
"Lia, aku disini" panggil Jeni sambil melambai-lambaikan tangannya saat melihat Lia turun dari lift.
Lia segera berjalan menuju Jeni dan mereka saling berpelukan lalu mengecek tubuh masing-masing memastikan sahabatnya dalam keadaan baik-baik saja.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Lia saat melihat Jeni memindai tubuhnya.
"Mencari tanda cinta yang dibuat beruang kutub....heheehhe" tawa Jeni menggoda Lia.
"Mana ada? Aku kesini menjenguk suami ku, dia seorang pasien apa yang kamu pikir aku lakukan....ckckck?" Lia berdecak sambil menggelengkan kepala tak percaya isi pikiran Jeni.
"Baiklah aku yang terlalu banyak berfikir. Ayo duduk sini kalau tidak kita berdua akan segera jadi tontonan" Lia pun duduk disebelah Jeni diikuti Leon dan para pengawal.
"Lia ini hanya perasaan ku saja atau memang benar pria-pria tegap itu mengikuti mu?" tanya Jeni berbisik memastikan perasaannya.
"Mereka pengawal yang dikirim Ferry menjaga ku, mendengar apa yang terjadi pada kalian kemarin Ferry makin paranoid dan alay menjaga ku"
"Kurasa bukan alay atau sekedar paranoid karena dari yang aku dengar saat kak Arjun dan pengawalnya bicara orang-orang yang menyerang kami kemarin adalah pembunuh bayaran profesional kiriman mafia gitu"
"Aku yakin itu semua ada kaitannya dengan kamu yang datang menjenguk suami mu" lanjut Jeni
"Menurut Arjun tau tidak aku kesini menjenguk Ferry?" tanya Lia tak enak hati sudah memanfaatkan dan membahayakan Arjun dan juga Jeni dengan membawanya ke negara S.
"Aku rasa kak Arjun dari awal tau kalau kamu kesini untuk beruang kutub dan tau bahaya yang akan dihadapi, karena saat di bandara kamu hilang. Kak Arjun tidak mencari mu setelah mendapat laporan dari pengawalnya" cerita Jeni membuat Lia makin yakin dugaan Ferry benar soal Arjun yang sudah tau bahaya yang akan dia hadapi. 'Tapi kenapa orang itu tetap mau mengantar ku kesini?' bathin Lia
"Ayam ku kemarin mati karena kebanyakan melamun?" ujar Jeni berbisik menggoda ditelinga Lia saat dia melihat Lia sibuk melamun.
"Aku buka ayam" sahut Lia dengan mata memicing tajam kearah Jeni pura-pura kesal.
"Kamu tidak cocok menjadi pemeran putri jahat, jadi berhenti lah memasang muka galak sangat tidak cocok...hahahaha" goda Jeni membuat Lia mengacak-acak rambut teman barunya di kampus dengan gemesssh.
"Lia hentikan, kamu merusak kecantikan ku kalau begini" mendengar ucapan Jeni mereka berdua saling pandang lalu tertawa bersama.
__ADS_1
"Oh ya Jen, apa Arjun tau kamu kesini?" tanya Lia mulai khawatir Arjun tiba-tiba muncul.
"Tentu saja tau, kamu pikir aku bisa keluar begitu saja dari villa kak Arjun tanpa sepengetahuannya....ckckck"
"Hehehehe....aku pikir kamu menyelinap gitu untuk menemui ku" sahut Lia sambil cengengesan canggung.
"Kamu takut ya kak Arjun kesini dan bertemu beruang kutub?" goda Jeni sambil menaik turunkan alisnya membuat Lia yang isi hatinya terbaca Jeni jadi salah tingkah.
"Sudah tidak usah bohong, wajah mu terlihat jelas takut kak Arjun datang dan tau hubungan mu dengan beruang kutub"
"Kenapa tidak kamu ceritakan saja yang sebenarnya pada kak Arjun?, jadi dia tidak terus berharap pada mu" tanya Jeni penasaran dengan alasan Lia merahasiakan pernikahannya dengan Ferry.
"Mungkin nanti aku akan mengatakannya pada Arjun tapi sekarang belum saatnya. Aku masih bingung bagaimana menjelaskannya" sahut Lia dengan wajah tak berdaya membuat Jeni spontan memeluknya.
