
"Jadi kamu benar sudah menikah?" tanya Rendy tiba-tiba membuatku tersedak mendengar pertanyaan Rendy.
"Minumlah dulu" mira menyodorkan botol air mineral ketikan melihatku tersedak.
"Terima kasih" ucapku sambil mengambil botol air mineral dari tangan Mira.
"Kamu itu, bisa tidak kalau nanya liat-liat kasian itu Lia sampai tersedak" Ucap Mira sambil membelalakan matanya pada Rendy.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu, hanya penasaran saja dari tadi kan kamu bilang, Lia istri orang terus" Jelas Rendy.
"Hhhmm..kamu pikir aku berbohong pada mu?" ucap Mira dengan nada tinggj, tidak senang dianggap bohong oleh Rendy.
"Ya, mana aku tau kamu jujur atau tidak" ujar Rendy sambil mengendikan bahunya.
"Kamu it.." Ucap Mira terhenti karena Aku memotongnya, rasanya lelah sekali melihat meraka berdua ribut terus.
"Cukup, Maaf kan aku Rendy. Apa yang Mira katakan benar. Aku memang sudah menikah, dua hari yang lalu". Wajah Rendy langsung murung, matanya menatapku tajam seperti mencari celah kebohongan dari ucapanku.
"Bagaimana bisa?, kamu sudah berjanji akan menunggu ku" ucap Rendy lemas tak berdaya menerima kenyataan.
"Maaf kan aku Rendy, semua terjadi begitu cepat aku tak bisa mengelak dari takdirku. Aku pikir tiga tahun ini kamu tak menghubungi ku sama sekali karena kamu sudah melupakan ku dan tak mengharapkan ku lagi untuk jadi teman dekat mu" Aku mencoba menjelaskan semuanya pada Rendy, namun Rendy justru meradang, marah besar karena dia merasa aku menghianatinya.
"Kamu jahat Lia, aku nggak akan biarin kamu bahagia dengan suami mu. Aku akan merebut mu kembali, Aku mencintaimu Lia Putri Aghata, aku nggak perduli kamu sudah menikah atau belum, kamu tetap harus jadi milik ku?" ucapan Rendy membuat mataku terbelalak tak percaya dengan apa yang aku dengar, bahkan Mira membekap mulutnya karena hampir saja dia berteriak tak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya.
__ADS_1
Rendy bicara sambil mengikis jarak dengan ku dan dia tiba-tiba saja mencium bibir ku dengan rakus. Aku mendorong tubuh Rendy tapi lelaki ini tak bergerak sedikit pun.
"Lepaskan aku Rendy, kamu sudah gila" ucap ku saat Rendy melepaskan tautan bibir kami. Rendy melonggarkan pelukannya padaku. Aku langsung melayangkan sebuah tamparan ke pipi Rendy.
"Dasar kurang ajar, beraninya kamu menciumku seperti itu. Kamu benar-benar cari mati". Ucapku sambil berjalan menjauh dari Rendy. Tapi Rendy menarik tanganku dan memeluk ku sambil menangis.
"Aku mencintai mu Lia, susah payah aku belajar agar cepat lulus dan bisa cepet kembali kesini dan menikahi mu kamu malah sudah menikah lebih dulu. Kamu jahat Lia" ucapnya Lirih disela-sela tangisnya. Bertahun-tahun aku berteman dengan Rendy tak satu kali pun aku pernah melihatnya menangis. "Apa-apa ini, kalau sampai Ferry tau kejadian ini. ntah apa yang akan dia lakukan" gumamku dalam hati membuat bulu kuduk ku meremang ngeri membayangkan tindakan si beruang kutub.
"Rendy, tolong lepaskan pelukan mu dulu. kita bicara baik-baik ya, jangan seperti ini oke" . Tapi Ferry tak jua bergeming, dia tetap memeluk ku sampai tiba-tiba ada menarik tangan ku dan mendorong tubuh Rendy dengan kuat dan melayangkan sebuah tinjuul yang membuat tubuh Rendy jatuh tersungkur.
"Kurang Ajar, beraninya kamu menyentuh istriku" Suara bariton suamiku yang berat dengan tatapan tajam ingin membunuh, membuatku gemetar saat kurasakan cengkraman tangannya begitu kuat di pergelangan tanganku.
"Hajar dia, pastikan dia tidak akan bisa bergerak dari atas ranjang selama seminggu" ucap Ferry pada anak buahnya sambil menarik ku pergi dari sana. Aku terseok-seok mengikuti langkah kaki Ferry.
