Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Penjelasan Lia


__ADS_3

#POV Ferry#


"Sial, aku nggak bisa fokus kerja kalau begini lebih baik aku ke kampus Lia saja" gumam Ferry karena terus terngiang-ngiang kata-kata Lia bahwa Mira dan Rendy datang mendekatinya.


"Siapkan mobil ku dan juga bawa anak buah mu kita ke kampus istriku sekarang juga" ucap ku pada bodyguard yang slalu menemaniku kemana pun aku pergi tanpa sepengetahuan orang.


Aku pun bersiap-siap untuk pergi ke Kampus Lia. diperjalanan aku menelphon Jerry, memberinya perintah untuk bersiap-siap memimpin metting menggantikan ku jika aku tak bisa memimpin rapat sore ini. "Semua berkas revisi sudah ku kirim lewat email, kamu hanya perlu mengikuti semua yang ku tulis dalam email". Perintahku pada Jerry yang mau tak mau harus dia kerjakan.


Begitu telphon ku dan Jerry terputus, aku langsung menginjak pedal gas dengan kecepatan penuh karena kebetulan jalan menuju kampus Lia lengang diikuti mobil jeep bodyguard ku.


Setibanya aku di tempat yang Lia infokan sebelum dia menutup telphonnya, betapa sakitnya hatiku melihat istri yang begitu ku cintai sedang berciuman dengan lelaki lain lalu berpelukan.


"Damn!" "beraninya mereka melakukan ini padaku" dengan penuh amarah aku melangkahkan kaki ku menuju mereka, kedua tangaku mengepal kuat sampai berwarna putih dan ujung kuku ku menusuk telapak tanganku tapi tak ku rasa sakitnya karena mata dan hati ku lebih sakit melihat perselingkuhan mereka.

__ADS_1


Begitu sampai di depan mereka tanpa banyak kata aku langsung memberinya bogem mentah sehingga Rendy tersungkur, sedangkan pada Lia aku tak tau harus bersikap seperti apa..Aku sangat mencintainya, aku tak percaya Lia melakukan ini semua padaku. Tapi sesaat aku lupa dengan besarnya cintaku pada Lia karena hatiku dipenuhi amarah saat itu.


"Hajar dia, pastikan dia tidak akan bisa bergerak dari atas ranjang selama seminggu" ucap ku pada Herman kepala bodyguard ku sambil menarik tangan Lia pergi dari sana. Aku lihat Lia terseok-seok mengikuti langkah kaki ku. Dia pun memohon agar aku memperlambat langkah kaki ku.


"Sayang bisa tolong pelan sedikit jalannya" mohon Lia padaku, tapi aku menulikan telingaku karena amarah yang bergemuru di dalam dadaku saat itu.


Saat memasangkan sefetybelt ku lihat wajah cantik wanita yang sangat ku cintai itu begitu sendu dan pucat, tubuhnya bahkan bergetar seperti orang ketakutan. Tapi aku membutakan mataku, "Dia harus dihukum atas apa yang dia lakukan" dengan amarah yang bergemuruh aku melajukan mobil dengan kecepatan penuh di tengah jalan yang lumayan padat, seakan-akan aku sedang disirkuit balap semua mobil di depan ku salip hingga berkali-kali bunyi klakson mengagetkan Lia, ku lihat tanganya memucat menegang ketakutan. Mungkin benar kata mereka wajahku saat dipenuhi amarah lebih menyeramkan, raja neraka saja kalah. "ahhh....siapa suruh dia menghianatiku seperti ini" lagi-lagi perang bathin terjadi dalam diriku saat ku lirik Lia makin ketakutan dan memucat.


Tapi tiba-tiba sebuah senyum terkembang saat dia menatap wajahku. "Apa yang Lia pikirkan, kenapa dia tiba-tiba tersenyum manis seperti itu saat menatapku?". "Apa dia bahagia sudah menyakitiku?", "atau dia tetap melihat ku setampan pangeran walaupun sedang marah...hahahaha". Amarahku jadi berkurang melihat senyumnya. Bahkan Lia tak bergeming saat mobil sudah tiba di depan lobby apartemen dia terus tersenyum memandangi wajahku. Ingin rasanya mencium bibir ranum yang slalu memabukan ku itu, tapi aku kan sedang marah. "Aku harus tau apa yang sebenarnya terjadi, jangan-jangan aku hanya salah paham dengan ini semua" bathin ku mulai goyah dan ingin bersikap lembut pada wanita yang amat ku cintai ini.


