Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Saya Papinya Ferry


__ADS_3

Begitu kami keluar dari pesawat, sebuah mobil Rolls Royce warna Navy sudah terparkir tidak jauh dari pesawat dan berdiri seorang pria yang begitu melihat Ferry langsung membukakan pintu.


Sang supir tidak membawa kami pergi keluar dari bandara tapi justru kearah ruang tunggu VVIP bandara. Benar saja kedua orang tua Ferry sudah menanti di pintu ruang tunggu VVIP. Begitu melihat maminya, Ferry memperbesar langkah kakinya mengikis jarak pada mami tercintanya, berhambur memeluknya dengan erat, melepas rindu seorang anak dan ibu. Aku hanya berjalan mengikuti dibelakang saat sudah dekat aku berdiri dengan tenang sampai wanita paruh baya itu menyapaku


"Hallo sayang, senang mami akhirnya ketemu kamu lagi" ucap mami sambil datang memeluk ku seperti saat memeluk Ferry, pelukannya terasa hangat seperti pelukan mama. Mami juga mencium pipi kanan dan kiri ku terakhir aku mencium punggung tangan mami dan mami mengusap lembut kepalaku.


"Sini kenalin mami kenali kamu sama Papinya Ferry" mami menarik tanganku mendekati papi, jantungku berpacu lebih cepat keringat dipunggungku mulai mengalir. Grogi saat menghadapi ujian Nasional kalah sama rasa grogi ketemu mertua yang nolak kita. Rasanya kaki ku melemas, kalau bukan Ferry yang menopang tubuhku di belakang, aku pasti sudah jatuh pingsan karena rasa tegang ini.


Lama uluran tanganku tidak disambut oleh papinya Ferry, sampai mami meneriaki papi kalau aku sedang mengulurkan tangan ku.


"Saya papinya Ferry" ucapnya dingin sambil menyalami tanganku yang lama tergantung.


"Lia A..." belum juga ucapanku selesai papi sudah melepaskan genggaman tangannya dan menarik tangan mami.


"Ayo kita pergi dari sini, kamu kan sudah bertemu dengan anak mu"


"Sabar ya sayang, papi aslinya baik koq. Dia begitu karena belum mengenal mu" Ferry berusaha menghiburku, tapi makin di hibur air mataku makin tak dapat ku kontrol. Benteng pertahanan ku pun runtuh, air mata itu akhir berjatuhan tak mampu ku bendung lagi.


"Sayang, kamu jangan nangis gini dunk nanti disangka orang aku nganiaya kamu. Udah yuuk kita ke hotel sekarang bikin dede bayi"


Mendengar ucapan Ferry aku langsung mencubit perutnya pelan dan memelototinya.


"Aduu....duduuuh,,,,sakiiit yank"


"Syukur ,,,,siapa suruh kalau ngomong nggak pake filter"


"Heheheee...nggak apa lah sakit yang penting istri cantik nan mungil ku ini berhenti menangis, aku lebih suka liat kamu ngomel-ngomel daripada nangis"


Aku berjalan keluar dari ruang tunggu menuju mobil yang sejak tadi parkir menunggu kami diluar sambil mengusap air mata ku dengan punggung tanganku.

__ADS_1


"Silahkan masuk istriku" ucap Ferry sambil membukakan pintu mobil.


"Terima kasih suamiku yang tampan" ucapku sambil menyentuh sebelah pipi Ferry kemudian masuk kedalam mobil.


"Langsung ke villa Munchen" Perintah Ferry begitu dia duduk di dalam mobil.


"Baik tuan muda" sahut si supir sambil menstater mobil dan melajukannya menuju tempat yang Ferry maksud 'Villa Munchen'.


"Kenapa?, kamu bingung kita mau kemana? hah" tanya Ferry menatap wajahku, lalu mengambil tissu dan mengelap bekas buliran bening yang masih tersisa di wajahku.


"Villa Munchen, itu nama tempat dimana papi dan mami selalu menginap jika ke Negara SG, mami sering kesini bolak balik terkait perawatan breast cancer yang mami alami sejak empat tahun lalu sekaligus cek up jantung papi".


Aku mendengarkan cerita Ferry dalam diam, ada perasaan campur aduk saat ini di hatiku saat mengetahui kenyataan wanita paruh baya nan cantik dan anggun itu ternyata memiliki penyakit mematikan.


