Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Ruang Perpustakaan


__ADS_3

Pagi ini aku kesiangan karena semalam tidur larut menemani Ferry nonton bahkan aku sampai ketiduran beralaskan paha Ferry.


Saat ku raba kasur sebelah ku sudah kosong dan terasa dingin, artinya Ferry sudah lama bangun. Aku mencoba melihat sekeliling kamar dan menajamkan pendengaran ku tapi tak ada tanda-tanda Ferry ada di kamar.


Aku jadi malas untuk beranjak dari ranjang, rasanya aku ingin tidur lagi sampai suara deringan ponsel ku diatas nakas berdering. Nomer asing dengan kode negara SG. 'Siapa yang menelphon ku?' bathin ku sambil menggesar icon hijau karena rasa penasaran ku.


"Morning Designer Lia, aku harap telphon ku tak mengganggu tidur mu?" ucap seorang gadis yang suara tak asing tapi aku tak mampu mengingatnya


"Morning, maaf kalau aku boleh tau kamu siapa ya? karena di ponsel ku nomer mu belum tersimpan". tanya ku selembut mungkin agar tak menyinggung perasaan si penelphon.


"Oih ya....maafkan aku designer Lia, yang lupa memperkenalkan diri. Aku, Ami ku harap kamu masih mengingat ku" ucap Ami malu-malu.


"Ternyata kamu, pantas saja suara mu terdengar tidak asing di telinga ku" sahut ku sambil tertawa kecil.


"Maaf ya aku menelphon mu pagi-pagi, aku hanya ingin memastikan bagaimana perkembangan design bajunya?" tanya Ami to the poin.


"Tidak apa Ami, kamu tidak mengganggu ku sama sekali. Aku juga sudah bangun koq. Soal design aku minta maaf sekali Ami, aku baru berhasil menyelesaikan empat design dari tujuh design. Aku usahakan selesai hari ini". Jelasku pada Ami


"Kalau begitu kamu selesaikan dulu saja design Lia. Dan kalau kamu sempat bolehkan kamu membuatkan design gaun pesta untuk ku?" Pinta Ami dengan nada manja.


"Tentu saja boleh, tapi aku harus menyelesaikan design untuk baju para karyawan hotel dulu. Baru membuatkan design gaun untuk mu" jawab ku dengan nada bahagia karena lagi-lagi Ami mempercayakan ku untuk mendesign gaun pesta untuknya secara pribadi, sudah pasti gaun yang di rancang khusus hanya untuk yang meminta harganya akan sangan fantastis jadi aku harus membuat gaun yang sangat sempurna.


"Baiklah kalau begitu aku tunggu kabar baik dari mu design Lia. Sampai jumpa" Ucap Ami mengakhiri percakapan.

__ADS_1


Baru akan menaruh ponsel ku kembali ke atas nakas, suara bariton suamiku terdengar. "Sudah bangun, siapa yang menelphone mu pagi-pagi?" tanya Ferry yang sedang berjalan mendekati ku yang masih tiduran dalam selimut di atas ranjang.


"Ami, dia menanyakan soal perkembangan design baju karyawan hotelnya dan juga memintaku membuatkan racangan gaun khusus untuknya" jawab ku sambil berusahan duduk bersandar dipinggir ranjang.


Saat Ferry sudah berhasil mengikis jarak antara kami, dia mencium kening ku. "Owh, kalau begitu aku mandi dulu". Ucapnya sambil berjalan menuju kamar mandi.


"Sayang, kamu dari mana?" tanyaku membuat Ferry membalikan tubuhnya menatapku.


"Abis lari pagi yank, tubuh ku rasanya kaku sekali karena sudah lama aku hanya olah raga di atas ranjang dengan mu" Ucap Ferry dengan senyum nakalnya menggoda ku, tentu saja mendengar ucapan Ferry membuat ku jadi merona membayangkan adengan panas kami di atas ranjang.


'Bule satu ini kalau tidak mesum apakah tidak bisa. Benar-benar sudah putus urat malunya' bathin ku sambil kembali tiduran menarik selimut menutupi wajahku. Sontak membuat tawa si bule pecah.


Aku terus merutuki Ferry yang tak pernah bosan menggoda ku. Salah ku sendiri di usiaku yang lebih tua dari Ferry malah menjadi dia yang usianya lebih muda menjadi pria pertama dan terakhir ku.


