
Dreet...Dreeet....Dreeeet
"Sayang ponsel mu bergetar, angkat lah" ucap Ferry dengan mata masih terpejam.
"Bukan ponsel ku suam, milik mu yang bergetar" Sahut Lia.
"Astaga kita kan hari ini ada penerbangan ke negara A, itu pasti Jerry yang menelphon". ujar Ferry langsung bangkit dan menyambar ponselnya diatas nakas.
"Hallo"
"Tuan muda, anda ingatkan hari ini jadwal penerbangan ke negara A pukul 13.30 dan harus sampai bandara tiga puluh menit sebelumnya"
"Iya aku tau, apartemen sudah kamu rapikan belum?"
"Sudah beres semuanya tuan muda, termasuk mobil dan supir untuk nyonya muda pun sudah siap"
"Kerja bagus, ada lagi yang mau kamu sampaikan?"
"Soal Nona Merry tuan muda, dua hari lalu presdir mengangkatnya menjadi kepala pelaksana di YZ Collection itu artinya semua designer akan berada di bawah nona Merry"
"Baik aku sudah mengerti" sahut Ferry kemudian memutus sambungan telphon dan meletakannya lagi di atas nakas sedang Lia masih berbaring mendengarkan percakapan suaminya dengan mata terpejam walau sebetuknya dia sudah bangun.
"Mau sampai kapan pura-pura tidur, hah?" Ferry memeluk dan menciumi kepala dan punuknya Lia.
"Ada apa? kenapa raut wajah mu jadi jelek?" tanya Lia saat membalikan tubuh menatap manik mata sang suami terlihat ada kesedihan.
"Hhhmmm..." Ferry menghembuskan nafas dalam-dalam sebelum memulai cerita pada Lia.
"Katakan lah aku akan mendengarkannya baik-baik" ucap Lia sambil tersenyum manis dan membelai wajah sang suami.
"Papi nampaknya benar-benar akan mempersulit mu di negara A, dia sudah mulai turun tangan"
"Maksud mu?" tanya Lia mulai penasaran.
"Barusan Jerry bilang papi sengaja mengangkat Merry sebagai kepala pelaksana YZ Collection, itu artinya kamu akan berada dibawah kekuasaan Merry selama bekerja disana"
"Masalahnya dimana? aku tidak takut sama anak ingusan itu....hehehee"
"Kamu itu ya, gemesin banget sih"
"Aku serius suam, dia boleh jadi kepala pelaksana atau direktur sekali pun aku tidak takut"
"Baik lah kalau kamu berkata seperti itu aku lebih tenang, tapi kamu harus slalu waspada ya"
"Baik, sekarang pergilah mandi atau nanti kita kesiangan. Aku sudah janjian dengan mama dan Bimo di rumah sakit papa untuk pamitan sebelum ke bandara"
"oke aku mandi kalau begitu, kamu siapkan barang-barang apa lagi yang mau di bawa selain koper yg berisi baju-baju mu"
"oke bos" ucap Lia yang langsung mendapatkan kecupan di kening dari sang suami sebelum pergi masuk ke toilet.
'Hhmm..apapun yang terjadi karena sudah memutuskan untuk pergi, maka harus siap dengan tantangan yang menghadang di depan...semangat Lia, kamu pasti bisa' bathin Lia memberi semangat.
__ADS_1
Lia memanggil mba Narti untuk membawakan barang-barang di mobil ke kamarnya untuk di masukan dalam koper juga baju untuk Ami dan alat-alat gambar serta draft-draft design miliknya.
Saat Ferry keluar dari kamar mandi dia shock karena kamar tidurnya seperti kapal pecah sekarang.
"Sayang apa yang kamu lakukan? sampai berantakan begini?"
"Hehehe...aku bingung mau nyusunnya gimana karena tidak muat di dalam koper ku".
Ferry masuk walk in closed dan mengambil koper dari lotong penyimpanan.
"Dari mana ada koper besar ini? tadi aku sudah mencarinya tidak ada"
"Sudah kamu mandi biar aku yang merapikannya ke dalam koper"
"Kalau begitu, terima kasih suami" Lia pun berniat ke kamar mandi tapi tangannya ditarik Ferry dan masuk dalam pelukan sang suami yang hanya berbalut handuk dipingganya.
"Sudah berapa kali aku bilang aku tidak butuh ucapan terima kasih dari mu, aku butuh tindakan nyata"
Belum juga sempat Lia menjawab ucapan Ferry bibirnya sudah di cium penuh hasrat dan kelembutan membuat Lia lupa kalau dia harus buru-buru malah ikut larut dalam permainan Ferry.
