
"Kamu kenapa bisa ketakutan kaya tadi yank?" tanya Ferry penasaran saat Lia duduk di pangkuannya.
"Hhhmm...itu karena waktu kecil saat aku pergi liburan dengan mama dan papa pesawat kami mengalami kecelakan walau tidak terlalu parah karena kapten kapal mengarahkan pesawat jatuh di atas perairan sehingga banyak yang selama hanya aku sempat terpisah dari mama dan papa terdampar selama dua hari sendirian di pulau terpencil"
Ferry memeluk erat pinggang ramping Lia dan memberinya banyak kecupan. "Besok kita ke dokter ya, biar trauma mu benar-benar pulih" ajak Ferry pada Lia. Tapi Lia menggeleng.
"Papa sudah beberapa kali membawa ku menemui dokter dan di nyatakan pulih dari trauma tapi nyatanya saat aku mengalami hal yang serupa rasa takut dan bayangan masa kecil itu muncul lagi...aku pikir traumanya sudah hilang karena sejak kejadian itu aku sudah berkali-kali naik turun pesawat tidak ada masalah sama sekali semuanya normal, ternyata aku masih tidak normal..hahaha"
Lia menyusut dalam pelukan Ferry dan air matanya mengalir tak kuasa dia bendung lagi. Bayangan dua puluh tahun lalu dimana dua hari Lia terdampar di pulau sendiri dengan putus asa, kelaparan, kehausan, kedinginan dan ketakutan.
"Jangan menangis, sepertinya rasa takut mu muncul bukan karena trauma, aku yakin semua yang mengalaminya akan memiliki rasa takut. Kamu begitu takut karena saat mengalaminya terbayang hal buruk masa lalu jadi makin terasa menakutkan, tapi lihat sekarang istriku sudah baik-baik saja kan. Bahkan sudah bisa menggoda suaminya"
Ferry berusaha membuat suasana menyedihkan menjadi lebih manis, karena dia tak ingin Lia larut akan masa kecilnya.
"Auuuu,,koq aku dicubit sih?" teriak Ferry karena Lia mencubit perut Ferry.
"Siapa suruh menggoda ku?" gerutu Lia masih dalam pelukan sang suami.
"Siapa yang menggoda mu?" ucap Ferry sambil mengangkat dagu Lia agar menatapnya. "Jangan nangis lagi ya, aku nggak tahan lihat kamu meneteskan air mata" Ferry menghapus sisa air mata di wajah Lia lalu mengecup mata Lia.
"Ini namanya modus" ujar Lia disela-sela bibir mereka yang saling bertaut suasana sedih kini berganti penuh gairah. Tangan Ferry sudah menjalar kemana-mana.
tok...tok...tok
Suara ketukan pintu kabin kamar membuat Lia mendorong tubuh suaminya yang sudah siap menerjang dirinya begitu membaringkan tubuh Lia di atas ranjang.
'Sial...kalau tidak penting jangan harap kamu bisa bekerja lagi besok, mengganggu saja' gerutu Ferry sambil membuka pintu.
Pramugara ketakutan melihat tampang tuan muda di depannya seperti siap memakan orang.
"Kenapa kamu malah diam? ada apa?" tanya Ferry dengan dingin, membuat si pramugari tergagap.
"Ma....ma-af tu-an mu-da pe-sa-wat ak akan Land-ding li lima menit lagi"
"Kamu pergi lah aku sudah tau" Ferry membanting pintu kabin.
"Merusak suasa saja..huffft" gumam Ferry yang terdengar Lia.
__ADS_1
"Kita kan bisa melakukannya di apartemen kenapa harus marah begitu?" Ujar Lia sambil mencium suaminya dan bergelayutan manja.
"Aku suka kamu yang manja seperti ini, lebih sering lah manja-manja dengan ku" Ferry kembali mencium bibir Lia dengan lembut.
"Ayo rapikan barang-barang mu kita siap-siap pesawat akan landing"
Lima belas menit kemudian pesawat sudah landing dengan sempurna. Lia dan Ferry turun dari pesawat di mana mobil rolls royce hitam metalic sudah terparkir tidak jauh dari pesawat.
"Silahkan tuan muda dan nyonya muda naik, kami antar kalian ke ruang tunggu vvip bandara karena nyonya besar dan nona Shella sudah menunggu"
"Ayo sayang" ajak Ferry mengulurkan tangannya pada Lia.
Lia masuk ke dalam mobil lebih dulu di susul Ferry. Mobil langsung melaju dengan cepat menuju ruang tunggu. Begitu Lia dan Ferry membuka pintu teriakan Shella langsung membuat sekeliling terkejut.
"Kak Lia, kak Ferry" teriak Shella sambil berlari menghampiri kakak dan kakak iparnya.
"Ya tuhan kamu bisa tenang sedikit tidak, bandara ini bukan milik ayah mu?" Ucap Ferry sambil mengacak-acak rambut adiknya.
"Kebiasaan buruk, slalu saja mengacak-acak rambut ku...hufft" gerutu Shella sambil melotot pada Ferry, Ferry malah mengacuhkannya dan memeluk mami.