"Baiklah kita lupakan saja soal ini dan tidak membahasnya lagi" ucap Jeni sambil memeluk Lia
"Makasih ya Jeni, kamu mau jadi sahabat ku dan membantu ku selama ini. Maaf aku slalu merepotkan mu slama ini" ujar Lia masih dalam pelukan Jeni.
Mereka berdua tidak pernah menyadari ada sepasang mata yang terus mengawasi interaksi mereka berdua di lobby rumah sakit.
Tak terasa waktu terus berjalan mereka berdua terus asik mengobrol sampai telphon Ferry menghentikan obrolan mereka berdua.
"Sayang kamu dimana?" tanya Ferry dengan nada khawatir
"Di lobby rumah sakit, suam kamu masih sibuk dengan kak Dhaniel?" tanya Lia sebelum meminta izin untuk keluar rumah sakit ke restoran di sebelah rumah sakit untuk makan siang sekalian membelikan Ferry dan lainnya makan siang.
"Masih, kenapa? kamu mau izin kemana lagi, hah" tanya Ferry yang seakan tau isi hati istrinya.
"Hehehehe...suami ku memang cenayang tau aja aku mau izin pergi" sahut Lia sambil tertawa, suara tawa Lia terdengar renyah ditelinga Ferry membuat hatinya bahagia mengetahui istrinya baik-baik saja.
"Mau kemana?" tanyanya pasrah
__ADS_1
"Ke restoran disebelah rumah sakit, sebentar lagi jam makan siang. Sekalian aku beli makan siang buat suami ku, kak Dhaniel dan mereka semua yang ada di rumah sakit yang sudah repot mengawal dan menjaga ku" ujar Lia panjang lebar membuat Ferry makin tak berdaya menolaknya padahal hatinya begitu gundah sedari kepergian Lia dari kamarnya tapi Ferry mencoba menepis perasaan khawatirnya dan percaya ucapan kak Dhaniel Lia akan baik-baik saja.
"Hhhmm...baiklah, tapi kamu harus waspada dan hati-hati ya? kabari aku jika sesuatu terjadi" ujar Ferry dengan nada khawatir membuat hati Lia menghangat karena merasa begitu besar cinta sang suami untuknya.
"Iya suam, aku akan hati-hati. Aku akan baik-baik aja, kan ada Leon disini" ucpa Lia berusaha menenangkan hati sang suami.
"Ya sudah, kamu hati-hati. Aku tunggu dikamar" ucap Ferry pasrah
"Oke suami ku, love you...muachh" Ucap Lia mengakhir panggilan telphonnya.
"Love you more" sahut Ferry sesaat sebelum dia menutup telphonnya.
Usai menutup telphon hati Ferry makin gundah, hatinya seakan memiliki telepati begitu kuat yang mengatakan Lia dalam bahaya.
Melihat ke khawatiran Ferry, Dhaniel berkali-kali meyakinkannya semua akan baik-baik saja, itu hanya perasaannya saja. Ferry berkali-kali menepis kegundahan hatinya sampai dua jam kemudian telphon dari Leon masuk.
Seakan sudah yakin istrinya dalam bahaya dan tidak baik-baik saja, Ferry mengangkat telphon Leon dengan hati yang sudah carut marut.
"Maaf tuan muda, nyonya muda berhasil di culik" hati Ferry menclos sakit sekali. Merasa bodoh tak percaya dengan hatinya yang cemas sedari tadi.
"Sudahlah, kamu kembali ke sini secepatnya. Biar anak buah mu saja yang mengejar mereka dan pastikan Jeni sahabat Lia kembali ke villa Arjun dengan selamat" ucap Ferry sebelum dia memutus sambungan telphonnya.
"Jerry hubungi Morgan, kita jalankan rencana B. Aku yakin sebentar lagi Musa akan mengubungi ku"
"Apa yang terjadi dengan Lia?" tanya Dhaniel khawatir, namun Ferry hanya menggelengkan kepala sambil bergumam "Lia di culik"
"Apa Lia di culik? Ya Tuhan, Leon ini bagaimana bisa sampai kecolongan seperti ini....ckckckkck" Dhaniel berdecak kesal mendengar kenyataan Leon gagal menjaga adik sepupu iparnya.
Leon bergegas kembali ke rumah sakit untuk melapor pada sang tuan muda prihal yang terjadi. Dia benar-benar kecolongan.
'Bodoh bagaimana mungkin aku tidak curiga dengan kedua gadis tadi...sial' bathin Leon memaki kebodohan dirinya.
__ADS_1
jangan lupa like and komen ya readers