
"Lia, kamu Lia Putri Aghata kan?", Sapa seorang Pria yang kalau terlihat dari gaya dan tampangnya sepertinya kami seumuran. Tapi aku benar-benar tidak ingat pernah mengenalnya.
"iya betul, maaf kamu..." ucapku terjeda saat si pria tiba-tiba menyodorkan tangannya ke arahku.
"Kenalin aku Mario, kita gabung satu group di club designer". ucapnya tanpa canggung sama sekali, sedangkan wajah suamiku sudah terlihat aura kuburannya. "alamat deh ada yang bakalan ngambek, ahhh terlanjur biar sekalian aja lah", bathinku sambil menyambut uluran tangan mario.
"Lia, salam kenal juga. Kamu mario yang sering di bully nyontek karya para designer untuk tugas kuliah iya kan?" ucapku memperjelas identitas Mario.
"Yaaps,,,betul sekali. ternyata kamu memperhatikan ya...aku jadi malu". ucapnya tanpa malu-malu.
"Oih ya Mario kenalin, ini..." lagi-lagi ucapan ku belum dipotong si Mario.
"Ya Tuhan ini kan Vice President Goucher Corp, Lia bagaimana kamu bisa sampai makan malam dengannya?" Bisik Mario dengan mengikis jarak dengan ku. Membuat wajah angker itu makin mengerikan. "Mampus deh gw, abis deh malem ini gw disiksa si bule", pikiranku udah kemana-mana.
"Tuan Goucher, selamat malam. Kenalkan saya Mario anak semester tujuh Universitas IND, senang berkenalan dengan anda" ucap Mario Formal sambil menundukan kepala.
"Tidak usaha sesungkan itu, santai saja. Bukan kah anda dengan Lia berteman, berarti secara tidak langsung kita juga berteman" ucap Ferry dingin.
"Saya sangat tersanjung jika Tuan Goucher berkenan berteman dengan saya, tapi sebenarnya saya dengan Lia pun baru pertama kali ini bertemu sebelumnya hanya lewat chat di group club designer" jelas Mario.
"Ohh...begitu" jawab Ferry singkat dengan aura dingin membuat lawan bicara nya pun salah tingkah.
"Kalau begitu saya permisi dulu, saya tidak ingin mengganggu makan malam kalian berdua". pamit Mario sambil berlalu dan mengambil foto ku dan Ferry diam-diam.
"Mati lah aku, pasti abis ini akan ramai di group membahas kita berdua". keluhku yang diacuhkan Ferry yang terus asik makan makanannya seperti tak terganggu dengan kejadian tadi.
"Sayang kamu denger aku nggak sih?", ucapku mulai kesal karena diacuhkan Ferry.
"Apa?" jawabnya santai seperti tak berdosa sambil mendongakkan wajahnya menatapku polos bak anak lugu.
__ADS_1
"Boda ahhh...males aku ngomong sama kamu" Ucapku mulai jengkel.
"Ya sudah kalau malas" jawabnya sambil melanjutkan makannya lagi.
"Aghhhghjft...nyebelin banget sih nih bule, kalau nyincang orang nggak dosa udah gw cincang dan bikin adonan peyek nih bule...ngeselin banget sih". Gerutuku dalam hati dengan wajah yang sudah merah padam menahan amarah.
Akhirnya aku mengambil ponselku yang dari tadi tergeletak di meja, aku langsung membukan kolom diskusi dalam group club designer, benar saja si Mario busuk itu memposting fotoku dan Ferry dari belakang dengan caption "Ayo tebak siapa mereka?", langsung ramai chat dalam group tapi syukurlah tidak ada yang mengenali kami dalam foto itu karena memang hanya kepala bagian belakang dan bahu plus punggung kami saja yang terekspos.
"Ayolah Mario ini tidak asik lagi, cepat katakan siapa orang dalam foto mu itu?" -Luna-
"Aku sepertinya familiar sekali dengan sosok pria itu...tapi siapa ya?, Mario apa aku mengenal pria itu?" -******Merry******-
"Ayo kalian tebaklah, kalau kalian menjawab dengan
benar aku akan mentraktir kalian makan di restoran Le Branda" -Mario-
"Sudah jangan di baca lagi" suara bariton suamiku sambil mengambil ponselku sekaligus membuyarkan lamunanku.
"Tapi..." ucapku terjeda karena Ferry meletakan jari telunjuknya di bibirku.
"Kali ini aja dengarkan aku ya, stop baca komen di group club design". ucap Ferry tegas tak ingin dibantah ataupun negosiasi. Akhirnya aku pun menurutinya walau hati dan pikiran ku kepo banget apa yang dibahas di group. "Nanti saja lah aku liatnya pas nggak ada nih bule" bathinku.