"Sudah mandi sana" ucap Ferry saat melepas pagutan bibir mereka.
Lia langsung berlari ke kamar mandi tanpa berkata apapun lagi karena malu hati dia terbawa hasrat oleh ulah Ferry.
'Gadis ini sudah berbulan-bulan menikah masih saja malu...benar-benar menggemaskan' bathin Ferry menatap ke pergian sang istri.
Lia sibuk membersihkan dirinya sedang Ferry sudah rapi dengan pakaian casualnya membuat dirinya makin tampan.
"Ada lagi tidak yang mau kamu bawa?" tanya Ferry memastikan.
"Sebenernya mau membawa beberapa tas dan sepatu lag..."
"Beli disana saja tas dan sepatunya" potong Ferry sebelum Lia selesai bicara.
"Baiklah, tidak jadi aku bawa"
"Aku tunggu kamu di bawah, baju mu sudah aku siapkan. pakailah"
"Siap kapten" Ferry mengacak-acak rambut Lia kemudian berlalu keluar dari kamar sambil menarik dua buah koper besar.
Ferry turun menuju meja makan untuk bersiap sarapan.
"Mba Narti panggilkan Agus, minta dia bawa turun koper di atas dan memasukannya ke dalam bagasi mobil" Perintah Ferry begitu duduk di depan meja makan.
Ferry sudah hampir selesai sarapan, Lia belum juga turun. 'Gadis ini sedang apa di atas lama sekali tidak turun-turun' gumam Ferry sambil menatap lantai atas.
Dreeet....Dreeet...Dreeet
Ponsel Ferry kembali bergetar, kali ini bukan Jerry yang menelphon melainkan adik kesayangannya.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Kakak, kamu kenapa tidak senang sekali tiap kali aku menelphon mu?" gerutu Shella di sambut dengan suara datar dan jutek kakaknya.
"Cepat katakan apa mau mu?"
"Aku cuma mau tanya benarkah kalian hari ini akan pulang ke negara A?"
"Kalian?"
"Iya maksud ku kak Lia ikut ke Negara A juga kan?"
"Ikut"
"Oke terima kasih kakak infonya, bye" Shella langsung mematikan ponselnya.
'Anak ini benar-benar akan mengganggu kehidupan ku dengan Lia di sana, dasar nyamuk' gerutu Ferry dalam hati.
"Hei, suami ku kenapa wajah mu masam begitu? habis terima telphon dari siapa?" tanya Lia saat duduk untuk sarapan.
"Shella, anak itu benar-benar akan jadi nyamuk diantara kita nantinya"
"Ehh...kenapa begitu?"
"Kamu liat saja nanti, anak itu kalau tidak membuat ku menderita tidak pernah bahagia"
"Kamu itu sama adik sendiri galak banget sih"
"Sudah cepat habiskan sarapan mu, aku tunggu kamu di mobil" Lia hanya mengangguk sambil memakan sandwich dan meminum orange juice yang sudah tersaji di meja.
"Mba Narti, Bi Pinah aku pamit ya, titip rumah sesekali aku akan pulang ke sini lag" pamit Lia pada kedua ART yang beberapa minggu ini sudah membantunya mengurus rumah dan segala kebutuhannya.
"Hati-hati di sana ya nyonya, kami tidak akan dipecatkan nyonya?"
"Tentu saja tidak, kalian akan tetap disini untuk merawat rumah ini sampai aku kembali lagi"
"Terima kasih nyonya...terima kasih" jawab Mba Narti dan Bi Pinah bersamaan.
Lia pun melenggang keluar dari rumah menuju mobil.
"Mulai hari ini kamu kembali lagi ke sisi morgan bantu pekerjaan seperti dulu, di sini Agus saja sudah cukup" Perintah Ferry pada sang bodyguard.
"Sayang, kamu memecat Darmo?"
"Tidak, aku minta dia untuk kembali ke tempat Morgan untuk membantu mengurus bisnis di negara A"
"Owh, jadi Darmo akan ikut ke negara A?" "iya tapi tidak berangkat bersam kita"
Lia mengangguk tanda mengerti.
Lia dan Ferry pun masuk ke dalam mobil. 'Rumah ini, ntah kapan lagi aku bisa berkunjung ke sini' bathin Lia.
Mobil melaju menuju rumah sakit untuk pamit dengan mama, papa dan adik Lia.
__ADS_1
ditunggu like, komennya ya kakak