Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Jadi, kita Pakai Design Bocah ini?


__ADS_3

"Kamu gambarlah satu stel seragam untuk karyawan hotel ku" perintah nyonya Mahdalena begitu seseorang datang membawakan alat gambar pada ku.


"Maaf nyonya sebelumnya, boleh aku bertanya padamu?"


"Tanyakan lah"


"Baju seragam seperti apa yang anda inginkan untuk karyawan mu?" tanyaku agar lebih mudah mendesign sesuai harapannya.


"Kamu buatlah untuk para housekeeping, baju yang tidak mengganggu ruang gerak mereka tapi terlihat elegan, mewah dan tidak terlalu seksi..bagaimana bisa?"


"Baik aku coba gambarkan untuk mu, semoga nyonya suka" ucapku lalu mulai asik menggambar dan tak memperdulikan sekelilingku lagi.


Entah sudah berapa lama aku asik sendiri dengan alat lukis di depan ku sampai akhirnya sebuah stelan seragam untuk housekeeping selesai ku buat.


"Done" ucapku sambil memandang puas pada hasil design yang ku buat.


"Mana coba ku lihat!" pinta nyonya mahdalenan


"ini nyonya" ucap ku sambil menyerahkan design ku pada nyonya mahdalena.


"Kamu, sejak kapan kamu ada disini?" tanyaku pada Ferry karena tak menyadari kedatangannya.


"Sejam lalu mungkin, saat aku bertemu mami dan tidak melihat mu disisinya. Aku langsung menyusul mu kesini begitu mami memberitahu ku keberadaan mu" mendengar penjelasan Ferry aku hanya menganggukan kepala.


"Dia ini pria tampan yang dingin, aku baru tau kalau dia juga bisa begitu manis dengan wanita yang dicintai. Kamu jaga dia baik-baik karena diluar sana suami mu ini banyak di gandrungi para wanita termasuk cucu ku, sayangnya mereka tidak berjodoh dan aku tidak bisa memaksanya untuk jatuh cinta pada cucuku. Ayah dan anak ini nasibnya kurang beruntung dalam percintaan"


Ucap nyonya Mahdalena dengan tatapan sendu. Terpancar guratan kesedihan di wajah tuanya yang masih cantik. 'Apa ucapannya barusan ada kaitannya dengan mami ya?' bathinku mulai kepo tapi tak berani juga mencari tahu lebih. Ferry kelihat penasaran juga tapi aku langsung memberinya kode untuk tidak membahasnya, untung saja si bule ini paham kodeku.


"Ahh...kenapa aku jadi banyak bicara begini? ambilkan kaca mata ku biar ku lihat design bocah ini" pinta nyonya mahdalena pada asistennya yang nampaknya sudah tau mau nyonya mahdalena.


"Ini nyonya kaca mata anda"


"Hhhhmmm...cantik, Ami kamu kesini lah coba lihat benar bagus tidak design ini? takutnya mata tua ku yang mulai makin parah"


Mendengar celotehan nyonya mahdalena membuatku ingin tertawa tapi tak berani. 'Gila nih orang mau muji aja ribet banget....ckckck'

__ADS_1


"Benar-benar cantik, aku juga mau dibuatkan baju oleh nona ini nek?" ucap Seorang gadis muda cantik dengan rambut ikal dan dress berwarna army membuat bajunya hidup saat melekat pada tubuhnya yang ramping.


"Kamu sudah perhatikan dengan benar belum?"


"sudah nek, benar-benar bagus hasil designnya. Kalau para karyawati itu menggunakannya ku rasa para tamu akan terkagum-kagum nek"


"kamu yakin akan seperti itu?"


"Yakin nek"


"Kamu jangan bicara manis hanya karena ada dia disini?"


"Tidak nek, aku juga tidak tuli nek. Aku tau dia sekarang sudah menikah dan yang mendesign ini istrinya"


"Bagus kalau kamu sudah tau, kedepannya carilah pria tampan dan baik-baik lainnya jangan mengharap dia lagi"


"baik, aku mengerti nek"


"Cucu pintar, jadi kita pakai design bocah ini?"


"Iya nek, kita pakai tapi sebelumnya nona apa anda bisa membuat lagi beberapa design untuk bagian resepsionis, satpam dan juga orang restorannya masing-masing bagian tidak hanya design wanita tapi pria juga, karena karyawan di hotel kami tidak hanya wanita tapi ada juga prianya"


"Dua hari lagi kamu telphon lah kalau sudah jadi designnya, kita bisa buat janji temu. Bagaimana?"


"Baik, aku mengerti".