Aku membukakan pintu mobil untuk Lia dan memintanya turun, tapi Lia tak bergeming, sampai akhirnya aku mengancam akan menggendongnya baru lah dia tersadar dari lamunanya dan keluar dari mobil dengan tergopoh-gopoh mengikuti langkah kaki ku sampai di depan lift, ku dia sedang mengatur nafasnya karena untuk mengimbangi langkahku dia harus sedikit berlari. Sebenarnya aku tidak tega melihatnya, tapi aku masih kesal padanya, andai semua salah paham tetap saja dia sudah membiarkan pria lain memeluknya dua kali dalam sehari bahkan mencium bibirnya yang harusnya hanya jadi milik ku, Hanya aku saja yang boleh menyentuh dan menikmati bibir ranum milik Lia.


Di dalam lift kami hanya diam sampai tiba di lantai teratas tempat unitku berada Lia mengikuti ku keluar dari lift tapi saat sudah sampai di unitku Lia tak langsung masuk ke dalam unit apartemenku dia malah berdiri mematung di depan pintu membuatku gemash ingin menggendongnya masuk dan memakannya sampai habis. "Ahhh...tidak-tidak aku memang marah pada Lia tapi aku bukan binatang yang akan menghukumnya dengan menyiksanya diatas ranjang" bathinku sambil menggelengkan kepala membuang jauh-jauh niat buruk ku.

__ADS_1


Lama aku menunggu, tapi Lia tak jua masuk. Aku pun kembali ke depan pintu, Lia masih berdiri mematung dengan wajah menunduk ke lantai dan memainkan jari-jari tanganya dengan tubuh sedikit bergetar. "Dia benar-benar takut padaku?" bathinku mulai berkecamuk melihat Lia seperti orang ketakutan, bakan saat aku mendekatinya dia mundur beberapa langkah, membuatku mengerutkan keningku, membuat amarah dalam hatiku makin bergemuruh melihat Lia tak mau ku sentuh bahkan menghindariku seperti aku ini monster menakutkan. Dan nyatanya memang Lia takut padaku yang saat ini berada pada mode marah.


"Masuk lah, aku tak akan melukaimu apa lagi membunuh mu" akhirnya aku tak tahan harus terus berdiri menunggu Lia masuk, aku memintanya masuk sambil membuka pintu lebar-lebar. Lia pun akhirnya mau masuk ke dalam unit apartemenku setelah mendengarku tak akan melukainya.


"Duduklah", ucap ku saat melihat Lia terus berdiri menjauhi dariku. Lia pun melangkahkan kakinya menuju sofa di seberang ku dan menjatuhkan bokongnya disana.


"Jelaskan padaku kenapa bajingan itu sampai berani mencium dan memeluk mu seperti itu?" pintaku setelah melihatnya duduk tetap dengan mode dingin dan wajah datar.


"Aku juga tidak tau, dia tiba-tiba saja melakukannya. Aku benar-benar tidak mengerti, sepanjang aku mengenalnya bertahun-tahun tak pernah satu kali pun Rendy kasar atau pun melakukan tindakan melecehkan ku seperti itu...Aku benar-benar tidak tau kenapa dia berubah seperti itu, kami belum banyak bicara tapi semua dia lakukan setelah aku memberitahunya kalau aku sudah menikah, dia marah dan tidak terima dengan semua penjelasanku, lalu dia menciumku, aku menamparnya dan ketika aku ingin pergi menjauhinya dia malah memeluk ku sambil menangis. lalu kamu datang tapi bukan untuk menolong ku yang merupakan korban pelecehan, malah dijutekin terus...huuuuuhuaaahuuu" Jelas Lia diikuti tangisnya yang pecah sampai sesunggukan membuat dadaku sesak melihatnya menangis akhirnya aku mengendorkan wajah angkerku dan duduk di sampingnya, karena aku benar-benar tak tahan melihatnya menangis seperti itu, rasanya hati ini tak sanggup melihat air matanya.


"Maaf aku tidak tau bagaimana kejadian sebenarnya yang aku lihat dari jauh kalian berciuman dan berpelukan" ucapku sambil menari tubuh Lia kedalam pelukanku, bukannya berhenti menangis Lia justru semakin menjadi menangisnya. Aku hanya bisa terus mengucapkan kata maaf sambil mengelus-elus punggungnya berusaha untuk memberinya kenyamanan agar tangisnya bisa berhenti. Setelah setengah jam menangis akhirnya Lia mulai tenang dan tertidur dalam pelukan ku.


Aku menggendongnya dan membaringkannya di ranjang, menyelimuti tubuhnya, Lalu keluar dari kamar.

__ADS_1


Apa yang terjadi dengan rendy?? yuukk baca terus ceritanya


jangan lupa Like, komen dan vote ya kakak...biar emak makin giat nulisnya🤭


__ADS_2