Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Jangan Marah


__ADS_3

Apa yang kamu lakukan pada mami?" tanya Ferry membuat bola mataku membulat seakan mau keluar karena tak ku sangka pria ini tiba-tiba menanyakan soal maminya padaku dengan pertanyaan yang seolah-olah aku habis melakukan kejahatan pada maminya.


"Maksud mu?" tanyaku bingung dengan pertanyaan Ferry.


"Aku lihat mami nampak sedih saat turun dari atas, aku belum sempat bicara dengan mami karena papi benar-benar mendesak ku untuk kembali ke negara A untuk segera menyelesaikan masalah di sana, karena para pemegang saham mulai resah"


Mendengar penjelasan Ferry aku jadi bisa bernafas lega, tadinya aku pikir mami mengatakan hal yang tidak-tidak pada Ferry.


"Tadi mami naik keatas dan menemui ku, ada yang mau dibicarakan dengan ky tapi mami tidak bicara apapun saat mengetahui aku sedang sibuk mendesign untuk nyonya Mahdalena karena mami tau dateline hari ini"


"Owh begitu, aku pikir kalian bertengkar dan mami sedih karena kamu...maaf ya sayang aku sempat berfikir buruk tadi"


"Terima kasih suamiku karena kamu mau mendengar penjelasan ku dan tidak menyimpan prasangka buruk mu padaku di hati mu"


"Jangan marah ya istriku, aku benar-benar minta maaf. Aku cuma tidak bisa melihat mami sedih, tapi itu bukan berarti aku lebih memilih kamu yang bersedih demi senyum mami. Kamu paham kan maksud ku?"


Mendengar pernyataan Ferry membuat bibirku melengkung mengukir senyum. "Aku mengerti sayang, sudah saat cepat selesaikan propasalnya, aku juga masih harus membuat design untuk Ami"


"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan mengganggu mu lagi" Ucap Ferry sambil mengecup bibirku dan keluar dari kamar.


Aku pun bergegas bangkit dan mengambil alat gambar ku, aku harus membuat sebuah gaun pesta yang sesuai dengan permintaan Ami dan pas dengan karakternya. Aku sibuk dengan sketsa gambarku sampai bunyi ponsel ku terus berdering membuat ku terpaksa berhenti dan mengambil ponsel ku di atas nakas di dalam kamar.


"Hai designer Lia, ini Aku Ami"


"Iya Ami ada apa?"


"Bagaimana apakah designnya sudah selesai. aku dengar dari asisten nenek, nanti kalian akan datang saat makan malam, Benarkah itu?"


"Designnya sudah selesai semuanya, ku harap kalian akan menyukainya, hanya saja design gaun untuk mu belum selesai Ami, baru bentuk sketsa tapi kamu tenang saja aku akan berusaha menyelesaikannya sebelum acara makan malam".


"Oh soal design gaun itu kamu tidak usah terburu-buru, aku baru akan mengenakannya juga pertengahan bulan depan"


"Hanya saja aku yang harus kembali ke negara IND, takutnya kita tidak akan bertemu lagi dalam waktu yang lama"


"Bukan kah kamu kepala designer dari YZ Collection negara A? kenapa kamu malah kembali ke negara IND?"


"Iya benar, tapi aku masih harus menyelesaikan urusan ku di negara IND baru abis itu terbang lagi ke nebara A"


"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa saat makan malam. Aku tidak mengganggu mu lagi".


"Baik, sampai jumpa".

__ADS_1


Ucapku mengakhiri perbincangan di telphon dengan Ami kemudian kembali menekuri sketsa gaun untuk Ami. Tapi saat aku sedang mewarnai gambar design gaun kembali ada yang mengganggu.


Tok...tok...tok


"Nyonya muda, apa anda di dalam?" tanya pelayan sambil mengetok daun pintu kamar, aku pun terpaksa bangkit membukakan pintu.


"Iya, ada apa?" tanya ku begitu pintu terbuka


"Kak Lia, boleh aku masuk?" tanya Shella tiba-tiba muncul ntah dari mana dan langsung menyingkirkan pelayan yang berdiri tepat di depan ku, untung saja pelayan itu tidak terdorong sampai jatuh.


"Kamu kalau mencari kakak mu, dia ada di ruang perpustakaan" Ucapku pada Shella sambil tetap berdiri di depan pintu menghalangi Shella masuk.


"Aku tidak mencari kak Ferry, aku mau bicara dengan kak Lia" ucap Shella sambil masuk di sela-sela tubuhku dan daun pintu.


'Anak ini benar-benar tukang maksa sama kaya kakaknya..huuuffft' gerutu ku dalam hati.


"Kamu kesini cuma mau mengantar Shella?" tanyaku pada pelayan yang masih tetap berdiri di depan pintu.


"Bukan nyonya muda, saya malah tidak tau kalau nona Shella ikut menyusul kesini" ucap si pelayan pelan.


"Lalu apa mau mu?" tanyaku mulai kesal karena banyak sekali pengganggu hari ini.


