Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Shopping


__ADS_3

'Hhmm...dia masih terlelap, sebaiknya aku mandi dulu baru bangunin deh' gumam Lia dalam hati saat masuk ke dalam kamar dan menemukan suami tampannya masih terlelap usai menyiapkan sarapan yang dibantu mba Narti.


"Sayang, bangun yuk" Lia duduk di samping Ferry yang masih asik terlelap sambil memeluk guling. Lia coba menggoyang-goyang bahu Ferry tapi tak juga bergeming.


'Aiiisssh...kebo banget sih ini bule, sekalinya bergadang dan nggak ke kantor susah banget banguninnya'. Gerutu Lia dalam hati, Lia mulai kesal karena Ferry benar-benar terlalu pules tidurnya tidak seperti biasanya kalau ada jadwal ke kantor nggak ada ngantuk dan lelahnya biar jam dua malam baru tidur abis subuh langsung siap-siap cus ke kantor.


Lia yank mulai kesal tidak berhasil membuat sang suami bangun. 'Gawat bisa kesiangan ini belanja bahan baku untuk gaun Shella kalau Ferry terus tidur kebo gini. iya alhamdulillah jika di satu tempat semua bisa langsung di dapat kalau tidak akan makan waktu karena harus pindah-pindah lokasi' gumam Lia sambil memikirkan cara membangunkan suaminya yang efektif.


"Bangun suamiku bangun please" ucap Lia sambil menciumin wajah sang suami dan memaikan jarinya di tubuh sang suami.


"Cukup" tiba-tiba suara bariton sang suami terdengar serak menahan lengan Lia yang hampir sampai ke alat tempur sang suami.


"Hehehehe...sudah bangun" Lia cengengesan dengan wajah memerah karena malu akan perbuatannya sendiri.


"Kamu mau bikin aku bangun apa mau bangunin si junior, hah?" ujar Ferry sambil menarik Lia kedalam pelukannya.


"Mau bangunin kamu lah, udah jam delapan. Kamu jadi mau nemenin aku belanja nggak sih?" sahut Lia cepat biar nggak disangka modus, Lia berusaha bangun dan keluar dari pelukan sang suami.


"Bentar lagi ya yank, biar begini dulu sebentar aja" ucap Ferry terdengar agak sendu.


"Ada masalah apa? Kamu cuma akan seperti ini kalau ada masalah" ucap Lia sambil memutar tubuhnya menghadap sang suami.


"Aku memang tidak bisa menutupi masalah ku dari mu" sahut Ferry sambil menjawil hidung Lia.


"Cerita lah, aku akan jadi pendengar yang baik" ucap Lia dengan senyum manisnya.


"Papi mulai mengerjai ku, tumpukan pekerjaan yang harusnya bisa Jerry handle semuanya diserahkan pada ku agar aku sibuk dan tak punya waktu dengan mu".


"Jadi semalam bergadang karena ngurus pekerjaan toh, kirain abis kencan sama cewe mana...hehehe" Lia berusaha melucu walau garing dan jadi ngeselin...hahahaha.


"kamu itu" sahut Ferry sambil menyentil jidat Lia.


"Hehehehe" tawa Lia sambil mengelus jidatnya yang di sentil Ferry


"Sakit ya?" tanya Ferry sambil mendaratkan banyak ciuman di kening Lia. Lia hanya mengangguk pelan karena malu hati sendiri sama ucapannya.


"Aku mandi dulu aja kalau begitu, ini kita bahas nanti lagi". Ucap Ferry sambil membangunkan Lia agar dia bisa bangun.

__ADS_1


Ferry mendaratkan sebuah kecupan di kening Lia lalu masuk ke kamar mandi. Lia sibuk merapikan ranjang mereka, iya para ART tidak di izinikan masuk kamar jika mereka tak menyuruhnya.


Saat Lia sedang memilih baju untuk dikenakan sang suami, Ferry sudah muncul melingkarkan lengannya di pinggang kecil sang istri.


"Pilih kaos biru itu aja sama celana pendek biru dongker itu yank" ujar Ferry sambil menunjuk kaos dan celana yang dia maksud.


"Terlalu santai" sahut Lia


"Kan cuma shopping aja, lagian diluar panas yank" Ferry mengusel-ngusel hidungnya di tengkuk Lia.


'Aduh, nih bule kalau udah kaya gini gawat kelamaan bisa jadi panjang urusannya' bathin Lia.


"Oke, pakai lah ini" ucap Lia sambil memutar tubuhnya dan menyerahkan pakaian yang Ferry maksud.


"Ehh...koq tumben langsung oke biasanya banyak debatnya dulu.


Lia langsung menjauhkan diri dari Ferry karena tak ingin memancing suasana terlalu item dengan sang suami. Lia takut acara shoppingnya akan makin kesiangan.


