
"Tuan muda, nyonya muda, kita sudah harus boarding sekarang" ujar Jerry sambil memberikan boarding pass pada Ferry dan Lia
"Jerry, tas dan ponsel ku mana?" tanya Lia begitu dia menerima boarding pass dari Jerry.
"Owh iya, tunggu sebentar nyonya" ucap Jerry lalu bergegas masuk kembali ke ruang tunggu mengambil suitcase yang diatasnya ada tas Lia tergantung.
"Kamu yang diinget dari tadi ponsel" ujar Ferry sambil mengacak-acak rambut Lia gemesh.
"Hehehehe...udah dua hari suam, hampa hidup ku tanpa ponsel" sahut Lia sambil tertawa canggung.
"Lebih hampa mana tanpa aku atau ponsel mu?" tanya Ferry sambil memicingkan matanya menatap Lia.
"Tentu saja tanpa ponsel lebih hampa" sahut Lia tanpa berfikir membuat si bule memberengut kesal ternyata dia tak lebih penting dari ponsel.
Melihat raut wajah sang suami yang jadi masam, Lia sadar sudah salah ngomong. 'Aduh kelepasan, mulut...mulut kamu itu jangan terlalu jujur kenapa sih, jadi ribetkan' gerutu Lia dalam hati.
"Nyonya muda ini tasnya" ucap Jerry begitu keluar dari ruang tunggu dengan tergesa-gesa.
"Terima kasih Jerry" ujar Lia sambil mengambil tas dan tersenyum. Lia dengan tak sabar langsung mencari ponselnya.
"Yah koq mati sih" gumam Lia murung. "Mana nggak bawa charger handphone lagi" sambung Lia pasrah dan kembali memasukan ponselnya kedalam tas
"Sudah kita boarding sekarang tuh sudah dapet panggilan"
Mendengar ucapan Ferry mereka bertiga pun bergegas boarding dan langsung menuju pesawat jets milik Goucher Corp.
"Suam, kamu masih marah?" tanya Lia mengawali pembicaraan begitu mereka bertiga sudah di dalam pesawat.
"Menurut mu?" bukannya menjawab Ferry malah melempar pertanyaan pada Lia.
"Mana aku tau, emang aku cenayang bisa baca pikiran dan tau isi hati mu" sahut Lia dengan ketus lalu membuang wajahnya ke arah jendela.
"Pesawat mau lepas landas jadi kaca harus di tutup" ucap Ferry sambil menutup jendela yang sedang Lia pandangi.
Lia diam tak bergeming, dia jadi kesal sendiri sudah ponselnya mati dia tidak bisa melakukan apapun sedangkan Ferry yang dicuekin asik maen ponselnya. Lia mencari kesibukan dengan membaca majalah yang nampaknya baru di taro pramugari karena majalahnya edisi baru.
Mereka berdua sibuk masing-masing dan tak menegur satu sama lain.
__ADS_1
setengah jam kemudian, Jerry datang menghampiri Lia. "Nyonya muda ini ponselnya baterainya sudah penuh"
Lia menatap Jerry tak percaya, bagaimana mungkin ponselnya bisa tiba-tiba di tangan Jerry dan malah sudah penuh lagi. "koq bisa" ucap Lia dengan nada heran tak percaya.
"Maksud nyonya?" Jerry jadi bingung kenapa Lia jadi linglung ponselnya baterainya sudah penuh.
"Sudah ambil jangan bawel" celetuk Ferry, dia tak ingin Lia tau kalau dia yang meminta Jerry mengechasnya saat Lia ke toilet.
"Hhmm...tidak bicara dengan mu" sahut Lia sambil menyambar ponselnya dari tangan Jerry. "Terima kasih ya Jer" sambung Lia lalu mulai berselancar dengan ponselnya.
'Sepertinya mereka berdua sedang perang dingin, tapi kenapa? bukannya tadi baik-baik saja?'
'Ahh...sudah lah bukan urusan ku juga' bathin Jerry sambil jalan menuju kursinya.
Lia yang penasaran langsung mengirim pesan pada Jerry. "Jerry kenapa ponsel ku bisa ada pada mu? Dari mana kamu dapat charger ponselnya?"
Jerry yang ponselnya tiba-tiba bergetar langsung melihat notifikasi dari nyonya Lia, 'ada apa ya?'
'Ternyata tuan muda tidak bilang kalau dia yang menyuruh ku mengechas ponselnya nyonya, kasih tau apa nggak usah ya?'
"Tuan muda yang memberikannya pada saya tadi, soal charger ponsel di pesawat ada charger nyonya"
membaca balasan pesan dari Jerry, Lia langsung menatap Ferry sambil menaikan alisnya tak percaya dengan apa yang baru saja dia baca.
