Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Mahar


__ADS_3

Aku berusaha melepaskan diri dari pelukan Ferry namun pelukannya malah makin erat. "Huuufft", hembusan nafas beratku membuat pemilik suara bariton itu membuka mata dan mengecup keningku. "Selamat pagi istriku, kamu mau ngapain sih buru-buru banget bangunnya, hah?". ucapnya sambil mengeratkan pelukannya dan menghujaniku dengan kecupan.


"Sayang, mulut mu masih bau naga juga cium-cium aku. Gosok gigi dulu sana", gerutu ku sekalian modus biar bisa bebas dari pelukan Ferry.


"Justru bau naga ini yang diharapkan banyak wanita diluar sana, kalau mereka bisa mencium baunya itu artinya mereka berhasil miliki ku...hehehehe" celoteh Ferry sambil terkekeh.


"Memang berapa banyak wanita yang sudah pernah ngajak kamu tidur bareng?" tanyaku sambil mendongak dan memainkan rambut-rambut halus di dagu Ferry.


"Banyak lah, dari kalangan artis yang paling banyak, terutama arti yang dikontrak perusahan papi, biar popularitas mereka naik karena bisa naek ranjang ku. tapi kamu tenang aja sayang, suami mu ini masih 100% perjaka dan kamu wanita pertama yang berhasil menjamahnya sesuka hati mu". Mendengar ucapan Ferry aku langsung meneggelamkan wajahku di dadanya karena sudah pasti sekarang merah merona karena pikiran kotor merasuki kepalaku.


"Serius baru aku aja yang nyentuh kamu selama ini?", masa sih?, kaya nya aku nggak yakin deh", ucapku seenaknya padahal apa yang diceritakan Jerry itu kurang lebih sama dengan yang Ferry ucapkan.


"Seriuslah, ngapain juga aku bohong..ckckck". Jawab Ferry penuh percaya diri.


"Trus kenapa kamu kaya orang udah paham banget urusan itu" ucapku malu-malu.


"Itu apa sayang?" tanya Ferry sambil mengerlingkan matanya dan tersenyum jail.


"Tau ahh..."jawbaku ngambek karena digoda Ferry trus.

__ADS_1


"Yah masa pagi-pagi istri cantiku udah ngambek aja, kamu nggak mau liat mahar mu yank?" tanya Ferry mengalihkan pembicaraan, membuatku membalikan badan ke arahnya dengan alis mengkerut dalam.


"Emang harus aku lihat?" jawab ku ketus.


"Harus dunk, susah payah itu aku dapetin mahar bist kamu, masa diliat aja nggak? Ujar Ferry dengan wajah sendu yang dibuat-buat.


"nggak usah pasang muka kaya gitu, JELEK Tau...", "Tapi aku aja lupa dimana mahar itu setelah acara akad nikah semalem, bukan hanya mahar si buku nikah aja aku nggak tau dimana sekarang keberadaanya" ucapku sambil garuk-garuk kepala.


"Buka laci bakas disamping mu, semua yang kami sebutin ada di dalam sana. Jerry yang mengankannya semalam, cepat ambil lah" perintag Ferry gemas karena aku tak juga bergerak.


"Iiiisssshh....nggak sabaran amat sih, mahar buat aku koq kamu yang nafsu banget nyuruh aku liat...ckckckck". ujarku sambil ngegrundel mengambil map dan juga dua buah kotak yang tersimpan di dalam laci nakas.


"Bule reseeee,,,Bisa nggak jangan usil banget gitu jadi suami" gerutuku sambil mulai membuka kota pertama yang seperti kotak perhiasan.


"Cantik perhiasanya, Pasti mahal....tapi apa yang sulit dibeli sama kamu? secsra duit mu nggak berseri" gumamku yang terdengar Ferry.


"Aaaaiiiiihhhh,,,istriku dikasih satu set perhiasan cuma satu-satu model kaya gitu di dunia ini dia komen cuma begitu...Terlalu bangeeetttt kamu" Gerutu Ferry sambil menggigit kupingku gemesh.


"Sayang...astaga,,kamu kanibal ya?, kuping orang maen gigit aja". ucapku sudah dengan nada naik satu oktaf. Ferry hanya terkekeh melihat ku mulai kesal dengan keisengannya.

