
Flash Back #POV Ferry#
"Ferry kamu dimana?" -papi-
"Otw" -Ferry-
"Jika sudah sampai langsung temui papi" -papi-
"Baik" -Ferry-
Mumpung Lia sedang ngambek, sebaiknya aku tidak membawanya menemui papi. Aku hubungi Shella saja, minta dia temani Lia selama aku bersama papi.
"Shella, bisa kamu temani Lia?" -Ferry-
"Kak Ferry mau kemana memang? -Shella-
"Papi mencari ku ada hal penting yang ingin papi bicarakan" -Ferry-
"Apa imbalannya untuk ku?" -Shella-
"Apapun yang kamu mau" -Ferry-
"Benarkah?" -Shella-
"Ya" -Ferry-
"Oke" -Shella-
"Lima menit lagi kami sampai di hotel, temui Lia" -Ferry-
"Siap komandan" -Shella-
Shella sudah setuju, sekarang sebaiknya aku mengirim pesan pada supir.
"Nanti saat tiba di hotel, bilang nyonya untuk menemui Shella" -Ferry-
"Baik tuan muda" -Supir-
Semua sudah beres, aku bisa tenang meninggalkannya menemui papi, biar lah masalah ku dengannya kami selesaikan nanti saja. Karena jika dia seperti ini aku membawanya saat bertemu papi takutnya dia semakin membenci Lia.
__ADS_1
"Tuan muda, nyonya muda kita sudah sampai" Ucap sang sopir sambil keluar dari mobil membukakan pintu mobil untuk Ferry.
"Lakukan seperti yang aku bilang tadi" Ucap ku pada sang supir saat turun dari mobil, lalu langsung masuk ke dalam ballroom hotel menemui papi.
Saat tiba di dalam ballroom, aku memindai seisi ruangan mencari keberadaan papi. tapi yang ku lihat justru mami dengan teman-teman sosialitanya. Dan juga Shella yang nampak sudah standby menunggu Lia.
'Dimana papi' Gumamku sambil terus masuk semakin dalam ke dalam ballroom. 'Itu dia'. akhirnya aku menemukan keberadaan papi yang sedang berbincang dengan beberapa orang asing dengan pakaian rapi. 'Siapa mereka? aku belum pernah melihatnya' gumamku sambil melangkah mendekati papi.
"Pi, ada apa mencariku?" ucapku tanpa basa basi saat sudah berada dekat dengan papi.
"Tumben kau tidak menempel pada wanita itu?" Ucap papi sengit.
"Namanya Lia pi, dia istriku yang artinya menantu mu, pi". ujarku tak senang saat mendengar papi dengan nada mengejek tak menganggap Lia.
"Aku tak pernah menganggapnya menantuku" gerutu papi geram saat mendengar pernyataan ku.
"Biar pun begitu, secara hukum dan agam dia sah menjadi istriku. Tolong hargai keberadaanya, karena Lia perusahaan banyak mendapat keuntungan. Masihkan keberadaannya tak berarti?"
"Sudah aku tidak ingin membahas tentang wanita itu, saat ini perusahaan di negara A membutuhkan kehadiran mu. Ada masalah lumayan genting, aku belum mendapat laporan sepenuhnya jadi kamu cari tau lah sendiri. Aku minta kamu kembali ke negara A secepatnya!".
Mendengar penuturan papi aku tak punya bantahan sama sekali, karena itu semua memang tanggung jawabku. Sebenarnya tanggung jawab papi, tapi sejak aku diangkat menjadi vice president Goucher Corp dua tahun lalu hampir semua hal diperusahaan aku yang menangani dibantu Jerry dan juga asisten kepercayaan papi, karena papi lebih banyak fokus membantu mami menjalankan pengobatan breast cancernya di negara SG.
"Lusa dari negara IND"
Mendengar jawaban papi, aku harus berangkat lusa ke negara A dari negara IND itu sama artinya papi tak ingin aku membawa Lia.
"Kenapa? kamu keberatan?" tanya papi tak puas melihat ekspresiku yang jadi makin dingin.
"Tidak" jawabku singkat.
"Aku bukan bermaksud melarang mu membawa wanita itu, tapi kamu disana harus fokus. kali ini masalahnya tidak akan bisa dibantu lagi oleh wanita itu, bahkan bisa jadi dia tidak paham sama sekali dengan urusan bisnis perusahaan kita. Papi hanya takut keberadaannya akan membuat mu tidak fokus. Lagi pula papi dengar dari mami wanita itu masih kuliah dan sebentar lagi ujian akhir semester. Jika kamu membawanya terus bukan kah itu akan membuat nilainya semester ini buruk?"
Mendengar penuturan papi kali ini, aku lagi-lagi tak memiliki bantahan karena semuanya benar dan juga menjadi pertimbanganku.
"Baik, aku paham"
"Kalau begitu kamu kembali lah sibukan diri mu sendiri. Papi ada urusan lain".
