Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Castle Veenew (part 1)


__ADS_3

Setelah dua setengah jam perjalanan akhirnya Ferry dan Lia tiba di Castle Veenew.


"Silahkan tuan muda dab nyonya muda.Tuan dan nyonya besar sudah menunggu di ruang keluarga". Ucap Kepala pelayan saat Ferry dan Lia masuk ke dalam pekarangan Castle.


'Wow, pantas saja papi menolak ku terus karena apalah keluarga ku di bandingkan keluarga besar Goucher...hhuuufft'


"Kenapa? tidak nyaman?" tanya Ferry saat melihat Lia menghembuskan nafas kasar, Lia hanya menggelengkan kepala sambil menunduk saat menjawab pertanyaan Ferry.


"Angkat kepala mu, kamu itu bukan pelayan. Kamu itu istri ku, istri Ferry Goucher, tak perduli apapun pendapat mereka selamanya kamu akan jadi satu-satunya" Ujar Ferry setelah dia menghentikan langkahnya untuk membuat Lia yakin akan cintanya dan mengembalikan Lia nya seperti Lia biasanya, Lia yang penuh percaya diri dan optimis tanpa keraguan saat memilih sesuatu.


"Aku tau" sahut Lia sambil tersenyum dan berusaha mengumpulkan semua keberanian dan kepercayaan dirinya.


Melihat wanita yang amat di cintainya tertekan namun berusaha tersenyum manis dengan tulus, Ferry tak kuasa menahan diri. Ferry mencium bibir Lia "Aku mencintai mu Lia Putri Aghata selamanya hanya kamu".


"Aku juga mencintai mu suami ku Ferry Goucher selamanya hanya kamu" sahut Lia di sela ciuman mereka.


"Ayo kita masuk" ajak Ferry, kepala pelayan yang menyaksikan kelakukan cucu majikannya hanya bisa senyum-senyum dalam hati.


'Mereka berdua benar-benar saling mencintai, Nyonya Tua pasti bahagia. Cucunya kebanggaannya segera akan memberinya cicit' gumam kepala pelayan dalam hati.


"Nyonya Tua, tuan muda dan nyonya muda sudah tiba" ucap Kepala pelayan.


"Suruh mereka segera kesini, aku sudah tidak sabar mau lihat cucu menantu ku" gumam Nenek tua.


"Nenek pasti suka kak Lia, selain cantik ramah kak Lia juga menyayangi ku seperti adiknya sendiri" Ujar Shella memuji Lia membuat wajah Juan Goucher ayah Ferry memberengut kesal.


"hahaha..Kamu membela kakak ipar sampai segitunya, dia bayar kamu berapa hah?" goda Dhaniel putra sulung dari Bibi Hanny.


"Aku tidak menerima bayar, nenek lihat kak Dhaniel dia mengolok-olok ku" rengek Shella.


"Sudah-sudah kalian ini kalau sudah berkumpul selalu saja bertengkar" ucap nenek tua membuat mereka semua langsung tutup mulut.


"Nenek, aku pulang" ujar Ferry saat masuk kedalam ruang keluarga, Ferry langsung memeluk sang nenek sedangkan Lia berdiri diam menyaksikan suaminya dan neneknya melepas rindu.


"Masih tau pulang anak nakal" nenek memeluk Ferry erat melepas kerinduannya.


"Nek, kenal kan ini Lia Putri Aghata istri Ferry" ujar Ferry membawa Lia kedepan neneknya.

__ADS_1


"Sini, cepat kesini. Nenek tua tidak akan menggigit mu" Semua yang ada di ruangan jadi tertawa mendengar lelucon nenek tua.


"Hallo nyonya besar" sapa Lia penuh hormat.


"Lia, kamu cucu menantu ku. Panggil aku nenek tua, duduk sini di samping ku".


Lia menatap wajah Ferry yang tersenyum dan memberinya isyarat untuk menuruti ucapan nenek.


"Cantik, sangat cantik. Kamu pintar memilih cucu menantu untuk ku, Nenek kenal kan kamu pada semua yang ada di sini. Itu Bibi Hanny Kakak sepupu papi mertua mu dan disebelahnya itu suaminya Samuel, Sedangkan itu adik sepupu papi mertua mu paman Jhonny dan istrinya Fanciska, di sebelahnya itu putri mereka Clara mereka tidak tinggal di negara A mereka menetap di negara S".


"ah kalau kedua pria tampan itu anak Bibi Hanny dan Paman Samuel, Willy dan Dhaniel. sebelah Dhaniel itu


istrinya Mergaret, kalau yang kecil tampan itu Terry cicit kesayangan nenek. Kesini cepat beri hormat pada bibi Lia" pinta nenek tua pada Terry.


"Hallo bibi Lia, aku Terry Chan. Usia ku lima tahun pria paling tampan di sekolah ku semua gadis mengejar ku"


mendengar ocehan Terry seisi ruangan tertawa. "Kenapa kalian semua tertawa, aku berkata serius. kalian tidak percaya?"