Aku membuat note di ponselku detail design yang Ami inginkan untuk para karyawan hotelnya padaku. Ferry hanya duduk manis sambil menemani nyonya Mahdalena minum teh dan mengobrol. Selesai membuat catatan, Ami memberiku kartu nama nyonya Mahdalena untuk ku hubungi saat design yang mereka inginkan selesai ku buat. Lalu aku dan Ferry pun pamit.


"Sayang dari sini boleh kamu antar aku beli alat lukis?" pintaku pada Ferry.


"Tidak bisa sayang ini sudah malam, semua toko sudah tutup, besok saja bagaimana?"


"Hhhmm...waktu ku hanya dua hari membuat tujuh design jika tidak ada alat designnya bagaimana cukup waktunya" gumamku yang terdengar oleh Ferry, membuat dia mengelus lembut kepala ku dan menelphon seseorang.


"Siapkan dua set alat gambar lengkap malam ini juga antar ke villa Munchen!" Perintah Ferry pada orang yang ditelphonnya.

__ADS_1


"Terima kasih suamiku" ucapku begitu Ferry memutus sambungan telphonnya.


"Berterima kasih lah dengan benar!" pinta Ferry membuat wajahku langsung merona karena aku paham betul kemana arah pembicaraan suamiku ini.


"Kamu itu, bisa tidak mesum. Ini tempat umum" ucapku sambil mencubit kecil pinggang Ferry


"Hehehe...baiklah aku minta imbalannya dirumah saja kalau begitu"


"kamu..." wajahku sudah memerah sampai ketelinga karena tiap Ferry mesum visual adegan diatas ranjang itu terpampang jelas di pikiran liar ku.


"Baik, tidak menggoda mu lagi. Aku lupa kalau kulit istriku begitu tipis...hahaahaha"


Tawa Ferry sambil memeluk ku. Agar aku bisa menyembunyikan wajahku yang merona di dadanya.


"Owh ya sayang, kamu beritahu aku detail perkiraan bahan yang digunakan, berapa banyak kebutuhan bahan untuk satu set model pakaian dan jika ada bordir atau apapun yang ada kaitannya dengan biaya produksi tolong berikan padaku ya?" pinta Ferry tiba-tiba saat kami sedang berpelukan membuatku mengangkat kepala karena bingung dengan permintaannya.


"Aku butuh informasi itu untuk membuat proposal pengajuan untuk proyek produksi pada nyonya Mahdalena, karena tadi saat kamu sedang asik mendesign nyonya mahdalena menawari ku memproduksi pakaian hasil design mu jika hasil design mu cocok dengan nya"


Mendengar penjelasan Ferry aku menganggu dan kembali masuk dalam pelukannya sambil menganggukan kepala mengerti.


"Memili mu adalah keberuntungan ku, selain kamu adalah cinta pertama dan terakhir ku, kamu juga menjadikan ku pria pertama mu yang memiliki seutuhnya dan kini kamu memberikan banyak keuntungan pada perusahaan bukan hanya sekali tapi sudah berkali-kali. Rasa aku makin tidak sanggup kehilangan mu. Ku mohon Lia, apapun yang terjadi bertahan lah jangan pernah menyerah dan pergi dari sisi ku"


Mendengar ucapan Ferry aku mengeratkan pelukan ku padanya. Sampaj suara mami membuatku keluar dari pelukan Ferry.


"Kalian ini mentang-mentang pengantin baru menempel trus". celoteh Mami sambil menepuk bahu Ferry.


"Hehhehe...Mami biar para wanita yang hadir disini tau Ferry sudah memiliki wanita pujaan, jadi mereka berhenti menatap Ferry dengan tatapan menjijikan"


Ucapan Ferry mami langsung tertawa terkekeh. "Kamu itu narsis koq tidak ada batasnya"


"Mana ada begitu" Sahut Ferry tak terima dengan komentar mami.


"Sudah tidak penting membahas mu saat ini" ucap mami menghentikan Ferry. "Lia jadi bagaimana apa nyonya mahdalena suka hasil design mu?"


"Suka mi, nyonya mahdalena juga meminta Lia buat tujuh lagi design dan meminta Ferry untuk membuat proposal untuk memproduksi hasil design Lia"

__ADS_1


"Sangat bagus...Ferry tidak salah memilih mu, selain kamu cantik dan baik hati, kamu juga sangat berguna untuk kemajuan perusahaan, ini sangat bagus agar si tua bangka itu bisa merubah pikirannya dan merestui kalian".


Ucap Mami sambil tersenyum dan menepuk-nepuk bahu ku kemudian berlalu meninggalkan kami berdua yang saling pandang kemudian tersenyum dan kembali berpelukan.


__ADS_2