
"Nona Lia, ini ma...." ucap wanita yang menculik Lia terhenti ketika dia memasuki kamar yang ditempati Lia, dia melihat Lia yang mengenakan sprei menutupi seluruh tubuhnya dan melakukan gerakan yang sangat aneh.
'Apa yang sedang wanita itu lakukan? apa dia sedang olah raga? olah raga apa tanpa suara dan gerakan aneh begitu' bathin wanita yang menculik Lia.
Lumayan lama dia berdiri mematap Lia sampai akhirnya Lia selesai dengan aktivitasnya. Tanpa menunggu lagi dia langsung bertanya.
"Apa yang kamu lakukan?" Lia yang sedang melepas dan melipat selimut menjelaskan apa yang sedang dia kerjakan.
"Oh, ternyata kamu muslim dan tadi itu kamu sedang melakukan ibadah. Tapi kenapa menggunakan sprei?"
"Itu karena disini tidak ada mungkena (alat sholat wanita), aku hanya menemukan sprei ini di lemari jadi aku memanfaatkannya untuk menutupi auratkan agar bisa sholat"
Mendengar penjelasan Lia, sang wanita penculik pun menganggukan kepala tanda mengerti.
"Ini makan malam mu, kamu makan lah. Nanti aku kembali lagi mengambil piring kotornya"
"Eh, tunggu dulu. Siapa nama mu?" tanya Lia menghentikan si wanita penculik yang akan keluar dari kamar.
"Apa penting kamu tau nama ku? sudah habiskan makanan mu, jangan banyak bicara yang tidak penting" ujarnya lalu keluar dari kamar Lia.
"Nona Anne, syukur lah akhirnya aku menemukan mu" ucap seorang pelayan yang berlari dari arah pintu teras.
"Ada apa? kenapa kamu tergesa-gesa mencari ku?" tanya Anne si wanita penculik Lia.
"Itu tuan Musa sedang keluar dan diluar pagar ada seseorang, penjaga bilang dia orang suruhan tuan muda Goucher ada barang yang harus diberikan pada nyonya mudanya".
"Barang apa?" tanya Anne heran sambil menaikan satu alisnya
"Saya juga tidak tau nona, penjaga tidak memberi tahu apa barangnya pada saya" sahut si pelayan.
"Aku lihat kedepan dulu, biar bagaimana pun, Musa menahan Lia tidak bermaksud menyakitinya dari awal hanya ingin tuan muda Goucher tidak mengalahkannya dalam tender"
Anne wanita bertubuh seksi dan cantik serta jago beladiri, saat dia masih remaja dia terpisah dengan kakaknya saat sedang terjadi bencana dan Musa lah yang menyelamatkannya. Musa lebih tua dari Anne lima tahun, sejak Musa menyelamatkannya dan memberinya pendidikan akademis juga melatih fisiknya dengan ilmu beladiri, Anne terus berada di sisi Musa, Anne juga memiliki posisi di dalam perusahaan yang dikelola Musa di negara S.
Anne perlahan makin jatuh hati dengan Musa, walau kadang Musa melakukan hal yang melanggar hukum Anne tetap mendukungnya karena selama ini Anne tidak pernah melihat Musa sampai merebut nyawa orang untuk mendapatkan sesuatu seperti saat ini menculik Lia tapi memperlakukannya dengan sangat baik jadi Anne masih mentoleril semua yang Musa lakukan.
Anne tidak pernah tau saja kalau Musa itu anak dari seorang mafia hitam, membunuh buat Musa bukan lah hal yang sulit tapi selama enam tahun ini semua aksi kejahatannya selalu dilakukan dibelakang Anne. Image yang Musa bangun untuk Anne dia pria baik yang berambisi untuk menguasai dunia dan Anne slalu mendukungnya.
"Nona Anne" sapa penjaga saat melihat Anne membuka pintu.
"Siapa orang yang datang?" tanya Anne masih berdiri di depan pintu.
"Orang suruhan tuan muda Goucher, katanya dia diminta mengantar sesuatu yang penting dan pasti kita tidak punya tapi itu sangat dibutuhkan nyonyanya" jelas penjaga pintu membuat Anne mengerutkan keningnya
"Suruh dia kesini, aku mau lihat barang apa yang dikirim suami wanita itu"
mendengar ucapan Anne si penjaga tak banyak bicara dia langsung berlari ke pagar menyuruh penjaga pintu mengizinkannya masuk.
"Apa yang kamu bawa?" tanya Anne ketika melihat seorang bodyguard membawa goodie bag ditangannya.
