
Lia sibuk kuliah dari pagi hingga akhirnya jeda makan untuk istirahat sholat makan, lanjut mata kuliah terakhir.
Lia sama sekali tak tahu kalau Ferry sedang uring-uringan di kantor sampai saat dia melihat ponselnya tidak ada satu pun pesan atau pun telphon masuk dari sang suami.
"Eh tumben banget, bisa setenang ini. Apa dia sibuk sampai nggak bisa oegang ponsel ya?" gumam Lia saat menatap ponselnya.
"Bengong aja, emang lagi liatin apa sih?" Ujar Jeni yang baru datang membawa makan siang untuk mereka berdua.
"Lia, kamu belum cerita pada ku sebenarnya apa yang terjadi waktu di negara S. Kenapa kamu tiba-tiba menghilang dan mereka sibuk mengantar ku kembali ke villa kak Arjun dengan penjagaan ketat dan begitu tergesa-gesa"
Tanya Jeni dengan tampang serius karena saat dia tiba di villa, Arjun juga langsung memintanya bersiap-siap untuk kembali ke negara A. Arjun juga tidak menjawab setiap di tanya kenapa harus buru-buru kembali, Lia masih di negara S namun tak ada satu penjelasan pun yang Jeni dapatkan dari Arjun.
Lia yang melihat wajah Jeni begitu serius ingin tau apa yang sebenarnya terjadi akhirnya menceritakan semua kronologi kejadian penculikan yang terjadi di negara S.
"Gila banget tuh orang" teriak Jeni spontan membuat seisi kantin menatap kearah mereka berdua sambil menggebrak meja penuh amarah.
"Kamu pelan sedikit bicaranya, lihat kita jadi pusat perhatian"
"Iya iya maaf aku kelepasan tadi, jadi terbawa emosi. Gila banget itu orang, cuma mau menang tender sampe segitunya, untung aja tuam muda Goucher, suami mu itu tidak gila harta dia mau mengalah" sahut Jeni merasa lega Lia memiliki suami yang tidak hanya tampan dan kaya tapi juga sangat mencintai sahabatnya sampai dia rela kehilangan tender dengan keuntungan yang fantastic.
"Belum tentu juga Ferry merelakannya, karena akhir pekan ini Ferry akan kembali membawa ku ke negara S untuk menghadiri perjamuan terkait dengan tender itu"
"What? mau apa lagi kalian kembali ke negara S? sudah tau disana sangat berbahaya...ckckck" Jeni berdecak kesal mendengar penuturan Lia.
"Aku juga tidak tau Ferry tidak menjelaskannya pada ku" sahut Lia sambil mengendikan bahunya. "tapi yang pasti Ferry bilang dia akan menebus kedatangan ku ke negara S kemaren week end ini, dengan mengajak ku jalan-jalan di negara S sebelum acara perjamuan"
"Hhhmm...aku ikut dong"
"Tidak bisa, kamu akan mengganggu kencan ku dengan Ferry nanti...wheee" Lia mejulurkan lidahnya meledek Jeni yang kini sudah manyun ingin ikut ke negara S begitu mwndengar kata liburan"
"Aku akan minta kak Arjun untuk mengajak ku kesana, aku bilang kamu sedang jalan-jalan dengan Ferry disana dan aku berniat merusak liburan kalian biar tidak bisa berdua-duaan lagi. Pasti kak Arjun akan setuju...hahahahaha" sahut Jeni menuturkan rencananya untuk mengikuti Lia liburan ke negara S.
"Jangan terlalu berbahaya kamu ikut kesana karena perasaan ku bilang kedatangan Ferry kembali ke negara S tak sesederhana itu"
"Maksud mu?"
"Sudah lupakan saja, sekarang lebih baik kita cepat habiskan makanannya karena aku harus pergi ke ruang ibadah untuk menunaikan kewajiban ku"
Jeni pun akhirnya tak lagi membantah Lia, karena memang jam sudah mepet jika mereka terus berlama-lama di kantin nanti Lia tidak sempat sholat Dzuhur.
Ferry yang masih badmood setelah mengetahui Lia bertemu dengan Hans yang ternyata tetangga mereka di panthouse.
Ferry sibuk seharian memikirkan cara agar Lia tak bertemu lagi dengan Hans baik di apartemen maupun diluar, tapi dia benar-benar bingung bagaimana caranya karena Lia pasti tidak akan terima dilarang-larang dengan berdalih mereka tidak melakukan apapun yang salah apalagi mereka sudah sahabatan dan tetanggaan dari sejak remaja.
"Kenapa sih kamu banyak banget dikelilingan pria-pria, tak bisakah hanya aku saja yang slalu disisi mu?. Pokoknya Kamu slamanya hanya akan jadi milik ku, milik Ferry Goucher" gumam Ferry sambil menatap Foto mereka berdua yang diletakan diatas meja kerja Ferry.
tok tok tok
Jerry mengetuk pintu lalu langsung membuka pintu ruang kerja Ferry tanpa menunggu penghuni ruangan mempersilakannya masuk.