"Kamu nggak usah kaget gitu, cancer mami sudah lama diangkat dan sudah di kemo. setahun lalu sudah dinyatakan bersih dari cancer, hanya saja mami harus tetap rutin kontrol memastikan tidak ada jaringan cancer yang kembali berkembang sekalian papi juga di rumah sakit yang sama melakukan medical check up sambil papi mengecek salah satu perusahaan Goucher Corp, yang saat membuatku datang kesini"


Aku masih tetap diam mendengarkan cerita Ferry tanpa komentar sedikit pun. Wajah si bule mulai gusar. "Kamu kenapa diam saja?, hah"


"Kenapa aku tidak merasa kamu baik-baik saja, katakan padaku apa yang mengganggu hati dan pikiran mu?, jangan dipendam sendirian!"


Ferry menggenggam tangan ku lalu menatap ku dengan senyum manis namun sorot matanya penuh kekhawatiran, dia menunggu aku menjawab pertanyaannya. 'tapi bagaimana bisa aku menjawabnya, sedihku dan hancur hatiku karena melihat sikap papinya. Jika aku mengatakannya nanti itu hanya akan membuat hubungan mereka menjadi berjarak'


"Sayang, kenapa malah melamun?, kamu kenapa sebenarnya? semua karena papi ya?"


akhirnya pertanyaan yang sejak tadi ku harap tak Ferry tanyakan justru dia tanyakan.


Aku menarik nafasku dalam-dalam agar bisa bicara dengan tenang.


"Aku memang sedikit sedih karena sikap papi di bandara tadi, tapi itu bukan masalah besar slama ada kamu disisiku kesedihan itu akan segera sirna bersamaan dengan aku menatap wajah tampan suamiku yang selalu tersenyum manis. Senyuman yang membuat para gadis tergila-gila dan jatuh cinta padamu"

__ADS_1


Ucapku sambil tersenyum dan menangkup pipi Ferry agar dia menatap mataku. Karena dengan bagitu dia akan yakin aku baik-baik saja dan pembicaraan ini selesai sampai disini saja.


"Kamu menggombaliku" sahut Ferry sambil mengecup bibirku.


"Ehh...kamu" aku memukul kecil dadanya, Ferry malah tertawa puas melihatku cemberut dan merajuk.


Dia menangkap tanganku dan memeluk ku erat. menghujani kepalaku dengan banyak kecupan. "Kamu selamanya hanya kamu istri Ferry Goucher dan hanya kamu Lia Putri Aghata yang aku izinkan menyentuh ku dan menjadi ibu dari anak-anak...Hanya kamu"


"Aku tau, kamu kan memang bucin denganku" Ujarku jumawa sambil menengadahkan wajahku menatapnya.


Tapi si bule bukan menanggapi ucapan ku dia malah ******* bibirku tanpa rasa puas, dia baru melepasnya saat aku mulai kehabisan nafas.


"Masih belum bisa juga mengimbangi ciuman ku" ucap Ferry sambil mengusap lembut bibirku yang masih sedikit terbuka dengan jarinya.


"bagaimana bisa, kamu melakukannya mendadak begitu" gerutuk sambil kembali ke dalam pelukannya menyembunyikan wajahku yang sudah dipastikan memerah.


"Aku suka kamu yang seperti ini, menggemaskan membuatku makin jatuh cinta padamu"


"Sudah berhenti menggombal, kuping ku bisa hamil kalau terus kamu gombali"


"Wkwkwkwkwkkk" Tawa Ferry membuncah membuat si supir pun senyum-senyum melihat interaksi kami.


"Cuma kamu Lia, cuma kamu satu-satunya gadis yang mampu membuatku tertawa bahagia sekaligus menangis dan sesak nafas karena cemburu...aku tidak akan pernah melepaskan mu selama hidup ku"


Tiba-tiba suara tawa Ferry berhenti dan Ferry kembali bicara dengan nada serius.Membuatku menegakan tubuhku keluar dari pelukannya.


"Semua akan baik-baik saja, aku janji" ucapnya sambil kembali memeluk ku


Sisa perjalanan kami berdua hanya diam tak lagi bersuara sibuk dengan pikiran masing-masing sambil berpelukan.

__ADS_1


"Tuan muda kita sudah sampai" Ucap sang supir menyadarkan kami dan bersiap untuk turun menghadapi kenyataan apapun yang ada di depan dengan penuh keyakinan bahwa apapun yang terjadi aku harus bertahan karena cinta pria ini memintaku bertahan.


__ADS_2