Aku hanya duduk diam tak berani berkata-kata saat ku lihat wajah angker dengan sorot mata ingin membunuh, membuatku bergidik ngeri. "Mungkin tampang dia yang seperti ini yang slalu ditunjukan Ferry di depan orang-orang makanya semua slalu berkomentar terbalik dari yang kulihat slama ini, tapi biar bagaimana pun suamiku ini tetap saja ha tampan sekali" bathinku membuat sebuah senyum mengembang.
"Cepat keluar, atau ku gendong" suara bariton suamiku membuyar lamunanku. "Cepat sekali" gumamku ketika melihat mobil ini sudah berhenti di depan lobby Apartemen mewah. "Kamu benar-benar mau ku gendong menuju apartemenku, hah" ucap Ferry lagi, membuatku buru-buru melepas safetybelt dan keluar dari mobil.
Si beruang kutub menarik tangan ku, tapi sebelum dia mulai berjalan, aku menghentikan langkahnya dengan teriakan kesakitan. "Aaaauuuuu....sayang kamu menggenggam tanganku terlalu erat" ucapku membuat Ferry spontan melepas gengamannya. Aku mengelus pergelangan tangan ku yang memerah karena ulang si beruang kutub. Dia hanya diam terpaku di tempatnya tak ada kata maaf atau pun perhatian yang biasa dia berikan padaku. "Hhhmm...benaran marahnya ya nih bule, aduuh gimana ini?" bathin ku sambil menatap sendu suamiku dan mengelus pergelangan tanganku.
"Masih belum mau jalan juga? mau aku tarik lagi tangan mu" ucap si bule ketus.
"Iiiissshhh..." desisku sambil menghentakan kaki dan melangkah menyusul si bule ke arah lift.
__ADS_1
Sesampainya di depan lift kami hanya trus saling diam, sampai pintu lift terbuka. Aku hanya mengikuti langkah si bule sambil menunduk dan memaikan jari ku. "Kenapa rasanya seperti aku habis melakukan kejahatan yang tak termaafkan, padahal aku kan disini korban pelecehan Rendy, tapi kenapa aku yang dihukum" bathinku mulai merasa sedih atas ketidak adilan ini.
Pintu lift tiba dilantai paling atas apartemen. Cuma ada dua pintu di lantai ini dan si bule menuju salah satu pintu dan menekan kode akses untuk masuk ke dalam unitnya. Aku hanya berdiri membuntutinya, sampai dia sudah masuk ke dalam unit aku masih tetap berdiri di luar pintu karena takut jika hanya berdua saja dia akan menyiksaku dan melukaiku seperti Rendy yang habis dihajar oleh bodyguardnya.
"Kenapa tidak masuk? apa yang kamu tunggu?" tanya Ferry tiba-tiba muncul di depan pintu dengan wajah dinginnya.
"Hhhmmm....aku nggak mau masuk, aku takut kamu akan menyakitiku" ucapku sambil memainkan jariku dan menatap matanya. Mataku rasanya sudah panas sekali ingin menangis ditatap dingin begitu sama suami sendiri.
"Jangan buat aku memaksa mu untuk masuk" ucap Ferry dingin sambil melipat tangannya di dada.
"Aku nggak mau masuk, kalau kamu ingin bicara kita bicara disini saja". Gumamku takut-takut, membuat Ferry melangkah mendekatiku.
"Wow, sudah tidak bersedia ku sentuh?" Ucap Ferry saat melihat reaksi spontanku yang menghindarinya. Karena aku benar-benar takut pada pria dihadapaku saat ini. Aku seperti tak mengenalinya, mungkin aku memang tak pernah mengenal Ferry dengan baik, bagaimana karakter pria ini sebenarnya, yang dia tunjukan slama ini hanya sisi baik, lembut, perhatian dan manjanya saja.
"Bu..bukan begitu, aku hanya takut pada mu. Kamu begitu menakutkan saat ini, bahkan kamu sudah menyakiti pergelangan tanganku, membuatku berjalan terseok-seok bahkan hampir tersungkur karena kamu menarik tanganku dan berjalan dengan langkah terlalu cepat" ucapku berusaha menjelaskan, agar si bule tak makin meradang.
"Masuk lah, aku tak akan melukaimu apa lagi membunuh mu" ucap Ferry sambil membuka pintu lebar-lebar. Aku pun akhirnya masuk ke dalam unit apartemen Ferry.
Apa yang akan dilakukan Ferry pada Lia? yuukk baca terus ceritanya.
jangan lupa komen, like and votenya ya kakak
tks.
__ADS_1