"Percaya sayang...kami semua percaya, cicit nenek memang sangat tampan, bukan begitu Lia?" ujar Nenek mengajak Lia agar ikut berinteraksi dan berhenti canggung.


"Iya Terry, kamu sangat tampan bahkan lebih tampan dari suami bibi Lia"


"Mimpi, bibi Lia mu hanya menghibur mu saja" Sahut Ferry sambil menjatuhkan bokongnya diatas sofa sebelah Lia dan memeluk Lia erat. "Bibi Lia tidak akan mau dengan bocah ingusan.


"Tak bisakah suami ku mengalah pada anak-anak?" bisik Lia ditelinga Ferry saat melihat Terry memberengutkan bibirnya.


"Tidak akan, kamu milik ku" bisik Ferry sambil menggigit daun telinga Lia.


"Sudah, sudah cicit Nenek memang paling tampan, sini peluk nenek,nanti nenek akan memberi paman Ferry mu hukuman, jangan sedih lagi" rayu nenek tua membuat Terry kembali tersenyum.


"Bibi Lia kenapa kamu mau menikah dengan paman Ferry? Dia itu kan selama ini alergi pada wanita dan sangat tidak ramah?" tanya Terry dengan polosnya.


Lia bingung harus jawab apa. Dia juga tidak tau kenapa mau aja waktu diajak nikah Ferry.


"Tentu saja karena paman mu ini sangat tampan, kaya dan juga sangat mencintai bibi Lia, Jadi bibi tidak bisa menolak paman mu ini" Sahut Ferry narsis walau pun semua yang dia ucapkan benar.


"Sudah cukup, ayo Terry kamu jangan bicara lagi. Lia maaf kan anak ku ya. Dia memang slalu banyak bicara" ujar Willy menggendong Terry duduk kembali di sisinya. Terry yang tidak suka diangkut paksa papinya dia memberengutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di dada.

__ADS_1


"Terry wajah mu kenapa jadi jelek begitu?" goda Shella dan juga Michel.


"Paman Michel dan Bibi Shella aku sedang tidak ingin bicara, abaikan saja aku" sahut Terry.


"Nyonya tua makan malam sudah siap" ucap kepala pelayan dengan penuh hormat.


"Baik, ayo kita makan". Lia membantu nenek tua berdiri lalu menggandengnya menuju meja makan.


Setelah nenek tua dan para tetua duduk, Ferry menggandeng Lia.


"Sayang kamu duduk lah disini" pinta Ferry setelah menarik sebuah kursi untuk Lia duduki. Diikuti Shella duduk di sebelahnya Lia.


"Lia makan lah yang banyak, biar kamu cepat bisa memberi nenek cicit". Mendengar penuturan nenek Lia langsung tersedak makanan yang sedang di kunyahnya, Ferry dengan sigap memberi air minum untuk Lia.


"Kenapa Lia kamu belum berencana untuk hamil?" tanya Bibi Hanny membuat Lia makin salah tingkah, Ferry menggenggam tangan istrinya.


"kami tidak terburu-buru, biar Lia dan aku menyelesaikan kuliah kami baru pikirkan soal anak". Jawab Ferry dingin.


"Mana boleh menunda punya anak, nenek tidak setuju. Kelak kalau kalian sibuk biar nenek yang mengurusnya". Lia hanya menundukan wajahnya mendengar ucapan nenek tua, dia tidak menyangka pertemuan pertama langsung bahas soal anak.


"Mama, Lia dan Ferry masih sangat muda jangan desak mereka untuk punya momongan. Mereka juga baru menikah, kita pun belum membuat pesta pernikahan untuk mengumumkan pada dunia luar" ujar Mama Ferry membujuk nenek.


"Kamu benar, jadi kapan kalian berencana menggelar pesta pernikahan?" tanya nenek to the poin.


"Tahun depan" jawab Ferry santai


"Kenapa begitu terburu-buru menggelar pesta pernikahan, biar saja mereka menyelesaikan kuliahnya dulu baru bahas lagi soal pesta pernikahan" ucap Juan Goucher.


"Apa yang terburu-buru, kamu mau cucu menantu ku statusnya tidak diketahui dunia luar. Biar kamu masih punya peluang menjodohkan cucu ku untuk kepentingan perusahaan? sahut nenek kesal mendegar ucapan Papi.


"Bukan begitu bu, aku han..." Khilah Juan membela diri tapi belum juga selesai ucapannya langsung di potong nenek tua.


"Sudah cukup jangan berdebat lagi dengan ku" ucap nenek tua tegas.


Suasana makan malam jadi canggung, mereka yang ada di meja makan jadi saling pandang karena mereka tidak menyangka kalau Juan tidak setuju dengan pernikahan Ferry dan Lia.


Selanjutnya apa yang akan terjadi??

__ADS_1


yuukk baca trus novelnya jangan lupa like and komen ya readers lophe u full.


__ADS_2