
'Brak' suara pintu ruangan kerja Lia terbuka membuat Rose dan Denis menengok ke arah pintu.
"Designer Lia, kamu kenapa?" tanya Rose dan Denis bersamaan.
"Ehh...kalian berdua ada di sini?" Lia terkejut karena dia pikir tidak ada orang dalam ruangannya.
"Iya kita berdua sengaja nunggu designer Lia disini takutnya designer Lia keburu pulang" sahut Rose cepat takut Lia salah paham.
"Memangnya ada apa?" tanya Lia sambil merapikan barang-barangnya bersiap pulang dan mengirim pesan pada Deni untuk menjemputnya di lobby agar cepat karena waktu sudah mepet untuk kembali ke kampus.
"Tadi nyonya presdir kesini" mendengarnya dahi Lia berkerut hingga alisnya terlihat menyatu. 'Istri presdir YZ Collection itu bukannya aku ya?' bathin Lia.
"Istri Presdir?" Lia mengulangi ucapan Denis. "Iya istri bos besar, presdir Goucher Corp" sahut Rose menjelaskan.
'Owh ternyata maksud mereka mami toh' gumam Lia dalam hati lega, dia pikir tadi ada wanita lain yang punya status istri Ferry.
"Lanjutkan" ucap Lia ingin mereka cepat menyampaikan pesannya agar dia cepat bisa kembali ke kampus.
"Nyonya presdir datang ke sini mencari mu, beliau ingin minta dibuatkan gaun oleh mu karena designer Lia tidak disini jadi tadi mba Cesil datang nemuin kita buat menyampaikan pesan ke designer Lia kalau besok pagi harus datang pukul 7.30 untuk bertemu dengan nyonya presdir" jelas Denis.
"Oke, ada lagi?" tanya Lia sudah mengenakan tas ranselnya.
"Tidak ada lagi" sahut Rose dan Denis bersamaan.
"Masukan nomer ponsel kalian" Lia memberikan ponselnya ke Rose. "Aku butuh kalian mengambil bahan, nanti aku akan kirim chat bahan apa saja yang aku perlukan besok pagi semua bahan harus sudah ada di ruangan ku" ujar Lia lalu mengambil ponselnya dari tangan Denis.
"oke" sahut Rose dan Denis bersamaan lagi.
"Kalian kompak sekali, bagus lah. Aku pulang dulu sampai ketemu besok pagi" ucap Lia sambil berjalan terburu-buru menuju lift tapi sial saat dia mengambil ponselnya dari dalam tas dia menabrak seseorang.
"Maaf aku nggak sengaja" ucap Lia sambil mengambil ponselnya yang terus bergetar.
"Kalau jalan pakai mata dong" teriak seorang wanita nyolot saat melihat yang menabrak dirinya Lia.
'Ternyata si Merry pantes aja nyolot banget, lagi terburu-buru gini ada aja yang ngajakin ribut' gumam Lia dalam hati.
"Ehh...kan aku sudah minta maaf, koq masih nyolot sih?" sahut Lia sambil melihat nama yang tertera di layar ponselnya. 'Mami ada apa ya?' bathin Lia.
"Kamu pikir minta maaf aja cukup, lihat nih baju aku ketumpahan kopi" ucap Merry sambil menunjuk bajunya yang kotor terkena kopi.
"Aku benaran lagi buru-buru, gini aja deh sebagai permintaan maaf ku ke kamu aku beliin baju baru buat kamu gimana?" ucap Lia tidak sabaran.
__ADS_1
"Udah mba, tuh mau di ganti baju baru jangan di perpanjang lagi" ucap seorang karyawan yang lewat melihat pertengkaran ku dengan Merry.
"Kamu siapa? berani ikut campur urusan ku. Kamu tau nggak harga baju ku berapa? memangnya kamu mampu menggantikannya?" ucap Merry berapi-api mendengar ucapan orang yang menonton membela Lia.
"Ya saya mungkin tidak mampu, tapi mba itu siapa tau mampu. Lagian kerja aja pakai baju mahal-mahal mau pamer sama siapa?" sahut karyawan tadi agak nyolok membalas Merry membuat suasana jadi makin panas dan mengundang perhatian yang lalu lalang untuk kepo dan mendekat.
"Kamu.." Merry mulai geram karena karyawan rendahan ini terus ikut campur urusannya dengan Lia tapi ucapannya belum selesai Lia memotongnya.
"Sudah cepat sebutkan nominalnya aku transfer uangnya sekarang. Aku benar-benar harus pergi sekarang" ucap Lia mulai tak sabaran ditambah lagi mami terus menelphonnya.
"dua puluh lima ribu dollar" sahut Merry akhirnya mau tak mau karena melihat kerumunan makin ramai.
"Sebutkan nomer rekening mu" ucap Lia sambil membuka mobile bankingnya membuat Merry membulatkan matanya tak percaya Lia mampu membayarnya.
"Udah ya" Lia menunjukan bukti transfer dari ponselnya. "Sekarang aku permisi dulu" Lia langsung berlari ke lobby dimana Deni sudah menunggunya.
"Ayo Deni cepat, kuliah ku akan mulai dalam tiga pulung menit" ujar Lia membuat Deni melajukan mobil dengan kecepatan tinggi untung saja ini bukan jam macet jadi jalanan lengang.
Begitu duduk dalam mobil Lia menelphon mami karena dari tadi mami mertuanya menelphon terus.
