melepaskannya" Jawabku tegas.


lama kak Jerry tidak mebalas chat ku. Aku masih setia menunggu dengan deg-degan, apa pantas karya perdana ku dihargai semahal itu. bathinku mulai tak percaya diri.


"Baik nona Lia saya setuju" tiba-tiba kak Jerry membalas chatku.


"Benarkah?" tanyaku rasanya benar-benar sulit dipercaya.


"Tentu saja nona Lia semua ini benar, baiklah jika nona Lia berserius ingin menjual designnya pada kami maka besok bisa temui saya di restoran Qiyu jam 12.30 bagaimana?" ujar kak Jerry.


"12.30?, oke aku akan datang" ucapku penuh keyakinan.


Lalu chat pun kami akhiri aku pun menyimpan ponselku, kemudia ikutan menonton sinetro di tv tapi baru sebentar aku menonton, aku malah menuaap.

__ADS_1


"Jika sudah mengantuk naik dan tidur lah. besok masih harus packing kan" ujar mama memintaku tidur. Akhirnya aku pun naik ke kamar untuk gosok gigi dan cuci muka lalu naik ke atas ranjang ternyaman ku dan meletakan ponsel diatas nakas.


__ADS_2