Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Cepat Ceritakan


__ADS_3

Ting tong...Ting tong


"Sepertinya Mira sudah sampai" ucap ku dari dalam walk in closed.


"Biar aku yang buka" Ferry pun langsung ngeloyor pergi untuk membukakan pintu. Aku pun secepat kilat merapikan diri ku agar Mira tidak menunggu terlalu lama.


"Hai nyonya Goucher, tanpa make up pun nyonya besar slalu cantik" rayu Mira begitu melihat ku menuruni anak tangga.


"Jangan merayu ku, aku tak sanggup menerima pujian mu" ucap ku dengan nada kesal yang di buat-buat sambil melangkah mendekati Mira yang sedang memegang gelas berisi juice.


"Wanita lemah lembut mana cocok marah-marah...wkwkkkkwkwk" Tawa Mira menghilangkan sunyian rumah.


"Kamu koq cepet banget udah sampe aja" tanya ku sambil mencium pipi kanan dan kiri Mira lalu mengajaknya mengobrol di sofa ruang TV, sedang Ferry sudah ngeloyor naik ke atas lagi.


"Aku buru-buru tadi udah kaya orang minggat dari suami yang KDRT...hahahaha" tawa Mira saat bercerita tentang perjuangannya agar bisa keluar dari apartemen dan bebas dari Rendy.


"Memang apa yang terjadi antara kamu dan Rendy selama di rumah sakit, tidak biasanya dia bersikap begitu dengan perempuan?"


tanyaku agak sedikit bingung dengan sikap Rendy saat mendengar cerita Mira, karena setahu ku Rendy bukan tipe pria hidung belang yang bisa dengan mudah dekat dengan wanita.


"Tidak ada yang terjadi selain aku merawatnya seperti permintaan suami mu, cuma saat ibunya mulai muncul sikapnya jadi makin manja dan merepotkan. Aku cuma bisa pasrah merawatnya demi uang yang di janjikan suami mu...hehehehe"


"Hhhmmm..."


'Dasar Mira mata duitan, semua bersedia dia lakukan asal dibayar dengan uang banyak, apa karena perhatian Mira Rendy jadi salah paham dan jatuh cinta dengan Mira?' gumamku dalam hati.


"Kenapa?" tanya Mira membuyar lamunan ku.


"Bagaimana sikap mama Rita saat bertemu dengan mu di rumah sakit?"


"Koq kamu tau mama Rendy ke rumah sakit?" tanya Mira balik dengan wajah bingung.


"Aku berpapasan dengan mama Rita di lobby rumah sakit saat akan pulang sehabis menjenguk Rendy hari itu" Jelasku pada Mira yang dianggukannya.


"Owh begitu..." gumam Mira


"Bagaimana sikap mama Rita pada mu?"


"Kepo banget sih? jangan bilang kamu cemburu ya...hahahahaa"


"Mira, aku serius. Pria yang ku cintain cuma suamiku nggak akan ada pria lain, cepat katakan pada ku apa yang terjadi?"


"Mama Rita awalnya kaget saat melihat ku pertama kali di kamar Rendy, lalu Rendy memperkenalka. ki sebagai kekasihnya ke mama Rita. Aku mau membantahnya tapi Rendy memelototi ku jadi aku hanya diam saja saat itu. Siapa yang sangka mama Rita begitu baik dan menyayangi ku, apalagi saat tau nasib ku, mama Rita makin menunjukan perhatian dan kasih sayang seorang ibu. Aku jadi serba salah dengan permainan Rendy, ditambah lagi sikap Rendy makin manja dan menempel padaku....Ahhhh,,,pokoknya jadi menyebalkan lah"


"Hahahahaa....sepertinya kebersamaan kalian selama seminggu menumbuhkan rasa cinta di hati Rendy. Sudah lebih baik kamu jadian saja dengan Rendy, aku merestui mu"

__ADS_1


"Jadian? kamu sudah gila mana ada dalam kamus hidup ku terikat, bisa gila aku"


"Dicoba dulu siapa tau cocok? lagian Rendy tampan dan kaya, apa lagi dia belum berpengalaman diatas ranjang mungkin bersama mu dia akan ketagihan" Godaku pada Mira membuat semburan merah di pipinya.


"Kamu bicara apa? kenapa begitu vulgar...ckckkcjck"


Gerutu Mira sambil menahan malu.


"Ehhh...jangan bilang kalian sudah...." aku tak menyeleskaikan kalimat ku karena Mira menutup mulutku dengan tangannya.


"Kamu jangan sembarangan bicara, kalau di dengar orang mereka pikir aku maniak **** sampai orang patah tulang pun ku ajak tidur bareng...huuffft"


"Jika tidak, kenapa pipi mu jadi merona?" tanya ku penasaran dengan wajah menggoda penuh curiga


"Ii...ii..itu karena....aahhhh buat apa aku menjelaskan pada mu" maki Mira lalu membuang muka kearah lain, menutupi rasa malunya.


"Pelit..oke kalau tidak mau cerita kamu tidak boleh menginap disini" Ancam ku pada Mira, yang tentu saja berhasil. Mira langsung membalik kan badannya lalu cemberut pada ku


"Bisanya hanya mengancam" gerutu Mira dengan bibir mengerucut seperti anak TK.


"Cepat ceritakan, jangan bikin aku mati penasaran" tanya ku mendesak Mira untuk bercerita.