"Hallo mi, maaf tadi Lia ada sedikit masalah jadi nggak bisa angkat telphon mami" Jelas Lia agar mami tak marah
"Kamu kena masalah apa Li?" tanya mami dengan nada khawatir
"Dasar itu si Merry biang rusuh banget..ngapain sih kamu ganti duitnya, kesenengan, padahal baju yang dia pake itu edisi bulan lalu harganya sekarang tidak sampe sepuluh ribu" geruru mami tak terima anak menantunya di bully.
"Udah sih mi, biarin aja dari pada ribut di kantor bikin malu banget" sahut Lia berusaha meredakan amarah mami.
"Hhmm...kamu itu besok-besok jangan mau di bully si Merry lagi" ucap Mami kesal.
"Siap nyonya presdir" goda Lia agar mami tidak kesal lagi.
"Kamu itu malah godain mami...mami ngambek ahh" ucap Mami pura-pura ngambek.
"Mami sama anak sama banget sih, hobby ngambek laporan dulu...ckckck" ledek Lia membuat mami tertawa.
"Jadi mami tadi telphon Lia ada apa nih?" tanya Lia menghentikan tawa mami.
"Mami tadi cuma mau bilang besok pagi jangan naik ke ruangan Ferry lagi atau mami marah low kalau sampai tidak bisa ketemu kamu lagi" ucap Mami dengan nada merajuk.
"Iya mi, maaf ya. Lia tadi beneran nggak tau rencana Ferry yang nyuruh direktur pemasaran bawa Lia ke ruangan Ferry buat nemenin makan siang" Lia menceriakan kejadian yang terjadi di ruangan Ferry membuat mami jadi kesal.
__ADS_1
"Huh, jadi kalian cuma makan siang doang. Mami sudah sengaja mengalah tidak mengganggu kalian agar bisa bikin debay koq malah cuma makan doang" goda mami dengan nada penuh penyesalan membuat Lia berteriak kaget.
"Mami, mesum banget sih. itu kan kantor...ckkck" Lia berdecak kesal.
"Di ruangan Ferry itu ada kamar khusus low buat Ferry istirahat kaya kamar hotel ada toiletnya juga buat mandi. Anak itu dulunya doyan banget kerja sampe bisa tidak pulang ke apartemen akhirnya di renovasi ruangan kerjanya jadi satu lantai cuma ruangan dia sama Jerry aja.
"Owh gitu, tapi tetep aja mami nggak boleh mesum gitu emang Lia mami" sahut Lia membalas ledekan mami mertuanya.
"Ehh...berani ya kamu ngeledek mami" ucap Mami dengan nada sok galak padahal mau ketawa ngebayangin kelakuannya sama papi waktu muda dulu.
"Nggak berani mi, tapi Lia yakin mami ngomong gitu pasti karena pernah ngelakuinnya kan?" goda Lia yang langsung membuat mami menutup telphonnya karna wajahnya sudah memerah karena memikirkan masa muda.
"Awas ya kamu.." ucap mami sebelum memutus sambungan telphon dengan Lia
'Hahahaha...pasti ucapan ku benar tuh' bathin Lia tertawa melihat tingkah mami kaya ABG kasmaran.
'Kirim chat godain mami ahh' Jiwa usil Lia meronta-ronta buat ngusilin mami mertuanya tapi Lia mengurungkan niat usilnya.
Lia lebih memilih untuk membuat Group chat yang anggotanya Lia, Rose dan Denis agar jika dia butuh bantuan mereka berdua tidak ribet ngechat satu-satu. Di group itu Lia langsung megirim pesan kalau dia butuh contoh beberapa bahan dan beberapa warna tiap jenis bahannya besok pagi sudah harus ada di ruangan sebelum nyonya presdir sampai perusahaan.
Denis dan Rose saling tatap saat melihat mereka berdua masuk dalam group yang isinya cuma tiga orang dan Lia langsung mengirimi perintah pada mereka berdua yang langsung dijawab oke oleh keduanya.
"Gila banget ini designer Lia kerjanya efisien efektif banget" ujar Rose
"iya benar-benar beruntung kita jadi asistennya kita jadi bisa banyak belajar nih" sahut Denis
"Bukan cuma dapet pelajaran tapi juga dapet bonus bulan gede tiap bulan"
mendengar celotehan Rose meraka berdua tertawa bahagia. "Iya bener banget kamu Rose, baru sehari udah langsung dapet orderan.
"ya udah kita ke bestment sekarang yuk ambil bahan yang designer Lia mau" ajak Rose penuh semangat yang di setuju Denis. Mereka berdua pun meminta contoh bahan-bahan yang Lia mau dan meletakannya di ruangan Lia agar besok pagi tidak terrgesa-gesa mencarinya.
Akhirnya mobil yang dikendarai Deni tiba di kampus dalam dua puluh menit.
"Makasih Den" ucap Lia langsung keluar dari mobil dan berlari menuju ruang kelasnya.
"Hampir saja aku terlambat" ucap Lia terengah-engah saat berhasil sampai ruang kelas sebelum bel pelajaran mulai.
"Lia, cepat sini" panggil Jeni yang melihat Lia sedang berdiri di depan pintu mengatur nafas.
Lia pun seperti biasanya duduk di sebelah Jeni dan fokus belajar dengan baik dan benar tanpa banyak membuang waktu untuk mencari teman atau nongkrong-ngongkrong unfaedah yang cuma buang-buang waktu. Pikir Lia biar tidak terlalu banyak teman tapi mereka teman sejati yang slalu ada tidak hanya saat kita senang tapi juga saat kita terjatuh dan berduka.
__ADS_1
Jangan lupa like and komen, yang baik bagi votenya boleh juga...hehehee