Aku hanya mengangguk dan berjalan berniat mencari Lia, tapi saat aku sudah melihat keberadaan Lia, ada seseorang kolega menyapa ku dan mengajak ku berbincang soal perkembangan kerja sama kami. Namun saat ini aku mulai tak bisa fokus berbincang ketika ku lihat Shella membawa seorang pria untuk dikenalkan pada Lia. Setelah beberapa saat mereka yang tadinya bertiga kini tinggal Lia dan pria itu saja berbincang begitu akrab, bahkan pria itu terlihat bahagia, dia tertawa begitu lepas saat berbincang dengan Lia. 'Dasar wanita lenjeh, baru ditinggal sebentar sudah akrab dengan pria yang baru dikenalnya...huuuffft' Aku terus menggerutu dalam hati.
__ADS_1
Hatiku sudah di bakar api cemburu, aku tak lagi menghiraukan kolega bisnisku. Aku langsung pamit dan berjalan menuju Lia dan pria itu.
Siapa sangka belum juga aku sampai di depan mereka si pria pergi meninggalkan Lia, membuatku mengerutkan alis karena sebelum pergi pria itu menatapku dengan wajah ketakutan. 'Apa dia tau aku suaminya Lia makanya dia langsung pergi begitu melihatku mendekati mereka?' Sepertinya ada yang aneh?. Kini amarah ku sedikit ku tekan karena ada keganjilan yang terasa oleh ku atas kejadian yang terlihat oleh mataku barusan.
Jadi saat aku sampai di depan Lia, aku tak bisa langsung marah-marah karena kini dia sendirian, Tapi belum juga aku berkata sepatah kata pun. Lia malah bergegas akan pergi meninggalkan ku. 'Ehh...apa dia masih marah padaku?' ini Shella jangan-jangan dia tidak memberi tahu Lia kalau aku dipanggil papi tadi, Dasar anak kecil ini, sepertinya dia sengaja mengerjai ku. Awas saja jika benar.
"Mau kemana?" tanyaku saat melihat Lia yang akan pergi menjauhi ku.
"Memang kau masih peduli?".
'Wanita ini bisa-bisa dia nanya kaya gini...ckckckck' bathinku saat mendengar pertanyaan Lia.
"Kamu istriku bagaimana mungkin aku tidak perduli" Sahutku diikuti tarikan nafas panjang menahan kesal pada wanita yang berdiri di depan ku.
"Istri? owh iya aku hampir saja lupa kalau aku punya suami" Mendengar ucapan Lia yang begitu santai dan cuek membuat wajah hatiku makin kesal.
'Wanita ini benar-benar sedang menguji kesabaran ku' gerutuku dalam hati.
"Jadi begitu, pantas saja asik sekali tertawa dan mengobrol dengan pria lain" Sahutku nyolot saat mendengar jawaban Lia.
"Apa yang salah dengan bersikap ramah dengan teman yang Shella perkenalkan, nanti kalau aku jutek dibilang sombong lagi?" jawab Lia santai dan acuh tak acuh.
'Sepertinya benar semua ini rencana Shella mengerjaiku, anak kecil ini jika tidak membuatku susah saat bertemu nampaknya dia tak akan bahagia'. aku jadi sibuk dengan pikiran ku sendiri saat mendengar penuturan Lia.
"Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi lepaskan tangan mu, aku lapar mau cari makan" Mendengar ucapan Lia menyadarkan ku dari lamunan.
Aku pun membawanya ke stand makanan dan melihatnya memilih makanan. 'Istriku ini tubuhnya kecil tapi kalau sudah melihat makanan yang dia suka jika belum penuh piringnya dia belum akan puas'.
Melihatnya berjalan kesana kemari memilih makanan dengan mata berbinar bahagia membuatku tanpa sadar tersenyum, rasa kesal, jengkel dan amarah ku pada wanita mungil ini menguap begitu saja.
Lalu kami duduk di ujung ruangan kebetulan ada kursi kosong. Lia menyantap makanannya dan sesekali menyuapi ku agar aku menyicipi makanan yang dia ambil, suasana yang tegang diantara kami pun mencair begitu saja. Cinta memang ajaib.
Tapi bukan berarti aku melupakan permasalahan pria tadi. Aku tetap menanyakan pada Lia prihal pria yang dikenalkan Shella pada Lia yang ternyata bernama Dion. Dari cerita Lia dan gerak gerik si pria saat pergi meninggalkan Lia aku semakin yakin Shella sengaja melakukannya ingin membuatku cemburu dan bertengakar dengan Lia. 'Dasar bocah ini, liat saja nanti pembalasanku'
Akhirnya aku yang mengalah dan meminta maaf pada Lia, karena semua memang berawal dari tingkah ku sendiri.
"Aku minta maaf ya, aku tidak bermaksud meninggalkan mu sendirian tadi. Dasar Shella rese ku minta menemani mu malah menyodorkan pria untuk menemani mu...huffft" Gerutu ku di sela-sela minta maaf pada Lia.
Mendengar pernyataan ku membuat Lia bingung. Aku pun menceritakan semuanya pada Lia kecuali soal masalah perusahan dan kepulangan ku ke negara A aku belum menceritakannya pada Lia, karena ku pikir sekarang bukan saat yang tepat.
__ADS_1