
"Sayang, bersiap lah kita keluar?" Ucap Ferry begitu sampai di dalam kamar mereka sambil mencium puncak kepala Lia.
"Kemana?" tanya Lia agak bingung tiba-tiba Ferry mengajaknya keluar.
"Ikut saja nanti juga kamu tau, cepat lah bersiap-siap" pinta Ferry lagi sambil dia pun menuju walk in closed mengambil sebuah kaos, celana panjang hitam dan long coat hitam.
Saat Lia keluar dari kamar mandi, Lia berpapasan dengan dengan Ferry yang baru keluar dari walk in closed. "Widiih...suami ku bemakin ganteng aja sih" Ujar Lia sambil mendaratkan ciuman di pipi dan masuk ke dalam walk in closed.
'Andai kamu tau ke mana aku akan membawa mu saat ini, kamu pasti tak akan mampu tersenyum semanis itu lagi sayang' gumam Ferry dalam hati sambil tersenyum pahit.
Ferry belum berani menceritakan tujuannya sore itu mengajak Lia keluar, dia tak ingin Lia shock dan panik. Walau mungkin menunda menceritakan semuanya hanya akan membuat Lia marah tapi Ferry lebih memilih itu agar dia masih bisa melihat senyum istri cantiknya dan juga masih melihat binar bahagia dari manik mata Lia.
'Ini pilihan terbaik, biar dia tau semua di rumah sakit saja nanti dan jika harus ada air mata yang tumpah biar lah tumpah di sana. Saat ini aku masih ingin melihat senyum manis mu sayang'.
Ferry sibuk dengan pikirannya sambil duduk di sofa ruang tamu menunggu Lia, dia sengaja turun lebih dulu untuk memberi tahu sang supir untuk menyiapkan mobil dan mengantar mereka ke rumah sakit. Biar Lia tidak tahu tujuan mereka yang sebenarnya sampai mereka tiba di rumah sakit.
"Sayang...ayo aku udah siap" sapa Lia saat melihat Ferry tapi yang di sapa sedang asik dengan pikirannya tak menyadari kehadiran Lia.
"Sayang" panggil Lia sambil mengelus bahu Ferry, membuat Ferry tersadar dari lamunannya.
"Iya sayang, ada apa?" jawab Ferry agak ling lung.
"Suami kamu baik-baik aja? sedang ada masalah apa? cerita pada ku"
"Nanti saja sekarang kita pergi yuk" Ferry langsung bangkit dari posisi duduknya dan menggandeng tangan Lia.
"Sayang kamu mau aja aku kemana sih?" tanya Lia mulai penasaran saat sudah di dalam mobil karena Ferry cuma memberi perintah pada supir untuk jalan.
__ADS_1
"Nanti kamu juga tau sayang ku, satu hal aku mau kamu tahu apapun yang terjadi nanti aku selamanya akan selalu ada di sisi mu...selamanya"
"Hhhmmm...kenapa jadi sentimentil gini? kamu yakin tidak ada masalah? atau jangan-jangan sekarang kita mau menemui papi kamu ya?"
"Kamu itu, mana mungkin tiba-tiba papi muncul di sini?" ujar Ferry sambil menyentik jidat Lia pelan.
"Hehehehe ... abis kamu misterius banget udah gitu kata-katanya tuh kaya ada masalah berat banget. Bisa cerita sekarang aja nggak, aku benaran udah kepo banget ini yank"
Lia berusaha keras merayu Ferry untuk menceritakan tujuannya pergi kemana tapi Ferry tetap saja bungkam, Ferry tak sanggup mengatakan kebenaran kondisi papa Lia saat ini. Dia belum siap kehilangan senyum manis istrinya, jadi Ferry memilih bungkam seribu bahasa dan hanya membawa Lia untuk melihat langsung kondisi papa, dan membiarkan mama atau Bimo yang mengatakannya. Ferry hanya akan menyiapkan bahu untuk tempat Lia bersandar dan memberikannya pelukan hangat meringankan kesedihannya.
Akhirnya Lia pun menyerah dia susah lelah merayu Ferry dengan berbagai cara tapi si bule tetap tak bergeming. Akhirnya sisa perjalanan Lia asik main ponselnya dan Ferry membiarkannya. Sampai Lia tak sadar kalau kini mobil Ferry sudah terparkir sempurna di depan lobby rumah sakit.