"Akhirnya kamu pulang berhasil membawa menantu ku, bagus sekali" ucap Mami sambil memeluk dan menciumi wajah putra kesayangannya.
"Maaf Mi, kami akan tinggal di apartemen untuk sementara" Wajah mami langsung sedih.
"Sudah empat tahun lebih kamu tidak pulang ke rumah, tidak rindukah kamu sama mami".
"Besok aku akan bawa Lia untuk makan malam ke rumah utama oke jangan sedih lagi". ucap Ferry sambil mengecup pipi kanan kiri mami.
"Kamu janji ya, mami akan masak makanan kesukaan mu besok malam". wajah mami langsung berbinar.
Di sisi yang lain Shella memeluk Lia dengan erat. "Kak Lia akhirnya kamu datang juga, aku senang sekali" ujar Shella sambil memeluk tubuh Lia dengan manja.
"Kamu senang aku datang hanya karena gaun mu kan?" ucap Lia sambil memberengutkan bibirnya.
"Bukan...bukan seperti itu, kak Lia aku memang senang kakak di sini. Aku dari dulu tidak pernah merasakan kasih sayang kakak. Si beruang kutub hanya bisa mengganggu dan membuat ku menangis dari kecil...huuffft. Pokoknya kak Lia kamu bukan kakak ipar ku, tapi kamu kakak ku, si beruang kutub saja yang jadi kakak ipar"
"Hahahaaha... dasar gadis bodoh kamu mau memutuskan hubungan darah dengan ku?" Ujar Ferry sambil menjitak kepala Shella.
__ADS_1
"Tuh, kak Lia liat kan dia selalu membully ku...hiks". Rengek Shella pada Lia.
"Sudah...sudah ayo kita pulang, Lia maaf ya kamu akan sering melihat hal ini kedepannya" ucap mami sambil mencium anak menantunya.
Mereka berempat pun melangkah menuju mobil diikuti para pengawal yang slalu mami bawa kemana pun dia pergi.
"Sampai ketemu besok malam" ucap mami pada anak dan menantunya sebelum masuk ke dalam mobil.
"Besok pagi aku akan main ke apartemen kak Lia tunggu aku ya jangan pergi kemana pun.oke" pinta Shella yang dianggukan Lia.
Ferry dan Lia menaiki mobil rolls royce biru metalic milik Ferry dimana Jerry sudah menunggunya.
"Selamat datang di negara A nyonya muda, semoga anda kerasan tinggal di negara A" ucap Jerry saat membuka pintu untuk Lia.
"Terima kasih Jerry" sahut Lia. "Sejak kapan kamu banyak bicara?" sambung Ferry. "Maaf tuan muda, hehehe" Jerry cengengesan dia juga tidak menduga mulutnya akan banyak bicara.
"Sudah ayo jalan" perintah sang tuan muda. Jerry pun melajukan mobilnya apartemen mewah milik sang tuan muda.
"Tinggalkan mobilnya di parkiran biasanya, besok aku menyetir sendiri ke kantor". Ucap Ferry sebelum masuk ke dalam gedung apartemen.
Mereka pun menaiki lift menuju lantai 18 dimana unit apartemen milik Ferry berada. Di lantai 18 hanya ada dua unit apartemen, satu milik Ferry dan yang satunya ntah milik siapa Ferry tak pernah melihat pemiliknya slama ini.
"Welcome home baby, silahkan masuk. Kedepannya kita akan mengabiskan waktu berdua di sini. Tolong manjakan aku ya, please" ucap Ferry sambil memeluk istrinya dan menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher Lia.
'Aroma tubuh Lia selalu membuat tubuh lelah ku jadi tenang dan damai, aromanya begitu lembut dan memabukan' gumam Ferry dalam hati.
"Ayo aku ajak kamu berkeliling apartemen" ajak Ferry sambil menggandeng tangan istrinya. "Ini Dapur, ini ruang kerja ku, ruang makan, ruang tv, itu gazebo yang aku ubah jadi tempat gym". Ferry menjelaskan tiap sudut ruangan.
'Wow, ini apartemen mewah banget. Lebih mirip rumah mewah berlantai satu di negara IND'. bathin Lia menatap tiap sudut apartemen.
"Sayang ini kamar kita, silahkan masuk" ucap Ferry.
'Jerry bener keren dia bikin kamar ku jadi kamar pengantin pantes aja tadi tampangnya aneh' gumam Ferry dalam hati.
'Ehhh...ini kenapa jadi kaya kamar mau honeymoon gini?' bathin Lia sambil menatap Ferry penuh tanya.
"Sudah nikmati saja, pasti ini semua ulan Jerry" lagian kan kamu tadi dipesawat bilang kita bisa melakukannya di apartemen.
__ADS_1
Ferry tak lagi menyia-nyiakan kesempatan dia langsung menggendong tubuh Lia ke atas ranjang. Lia hanya bisa pasrah dan menikmati setiap cumbuan yang suaminya lakukun.
jangan lupa like and komen