"Maaf tuan muda sudah jam lima sore, kita ada jadwal fitting baju untuk acara perjamuan nanti malam"
Ferry menatap Jerry tajam "Kamu sudah meminta Lia untuk hadir ke acara perjamuan?" tanya Ferry memastikan Jerry melakukan perintahnya tadi pagi.
'Mampu, aku lupa banget soal ini karena tumpukan pekerjaan yang dilimpahkan pada ku akibat si bos uring-uringan seharian ini' bathin Ferry sambil menunduk agar Ferry tak membaca isi pikirannya.
"Sial, kamu Jerry hal sekecil ini pun kamu bisa abai. Aku tidak mau alasan apapun, aku mau Lia hadir diacara perjamuan dengan dress couple dengan ku" Ucap Ferry tak mau di bantah.
__ADS_1
Jerry langsung bergegas lari ke ruangannya menghubungin designer yang membuat baju untuk Ferry memastikan kalau dia punya gaun couple yang ready untuk saat ini.
"Bagaimana ada tidak?"
"Ada, tapi bukan gaun yang kemarin tuan muda pilih"
"Kamu kirim baju² pesta couple terbaik sekarang biar si bos pilih sambil on the way ke butik mu"
"Oke aku kirim sekarang ya"
Setelah menelphon designer Jerry menghubungi Lia yang ternyata baru on the way ke apartemen dengan tubuh yang sudah lelah.
"Ada apa Jer?"
"Maaf nyonya muda, anda bisa ke butik XX1 sekarang? tuan muda minta anda menghadiri perjamuan nanti malam"
"Aku lelah sekali Jer, boleh tidak jika aku tidak ikut perjamuan?" sahut Lia begitu mendengar perjamuan tubuh lelahnya jadi terasa makin lelah.
"Maaf nyonya, kalau soal itu nyonya bisa langsung menghubungi tuan muda saja" jawab Jerry tak berdaya menolak atau menerima permintaan istri bosnya.
"Hhhmmm...sama juga boong bicara sama dia sih, yang ada cuma dapet kuliah gratis yang membosankan" sahut Lia penuh kesal lalu memutus sambungan telphon dan menon aktifkan ponselnya.
"Den, kami tau di mana salon yang tempatnya nyaman dan pelayanannya bagus?" tanya Lia kepikiran untuk pijat dan spa sebelum menghadiri perjamuan.
"Tau, nyonya muda mau saya antar kesana?"
"Iya Den, antar aku kesana ya"
"Baik"
Deni pun melajukan mobilnya dengan cepat menuju salon kecantikan terbaik di kota A yang ada selalu di datangi para artis dan biasanya harus membuat janji dulu untuk dilayani. Lia tidak mengetahui soal ini, dia hanya mengikuti usulan Deni saja.
'Buat apa coba dia bawa aku ke perjamuan, udah tau aku belum siap mempublikasikan hubungan dengannya malah disuruh nemenin ke perjamuan'
'Toh aku cuma di suruh hadir tapi tidak di suruh datang awal kan, jadi aku manjain diri dulu baru deh datang ke perjamuan. Kalau aku tiba acaranya sudah selesai itu bagus banget'
Sedangkan Jerry yang panggilan telphonnya di putus sepihak mencoba beberapa kali menelphon kembali tapi tak tersambung.
"Mati deh, gimana ini kalau nyonya muda tidak datang ke perjamuan. Alamat deh si beruang kutub akan marah besar" gumam Jerry sambil mondar mandir di ruangannya.
Tau-tau pintu ruangannya dibuka tanpa izin dan wajah pria yang tak ingin dia lihat saat ini muncul.
"Ngapain kamu mondar mandir kaya gitu? jangan bilang Lia menolak datang ke perjamuan?" tanya Ferry dengan sorot mata tajam.
"Tuan muda tau aja, tapi tidak sepenuhnya menolak sih. Tadi nyonya muda cuma bilang boleh tidak hadir nggak?"
"Trus kalau kaya gitu kenapa kamu mondar mandir kaya orang bingung?"
"Ya karena nyonya belum bilang iya akan hadir dan saya juga belum bilang soal nyonya ke butik untuk fitting gaunnya telphon saya sudah dimatiin"
"Hhhmmm....kamu kan tinggal kirim pesan atau telphon Deni, bilang anter nyonya muda ke butik XX1, gitu aja ribet" ujar Ferry dengan nada santuy.
"Kenapa tidak terpikir oleh ku tadi ya" gumam Jerry yang masih terdengan Ferry
"Itu karena otak mu lebih kecil dari ku, jadi begitu dapet kejutan langsung panik dan tak bisa berpikir jernih" sahut Ferry acuh tak acuh membuat Jerry hanya bisa menelan salivanya.
'Ya...ya...ya boss memang slalu benar' gerutu Jerry dalam hati tapi tetap melakukan apa yang disuruh sang tuan muda.
__ADS_1
Melihat wajah Jerry yang tak biasa saat menelphon Deni, membuat Ferry yang sedang duduk santai di sofa jadi menegakan tutuhnya.