"Tuan, nyonya muda kita sudah sampai" Ucap sang supir lalu keluar membukakan pintu mobil Ferry memutar menuju pintu mobil Lia dan membukakannya.
"Silahkan keluar tuan putri, kita sudah sampai"
Sontak Lia menatap Ferry meminta penjelasan tapi si bule hanya tersenyum manis lalu menggandeng tangan Lia yang mulai dingin dan tegang. Lia mulai memiliki firasat buruk. 'ini pasti terjadi sesuatu kalau nggak kenapa Ferry dari tadi ditanya diem aja kalau cuma mau nengok papa harusnya kan tinggal kawab jujur aja dari awal'.
Lia mulai sibuk dengan pikiran-pikiran negatifnya. Dia berharap secepatnya bisa sampai ke kamar papa tapi jantung Lia semakin berdetak tak karuan saat Ferry justru berbelok berlawanan arah kamar rawat papi. 'ini mau ke ruang Jenazah? atau ICU?' kana parah panah menunjukan belokan Ferry menuju ke dua ruangan itu.
Tangan Lia semakin dingin, Ferry mengelus tangannya berusaha mengalirkan energi positif dan dan memberi Lia kekuatan dan ketenangan.
"Sayang kamu cerita sama aku sekarang, please" Lia tak lagi kuat menahan kegundahan hatinya saat arah langkah mereka semakin mengarah ke dua ruangan menyeramkan tadi.
Lia berhenti melangkah dan terkulai di lantai rumah sakit sambil menangis. "Please katakan padaku sekarang. Apa yang terjadi pada papa?" Lia menangis sejadi-jadinya. Ferry memeluk Lia erat sambil mengelus punggung Lia mengakirkan kekuatan dan kenyamanan.
"Semua tidak seperti yang kamu pikirkan sayang, sekarang kita temui mama dan Bimo yuk" Ajak Ferry sambil menganggat Lia agar kembali berdiri.
__ADS_1
Ferry ditengah kekalutan karena dia sendiri masih belum pasti seberapa buruk atau baik kah saatnini kondisi papa Lia. itu sebabnya Ferry juga bingung untuk menjelaskan dan menghibur Lia.
Mereka pun terus melangkahkan kaki sampai tiba di depan ruangan tunggu ICU dimana mama dan Bimo serta mang Ujang duduk di kursi panjang menunggu dokter yan menangani papa keluar.
"Mama" Lia langsung berhambur ke dalam pelukan wanita paruh baya yang telah melahirkannya dengan susah payah. Wanita yang baru kemarin terlihat ceria dan makin cantik, kini terlihat mata membengkak dan tampang begitu lelah menampakan kerutan-kerutan halus diwajahnya.
"Lia sayang" mama memeluk Lia dan tangis keduanya pun pecah. Ferry dan Bimo membiarkan mereka menangis untuk saling menguatkan satu sama lain.
"Gimana kondisi papa bim?" tanya Ferry sambil menepuk bahu Bimo mengajaknya kembali duduk di sebelah Ferry.
"Bimo sendiri kurang jelas kak, karena saat kejadian Bimo lagi ada kegiatan di kamus" Bimo merasa bersalah karena dia belakangan lebih sibuk dengan Cyntia bahakan sudah jarang menengok papa.
"Hhhmm...kalau begitu kakak tinggal sebentar, kalau kak Lia bertanya bilang kakak ada urusan sebentar kembali"
"Baik"
Ferry pun berlalu menelphon bodyguard yang dia percayakan untuk menjaga papa dan juga suster yang harusnya mengawasi papa 24 jam.
"Hallo kamu di mana?"
"Sedang di bagian administrasi tuan muda, bersama suster Nilam"
"Kalian temui aku di kantin rumah sakit dekat ruang rawat Anggrek"
"Baik tuan muda, kami kesana sekarang"
Ferry menutup telphonnya dan menyimpannya di saku celana. lalu berjalan menuju kantin rumah sakit mengikuti arah panah.
__ADS_1
makasih ya readers udah mau baca novel karya aku ini...yang ngeview puluhan ribu nih yg ngasih like dikit banget...bikin sedihðŸ˜ðŸ˜