Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Ditaktor Posesif


__ADS_3

ting tong....ting tong


"Suara Bel kamar, sepertinya room service mengantar makanan". Bathinku sambil menenggak susu coklat yang diberikan Ferry.


"Kamu tunggu disini, jangan keluar!", ucap Ferry dengan nada tak mau dibantah.


"Siapa juga yang mau keluar, dasar ditaktor posesif" gerutuku dalam hati. Tak lama setelah Ferry keluar dar kamar suaranya langsung bergema diruangan memanggilku untuk asapan karena dia sudah selesai menatap makanan diatas meja.


"Ayo sarapan dulu sayang, kasian cacing diperutmu sudah demo dari tadi", ucap Ferry menggodaku sambil menarik kursi untuk ku duduk, aku hanya menurutinya saja tanpa bantahan dan juga tidak ku gubris ucapannya tadi. Aku sedang males mengajaknya berdebat atau sekedar nyolot-nyolitan dengan Ferry saat ini, karena dia sudah banyak berkorban untuk membuatku bahagia, untuk membuatku kembali kekehidupanku sebelumnya. Jadi sudah ku putuskan akan jadi istri yang manis sebisa mqungkin. "Semoga saja aku nggak khilaf nantinya" bathin ku sambil tertawa geli membayangkan aku harus selalu bermanis-manis manja dan pasrah pada bule tengil yang sekarang berstatus sebagai suamiku.


Kami pun makan dengan tenang, Ferry tak banyak bicara saat di meja makan, dia hanya fokus memberiku lauk juga sayuran sambil dia pun fokus menyantap makanannya. Usai makan aku membantu Ferry merapikan meja makan tapi kami tidak mencuci piringnya karena nanti juga housekeeper hotel akan datang membersihkan dan membawa piring-piring kotor itu dan juga membersihkan kamar kami, kata Ferry mereka memang dibayar untuk itu, jadi aku dilarangnya untuk mencuci piring-piring kotor itu. Ya aku sih seneng banget dilarang nyuci piring, jadi nggak usah capek-capek, santai-santai aja jadi nyonya muda keluarga Goucher, ya secara dirumah aja dari kecil bisa dihitung pake jari aku nyuci piring, si mbok dan ART lah yang slalu melakukannya. Sambil senyum-senyum sendiri, aku merasa hidupku akan sangat menyenangkan menjadi nyonya muda dari anak sulthan negara A. ”Aku sepertinya lupa kalau pernikahan kami tidak mendapat restu orang tua Ferry, tapi siapa peduli selama suamiku sangat mencintaiku". bathinku mulai egois.


"Sayang, sini" panggil Ferry mengajak ku duduk di sofa super besar di depan TV layar datar. Dia menyalakan TV dan mencari Film lawas dari aplikasi berbayar. Film The twilight Saga:Beraking down, lah yang menjadi pilihan Ferry. "Ahhh....sial difilm ini kan banyak adegan romantisnya, dasar bule tengil modus" bathinku ngedumel. Ferry sudah pasang posisi berbaring dengan tumpukan bantal di kepalanya, aku duduk di bagian kakinya Ferry dengan kedua kaki ku tekut untuk menopang daguku.


"Yank aku males nonton film ini, bosen udah beberapa kali nonton" ujarku males-malesan.


"Trus istriku mau nonton film apa?", ucap Ferry sambil duduk dan menarik ku kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Aku lagi nggak mood nonton, kamu nonton sendiri aja ya, aku mau mandi dulu, trus aku mau telphon mama, abis akad nikah semalem aku belum tau kabar mama". Ucap dengan memasang wajah paling manis. Ferry pun merenggangkan pelukannya dan membiarkan ku pergi ke kamar untuk mandi.


"Jangan rindukan aku", ucapku sambil menjulurkan lidah dan berlari takut Ferry mengejarku.


"Jangan menggodaku seperti itu ya gadis nakal atau aku tidak akan segan-segan lagi memakan mu sekarang juga". Mendengar ucapan Ferry aku langsung ngacir masuk kamar mandi dan menguncinya setelah mengambil ponselku dinakas.