"Kenapa wajah mu?"
"Itu,,,nyo nyonya muda sedang perawatan di salon and spa cantique dan baru saja masuk"
"Ayo kita kesana sekarang, gawat Lia pasti saat ini akan dalam masalah" ucap Ferry bergegas keluar diikut Jerry.
"Kamu telphon Berta sekarang, jangan biarkan seorang pun menghina Lia apa lagi sampai menyakitinya tak akan aku biarkan"
Jerry yang sudah meminta supir stand bye di depan pintu lobby perusahaan agar begitu mereka sampai luar langsung bisa berangkat ke salon Cantique.
Mobil melaju dengan kecepatan penuh ditengah jalanan yang lumayan ramai, tapi karena sang supir yang sudah lihai dan ahli mengendarai mobil dalam berbagai situansi, mobil itu sampai salon Cantique hanya dalam dua puluh menit.
Ferry bergegas turun dan berjalan cepat masuk kedalam salon. Siapa sangka begitu dia tiba ada seorang wanita yang bersiap melayangkan pukulan pada wanita yang amat dia cintai.
Ferry setengah berlari untuk menahan tangan wanita yang hampir saja mengenai kulit mulus sang istri.
Sedangkan Lia yang sudah bersiap menerima pukulan sambil memejamkan mata tapi ternyata rasa sakit itu tidak menghampirinya, Lia pun membuka matanya.
"Suam, kamu. Koq bisa disini?"
"Dasar bodoh, kalau aku tidak disini kamu pikir aku harus dimana?" ucap Ferry sambil menatap lembut pada sang istri.
"Hei siapa kamu, jangan mentang-mentang ganteng mau ikut campur ya sama urusan orang lain"
"Jerry kamu urus lah ini" ucap Ferry lalu menarik tangan Lia dan menggandengnya menuju ruangan staf salon, dimana biasanya Berta berada.
"Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Lia. Aku belum daftar koq malah kamu bawa masuk.
"Mana boss kalian?" ucap Ferry saat masuk ke ruangan staf di dalam salon tapi tidak menemukan sosok Berta disana.
"Boss sedang keluar cari makan, tuan muda Goucher butuh sesuatu biar kami yang bantu"
"Bantu istri ku, dia ingin perawatan disini lain kali kalau istri ku datang layani baik-baik" Lia shock mendengar penuturan Ferry yang menyebutkan statusnya tapi dia juga tidak mungkin membantahnya karena memang begitu kenyataannya.
'Yes, Lia tidak membantah ku. Lain kali kalau ada kejadian seperti ini aku bisa pura-pura keceplosan buat pelan-pelan ngumumin status kami' bathin Ferry bahagia, rasanya rasa kesalnya pada Lia hilang begitu saja.
"Baik, ayo nyonya muda bisa ikut saya untuk memilih perawatan yang nyonya mau" ajak salah seorang pegawai salon. Lia menoleh ke arah Ferry yang dilihat hanya mengangguk pelan tanda memberi izin Lia untuk perawatan.
"Sayang ambil perawatan yang penting aja ya dan harus selesai dalam dua jam" ujar Ferry sambil keluar meninggalkan ruangan staf kearah lobby salon.
"Ya ampun tuan muda Goucher maaf sekali aku tadi tidak di sini, begitu membaca pesan dari Jerry aku langsung kesini tapi tidak melihat kejadian apapun hanya Jerry yang sedang duduk menunggu di sini"
"Berta, kali ini aku maaf kan tapi kalau ada lain kali aku jamin salon and spa mu ini tidak akan ada lagi di negara A"
"Ampun tuan muda, aku akan pastikan nyonya muda tidak akan mengalami bullyan lagi disini" ujar Berta yang sudah mendapatkan cerita tentang kejadian yang di alami Lia.
"Sudah sana, kamu urus istri ku. Pastikan semua selesai dalam dua jam" mendengar titah Ferry, Berta langsung masuk ke dalam area perawatan mencari keberadaan Lia.
"Jer, suruh orang butik XX1 kesini antar pakaiannya" ucap Ferry sambil mendaratkan bokongnya di sofa ruang tunggu.
"Soal pakaian, tuan muda mudah pilih lah dulu mau mencoba model couple yang mana dengan nyonya muda?"
Ferry menatap Jerry dengan heran, karena dia sudah memilih model yang dia inginkan bagaimana bisa tiba-tiba di minta memilih model lagi.
"Itu, karena pilihan tuan muda, Yancee tidak membuat couplenya karena tidak tau kalau tuan muda punya pasangan" ucap Jerry sambil menahan nafas.
__ADS_1
"Ya sudah suruh saja mereka kesini dengan membawa beberapa pakaian couple terbaik yang gaun wanitanya tidak terlalu terbuka" Ferry memberi penekanan untuk model gaun Lia, Dia paling tidak suka tubuh istrinya terekspos dan di nikmati mata pria lain.
Jagan Lupa like and komen yeeess