Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Mozard Boutique (part 1)


__ADS_3

Hari ini Lia pulang dari kampus lebih cepat karena dosen kuliah terakhirnya tidak hadir, hanya memberi tugas.


"Lia apa kamu akan langsung pulang?" tanya Jeni melihat Lia yang sudah bersiap meninggalkan ruang kelas.


"Karena sudah tidak ada jam kuliah lagi jadi aku berniat untuk pulang. Memangnya Kenapa Jen?" tanya Lia melihat wajah Jeni agak murung.


"Tadi aku berniat minta kamu menemani ku ke mall untuk shopping aku butuh gaun untuk pesta dan mau minta bantuan mu memilihkannya, tapi kalau kamu tidak bisa aku tidak memaksa mu"


Saat Lia mau menyetujui permintaan Jeni ponselnya bergetar.


'Eh, suami. Tumben telphon jam segini' bathin Lia langsung menggeser icon hijau di layar ponselnya.


Lia memberi isyarat pada Jeni untuk mengangkat panggilan telphon ini dulu baru lanjut bicara.


"Hallo suami ku"


"Kuliah mu sudah selesai belum?"


"Harus sih belum, cuma karena dosen jam terakhir tidak ada dan hanya memberi tugas begitu selesai tugasnya di kumpulin ke asdos, trus kita boleh pulang deh"


"Baguslah kalau begitu, aku sudah di depan gerbang kampus mu. Kamu cepatlah keluar sekarang atau aku yang masuk kedalam menjemput mu?"


"Aku saja yang keluar" sahut Lia cepat dia tak mau kemunculan sang suami di dalam kampus akan membuat gempar seisi kampus.


Jeni yang dari tadi tak mengerti Lia bicara apa hanya duduk diam menunggu, Iya Lia dan Ferry terbiasa bicara bahasa IND saat mereka berdua saja atau sedang bersama mami atau Shella.


"Jeni maaf aku sudah di jemput jadi tidak bisa menemani mu shopping hari ini" ucap Lia sambil melipat kedua tangannya meminta maaf dengan tulus.


"It's oke Lia" sahut Jeni dengan senyum manis. "Kamu pergilah, jangan buat dia menunggu terlalu lama"


Lia pergi meninggalkan Jeni setelah pamit, Lia mempercepat langkahnya menuju gerbang kampus, Lia khawatir si bule tak mampu menunggu dalam waktu yang lama lalu Ferry pun akan menyusulnya kedalam.


#Di gerbang kampus


Ferry yang mulai tak sabaran menunggu akhirnya keluar dari mobil dia berdiri di depan mobil, membuat setiap orang yang melihatnya langsung terpesona.


"Lihat siapa pria itu, ganteng banget?"


"Ya ampun sudah ganteng, kelihatannya kaya raya, lihat mobilnya edisi khusus. Katanya hanya ada lima di dunia ini"


"Wow, pria seganteng dan sekaya itu mau apa di kampus kita?"


"Jangan-jangan menjemput pacaranya"


"Lihat dia tersenyum"


"Makin ganteng aja cowo itu saat tersenyum"

__ADS_1


Ferry melangkahkan kakinya ke area kampus begitu melihat sang istrinya berjalan melambat.


"Lihat dia berjalan ke arah kita"


"Ya tuhan dia beneran tersenyum kearah ku"


"Mana mungkin pasti dia tersenyum pada ku"


Wanita-wanita sudah makin menggila dan kegeeran melihat Ferry berjalan mendekat dengan senyum manis, padahal Ferry melangkah ke arah mereka karena Lia berjalan melambat terhambat kerumunan orang-orang.


"Sayang ku, kamu mau berapa lama terus berdiri di sana?" ucap Ferry berdiri tepat di depan kerumunan yang menghalangi Lia.


"Kalian minggir lah semua jangan menghalangi" ucap Ferry dingin membuat semua yang berkerumu langsung menepi tersisa Lia berdiri terpaku.


'Tuh kan apa ku bilang jika dia muncul hanya akan merepotkan ku. Habis sudah masa tenang ku di kampus ini belum juga seminggu aku kuliah...huuh' gumam Lia dalam hati sambil menghembuskan nafas berat Lia pun melangkahkan kakinya mendekati Ferry.


Tapi saat Ferry mengulurkan tangannya untuk bergandengan tangan Lia mengabaikannya dan Lia terus melangkah menuju mobil dimana Ferry memarkirnya.


"Siapa wanita itu?"


"Sombong banget"


"Jangan-jangan pria itu sedang mengejar cintanya"


"Mana pantas dia untuk cowo seganteng itu?"


"Sayang ku kamu marah?" saat Ferry berjalan di depan Lia yang wajahnya terlihat kesal


"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Ferry tanpa rasa bersalah tapi Lia tak juga menjawabnya sampai Lia masuk kedalam mobil dia baru meluapkan kekesalannya pada Ferry.