"Males debat sama kamu, cepet pakai baju mu. Aku tunggu di bawah untuk sarapan" ucap Lia sambil ngeloyor keluar kamar setelah membawa tas kecil yang berisi dompet, ponsel dan lipgloss plus bedak.


"Siap nyonya muda Goucher" Lia hanya bisa tersenyum melihat tingkah sang suami yang memberi hormat ala tentara yang habis diberi tugas atasannya.


"Iya nggak apa-apa, duduk lah lalu kita bisa mulai sarapan"


Dengan telaten Lia menyendok nasi dan lauk pauknya ke piring Ferry dan mereka pun sarapan dengan tenang disela-sela obrolan ringan penuh senyum membuat yang melihat ikut senyum-senyum kaya mba Narti yang selalu stand by tidak jauh dari ruang makan takut tiba-tiba dipanggil.


Selesai sarapan mereka pun langsung menuju teras dimana mobil sudah siap digunakan.


"Hari ini kalian di rumah saja, saya yang bawa mobilnya" perintah Ferry saat sang supir dan bodyguard bersiap untuk menghampiri sang tuan muda.


"Baik" sahut sang supir dab bodyguard berbarengan.


"Sayang, kamu kenapa malah berdiri disitu aja. Cepat lah kesini tadi siapa yang takut kesiangan shoppingnya" ujar melihat Lia berdiri mematung.


"Nyonya muda, dipanggil tuan muda" bisik Narti sambil mencolek lengan Lia.


"Ehh...iya aku datang" ucap Lia sambil mengarah ke depan pintu dimana Ferry berdiri menunggu Lia datang.

__ADS_1


"Kurang-kurangin melamunnya istri ku" ucap Ferry saat membukakan pintu untuk sang istri.


"Hehehehe...maaf suami tadi tiba-tiba nggak fokus" sahut Lia kemudian mencium pipi Ferry sebagai kompensasi karena menunggu dirinya yang melamun.


Sebuah senyum langsung menghiasi wajah Ferry membuat mereka yang menyaksikannya tak bisa percaya. Pria blasteran yang terkenal dingin kaya kulkas dua pintu dan hampir tidak pernah terlihat tersenyum dan bersikap lembut pada orang-orang disekitarnya.


"Kalian liat apa? Kenapa masih di sini?" mendengar suara bariton tuan muda mereka bertiga yang dari tadi pandang-pandangan karena takjub menyaksikan pemandangan yang tak biasa langsung tunggang langgang kembali ke posisinya masing-masing.


Ferry pun dengan cepat memutari mobil untuk menyetir mobilnya sendiri.


"Suami, kenapa kamu hari ini nyetir sendiri? bukannya tadi masih mengantuk" tanya Lia khawatir karena hari ini Ferry kurang tidur.


"Justru itu kalau aku disupirin aku pasti akan tertidur selama perjalanan" sahut Ferry


"Low kan bagus, kamu jadi bisa istirahat...ckck" Lia berdecak kesal tak mengerti jalan pikiran suaminya ini.


"Hehehehe...aku tidak mau jalan-jalan sama istri malah ketiduran" jawab Ferry acuh tak acuh.


"Hhhmmm...so sweat banget sih kamu suam, kalau kamu manis gini trus aku kaya harus rajin makan pare nih?"


"Low kenapa gitu?"


"Biar nggak kena diabetes...hehehe"


"Konyol" Ferry mengacak-acak rambut Lia karena gemesh dengan jawaban sang istri.


"Isshh....suami kebiasaan deh, kan jd berantakan" Lia menggerutu sambil merapikan rambutnya dengan sela-sela jarinya.


"Udah cantik permanent rambut acak-acakan dikit malah bikin makin syantiiiik"


Lia mencibikan bibirnya mendengar ocehan Ferry yang gombal banget tapi cukup bikin hati berlophe lophe ria.


Setelah satu jam setengah perjalanan akhirnya mereka tiba di pusat perbelanjaan bahan-bahan baku terbesar di negara IND.


Dari lantai satu sampai lantai delapan Lia memasukin satu persatu toko mencari bahan yang dia butuhkan, Ferry hanya mengikutinya dengan tenang dan membawakan tas-tas belanjaan Lia.


Hampir tujuh jam mereka ada di pusat perbelanjaan itu untuk membeli bahan gaun Shella, hanya terjeda untuk sholat dzuhur dan ashar plus makan siang.

__ADS_1


Setelah mendapatkan semua yang Lia butuhkan, mereka pun kembali. Tetapi ditengah jalan Lia mendapat telphon dari Mira ngajakin makan malam di cafe zombie, karena Ferry setuju untuk makan malam bersama Mira dan juga Rendy makan mereka berempat pun makan malam bersama.


jangan lupa like dan komen ya readers...lophe you full


__ADS_2