"Ini alat untuk sholat, tuan muda meminta saya untuk membawakannya karena nyonya muda pasti membutuhkan ini"
"Owh, coba sini aku lihat" ucap Anne penasaran karena dia tadi sudah mwlihat Lia saat sholat dengan sprei.
'Wah, cantik sekali ini' bathin Anne saat dia mengeluarkan sepasang mungkena dengan tille cantik berwana nude pink.
"Oke, aku akan berikan ini untuk wanita itu. Kamu bisa pergi sekarang" usir Anne lalu dia masuk ke dalam menuju kamar Lia.
tok tok tok
Lia agak kaget ada yang datang lagi ke kamarnya padahal makan malam saja belum juga dia sentuh.
__ADS_1
"Eh...kamu, cepat sekali sudah kembali kesini" ucap Lia saat melihat wanita yang menculiknya muncul dari balik pintu.
"Ini aku mengantarkan titipan dari suami mu, mau tidak?" ujar Anne sambil mengulurkan tangannya yang memegang goodie bag.
"Tentu saja mau" Lia langsung bangkit dab berlari menyambar goodie bag pemberian Anne.
"Tunggu deh, koq bisa Ferry anter ini? tapi tidak membawa ku pulang?" tanya Lia agak bingung dengan pemikiran sang suami.
"Hahahaha...nona Lia kamu lucu sekali, kan sudah ku bilang kamu bisa pulang lusa nanti jika suami mu menuruti keinginan Musa"
"Hhhmm...aneh, memperlakukan ku dengan baik bahkan mengizinkan orang mengantar kiriman suami ku. Ini sebenernya aku lagi di culik beneran nggak sih?"
Mendengar ucapan Lia, tawa Anne kembali pecah. "Kamu benar-benar wanita menggemaskan, andai kita tidak berada di sisi yang berbeda aku pasti senang sekali punya teman seperti mu" mendengar ucapan Anne membuat Lia tersipu.
"Aku sedang serius bertanya kamu malah menertawakan ku...huh" gerutu Lia manyum karena kesal ditertawai Anne.
"Kamu lucu, bagaimana bisa aku tidak tertawa. Jelas-jelas kamu dari awal aku yang membius dan membawa mu kesini tapi kamu malah bisa merasa ini semua bukan serius penculikan...ckcckk"
"Mana ada orang diculik, tidak diikat dan diperlakukan sangat baik" gumam Lia sambil manyun.
"Itu semua karena yang menculik mu orang baik"
"Orang baik, mana ada menculik" gumam Lia yang terdengar Anne.
"Musa cuma ingin menang tender, jika suami mu ikut dalam perebutan tender peluangnya menang tender jadi kecil makanya Musa terpaksa menyandra mu disini. Kamu bisa tenang, aku jamin Musa tak akan menyakiti mu slama suami mu menuruti semua mau Musa" ujar Anne dengan mata berbinar bercerita tentang Musa, pria yang dia cintai diam-diam selama enam tahun ini.
"Hhmm...kamu tidak ingin melihat apa yang dikirim suami mu?" tanya Anne penasaran karena Lia hanya memegang goodie bag tanpa memeriksanya.
"Owh iya, hampir aku lupa" ucap Lia sambil menepuk jidatnya sendiri.
Lia mengeluarkan mungkena miliknya yang dia gunakan di rumah sakit. 'Suami ku memang yang terbaik' gumam Lia dalam hati sambil tersenyum dan memeluk mungkena miliknya.
"Itu apa?" tanya Anne ingin tau bagaimana barang itu digunakan, dia sangat penasaran karena sangat cantik seperti bahan gaun pesta.
Lia mengenakan mungkena itu di depan Anne karena wajah Anne menunjukan penasaran dan kepo banget dengan mungkena Lia.
"Wow, cantik. Kamu jadi makin cantik saat mengenakannya"
mendengar komentar Anne, Lia jadi tersipu malu.
"Aku boleh pinjam ponsel mu?" tanya Lia penuh harap Anne mau meminjamkan ponselnya.
"Buat apa?"
"Menelphon Ferry, mau bilang terima kasih" sahut Lia cepat "boleh ya, please" mohon Lia dengan mata penuh harap membuat Anne tak kuasa menolak permintaan Lia.
"Jangan lama-lama" ucap Anne sambil memberikan ponselnya pada Lia.
Beberapa kali Lia menelphon tapi tak diangkat Ferry. "aissshh ini orang kenapa tidak mengangkat telphon ku. astaga aku lupa ini nomer tidak dikenal, pasti dia malas mengangkatnya seperti biasanya"
"kamu chat dia dulu saja baru coba telphon lagi" sahut Anne setelah mendengar gerutuan Lia.