"Bikin malu, nyebelin" teriak Lia begitu sudah duduk di dalam mobil.


"Bikin malu?, aku?" gumam Ferry bingung dengan maksud Lia.


"Dasar nyebelin" gerutu Lia lalu memalingkan wajahnya ke jendela malas bicara dengan Ferry.


"Hhhmmm...sayang kamu jangan ngambek dan nyuekin aku dong. Aku benar tidak tau apa salah ku?"


"Begitu ngakunya jenius" gumam Lia pelan namun masih terdengar Ferry.


Bukannya kesal Ferry malah tertawa terbahak-bahak. "Hahahahaha....aku memang jenius cuma ntah kenapa setiap di hadapan mu aku jadi bodoh, sangat bodoh malahan" ucapnya di sela suara tawanya sambil menggosok tengkuknya yang tak gatal.


Lia tak tau harus senang atau menangis mendengar pernyataan sang suami. Lia sendiri juga pusing akan nasibnya kedepannya.


"Sayang, kalau kamu tidak menjelaskannya pada ku. Aku beneran tidak tau letak kesalahan ku, jadi please jelasin ya" Ferry memohon dengan nada lembut tapi Lia memilih dia dan memandangi kearah luar jendela.


'Ehh...ini bukan ke arah apartemen' bathin Lia bingung pasalnya Lia memang belum tahu tujuan Ferry menjemputnya untuk apa dan mau kemana.

__ADS_1


"Kamu bingung kita mau kemana?" suara barito sang suami terdengar menyuarakan isi hati Lia.


'Issshh...ini bule beneran cenayang koq dia bisa tau isi pikiran ku?' gumam Lia dalam hati dan berusaha tak perduli dengan ucapan san suami.


"Mau aku kasih tau tidak?" ucap Ferry lagi dengan nada menggoda Lia, tapi yang di goda tak bergeming.


"Ya sudah kalau tidak mau dikasih tau dan mau diem-dieman" ucap Ferry lalu kembali fokus dengan jalanan.


"Oke kita sudah sampai, ayo sayang aku bantu" Ferry mengulurkan tangannya membantu Lia keluar dari mobil tapi kembali di abaikan Lia.


'Butik? ini Mozard Boutique milik Karenina? Koq bisa dia ajak aku kesini' Lia panik, tubuhnya kaku tak membayangkan respon Karenina nantinya saat melihat Lia bersama Ferry.


Ferry yang jalan lebih dulu karena Lia tak mau menggandeng tangannya agak heran karena tiba-tiba tidak mendengar langkah kaki mengikutinya lagi, Ferry pun berhenti dan berbalik.


"Sayang kamu kenapa?" Ferry berjalan cepat menghampiri Lia yang berdiri diam dan nampak tegang membuat Ferry khawatir.


"Ehh ... aku baik-baik saja" ucap Lia yang tersadar dari lamunannya.


"Tapi kami tidak terlihat baik-baik saja, ada yang tidak nyaman?" tanya Ferry sambil menyentuh dahi Lia. "Tidak demam" gumam Ferry lalu berjongkong mengecek kaki Lia.


"Suam, aku baik-baik aja. Kamu cepat berdiri" pinta Lia karena orang mulai memperhatikan mereka.


"Trus kamu kenapa dong?" tanya Ferry lagi setelah kembali berdiri sejajar dengan Lia.


"Kita mau ngapain ke butik?" tanya Lia membuat Ferry senyum.


"Mau Fitting baju....hehehehe"


"Fitting?" gumam Lia memastikan pendengarannya tak salah.


"Iya sayang fitting gaun couple untuk acara besok malam ulang tahun hotel nyonya Maghdalena"


"Kenapa harus di sini?"


"Butik ini milik keluarga Designer terkenal mozard yank, dari zaman mami muda waktu itu tante Moza yang mengelolanya sekarang anaknya Karenina, kamu pasti kenal dia"


Lia menganggukan kepala mendengar pernyataan Ferry. Lia memang tau banget dengan Karenina walau baru satu kali Lia bertemu langsung dengan Karenina saat Lia ikut lomba design di Milan.


"Butik ini yang selalu membuatkan gaun dan baju-baju untuk keluarga Goucher, jadi aku meminta Karenina membuatkan Gaun Couple untuk kita untuk acara besok malam"


Mendengar penjelasan Ferry, kepala Lia rasanya mau pecah. Dia tak menyangka ternyata Karenina sedekat itu dengan keluarga Ferry.


"Kamu kenapa sih?" tanya Ferry karena Lia kembali diam.


"Udah jangan banyak mikir, ayo kita masuk" Ferry menggandeng tangan Lia berjalan menuju Mozard Boutique.


Jangan lupa like and komen ya readres

__ADS_1


__ADS_2