
tok...tok...tok
"Masuk" Begitu mendengar izin masuk dari sang boss Leon langsung masuk kedalam ruang rawat Ferry.
"Kenapa diam?" tanya Ferry yang menunggu Leon melaporkan sesuatu padanya tapi tak juga bersuara.
"Ehh...anu,, itu..." Leon bingung harus bicara atau tidak karena Lia duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang Ferry.
Melihat arah pandang Leon, Ferry bisa menebak isi hati Leon. "Sudah bicara saja, percuma dirahasiakan nanti dia juga akan terus merengek meminta penjelasan" sahut Ferry kembali menekuri macbooknya.
"Ada berita kalau mobil tuan Arjun Khan di serang orang begitu keluar dari bandara, dari informasi yang di dapat orang-orang yang menyerang mereka anak buah Musa. Sepertinya mereka menerima informasi kalau nyonya muda datang ke sini dengan tuan Arjun Khan"
Lia yang menguping pembicaraan Ferry dan Leon bergidik ngeri ternyata ini alasan sang suami bersikeras melarangnya ke negara S.
"Mereka diserang? Bagaimana kondisi Jeni? baik-baik aja kan?" tanya Lia spontan begitu mendengar berita yang Leon laporkan.
"Dari informasi yang saya dapat semuanya baik-baik saja nyonya, mobil yang dikendarai tuan Arjun berhasil meloloskan diri karena begitu penyerangan terjadi mobil pengawal tuan Arjun langsung menghadang mobil penyerang sehingga mobil yang dikendari tuan Arjun berhasil lolos dengan selamat"
Lia bernafas legas mendengar penuturan Leon. "Syukur lah kalau tidak aku akan sangat merasa bersalah pada mereka" tutur Lia membuat Ferry mengalihkan pandangannya dari macbook.
"Kamu tidak perlu khawatir, kelihatannya Arjun datang sudah dengan persiapan matang" ujar Ferry sambil menatap Lia.
"Aku tidak bicara apapun tentang mu disini dengan Arjun, ehh...tapi aku cerita ke Jeni sih soal kamu masuk rumah sakit dan kecelakaan, masa Jeni cerita ke Arjun" sahut Lia begitu tatapan sang suami ke arahnya. Ferry langsung tersenyum melihat sang istri jadi salah tingkah padahal dia cuma iseng pengen liat istrinya yang khawatir pasti dengan Jeni tidak mungkin dengan Arjun.
"Kenapa malah senyum? tidak percaya ucapan ku?" ujar Lia agak kesal merasa ucapannya tidak di percaya.
"Seneng aja liat wajah cantik istri ku ada di depan mata ku" goda Ferry membuat Lia makin salah tingkah karena masih ada Leon di antara mereka berdua.
"Sudah aku tidak ganggu pembicaraan kalian lagi". Lia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Jeni memastikan keberadaan Jeni benar baik-baik seperti yang dikatakan Leon padanya.
"Jeni, kamu baik-baik aja kan? aku dengar dari anak buah Ferry kalian di serang preman di jalan"
Jeni yang mendengar notifikasi dari ponselnya bergegas melihat ponselnya karena dia memang sedang menunggu Lia memberinya kabar.
"Kami baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir kak Arjun melakukan pengamanan berlapis di villa miliknya"
__ADS_1
membaca balasan Jeni, Lia sedikit lega setidaknya apa yang dikatakan Leon benar, tidak ada kebohongan dan tidak lagi menutupi permasalahan yang ada.
"Baguslah kalau begitu, kamu istirahat lah hari sudah malam"
"Iya, kamu juga istirahat sana, cepat bikin ponakan untuk ku, hehehehe"
Membaca chat Jeni, wajah Lia jadi memerah karena malu membayangkan pikiran Jeni yang tidak-tidak.
"Berisik" balas Lia lalu menyimpan ponsel diatas meja membuat suara sehingga Leon dan Ferry menoleh kearah Lia bersamaan.
"Sayang, kamu kenapa? kamu demam? wajah mu kenapa merah?" Ferry meletakan macbooknya dan bersiap mau turun dari ranjang mengecek Lia.
"Eh, kamu diam disana. Mau kemana kamu?" teriak Lia melihat gerak tubuh Ferry.
"Mau pegang kening kamu buat mastiin panas atau tidak?" sahut Ferry santai.
"Aku baik-baik aja, sudah kamu berbaring aja di ranjang baik-baik jangan banyak gerak nanti jahitannya kebuka" Lia bicara panjang lebar membuat Leon tersenyum melihat bosnya tak berkutik di depan sang istri.
"Kamu senyum apa? sudah sana keluar jika tidak ada urusan lain" usir Ferry kesal karena diketawain Leon saat dia dimarahi Lia.
