
"Kalian siapa?" tanya penjaga di depan pagar villa Musa.
"Tuan muda Goucher, bilang saja begitu sama bos mu kami sudah buat janji dengannya" ucap Leon sambil menurunkan kaca mata hitamnya dan menatap para penjaga vila Musa dengan tatapan dingin.
"Owh ternyata tuan muda Goucher, silahkan masuk".
"Cepat...cepat buka pagarnya" teriak penjaga pada penjaga lain yang mengurus pagar masuk villa.
"Tuan muda, silahkan" ucap Leon saat membuka pintu mobil untuk Ferry.
"Kamu tunggu lah disini baik-baik" ucap Ferry sambil menatap Leon lalu berbalik masuk kedalam villa Musa.
"Silahkan ikut dengan saya tuan Musa sudah menunggu anda di ruang tamu sejak tadi" ucap pria yang terlihat seperti kepala pelayan.
Ferry hanya diam dan mengikuti langkah pelayan ini memasukin ruang tamu villa milik Musa yang ternyata tidak kalah mewah dengan Villa Luxury milik keluarga Goucher.
'Boleh juga bajing-an ini, rupanya bisnis kotornya benar-benar menghasilkan banyak' bathin Ferry saat melihat isi villa milik Musa barang mewah semuanya.
"Tuan Musa, tuan Muda Goucher sudah sampai" mendengar ucapan sang pelayan Musa langsung berjalan cepat dari ruang baca menuju ruang tamu.
"Maafkan saya yang tidak menyambut tuan muda Goucher" ujar Musa saat melihat Ferry sedang berdiri di depan jendela ruang tamu memandangi taman bunga yang terbentang luas.
Mendengar suara Musa, Ferry membalikan badannya dan menatap tajam pria yang menghadiahinya peluru panas dan menculik istrinya. Musa yang kini berdiri tak jauh dari Ferry bergidik ngeri melihat sorot mata Ferry yang begitu mengintimidasi.
'Sial, pria ini ternyata seperti rumor yang beredar. memang tidak salah jika banyak pengusaha tunduk padanya baru ditatap saja bulu kuduk ku sudah berdiri semua.huh' bathin Musa yang kini berusaha menetralkan perasaannya
"Tuan muda Goucher, silahkan duduk. Mari kita bicara lebih santai sambil duduk" ajak Musa sambil menghempaskan bokongnya diatas sofa super empuk miliknya.
Ferry mengikuti mau Musa, dia pun duduk lalu memberikan USB pada Musa. "Ambilkan Macbook ku kesini" ujar Musa pada asistennya yang berdiri tidak jauh dari Musa.
"Kamu siapkan minuman untuk tuan muda Goucher" ucap Musa pada kepala pelayan yang diangguki dengan hormat.
"Dimana istri ku?" tanya Ferry mengawali pembicara saat melihat Musa mulai sibuk di depan Macbooknya.
"Ada di dalam kamar, sedang istirahat. Tadi pagi dia sempat demam tapi dokter bilang tidak ada masalah serius hanya demam biasa butuh istirahat" ucap Musa santai sambil matanya tetap menatap macbooknya.
__ADS_1
Ferry yang mendengar ocehan Musa langsung berdiri. "Dimana kamarnya, aku ingin menemuinya"
Musa menengadahkan wajahnya menatap Ferry yang terlihat khawatir, lalu menyuruh kepala pelayan mengantar Ferry ke kamar Lia.
Betapa terkejutnya Lia dan Anne yang tiba-tiba tanpa babibubebo pintu kamar dibuka dengan kasar dan tergesa-gesa.
"Suami, kamu" ucap Lia saat melihat wajah sang suami yang muncul dari balik pintu.
Ferry langsung berjalan cepat menuju ranjang Lia. "Are you oke beb? kenapa bisa sampai demam?" tanya Ferry beruntun sambil mengecek suhu tubuh Lia dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi Lia.
"Aku sudah tidak kenapa-kenapa lagi koq, tadi pagi memang sempat demam" ucap Lia sambil senyum manis menatap wajah tampan suami yang kini ada di depannya.
"Koq bisa?" tanya Ferry sambil merapikan anak rambut Lia yang berantakan.
"itu karena semalem aku ketiduran di sofa sampai pagi saat nonton televisi...hehehehe" jelas Lia membuat Ferry mengacak-acak rambut Lia yang sudah dia rapikan.
"Kamu kapan tidak membuat ku khawatir, hah?" tanya Ferry sambil mencubit gemas hidung mancung nan mungil milik Lia.
"Maaf ya suam, lagi-lagi aku mengacaukan segalanya dan buat kamu susah" ucap Lia sendu penuh rasa bersalah.