'Beruang kutub yang menyuruh Jerry, rasanya nggak mungkin. Orang dia aja tadi ngambek gara-gara aku lebih menganggap penting ponsel dari pada dirinya'
Sedangkan Ferry yang sedang asik menatap layar ponselnya merasakan kalau Lia sedang menatapnya, dia pun ngarahkan ponselnya agar bisa memastikan perasaannya benar atau salah.
'Ehh,,ngapain ya Lia ngeliatin aku kaya gitu?' bathin Ferry saat melihat Lia benar sedang menatapnya. Karena pemasaran Ferry pun mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Lia.
Lia langsung panik dan jadi kikuk sendiri karena tidak menyangka kalau Ferry aakn tiba-tiba berbalik dan menatapnya.
"Biasa aja dong ngeliatinnya, aku emang udah ganteng dari sananya"
"cih...Narsi banget" ucap Lia sambil menjulurkan Lidahnya membuat Ferry gemesh pengen mencium bibir ranum sang istri.
"Kamu menggoda ku?"
__ADS_1
"Dari mata yang mana kamu melihat ku menggoda mu...ckckck" Lia berdecak sebel sendiri karena sang suami sedang bicara dengan mode beruang kutub sok cool.
Lia yang sebel akhirnya menarik leher Ferry kearahnya lalu mencium bibir sang suami.
Ferry yang mendapat serangan dadakan tentu saja tak ingin menyia-nyiakan keberuntungannya. Begitu Lia ingin melepas pagutannya, Ferry langsung menahan dengan memegang pipinya alhasil berekan saling bertaut sampai kehabisan nafas.
"Manis" ucap Ferry begitu bibir mereka sudah terlepas. Mendengar ucapan Ferry sebuah cubitan langsung mendarat manis di pinggang Ferry
"Aaaaa...sakit banget ini yank, pedes" teriak Ferry membuat Jerry menoleh kearah majikannya yang sedang bertengkar ala kucing dan tikus.
"Itu ucapan terima kasih ku karena kamu sudah meminta Jerry mengechas ponsel ku" ucap Lia sambil senyum manis.
"Sadis banget ucapan terima kasih kaya gini sih aku nggak butuh" sahut Ferry sambil mengelus pinggangnya yang sakit banget karena Lia nyubitnya tadi serius banget sambil kesel.
"Cih, tadi bilang manis sekarang nggak butuh....ckckckck" Lia berdecak "dasar beruang kutub plin plan" sambung Lia lagi.
Sepanjang perjalanan Lia dan Ferry perang dingin dan saling acuh tak acuh. Meraka sibuk dengan ponselnya masing-masing sedang Jerry menyalahkan earphone dan memasang penutup mata. Dia berniat tidur selama perjalanan karena seharian ini dia baru tidur tiga jam. Sibuk membantu Morgan menyiapkan presentasi sempurna untuk memenangkan tender resort dan kota wisata.
Saat pesawat sudah landing pun Lia dna Ferry masih mode diem-dieman tak ada yang mau mengalah, keduanya kekeh dengan pendiriannya.
Begitu di mobil Lia langsung memejamkan matanya tapi tidak tertidur dia hanya menghindari Ferry yang pasti akan berusaha untuk berdamai sebelum sampai apartemen.
"Akhirnya beneran tertidur" gumam Ferry pelan saat melirik Lia yang akhirnya benar-benar tertidur pulas.
Ferry menarik tubuh Lia pelan agar tidur dalam pelukannya dan berbantalkan dada bidang Ferry.
"Tuan kita sudah sampai" ucap Jerry begitu mobil sudah berhenti dengan sempurna diplataran apartemen.
"Kamu langsung istirahat saja, besok tetap ke kantor seperti biasa" ujar Ferry sebelum keluar dari mobil dan menggendong Lia yang tertidur lelap.
"Baik" sahut Jerry kemudian melakukan mobilnya meninggalkan apartemen sang tuan muda.
"Sangat imut saat tertidur dan begitu tenang. Kenapa saat kamu terjaga begitu susah mengendalikan mu?" gumam Ferry menatap wajah Lia sambil menyelimuti tubuhnya setelah Ferry selesai membersihkan wajah, tangan dan kaki Lia dengan wash lap.
Ferry meninggalkan Lia untuk membersihkan diri dan ikut tidur terlelap sambil memeluk tubuh sang istri mencari kedamaian.
jangan lupa like, komen dan jadikan favorite kalian semua yess novel karya ku "suamiku berondong". yang baik bagi hadiahnya dong...hehehehe
__ADS_1