
"Morning baby" sapa si bule saat melihatku sudah berpakaian rapi dan asik duduk di depan meja rias memoles wajahku dengan pelembab dan bedak tabur plus lipblam.
"Mandi dulu yank, bau asem maen sosor aja" ucapku sambil menahan bibir Ferry yang sudah siap mencium ku.
"Hehehehe...kalau gitu aku mandi dulu" ucapnya sambil ngeloyor menuju kamar mandi.
'Bahagia banget nih bule pagi ini, ada kejadian apa?' tanyaku dalam hati melihat tingkah Ferry yang tak biasa. Pasalnya sejak kami tiba di negara SG wajahnya jarang sumbringah, bahkan saat permasalahan dengan artis kemarin selesai pun dia tidak sebahagia hari ini. 'Ada apa sebenarnya?, bikin kepo aja nih bule'. Jiwa kepo ku pun meronta, maka begitu rapi aku langsung keluar dari kamar berusaha mencari petunjuk penyebab si bule bahagia, tapi tak ada tanda apapun di bungalow hanya Shella yang sari kejauhan ku lihat berlari kecil menuju bungalow.
"Pagi kak Lia" sapa Shella begitu memasuki bungalow.
"Pagi Shel, kamu datang kesini meminta kami untuk sarapan bersama ya?" tanyaku begitu melihat kehadiran Shella.
"Bukan kak, terlalu pagi sarapan jam segini" sahut Shella santai.
"Lalu?" tanyaku mulai penasaran.
"Aku kesini karena mau antar ini" Shella menepuk tangannya dan muncul lah tiga wanita cantik dengan gaya yang sangat fashionable masing-masing sepertinya terlihat membawa peralatan make up, dress dan peralatan hair stylist.
"Apa ini Shel?" tanyaku makin bingung.
"Mereka akan menyulap kak Lia jadi putri paling cantik diacara perjamuan nanti siang" Sahut Shella dengan gaya alaynya membuat ketiga wanita cantik itu semua tersenyum.
"Bener non, udah serahin aja sama kami. Dijamin non makin cantik dan semua akan pangling saat melihat non selesai dandan nanti".
"Iya aku percaya kalian mampu melakukannya, tapi ini ada apa? kenapa mendadak sekali?" tanya ku semakin bingung.
"Ini semua mami yang suruh, aku juga nggak tau ada apa pastinya...hehehehe" Celoteh Shella membuatku semakin penasaran. 'apa hal ini ada kaitannya dengan tampang si bule yang sumbringah?'
"Hhhmm...kalau kamu bilang mami yang suruh aku bisa apa selain hanya mengikutinya" gumamku pasrah.
"Begitu lebih baik, aku tinggalkan mereka disini kalai begitu". Ucap Shella sambil berlalu meninggalkan bungalow.
"Jadi kita mulai perawatannya sekarang?, apa ada kamar yang bisa kita gunakan?" tanya salah satu wanita yang sepertinya dia makeup artis gitu.
"Ayo ikut aku" aku mengajak mereka bertiga masuk ke dalam sebuah kamar dilantai satu.
"Apa kamar ini cukup luas untuk kalian gunakan?" tanyaku memastikan mereka nyaman di kamar pilihan ku.
__ADS_1
"Sempurna" jawab mereka bertiga serempak. Aku hanya tersenyum pasrah saja dengan apa yang selanjutnya akan terjadi.
Salah seorang wanita cantik yang bernama Dinda, yang benar ternyata dia adalah makeup artis di negara SG. Dia lah yang pertama kali melakukan bagiannya merawat wajahku, kuku kaki dan tangan ku, sedangkan yang bernama Dahlia adalah seorang hair stylist, kini dia yang mulai sibuk melakukan hair mask pada rambutku. Sedangkan Ambar adalah seorang designer sekaligus pemilik butik Queen Ambaar yang sangat terkenal di Negara SG.
Saat wajahku dan rambutku masih dengan masker pintu kamar di ketuk dan Ambar lah yang membuka pintu. Ku lihat dari cermin Ferry lah yang datang. Ambar tak berkedip saat menatap Ferry yang masih berdiri di depan pintu belum bisa masuk karena Ambar berdiri menghalanginya.
"Maaf permisi bisa saya masuk, anda menghalangi jalan saya untuk bertemu istri saya" ucap Ferry formal dengan wajar datar dan dinginnya membuat Ambar langsung bergeser dan memberi jalan Ferry dan seorang pelayan masuk.
"Sayang, kata Shella kamu belum sarapan. Aku bawakan kamu sarapan" ucap Ferry menunjukan trolly yang didorong seorang pelayan ke depan ku.
Aku tak bergeming karena wajahku sedang di masker. Aku hanya mengangkat jempol ku memberi kode 'oke dan terima kasih' sambil menunjuk wajahku yang penuh masker berharap Ferry mengerti aku tak bisa bicara sekarang.
"oke lah kalau begitu kamu sibuk lah dulu, jangan lupa sarapannya dimakan!. Aku tunggu kamu di kamar kalau begitu". Ucap Ferry sambil membalik badan hendak keluar sedangkan si pelayan tetap di kamar.
"Tunggu tuan, kalau anda suami nona Lia berarti Stelan Jas ini milik anda" ucap Ambar sambil menyerahkan bungkusan yang berisi jas ketangan Ferry.
"Terima kasih" ucap Ferry dingin sambil menerima bungkusan yang Ambar berikan kemudian keluar dari kamar.