"Saya kesini di suruh Tuan Muda, untuk menanyakan apa nyonya muda mau makan siang? biar saya siap kan atau mau cemilan, juice atau apa ada yang mau nyonya muda makan?"


"Baik, akan segera saya buatkan" ujar si pelayan kemudian turun.


Aku langsung masuk ke dalam kamar dan mengambil ponsel tanpa memperdulikan Shella yang sedang asik mengacak-acak meja rias ku.


"Ada apa sayang?" tanya Ferry mengawali pembicaraan.


"Makasih ya sudah minta pelayan untuk membuatkan ku makanan untuk makan siang, kamu sendiri sudah makan siang?" tanya ku pada Ferry


"Ini baru saja selesai minum juice dan roti isi sayur dan daging" ujar Ferry.


"Kenapa kamu bisa dapat makan siang duluan?" tanya ku penasaran.


"Mami tadi kirim pelayan kesini buat nanyain aku sudah makan siang belum" trus aku pesan makan siang ku abis itu aku minta si pelayan buat ke kamar kita menanyakan pada mu apa mau makan siang, karena aku yakin kamu juga belum makan, iya kan?"


"Hehehehe...iya belum"


"Jangan kerja terlalu serius sampai lupa makan, ingat kesehatan mu"

__ADS_1


"Baik,.aku mengerti. Pesan yang buat mu juga suamiku"


Tawa kami berdua pun pecah, pasalnya kami berdua tipe yang sama jika sedang serius bekerja lupa dengan urusan yang lain termasuk makan.


"Kak Lia, aku boleh coba lipstik mu tidak?" pinta Shella sambil mengangkat lipmate milik ku.


Aku hanya mengangguk, Shella pun langsung senyum sumbringah dan mengaplikasikannya pada bibir tebalnya yang sensual.


"Sayang, sedang apa Shella dikamar kita?" tanya Ferry dengan nada tidak suka.


"Ntah lah, dia tadi tiba-tiba datang dan minta izin masuk kamar belum sempat ku jawab dia udah ngeloyor masuk" Jelasku sambil geleng-geleng kepala melihat Shella yang asik berdandan di depan meja rias kamar kami.


"Anak itu, kalau kamu terganggu usir saja dia dari kamar".


"Aku tidak masalah, toh Shella hanya ngutak-atik alat make up ku saja disini, dia gidak melakukan yang lain" Jelasku pada Ferry.


"Oke kalau begitu kamu jangan lupa makan ya, aku lanjut lagi. propasalnya masih belum selesai nih"


"Baik, met sibuk suamiku"


"Kamu juga, semangaaat" sahut Ferry dengan suara bersemangat.


Kami pun mengakhir obrolan dan tak berapa lama kemudian pintu kamar kembali di ketuk seseorang, yang aku yakin pelayan membawakan pesanan makan siang ku.


Dan saat aku membuka pintu kamar, benar saja sesuai dugaan ku seorang pelayan membawa nampan berisi roti dengan selai coklat dan juice mangga pesanan ku.


Aku langsung mengambil gelas berisi juice mangga dengan tangan kanan ku dan piring yang berisi beberapa lembar roti dengan selai coklat.


"Makasih ya" ucap ku pada si pelayan, yang dianggukan pelan lalu dia langsung berbalik meninggalkan ku yang langsung menuju gazebo sambil mengunyah roti dan meletakan juice disisi meja yang tidak ada alat gambar ku.


Setelah roti dan juicenya habis aku langsung melanjutkan design gaun untuk Ami yang tinggal di pertegas lalu diberi warna dan kini sentuhan terakhir memberi ornamen mutiara serta manik-manik agar gaun makin terlihat mewah walaupun modelnya simple' gumamku saat memandangi hasil design gaun untuk Ami yang hampir selesai.


"Sayang, kamu sudah selesai?" mendengar pertanyaan dari Ferry spontan membuat ku mendongak memastikan pendengaran ku tak salah.


"Kamu?, koq disini?" tanyaku bingung melihat Ferry tiba-tiba di belakang ku.


"Ini kamar ku juga sayang, memang aku tidak boleh ada disini?"


"Bukan, maksud ku proposalnya memang sudah selesai? koq kamu sudah disini?" aku berusaha menjelaskan takut Ferry salah paham.


Melihat kepanikan ku si bule malah terkekeh. "Kamu kalau lagi panik itu wajahnya ngegemesin banget low yank, pengen gigit rasanya" ujar Ferry kemudian mencubit hidungku. Membuatku langsung mendengus kesal. alhasil Ferry malah mengecup kening ku.

__ADS_1


Aku kehabisan tinta print dan seingatku di laci kamar ada, jadi aku kesini mengambilnya. Kamu lanjutkan aku mau kembali ke ruang perpustakaan untuk ngeprint proposalnya.


"oke" jawabku kemudian kembali menekuri designku yang sudah sembilan puluh persen rampung.


__ADS_2