
Begitu sampai Villa Ferry meminta Lia untuk naik keatas dan bersiap untuk ke acara perjamuan sedangkan dia pergi ke ruang baca bersama dengan Leon.
Lia naik keatas dengan tenang duduk di sofa kamar menunggu Ferry kembali. Lia yakin ada sesuatu yang tidak beres tapi dia tidak tau ada apa sebenarnya terjadi.
'Kenapa pria berkulit hitam tadi mengikuti mereka?' 'siapa mereka?' 'apa mau mereka?' 'apa jangan-jangan mereka orang-orang musa?'
tetibaan saja tubuh Lia jadi berkeringat dingin membayangkan kalau akan terjadi pertarungan antara Musa dan Ferry.
'Tapi kenapa musa melakukannya? bukankah Ferry sudah melakukan semua permintaannya?' 'Sebenarnya apa yang terjadi?'
Lia di kamar sibuk mondar mandir karena sibuk dengan pikiran Liarnya sendiri.
Sedangkan Ferry diruang baca dia menceritakan apa yang baru saja dia dan Lia alami saat di kota nelayan tadi.
Ferry meminta Leon untuk menyelidiki siapa orang-orang yang ngikutinya baru lah dia naik ke lantai dua menuju kamarnya
Ferry terkejut melihat Lia yang mondar mandir tidak jelas, bukannya mandi dan bersiap-siap sholat serta berdandan untuk pergi ke acara perjamuan.
"Sayang, kamu ngapain?" tanya Ferry dengan tahi berkerut penuh keheranan melihat Lia jalan mondar mandir
"Hehehehe...tidak apa, aku mandi dulu"
Lia langsung berlari kearah kamar mandi, Lia lupa kalau dia belum membawa handuknya dan baru tersadar saat dia sudah selesai mandi, tangan Lia menggapai-gapai tempat handuk tapi hanya ruang hampa yang berhasil dia gapai.
"Aiishh...aku lupa membawa handuk karena berlari panik tadi"
"Suam, tolong handuk dong" teriak Lia sambil menyembulkan kepalanya keluar sedang tubuhnya sembunyi dibalik pintu
Ferry melihat Lia seperti ini ingin sekali menggodanya tapi setelah melihat jam waktu sudah sangat mepet akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk usil
Lia pun selamat dari keusilan sang suami yang akan membuat jeritan kenikmatan terlontar dari rongga mulut Lia.
"Kamu cepatlah bersiap, aku mandi dulu"
Lia langsung menutup pintu kamar mandi dan membalut tubuhnya dengan bathrobe dan handuk kecil untuk rambut basahnya lalu bergegas menuju walk in closed untuk bersiap
Setelah satu jam lebih akhirnya mereka berdua telah siap dengan gaun couple yang sudah Ferry pesan secara khusus agar tidak ada seorang pun yang akan mengenakan pakaian yang sama dengan mereka.
Mereka berdua berjalan menuruni anak tangga dengan bergandengan tangan membuat kepala pelayan sulit percaya bahwa majikan yang di urus bertahun-tahun yang biasa begitu dingin dan pelit senyum sekarang terlihat sangat berbeda.
'Tuan muda terlihat sangat bahagia saat bersama nyonya muda, apa jangan-jangan wanita ini yang selalu dicari tuan muda'
Bathin kepala pelayan saat menatap keharmonisan sepasang suami istri yang penuh cinta.
"Silahkan bos" sambut Leon saat melihat Ferry dan Lia keluar dari pintu utama sambil membukakan pintu mobil.
__ADS_1
Lia masuk lebih dulu kedalam mobil disusul Ferry yang masuk setelah dia merapikan gaun Lia yang masih tergantung keluar dari mobil.
"Terima kasih suam" ujar Lia melihat perhatian sang suami padanya
"apa pun untuk mu sayang ku" sahut Ferry sambil menjawil hidung mungil Lia.
mendengar ucapan Ferry, desir hangat mengaliri memenuhi relung hati Lia.
Begitu Ferry sudah duduk di dalam mobil, Leon langsung melajukan mobil aston martin rapide hitam milik Ferry, dia bertugas sebagai supir Lia dan Ferry malam ini.
tak butuh waktu lama mobil aston martin rapide hitam itu sudah terparkir di lobby salah satu hotel mewah di negara S.
Lia begitu mengagumi arsitektur bangunan the capitol kempinski hotel, gaya eropa clasic yang begitu kental, terlihat sangat elegan dan mewah walau pun hotel ini hanya terdiri dari tiga lantai tapi memiliki luas yang fantastik dan terletak di pusat kota.
Acara perjamuan diadakan di hall yang terletak di lantai dasar, Lia dan Ferry melangkah kaki mereka dengan lengan Lia bergelayut manja di lengan Ferry.