Benar saja begitu pesan terbaca Ferry ponsel Anne langsung berdiri nomer Ferry tertera dilayar ponsel.
"Sayang, kamu bagaimana bisa menggunakan ponsel orangnya Musa?" tanya Ferry dengan nada khawatir. Ferry takut Lia melakukan hal-hal berbahaya agar bebas dari cengkraman Musa.
"Aku meminjamnya" sahut Lia santai
"Hhmm..kamu tidak melakukan hal aneh disana kan?"
"Hal aneh apa yang bisa aku buat saat dikurung dikamar...ckckck"
__ADS_1
"Hehehee...mana aku tau, kan kamu yang hobby bikin aku cemas" sahut Ferry keceplosan.
"Ohh jadi gitu ya"
"ehhh...bukan,,bukan begitu yank. Sudah dilarang bertengkar saat ini. Kamu telphon aku pasti ada hal penting, ada apa?" tanya Ferry kembali serius.
"Aku cuma mau bilang makasih, mungkenanya sudah aku terima"
"Kembali kasih istri ku, kamu sudah makan malam?" tanya Ferry penuh perhatian.
"Sudah disediakan cuma aku belum laper, mungkin karena kurang gerak jadinya cacing di perut ku belum minta jatah makan"
"Ya sudah kamu nyalakan videonya aku temani kamu makan, aku juga kebetulan belum makan"
Lia menatap kearah Anne yang setia menunggui Lia telphonan dengan Ferry. Seakan mengerti tatapan Lia minta izin melakukan apa yang Ferry saran kan, Anne melambaikan tangan menyetuinya, Lia langsung menuju meja makan dan menyalakan video dan langsung tampak wajah tampan sang suami yang terlihat lelah.
"Sayang kamu kenapa terlihat begitu lelah?" tanya Lia saat bersiap makan sedang Ferry sudah sesang melahap makanannya.
"Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan sayang karena aku terbaring di rumah sakit lumayan lama ini"
"Hhhmmm...kamu itu pasien bagaimana bisa terus mengurusi pekerjaan. Tidak bisa istirahat sebentar gitu"
"Tidak ada kamu di sini, istirahat hanya melamun sangat membosankan" gumam Ferry lesu.
"Trus kenapa tidak jadi pulang dari rumah sakit? jangan bilang masih ingin dirawat si dokter cantik ya"
"Hahahaha....memang karena itu aku masih di sini, jika aku pulang siapa yang akan merawat ku..huh"
"Dasar lenjeh" sahut Lia kesal.
"Koq lenjeh sih?"
"Apa lagi kalau bukan lenjeh? Pagi tadi bilang mau keluar dari rumah sakit, begitu aku pergi berubah pikiran"
"Hahahaha...istri ku sedang cemburu ya?" goda Ferry membuat Lia tersedak dan Anne tertawa mendengar percakapan mereka berdua.
"Mana ada aku cemburu" sahut Lia cepat sambil terbatuk karena efek tersedak makanan.
"Sudah minum dulu, iya...iya tidak cemburu" ucap Ferry menenangkan sang istri yang malu.
"Sembarangan bicara bikin orang kaget aja" gerutu Lia sambil manyun.
"Iya...iya maaf. Besok aku baru keluar dari rumah sakit, lagian aku malas pulang tapi tidak ada kamu yang menemani" ujar Ferry dengan nada merajuk
tiba-tiba ada ketukan pintu di luar kamar Lia dan muncul seorang pelayan dari balik pintu.
"Kamu mau apa kesini?" ucap Anne agak panik, dia takut kalau pelayan itu tau Anne meminjamkan ponselnya pada Lia.
Untung saja Ferry dan Lia yang mendengar suara langsung diam dan Lia pura-pura makan dengan tenang.
"Maaf nona Anne, tuan Musa mencari mu untuk makan malam"
"Baik, kamu pergi lah duluan" mendengar ucapan Anne, si pelayan pun langsung putar badan dan keluar dari kamar Lia.
"Mana ponsel ku, cepat lah aku harus segera pergi" ucap Anne panik.
"Suami, sudah dulu ya, bye" Lia tak menunggu jawaban Ferry dia langsung mematikan panggilan telphon dan menghapus riwat panggilan masuk dna keluar serta menghapus chat yang dia kirim ke Ferry agar Anne tidak kena masalah nantinya karena membantun dirinya.
"Ini, terima kasih. Maaf menyusahkan mu" ucap Lia tulus
"Oke" Anne langsung menyambar ponselnya dan berjalan tergesa-gesa ke ruang makan.
__ADS_1
ditunggu like, komennya. Jangan lupa jadikan "Suamiku brondong" favorite kalian. tks readers