Ferry yang melihat tingkah Leon sengaja meledeknya langsung melemparnya dengan Jeruk yang tentu saja tidak kena karena Leon buru-buru menghindari lemparan buah dari tangan kiri bossnya.
Ferry yang lemparannya tidak kena makin dongkol melihat tubuh Leon akhirnya keluar dari kamarnya sebelum dia sempat melempar ulang.
"Suami, iihhh kamu kaya anak kecil kesel main lempar buah gitu...sayang tau buahnya...ckckckck" omel Lia sambil mengambil jeruk yang tergeletak bonyok di lantai dan membuangnya ke tempat sampah lalu mencuci tangannya baru kembali duduk di tepi ranjang Ferry.
Ferry hanya manyun menahan kesal pada Lia yang ngomelin dia di depan anak buahnya sehingga Leon punya kesempatan meledek dirinya.
"Kenapa manyun?" tanya Lia yang tak tau dosa yang dia buat.
"Aku ngantuk" sahut Ferry ketus lalu menurunkan mode ranjang untuk tidur dan menarik selimutnya.
'Ehh, kalau aku tidur ngambek gini Lia tidur di mana?' bathin Ferry tetiba ingat sedang di rumah sakit dengan satu ranjang single yang cukup besar untuk mereka tiduri berdua.
Melihat Ferry yang sudah bersiap tidur dan mengacuhkannya Lia pun turun dari ranjang dan pindah ke sofa yang tak jauh dari ranjang untuk bersiap tidur di sofa.
__ADS_1
Tapi saat dia baru akan melangkah tangannya di tarik Ferry. "Kamu naik lah kesini" ujar Ferry sambil menggeser tubuhnya ke kiri agar bagian kanan luas dan Lia bisa berbaring nyaman dipelukannya.
"Memangnya tidak apa-apa? bagaimana kalau kena luka mu?" tanya Lia khawatir menyakiti luka Ferry.
"Tidak akan kenapa-kenapa, yang luka kan sebelah kiri. Tidak nyaman tidur di sofa nanti tubuh kamu sakit semua"
Lia akhirnya naik ke atas ranjang dan berbaring dalam pelukan Ferry. "Kamu bener baik-baik aja aku tidur kaya gini?" tanya Lia lagi memastikan.
"Iya sayang, malah tidur ku akan jadi nyenyak karena ada kamu" gombal Ferry yang memang benar sih itu yang terjadi saat Ferry tidur dengan mencium aroma tubuh sang istri dia menjadi lebih relax dan tidur lebih nyenyak.
"Kalau begitu cepat tidur, biar kamu cepat sehat dan bisa pulang dari rumah sakit" ucap Lia sambil mengelus lembut tubuh sang suami yang berbalut perban, membuat Ferry meringis karena kaget lukanya tiba-tiba dapat sentuhan.
"Maaf-maaf, sakit ya suam?" Lia langsung duduk merasa bersalah karena iseng mengelus luka sang suami.
"Tidak koq, cuma kaget" kilah Ferry menenangkan Lia.
"Beneran?" Lia memastikan kebenaran ucapan sang suami yang masih terlihat meringis.
"Beneran, udah ayo tidur besok pagi kak Dhaniel akan kesini buat bahas proposal tender"
Mendengar ucapan Ferry, Lia mau tak mau kembali membaringkan tubuhnya dalam pelukan Ferry. Kali ini Lia tak berani lagi banyak gerak dia tidur dalam pelukan Ferry dengan tenang sambil mendengarkan cerita penembakan yang di alami Ferry.
"Gila juga mereka cuma takut bersaing dengan mu mereka sampai berani menggunakan senjata...huh" Lia mendengeskan kesal.
"Dalam dunia bisnis tidak selamanya bersih itu sebabnya papa bisa kena tipu sahabatnya sendiri, terkadang orang yang paling kita percaya justru dia yang menikam kita dan orang yang tak pernah dalam perhitungan kita justru mereka yang jadi penyelamat kita. Makanya kita harus baik pada semua orang tanpa panda harta dan kedudukan"
Mendengar penuturan Ferry membuat Lia teringat kalau dia belum melakukan perhitungan dengan om Anton yang sudah membuat papanya terbaring di rumah sakit tak sadarkan diri.
'Besok aku harus telphon Rendy untuk dicarikan intel untuk mencari info tentang perusahan papa dan juga keberadaan om Anton saat ini, agar aku bisa mulai menyusul langkah pembalasan dendam'
Lia yang sibuk melamun dikira Ferry sudah tertidur karena tak menyahuti ucapannya, jadi dia pun mulai memejamkan mata untuk tidur karena tubuhnya sudah lelah.
Lia tersadar dari lamunannya mendengar nafas teratur Ferry pun ikut tertidur pulas.
Maaf ya readers author lama gk update abis kesenggol omicron nih suami yg mulai wfo pulang kerja bw bonus si coronce jd deh mimi sm duo zee ikutan terpapar.
__ADS_1