"Malam tuan dan nyonya muda Goucher, senang bisa bertemu kalian lagi"
Sapaan dari suara yang tak asing tapi juga tak terlalu familiar, membuat Lia dan Ferry menoleh ke arah asal suara.
"Ternyata tuan Musa, anda terlihat sangat percaya diri malam ini" puji sarkas Ferry pada Musa
"Hahahaha....tuan muda Goucher, ini semua berkat anda"
"Itu juga karena aku banyak akan baru bisa mendapatkan kebaikan hati tuan muda Goucher"
Mendengar ocehan Musa, Lia rasanya mulai muak. Dia meremas lengan Ferry menahan emosinya.
"Sayang ku, kamu tidak sedang berniat mematahkan lengan ku kan?" Bisik Ferry ditelinga Lia membuat Lia nyengir canggung.
"Silahkan tuan dan nyonya kalian sudah bisa masuk, verifikasi undangan sudah berhasil" Ferry mengangguk menanggapin ucapan penjaga pintu masuk hall.
"Baiklah semoga anda beruntung malam ini, kami duluan"
Setelah berucap demikian pada Musa, Ferry dan Lia berjalan menuju kedalam Hall setelah seorang penjaga membukaan pintunya dengan kartu ID.
"Berlebihan sekali penjagaannya" gumam Lia yang terdengar Ferry.
"Ini normal sayang, proyek ini bernilai triliunan banyak mafia menginginkannya. Jika salah bertindak nyawa bisa jadi taruhannya"
"Bukan kah sayang ku sudah merasakannya kekejaman dunia bisnis"
"Auuch....sakit yank" rengek Ferry saat Lia mendaratkan sebuah cubitan di perut Ferry
"Mana ada sakit, perut mu saja begitu keras untuk di cubit" ucap Lia sambil menjulukan Lidahnya
__ADS_1
"Kamu sedang menggoda ku ya?"
"Ya Tuhan, buang jauh-jauh otak mesum mu"
"Susah sayang, kalau di dekat mu. Aku tak berdaya menahan diri ku"
"Sudah berhenti bicara, temani aku mencari Jeni"
Ferry memindah seisi hall untuk mencari sosok yang diinginkan sang istri, tapi tak menemukannya
"Sepertinya mereka belum sampe yank"
"Kamu coba telphon dan tanyakan saja keberadaannya" sambung Ferry
"Oh, benar juga. Kenapa tak terpikir oleh ku" Lia melepaskan pengangan tangannya pada Ferry dan mengambil ponselnya di dalam tas
"Kenapa?" tanya Ferry melihat raut wajah sang istri agak kesal
'Tidak ada yang mengangkat" jawab Lia lesu setelah mencoba menelphon berkali-kali tapi tak jua di angkat Jeni panggilan telphonnya.
"Ya sudah kalau gitu, aku temani kamu cari cemilan aja gimana?"
Ferry berusaha menghibur sang istri dengan mengajak Lia mencari makanan enak yang disajikan di acara perjamuan.
Biar pun badan Lia terbilang kurus aslinya dia sangat doyan makan, apa lagi kalau makanannya dia suka, bisa tidak berhenti makan dia sebelum piring yang tersaji kosong
"Dicari dimana-mana tidak terlihat. Ternyata kalian berdua sibuk makan disini"
ucap seorang pria sambil menepuk bahu Ferry yang sedang asik tertawa sambil menyuapi Lia cheese roll mini yang dibuat dari goat cheese.
"Kak Dhaniel, kak Margaret, Senangnya melihat wajah yang ku kenali" celoteh Lia langsung memeluk tubuh margaret tapi saat ingin memeluk dan menyapa Dhaniel, tubuh Lia ditarik Ferry
"Sama kak Dhaniel tidak usah" ucap Ferry membuat Lia mengerenyitkan dahinya
"Hahahaha...Ferry segitunya, sama kakak sendiri juga cemburu...ckcckk" timbal Dhaniel mengejek sang adik sepupu
'Cemburu? sama kak Dhaniel, ishh...kebangetan amat nih bule' Lia ngedumel dalam hati sambil menatap tak percaya kalau suami tampannya benar-benar alay.
"Apa Morgan sudah datang?" tanya Ferry mengubah topik pembicaraan.
"Aku belum melihatnya, mungkin belum datang" sahut Dhaniel
"Sayang, aku sama kak margaret kesana ya" ucap Lia sambil menunjuk tempat dipojok ruangan yang terdapat kursi dan meja untuk bersantai.
"kalian sibuk lah dulu" sambung Lia, Ferry mengangguk dan kembali fokus membicarakan urusan tender dengan Dhaniel
__ADS_1