Dia yang tinggal di negara yang memiliki kebebasan abstrak antara pria dan wanita bahkan memiliki anak tanpa pernikahan pun banyak dilakukan orang-orang negara A, buat mereka berciuman, berpelukan ditempat umum pun bukan hal tabu berbanding terbalik dengan negara asal ku. Baru pulang tengah malam diantar pria saja bisa ramai besok pagi aku jadi bahan gosip ditukang sayur keliling....hehehehe.


Aku mendengar Ferry membuka pintu cabin di walk in closed, aku membuka sedikit selimut ku memastikan keberadaan Ferry kemudian berlari menuju kamar mandi. Aku males melihat Ferry yang sudah pasti akan keluar dengan bertelanjang dada, melihat dia yang seperti itu aku pasti akan slalu terpesona dan tak bisa untuk tidak mengagumi tubuhnya, cuma akan habis dia ledekin lagi...huuft.


"Sayang, aku ke ruang perpustakaan dulu. Kalau kamu sudah selesai dan mau turun untuk sarapan jangan lupa beri tahu aku"


"Iya, baik" jawab ku sambil asik berendam main bubble di dalam bathtube.


"Mandi berendamnya jangan lama-lama, perut mu masih kosong nanti masuk angin"

__ADS_1


"Iya". 'Ferry makin lama mamu makin bawel sekali, seperti seperti nenek-nenek saja' tentj saja ini semua cuma ada dalam hatiku, jika sampaj si bule tengsum alias tengil dan mesum itu mendengarnya bisa panjang urusannya gaes.


Karena malas berdebat dengan Ferry aku pun segera mengakhiri mandi berendam ku lalu membilas tubuh ku dan segera menuju walk in closed untuk mengambil sebuah dress selutut warna tosca leher model sambrina dengan tali di pita di atas bahu kanan dan kirinya.


Setelah memoles wajahku dengan pelembab dan bedak tabur serta lipgloss aku keluar kamar menuju perpustakaan.


Sudah tiga kali aku mengetuk pintu perpustakaan tapi tak mendapat jawaban. Lalu aku langsung membuka pintu perpustakaan dan masuk ke dalam, 'pantas saja dia tidak menjawab ketukan pintu ku ternyata dia menggunakan headphone....ckckckk'


Bahkan aku sudah berdiri di depannya, Ferry lama baru menyadari keberadaan ku. 'Suami ku, kamu kenapa jadi terlihat makin keren dan macho sih kalau lagi serius gitu..hhhuuffft' .langsung ku buang jauh-jauh pikiran itu dan kembali fokus dengan tujuan awal datang ke perpustakaan, mengajak Ferry sarapan. Aku masih harus mendesign hari ini harus selesai karena Ferry harus segera ke negara A dan aku kembali ke negara ku IND.


"Sayang, sejak kapan kamu ada disini?" tanya Ferry setelah lebih dari sepuluh menit aku berdiri mengamatinya yang sibuk membolak balik berkas.


"Sepuluh menit lalu lah?, sudah bisa kita pergi sarapan sekarang?" ujarku santai karena si bule tak juga bangkit dari duduknya.


"Tunggu sebentar sayang, biar aku selesaikan satu berkas ini lagi oke" pinta Ferry dan aku mengangguk pelan lalu aku langsung berjalan menuju sofa panjang di ujung jendela sambil menyambar sebuah majalah Fasion.


'Ternyata ini majah fasion edisi khusus sepuluh tahun lalu'. wow ini keren saat majalah ini terbit itu artinya aku masih duduk di primary school.


Dengan antusias aku membuka lembar demi lembar membaca dan mengamati design baju-baju yang sedang dipamerkan, benar-benar memberi banyak inspirasi di kepala ku. Saat sedang asik membolak-balik majalah, Ferry memeluk bahu ku dari belakang dan menyandarkan kepalanya di kepalaku.


"Kita sarapan sekarang yuk?" ajaknya santai, aku pun langsung setuju dan meletakan majalah ditempatnya. Lalu kamu


Kami sarapan dengan tenang, namun ditengah sarapan tiba-tiba suara bass milik papi menggelegar memejah kedamaian dan keharmonisan kami.

__ADS_1


"Bagus jam segini baru sarapan, nampaknya sejak menikahi wanita itu hidup mu tak beraturan"


Deng deng...jadi aku yang disalahin, jelas-jelas anaknya yang bikin gw nunggu...ckckckk. ini orang tua abis makan petasan cabe sekilo kaya. 'Sabar Lia...sabar' bathin ku sambil menatapnya nanar.


__ADS_2