"Setelah mama Rita datang ke rumah sakit hari itu, hubungan ku dengan Rendy jadi makin dekat. Dan beberapa hari sebelum Rendy keluar dari rumah sakit ada incident kecil dimana aku hampir terjatuh saat menemani Rendy ke toilet"


"Kamu diam dulu aku belum selesai ceritanya"


"Baik"


"iya tapi tidak sampai jatuh karena Rendy menangkap tubuh ku. Sejak kejadian itu kami berdua jadi canggung jika berdekatan, entah apa yang merasukin Rendy sehari sebelum dia keluar dari rumah sakit tiba-tiba dia mencium bibir ku, bodohnya aku bukan menolak ciumannya justru menikmati dan membalasnya bahkan hampir saja kamar pasien jadi kamar pengantin, kalau saja siang itu mama Rita tidak muncul di kamar Rendy"


Wajah Mira makin memerah saat menceritakan kejadian dia tertangkap basah sedang ciuman panas dengan Rendy.


"Lalu?" tanya ku makin penasaran.


"Mama Rita menggoda kami berdua yang masih siang bolong di rumah sakit pula berciuman panas bahkan tangan Rendy sudah menjelah kemana-mana saat itu. Dan gilanya si Rendy bukannya malu dia malah menciumi pipi ku di depan mama Rita sambil memeluk ku sambil berucap "apa yang salah bermesraan dengan calon istri"


"Apa calon istri?" teriak ku tak percaya mendengarnya.


"Kamu bisa pelan tidak, mau satu kampung mendengar teriak kan mu...huuuffft" gerutu Mira.


"Maaf...maaf aku kaget mendengarnya"


"Kamu saja kaget apa lagi aku, lebih gilanya lagi dia memberiku ini saat keluar dari rumah sakit"


Mira menunjukan pada ku sebuah kotak berisi cincin berlian. 'Wah, ternyata benar Rendy melamar Mira jadi istrinya. Bagus lah dua sahabat ku jadi sepasang kekasih, jadi aku tidak perlu khawatir suamiku cemburu lagi jika aku dekat-dekat sama Rendy atay mama Rita' bathin ku sambil senyum-senyum.

__ADS_1


"Heiii...nyonya Goucher kenapa kamu senyum-senyum sendiri begitu, hah?" Ujar Mira dengan nada kesal.


"Aku lagi ngebayangin dua sahabat kesayangan ku jadi sepasang kekasih pasti menyenangkan sekali" gumam ku yang langsung dihadiahi Mira royoran kepala ku"


"Jangan mimpi, siapa juga yang mau jadi istrinya? aku aja belum tau kehebatan dia diatas ranjang, kalau tidak bisa memuaskan ku bagaimana? bisa sia-sia sisa hidup ku bersamanya"


Aku hanya bisa menggeleng mendengar penuturan Mira, sahabat ku ini memang bukan asli IND yang menjunjung tinggi moral dimana wanita harus lah masih virgin sampai malam pertama pernikahan.


"Kalau begitu kamu coba lah"


"Ehh.."


"Kenapa? tidak berani?" tantang ku


"Mana ada aku tidak berani, aku cuma takut dia mengecewakan ku"


"Kalau belum di coba mana tau?" ucap ku asal jawab aja.


"Ya sudah kita lanjut nanti lagi sekarang sudah mau jam delapan lebih baik kita makan malam dulu"


Aku pun bangkit dari duduk lalu menyiapkan menata makan malam diatas meja, saat semua sudah rapi Ferry pun terlihat menuruni anak tangga.


"Suami disiplin sekali begitu jam makan langsung muncul batang hidungnya"


Aku langsung mencibikan bibir ku mendengar celotehan Mira. "Suami ku memang seperti itu, ada masalah" jawab ku dengan wajah meledek Mira.


"Buat boss besar mah tidak ada masalah, mau ngapain juga boleh nggak ada yang berani ngelarang juga...hehehehe"


"Tuh udah tau, jadi mending nggak usah dikomen" Mira pun menganggukan kepalanya.


"Sudah selesai bergosipnya? aku pikir kamu keasikan gosip lupa nyiapin makan malam"


Sindir Ferry yang membuat wajah Mira jadi kaku dan tak enak hati.


"Mana ada aku lupa dengan kewajiban ku" sahutku sambil menunduk mengecep pipi suamiku yang sudah duduk di depan meja makan.


"Makin pinter ya merayu suami" sahut Ferry langsung memarik ku duduk di pangkuannya.


"Ayo kita makan" ucap ku sambil bangkit dari pangkuan Ferry dan menyendokan makanan ke piring Ferry. Sedangkan aku dan Mira lebih pilih menghabiskan seafood sisaan makan ku tadi siang yang kesorean.


Makan malam berlangsung dengan ceria dan menyenangkan karena aku tidak berduan aja dengan Ferry seperti biasanhnya, hari ini ada Mira yang menemani, ada aja tingkah dan ucapan unfaedah terlontar dari mulutnya membuat kami tertawa lepas namun tidak dengan Ferry dia hanya tersenyum tapi itu pun sudah bagus banget.


Usai makan malam saat aku dan Mira sedang merapikan meja makan tiba-tiba bel rumah berbunyi. Aku dan Ferry yang sedang duduk di sofa ruang tv pun sontak saling tatap, pasalnya kami tidak menunggu tamu lain.


Ting tong ..... ting tong ..... ting tong

__ADS_1


__ADS_2