__ADS_1


Lalu aku membuka kotak kedua dia dalamnya ada dua buku nikah milik ku dan Ferry, ada dua buah kunci mobil satunya BMW dan satunya lagi Jaguar. "Ini gantungan kunci kenapa bisa sama persis dengan yang biasa ku gunaka untuk mobil BMW dari papa?" Bathin ku mulai deg-degan, berharap bawa benar itu mobilku yang dulu. Suasana jd hening, aku tak lagi banyak bersuara karena tangan ku mulai gemetar membayangkan kebenaran yang ada di depan mataku. "Mungkin kah Ferry membelinya dari bank? tapi berapa banyak uang yang dia habiskan? bagaimana juga dia biasa tau bank yang menyita dan melelang barang-barang keluarga ku?. pertanyaan demi pertanyaan terus berputar dikepala ku.


Sesekali aku menatap mata biru suami ku, yang ditatap hanya tersenyum manis tak berkomentar membiarkan ku sibuk dengan pikiran ku.


makin ku pandang kunci mobil itu makin tak sabar aku membuka map nya, agar semua pertanyaan ku terjawab.


Dengan tangan mulai gemetar aku membuka map tersebut dan di dalam nya ada dua buah STNk, dua buah BPKB dan sebuah sertifikat rumah.


Pelan-pelan aku membuka BPKB mobil BMW dan benar saja itu milik ku yang papa belikan saat aku mulai kuliah. Butiran bening sudah mengalir dari pelupuk mataku. Dengan tidak sabar aku membukan Sertifikat Hak Milik rumah itu. "Ya Tuhan Ini rumah mama dan papa, tempat ku dilahirkan dan dibesarkan, benar ini, tidak salah lagi, ini rumah masa kecilku" ucapku begitu melihat alamat rumah dalam sertifikat itu adalah alamat rumah lama ku. Dengan air mata yang sudah tak lagi bisa ku bendung, aku memelukan leher Ferry menciumi seluruh wajahnya sambil menangis dan mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih suamiku, ini bener-bener mahar terindah" ucapku sambil menciumi wajah suamiku. Lalu Ferry menangkup wajahku dengan kedua tangannya, mengusap butiran bening yang sudag membasahi pipi ku. "Mulai sekarang aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuatmu selalu tertawa dan bahagia, tidak boleh lagi ada air mata yang menggenang seperti ini". ucup Ferry sambil mengecup kedua mataku. Dan memeluk ku erat. lama Kami dalam posisi seperti itu. Sampai perutku berbunyi.


"Kamu lapar?" ucap Ferry nendengar konser cacing dalam perutku. Aku hanya bisa mengangguk. Menangis sepertinya benar-benar menguras energiku.


"Tunggulah disini aku akan pesankan makanan dulu untuk kita sarapan yang kesiangan" ujar Ferry sambil melepas pelukannya dan berjalan keluar kamar untuk menelphon bagia restoran hotel untuk order makanan. Lama Ferry baru masuk lagi, sedangkan aku terus saja memandangi MAHAR dari Ferry yang semuanya adalah milik keluarga ku dulunya tapi disita bank untuk membayar pinjaman hipotek papa selama membangun perusahaan, karena saham milik papa di jual oleh om Anton entah pada siapa, papa dinyatakan bangkrut dan harus mengembalikan dana pinjaman pada Bank yang nominalnya sangat banyak 26,8 Triliyun. Angka yang tak akan mungkin bisa ku dapatkan sepanjang hidupku. Tapi Bule tengil ini bisa menebusnya. "Berapa banyak kekayaannya sebenerannya?, bukankah dia hanya vice president dinkantor papinya...mana mungkin dia sekaya itu....ckckckck" lamunku buyar saat Ferry mendaratkan ciuman di pipiku.


"Melamun terus, dipandangin trus juga nggak akan berubah semuanya kini sudah sah jadi milik mu hanya untuk sertifikat rumah masih dalam proses balik nama atas nama kamu" jelas Ferry sambil memberiku segelas susu coklat hangat.


"Maaci suamiku...Mmmmuuuachh" ucapku sambil memberikan ciuman dengan lima jariku lalu meniupkannya kearah Ferry, yang ditangkapnya lalu disimpan di kantongnya sambil terkekeh dengan kelakuannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2