
Saat aku baru masuk kedalam mobil. Sebuah pesan dari nomer yang sama pun masuk lagi. Aku pun membacanya.
"Kenapa hanya di read saja"
"Kamu si kutu buku tadi?"
"iya, jika kamu menganggapku seperti itu, yang pasti namaku Ferry"
"Kamu dapat nomer ku dari mana?"
"Dari kamu lah, kan tadi kamu yang memberikannya, Apa kamu sudah lupa?"
Aku tak lagi membalas pesan si kutu buku. "Bodo amat lah, benar mungkin analisa Mira tadi aku benar-benar memberikan nomer ponselku" gumamku sambil bersiap menuju rumah sakit.
#POV Ferry#
Senyum pun terkembang di wajah pria blasteran bermata biru yang asik duduk disebuah mobil Maybach Exelero karena berhasil bikin bingung Lia, pasalnya Lia memang tidak memberikan nomer ponselnya dengan benar padaku tapi aku sudah memiliki nomer ponselmu dari bertahun-tahun lalu, Hanya saja selama ini aku tidak memiliki alasan kuat menghubungi mu. Kesempatan kali ini tidak akan aku sia-siakan. "Lia Putri Aghata" wanita yang membuatnya jatuh cinta dua belas tahun lalu kembali kini hadir lagi di hidupnya. Setelah bertahun-tahun aku mencoba melacak keberadaan mu tapi tidak ada berita sama sekali. "Kali ini aku tidak akan melepaskan mu lagi". "Tak ku izinkan kamu jauh dariku" Bathin Ferry penuh keyakinan dan keinginan memiliki gadis pujaan hatinya itu, Sampai Dia rela menyamar menjadi pria buruk rupa biar bisa dekat dengan Lia Putri Aghata.
"Tuan muda, mau sampai kapan di Negara IND?" tanya Jerry, anak angkat papi dan mami yang usianya lima tahun diatas ku. Dia juga adalah asistenku, dia yang selama ini selalu membantuku mengurus segalanya, termasuk membantuku agar aku bisa dekat dengan gadis pujaanku dengan syarat aku menyelesaikan gelar sarjana ku dan mengambil master juga semua pekerjaan di kantor papi beres. Syarat yang berat memang demi punya kesempatan dekat dengan Lia, apapun syaratnya akan aku jalani. Begitula tekatku.
"Apa ada urusan mendesak di perusahaan?" tanyaku pada Jerry.
"Tidak ada tuan muda" Jawab Jerry singkat.
"Kalau begitu aku masih ingin beberapa hari lagi disini, sekarang antar aku ke rumah sakit dimana papanya dirawat".
"Baik tuan muda" jawab Jerry langsung melajukan mobil menuju RS XY.
Setibanya di parkiran, aku kembali mengenakan kaca mata tebalku dan juga tompel di pipiku.
"Apa aku seburuk itu Jer?" Tanyaku sambil menatap kaca spion.
__ADS_1
"Sangat buruk" jawab Jerry singkat yang langsung saja ku tinju bahunya "Berani kau menghinaku". Jerry pun hanya menggelengkan kepala. Lalu aku turun dan menuju ruang ICU, ternyata Lia sudah ada di sana bersama mamanya. Aku hanya diam mengamati dari jarak yang lumayan jauh tapi tetap bisa mengawasinya.
#POV Lia#
Sesampainya di RS XY aku langsung ke ruang rawat ICU. Ku lihat mama duduk sambil membaca majalah dengan khusuk.
"Malam mah" sapa ku sambil mencium pipi mama.
"Kamu ngapain ke sini bukan ada kuliah sore tadi?" tanya mama heran karena biasanya aku akan sampe rumah jam 8 malem. sekarang jam 7 juga belum aku sudah sampe.
"Dosennya ada urusan jadi kuliah selesia lebih cepat" mama hanya mengangguk mendengar jawaban ku.
"Gimana kondisi papa mam?" Tanyaku membuat mama menutup majalahnya.
"Papa kondisinya makin membaik tapi belum juga sadarkan diri. Imran pun bingung karena alat vital papa semuanya mulai berfungsi dengan baik, hanya bagian otak papa namapak tertidur. Imran hanya bilang kita harus memberi papa semangat untuk sehat dan cepat pulih dengan sering mengajaknya berbicara". aku hanya diam mendengarkan penjelasan mama.
"Mama gimana hari ini apa diganggu sama wartawan atau apa gitu nanya-nanya berita yang tadi pagi ramai di BOW" tanyaku penasaran, karena di kampus saja sepeti tidak terjadi apa-apa, semua normal seperti biasa. Mama kembali menggeleng, "Semua normal seperti kemarin-kemarin".