"Iya aku maafin, lain kali belajarlah lebih mendengar ku. Jangan terlalu keras kepala. Aku kan suami mu, kalau bukan mendengar perkataan ku kamu mau dengar perkataan siapa? Arjun" ucap Ferry panjang dengan nada dingin penuh penekanan.
"Aiiissshhh....kenapa malah jadi nangis? aku kan tadi tidak marahin kamu" ucap Ferry jadi panik sendiri melihat Lia menangis.
"Iya ta..tapi kamu bicaranya ketus banget gitu bikin aku sedih...hiks" ucap Lia sambil sesegukan nangis.
Ferry yang melihat wanita keras kepala yang berstatus istrinya terlihat menangis tak berdaya hatinya jadi ikut sedih. Ferry pun segera memeluk tubuh kecil sang istri sambil mengelus punggungnya penuh kasih sayang.
"Maaf ya tadi aku tidak bermaksud untuk ketus cuma ke inget Arjun hati ku jadi kesal sendiri" gumam Ferry membuat Lia mendongakan kepalanya menatap wajah sang suami, Ferry pun menundukan wajahnya sehingga manik mata mereka berdua bertemu.
"Kamu tau semalam aku tidak tidur nyenyak, baru tadi saat sampai di villa aku bisa tertidur. Aku begitu mencemaskan mu" ujar Ferry sambil mengecup bibir merah yang slalu membuatnya slalu kecanduan.
Lia memecamkan mata menikmatin kecupan lemut sang suami, andai Anne tidak mengintrupsi mereka berdua dengan berdehem mungkin yang terjadi bukan hanya sekedar kecupan.
"Huk...huk,,,ada orang woi disini jangan mesum please" ujar Anne membuat sepasang suami istri yang sedang melepas rindu dan unek-unek di hati tersadar tapi juga tak menggubris ucapan Anne.
__ADS_1
"Sayang, kamu udah makan siang?" tanya Ferry mengurai pelukannya saat melihat makanan tergeletak di meja makan dekat Anne duduk.
"Belum" sahut Lia sambil menggelengkan kepalanya
"Ayo aku temani makan" ucap Ferry ingin menggandeng Lia turun dari ranjang dan berjalan menuju meja makan.
"Tunggu...tunggu" cegah Lia cepat karena kakinya masih belum bisa dia pakai jalan.
"Kenapa?" tanya Ferry sambil mengendikan dagunya bingung melihat tingkah sang istri
"Itu...hehehehe...kaki..." Ferry yang tak sabar mendengar penjelasan Lia yang terbata-bata akhirnya menyikap selimut yang dikenakan sang istri.
"Astaga kaki mu kenapa? mereka menyakiti mu?" ucap Ferry antara kesal dan khawatir.
"Bukan...bukan, itu karena aku yang ceroboh sendiri sampai terpeleset di kamar mandi....hehehehe" jelas Lia sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Lia Putri Aghata kamu itu wanita cantik dan anggun istri Ferry Goucher bisa tidak kurangi tingkah ceroboh yang membahayakan diri sendiri"
"Tuan muda Goucher kenapa galak begitu, istrinya sudah sakit masih juga di omelin...benar-benar kejam sekali suami ku...aku lebih baik mati saja kalau begini...hiks" teriak Lia ketika Ferry berjalan meninggalkannya.
"Berhenti bersandiwara, sekarang buka mulut mu!" ucap Ferry sudah siap dengan makanan di piring untuk menyuapi Lia makan.
"Aku makan sendiri saja, kan yang sakit kaki ku bukan tangan ku" sahut Lia menolak disuapi Ferry.
"Jangan membantah, buka mulut mu" ucap Ferry dengan nada tak ingin dibantah lagi, akhirnya Lia pun makan dengan tenang disuapin sang suami.
"Kamu istirahatlah baik-baik aku keluar dulu ada yang harus aku bicarakan dengan Musa sebentar aku kembali lagi kesini"
"Ehhh...suam, kamu tunggu du..." ucapan Lia belum juga selesai sang suami sudah meninggalkan kamar.
Anne yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka berdua sangat iri, dia berharap dalam hati Musa bisa memberi dia sedikit cinta dan perhatian yang Ferry berikan pada Lia.
'Andai saja, kak Musa mencintai ku seperti itu pasti sempurna sudah hidup ku ini' bathin Anne penuh harap.
Emang cinta kalau tanpa kepastian itu sakit dan bikin cemas susah makan susah tidur. bener gitu nggak readers??
__ADS_1
jangan lupa Like, komen yang baik bagi votenya dong....hehehehe
mau bagi hadian koin juga boleh banget....wkwkekekekk