Aku berniat menelphon mama tapi justru telphon Mira lah yang masuk ke ponselku.


"Pagi Penganten Baru, maen berapa ronde semalen?" tanya mira begitu icon hijau ku naikan keatas.


"Kami hanya tidur berpelukan semalam, tubuhku sangat lelah seharian kemarin" jelasku sambil menyiapkan air di bathtub dan memberinya aroma terapy dan cairan pembentuk bubble.


Lalu sayup-sayup ku dengar suara pria berjarak dekat dengan Mira membuat tawanya samakin lama terdengar di telinga ku.


"Mir, kamu masih di hotel?" tanyaku mulai berfikir yang tidak-tidak tentang Mira.


"HooH, aku masih di hotel. Kenapa kamu ingin ketemu aku?" tanya Mira.

__ADS_1


"Bukan begitu, kamu.. ucapku terjeda, memilih kata yang tak menyakiti sahabatku..jangan bilang saat ini kamu masih diatas ranjang dengan ke kasih yang kamu bawa semalam ke acara akad nikah ku?" tanyaku mulai cemas.


"Tentu saja saat ini aku masih diatas ranjang dengan Rudi kekasih ku, kami semalaman bertempur sampai menjelang pagi, hahahaha" ucap Mira sambil terkekeh. Harusnya aku sudah tidak terkejut lagj karena dia memang sudah sering melakukannya dengan pacar-pacarnya, ntah sudah berapa banyak pria yang tidur dengannya. Aku tau mungkin bukan hanya Mira yang melakukan pacaran terlalu jauh di zaman yang katanya modern ini, pasti banyak diluar sana yang juga melakukannya. "Apa mereka tidak takut terkena penyakit kelamin.....ckckckk", bathinku saat mendengar penuturan Mira, tapi tidak dengan ku karena Papa selalu mengingatkan ku kalau laki-laki hidung belang hanya ingin merusak para gadis sedangkan wanita yang dicari untuk dijadikan istri tentu saja gadis baik-baik yang masih belum terjamah pria. Hal ini lah yang menjadikan aku malas dekat-dekat dengan makhluk yang namanya laki-laki, sampai bule tengil itu hadir ntah bagaimana dia bisa merasuki hatiku dan mengacaukan semua prinsipku tapi syukurlah hal buruk itu belum sempat terjadi pada ku hingga aku benar-benar resmi menikah dengannya.


"Ya sudah kalau begitu lanjutkan urusan mu aku mau telphon mama". ucapku kemudian mengakhiri pembicaraan dengan Mira, karena telinga ku mulai sakit mendengar suara-suara aneh dari ujung telphon.


Air mandiku sudah siap, aku pun melepas pakaian ku dan masuk ke dalam bathtub yang penuh dengan busa dan mengeluarkan aroma menenangkan. Aku berbaring sambil menyalakan musik dan mendengarkannya menggunakan earphone. Ntah sudah berapa lama aku berbaring hingga akhirnya ketiduran.


"Ya Tuhan, sayang kamu ngapain berendam lama banget, hah" Suara bariton suamiku menggema membangunkan ku.


"Kamu ngapain disini?", tanyaku balik saat melihat Ferry tiba-tiba duduk di pinggiran bathtub


"Air rendaman mu saja sudah dingin, kamu mau masuk angin terus tidur di dalamnya, hah?" Ucap Ferry dengan wajah sulit ku gambarkan, dia seperti marah, kesal tapi khawatir.


Aku baru sadar kalau air rendaman ku sudah dingin, dan spontan aku langsung berdiri dengan tubuh polos membuat mata Ferry memandangku tanpa berkedip. Wajahku melihat ekspresi Ferry langsung merona.


"Kamu mau menggodaku berdiri seperti itu?" ucap Ferry sambil memberi ku bathrobe sambil geleng-geleng dan keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Dia kenapa?, Marah pada ku?, ahhh bule tengil rese masa cuma karena aku berendam kelamaan dia ngambek" bathinku sambil membersihkan diri lalu keluar dari kamar mandi dengan bathrob.


__ADS_2