"Kalau udah selesai makannya kita balik ke kamar yuk" ajak Ferry sambil memanggil pelayan untuk membayar makanan kami.
Setelah selesai Ferry menggandeng tanganku membuat tubuh mungil ku bergelayut manja di lengannya. Kami langsung berjalan menuju lift yang ke arah kamar kami.
Dreet...Dreeett....Dreeett
Ponsel Ferry bergetar tanda ada panggilan masuk, saat Ferry melihat layar ponsel yang juga terlihat olehku, ternyata Jerry yang menelphon.
__ADS_1
"Ada apa? ku harap ini penting". ujar Ferry mengawali pembicaraan. Setelah itu lama Ferry tak bicara tapi benda pipih itu tetap menempel ditelinganya Ferry. "apa yang diucapkan Jerry sampai membuat Ferry terdiam?", gumamku dalam hati.
"Kamu urus lah masalah ini, aku tidak mau masalah ini ramai jadi bahan perbincangan apa lagi sampai ketelinga papi". ucap Ferry dengan raut wajah dingin dan alis yang mengerut dalam.
"Jika tidak ada lagi yang mau kamu bicarakan aku tutup telphonnya, kamu pastikan masalah ini selesai sekarang juga". ujar Ferry sesaat sebelum memasukan ponselnya ke kantong celana.
Aku hanya diam, berjalan dengan bergelayutan dilengannya. Walau kepo tapi kalau liat raut wajahnya bikin takut mau nanya, jadi aku pilih diam sepanjang perjalanan menuju kamar kami.
Begitu tiba di kamar aku pilih duduk di sofa ruang tv, duduk bersandar dengan kaki ku angkat ke atas sofa berbentuk L. Tiba-tiba si bule datang membaringkan tubuhnya di sofa dengan berbantal paha ku. Nafas berat berhembus dari mulutnya, seperti ada yang ingin dia bicarakan namun berat sekali mengatakannya. Aku memainkan rambut Ferry sambil mengelus-ulus kepalanya sekali-sekali membuat wajah tegang nan dingin itu mengembangkan senyum. Rasanya tenggorokan ku seperti diguyur air es setelah seharian puasa. Plong lega, lepas semua dahaga.
"Sayang, ada masalah apa? ayo cerita padaku, bukan kah kamu yang bilang suami istri harus saling terbuka tidak boleh memendam rasa sendirian". Mendengar ucapanku Ferry bangkit dari tidurnya duduk menghadapku dengan kaki dilipat.
"Kamu kapan ujian semesteran?" tanya Ferry membuatku mengerutkan alis tak mengerti arah pembicaraannya.
"Masih dua Minggu lagi, kenapa memangnya? kamu mau kembali ke Negara A?", tanyaku mulai sendu membayangkan harus LDRan dengan suamiku.
"Besok saat di rumah mama tolong siapkan berkas-berkas mu aku akan mengurus kepindahan mu ke Negara A" Ujar Ferry dengan wajar serius, makin membuatku bingung arah pembicaraan ini.
"Memang kamu mau bawa aku ke negara A kapan?",tanyaku penasaran kemana sebenarnya arah pembicaraan Ferry.
"Begitu kamu selesai Ujian, kita berangkat ke Negara A. Jerry sedang mencari rumah yang sesuai untuk kita tinggali disana, nanti kamu pilih lah rumah mana yang kamu mau" ucap Ferry sambil kembali berbaring di pahaku.
"Harus secepat itu yank? kondisi papa kan sampai sekarang masih belum sadarkan diri, bagaimana kalau terjadi sesuatu sama papa saat aku jauh darinya" ucapku dengan mata berkaca-kaca. Ferry langsung bangun dan memeluk ku.
"Sayang dengar aku baik-baik, peluang papa mu kembali pulih 75% berdasarkan kondisi alat vitalnya yang normal, cuma sepertinya papa kehilangan harapan untuk bangkit itu yang menyebabkannya belum juga sadar sampai sekarang, Aku akan memastikan papa mu mendapatkan perawatan terbaik dan nanti juga akan ada dokter terbaik dari negara A yang datang untuk berkoordinasi dengan Dokter Imran dalam menyembuhkan papa mu. Jerry sudah mengatur semuanya, jadi kamu tenanglah. Jangan berfikir yang tidak-tidak". jelas Ferry sambil mengelus penggungku menyalurkan ketenangan.
"Hhhmmm...baiklah kalau begitu. Sekarang katakan padaku apa yang membuatmu gelisah?, Jangan tutupi semuanya dariku jika kamu memang menganggapku istrimu" Ujarku sambil menatap manik mata biru suamiku.
Lama Ferry hanya terdiam, tak keluar sepatah kata pun, hanya hembusan nafasnya yang menderu tak beraturan, seperti menahan emosi yang ingin membuncah keluar.
__ADS_1