"Apa kamu dikejar-kejar wartawan?" tanya mama mulai khawatir. "Nggak ma, Lia juga baik-baik aja semuanya aman seperti biasa".
"Oiya mama sudah makan belum?" tanyaku lagi. Kembali mendapat gelengan kepala dari mama.
"Ya udah kalau gitu Lia beli makan malam dulu ya buat kita ma" sambil mau berdiri pergi. Lalu dihentikan mama.
"Gak usah, Ujang lagi pulang jemput Bimo dia mau kesini dan nginep lagi disini" jelas mama.
"Niat nya malem ini Lia yang mau disini ma, karena besok Lia nggak ada jadwal kuliah" ucapku dengan kecewa karena lagi-lagi Bimo yang meminta untuk jaga papa.
"Sudah biar Bimo saja, Jaga malam mending anak laki-laki..kalau kamu mau besok pagi-pagi kamu bisa kesini anter sarapan untuk Bimo dan menemani papa, biar mama di rumah dulu" ucap mama sambil mengelus kepala ku yang sudah bersandar di bahu mama.
"ide bagus itu ma" Suara Bimo terdengar di ujung koridor membuat ku dan mama menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Sudah sana kak Lia dan mama pulang, biar aku dan mang Ujang jaga disini lagi" ucap bimo
"Kamu kenapa betah sekali di sini?" tanyaku curiga.
"Jelas aku betah mang Ujang menemaniku main catur dan Uno, haahahaaha" tawa Bimo kegirangan karena benar dia jadi bisa bebas main dan tidur malam di RS XY. ucapan Bimo membuatku menepuk jidatku.
"Ayo ma kita pulang kalau begitu" ajak ku pada mama yang di jawab anggukan kepala oleh mama sambil merapikan majalah-majalah milik mama yang menemaninya selama di RS XY. Lalu kami pun menuju parkiran. Namun betapa kagetnya aku tiba-tiba tanganku di tarik orang dari belakang.
"Kamu, ngapain kamu disini?" tanyaku begitu melihat wajah si kutu buku.
"Ini rumah sakit Lia tentu saja aku datang menjenguk orang sakit" jelas Ferry padaku. Aku mendengar jawaban si kutu buku hanya memicingkan mata penuh curiga, "masa bisa kebetulan sekali" bathin ku.
"kamu tidak percaya? kamu pikir aku menguntit mu? ckckk,,ayo lah aku antar kamu ke kamar orang yang mau ku jenguk, biar kamu percaya" ucap si kutu buku sambil kembali menarik tanganku.
"Tidak perlu, aku sama mama juga sudah mau pulang" jawab ku.
" Eh ada tante, kenalin tante saya Ferry" si kutu buku memperkenalkan dirinya sendiri sambil mencium tangan mama. "ini orang tampang ancur nggak karuan pedenya tinggi banget". bathinku melihat tingkah si kutu buku yang kepedean banget.
" mamanya Lia, nak Ferry teman kampus Lia?" tanya mama usai memperkenalkan dirinya.
"Bisa dibilang begitu tante" jawab Ferry sekenanya.
"ehh, kenapa jawabnya bgtu" gumamku. "bukan kah memang kami satu kampus?" kepalaku benar dibikin pusing sama tingkah si kutu buku ini. Mama hanya mengangguk-anggukan kepala. Kemudian kami pun pamit pulang. Dia ntah kemana aku nggak perduli.
"Sayang, Siapa pria blasteran tadi? ganteng baget dia kalau kaca mata dan tompelnya di hilangkan" ucap mama membuatku tertawa terbahak-bahak sambil jalan menuju parkiran. Mama matanya udah Minum atau plus 10 kaya masa tampang kaya kutu buku gitu dibilang cowo blaster ganteng....wkkwkwkwkwkk
Setibanya di mobil pun aku belum bisa menghentikan tawa ku. Aku benar nggak habis pikir koq bisa mama ngeliat si kutu buku ganteng ya? pikir ku sambil menggaruk kepala ku yang tidak gatel.
"Sudah puas ketawanya?" tanya mama nada aneh.
"Maaf ma, Lia nggak maksud menghina si kutu buku..cuma masa tampang kaya gitu dibilang ganteg si ma". ucapku smabil menahan tawa dengan menggigit pipi bagian dalam ku.
__ADS_1
"Kalau kamu nggak percaya besok-besok minta saja dia lepas kaca matanya suruh dia pake kontak lens dan operasi tompelnya itu, mama yakin dia pasti ganteng banget deh" ucap mama yakin sekali.
"Hhhmmm, baiklah" ucapku sambil mengenakan safety belt dan melajukan mobil ku menuju rumah.