"Ya Tuhan Non Lia suaminya ganteng banget itu mukanya kaya dicetak cakepnya bikin pengen meluk" celoteh Dinda sambil mengibas-ngibas tangannya kaya orang ke panasan.
"Biasa aja kali Din, jangan alay deh" sahut Ambar sok cuek padahal terlihat jelas saat dia menatap Ferry, binar matanya penuh hasrat membuatku geleng-geleng kepala sambil senyum-senyum mendengarkan obrolan mereka tentang suamiku.
"Ahhh...itu aku hanya kaget saja karena tiba-tiba ada laki-laki yang datang" kilah Ambar malah membuat Dahlia dan Dinda tertawa terbahak-bahak karena menurut mereka alasan Ambar dibuat-buat.
Sambil membersihkan wajah ku dari masker Dinda terus saja membahas Ferry, dia kaya beneran terkagum-kagum sama ciptaan Tuhan yang bernama Ferry, walau sebenernya Ferry nggak seganteng itu banget menurutku, cuma aura yang dipancarkan Ferry itu yang bikin dia berbeda dengan pria ganteng lainnya.
"Udah ahh din bosen denger lo bahas itu bule" Akhirnya Dahlia buka suara lagi.
"Ya lo sih jelas nggak minat sama Tuan Ferry, orang lo minatnya sama cewe" celetuk Dinda lalu menutup mulutnya.
"Koq lo gitu sih din?" sahut Dahlia.
"Sorry bukan maksud gue ngina lo, ahhh lo paham lah maksud gue" ucap Dinda dengan wajah penuh rada bersalah.
"Sudah kalian disini untuk kerja kan, ayo lakukan tugas kalian jangan karena hal ini saya jadi terlambat datang ke acara perjamuan". Potongku saat melihat suasana di kamar mulai tak kondusif, ada aura-aura permusuhan yang mulai menyeruak memenuhi kamar.
Syukurlah mereka bertiga profesional walaupun suasana hati sedang tak nyaman, mereka tetap membuat wajahku seperti bukan aku terlalu cantik padahal tak banyak aplikasi makeup yang dia gunakan pada wajahku tapi sentuhanya membuat setiap bagian pada wajahku jadi menonjol dan terlihat sempurna. ditambah lagi model rambut dengan sanggul ala-ala bridal dengan banyak anak-anak rambut di buat curly menambah cantik.
__ADS_1
"Cantik banget non Lia, pantes aja tuan Ferry yang ganteng bertekuk lutut. ini mah nanti juga diacara bisa bikin semua cewe yang hadir minder" ucap Dahlia begitu selesai menata rambutku
"kalian yang bikin saya jadi cantik" sahutku tulus
"Non Lia aja yang emang udah dasarnya cantik, jadi kitanya gampang nonjolin kecantikan non Lia" ucap Dinda dengan wajah bangga melihat hasil karyana.
"Kalian akan lihat non Lia akan makin cantik saat selesai mengenakan gaun dan juga sepatu rancangan ku" celoteh Ambar sambil menarik tangan ku menyingkir dari Dinda dan Dahlia, agar dia bisa membantuku mengenakan gaun rancangannya.
Dan hasilnya aku jadi berasa upik abu, si bawang merah yang di sihir oleh peri baik hati jadi putri raja paling cantik begitu aku menatap diriku yang sudah di dandani dan mengenakan gaun berwana peach dengan taburan permata di bagian dada, leher serta lengannya. 'Kenapa aku merasa ini gaun kaya gaun pernikahan?' bathinku saat ku tatap diriku di depan cermin.
Tok...tok...tok
sekali lagi pintu kamar tiba-tiba diketuk, tapi kali ini orang dibalik pintu tak menunggu untuk dibukakan pintunya dia langsung membukanya sendiri dan masuk ke dalam. Siapa lagi orang yang begitu songong kalau bukan suamiku...hehehehe.
"Sayang mami kirim ini barusan..." ucap Ferry saat masuk kedalam tapi ucapannya terhenti begitu aku berbalik badan.
"Wow, you're gorgeous bab. I have never seen anyone as beautiful as you" Puji Ferry saat matanya menatapku
"Really? you're make me shy hon" sahutku malu-malu mendengar pujian Ferry.
"Your beauty is doozy and you look so radiant now" goda Ferry membuat wajahku makin panas sampai ke telinga ku.
"Sayang" teriak ku manja karena takut diabetes denger mulut manis si bule satu ini.
'iya-iya tidak menggoda mu lagi, sini aku bantu kamu pakai kalung dan juga antingnya" ucap Ferry lalu mengalungkan sebuah kalung permata merah berbentuk hati sangat cantik dan berkilau senada dengan antingnya permata hati berwana merah dengan model menggantung membuatku makin seperti putri raja.
"Cantik banget non Lia" ucap ketiga wanita cantik serempak membuatku merona.
"Terima kasih, kerja keras kalian yang sudah bikin aku jadi secantik ini" ucapku tulus berterima kasih.
"Ini bonus untuk kalian karena sudah membuat istri saya makin cantik" ucap Ferry dengan senyum manis ke arah ku.
"Kita pergi sekarang?" tanya Ferry sambil menjulurkan tangannya, aku mengangguk dan menyambut tangan Ferry.
"Tunggu, tas ku...?" ucapku belum selesai sudah dipotong si bule.
"Tas dengan dompet dan ponsel mu sudah di dalam mobil tuan putri. sekarang kita bisa berangkat?"
__ADS_1
"ayo lah kita cuss kalau begitu" jawabku nyeleneh.