
tok...tok...tok...tok
Kak Lia
Kak Ferry
Banguuuuujun
Suara ketokan pintu dan teriakan-teriakan para bocil di depan pintu benar-benar memekakan telinga, membuat aku dan Ferry terbangun. Rasa kami baru terlelap sebentar kenapa diluar sudab gaduh sekali.
"Kamu mau kemana?" tanya Ferry melihatku akan bangun.
"Buka pintu, memang kamu tidak dengar itu Bimo, Malika dan Aisyah teriak-teriak depan pintu" ujarku sedikit kesal.
"Kembali lah tidur kalau masih mengantuk biar aku yang buka pintunya" ucap Ferry lalu bangkit dari ranjang dan membuka pintu. "Baju kamu juga terlalu tipis dan terbuka mana mungkin aku membiarkan mu membuka pintu" gumam Ferry yang masih terdengar olehku, aku benar-benar lupa kalau semalam aku mengenakan baju tidur seksi karena kesal sama si bule yang ninggalin aku sendirian demi bakso, tapi kesal ku jada hilang larut dalam kuah bakso yang ku nikmati semalam.
Aku tidak kembali tidur melainkan duduk bersandar di tempat tidur. sampai bunyi ponselku berdering dengan nada khusus untuk Mira.
"Hallo Mir" sapa ku.
"Kamu nggak kuliah hari ini?" tanyanya dengan nada kesal.
"Kuliah lah, kenapa memang?" tanyaku heran.
"Kamu dimana sekarang?" tanya Mira dengan bingung.
"Masih dirumah" jawab ku santai.
"Lia Putri Agatha lihat jam!" teriak Mira membuat gendang telingaku agak sakit, akhirnya aku menjauhi ponselnya dari telingaku.
"Mira, kamu kesambet setan dimana sih?" tanyaku mulai kesal baru juga bangun udah diteriak-teriakin.
"Kamu lihat jam! sekarang itu jam 11.35 kuliah udah kelar lima menit lalu" ujar Mira dengan kesalnya.
"Astaga, aku kesiangan...aaaaggghhht" teriak ku begitu sadar kalau sekarang sudah siang.
"Kamu baru bangun tidur ya? memang si bule menyerangmu berapa ronde sampe jam segini baru bangun" ucap Mira dengan menggodaku.
"Aku baru tidur habis subuh, makan sekarang pun aku masih mengantuk sekali" ujarku sambil menguap.
__ADS_1
"Gila tuh bule dahsyat banget baru kelar abis subuh, mulai dari jam berapa itu....hahahahaa" tawa Mira meledek ku.
"Aku pinjam materi kuliah hari ini, kamu foto dan kirim padaku sekarang juga!" pintaku pada Mira.
"Hei nyonya Goucher kamu sedang meminjam dan meminta tolong low ini, tidak bisa kah menggunakan nada sedikit manis?" ucap Mira dengan intonasi ngambek
"Mira cantik, tolong foto materi kuliah hari ini ya lalu kirim ke nomer ku...lusa aku traktir kamu makan di gakina ramen oke" ujarku dengan nada lembut dan manis sekali membuat si bule yang mendengarnya mencubit hidupku.
"Nah, begitu baru benar. Akan aku foto sekarang...bye" ucap Mira kemudian memutus sambungan telpon
"Mama nanya kita mau ikut makan siang diluar nggak?" ucap Ferry begitu aku selesai bicara dengan Mira.
"Memang mereka mau kemana?" tanyaku bingung
"Tadi Bimo bilang sih hari ini mereka mau jenguk papa dirumah sakit, tapi sebelum itu mereka mau makan siang dulu di Mall Kamboja" jelas Ferry yang hanya ku jawab dengan o.
"Mau ikut tidak?" tanya Ferry lagi dan aku hanya menggelengkan kepala terus berbaring dan menarik selimut niat tidur lagi. Badanku rasanya capek banget.
"Ya sudah kamu tidur lah lagi, aku mandi dulu dan abis itu aku di bawah ya yank mau ambil laptop di mobil karena ada kerjaan yang harus aku urus" ujar Ferry lalu menuju kamar mandi.
Aku pun hanya diam mendengarkan ucapanya sambil memejamkan mata.
"Kalau kamu butuh apa-apa telphon aku, aku turun sekarang ya" pamit Ferry sambil mencium kening ku.
"hhhmmm" gumam Ferry saat aku tiba-tiba memanggilnya sambil menengok ke arahku. "Kamu butuh sesuatu?" tanya Ferry sambil berjalan mendekat pada ku.
Aku menggeleng, membuat si bule mengerutkan alisnya nampak bingung. Jangan kan dia aku juga bingung. "Kenapa juga tadi aku manggil dia?" bathinku.
"Sayang, kamu nggak demam kan?" ucap Ferry sambil menyentuh dahiku. "tidak panas, kamu kenapa?" tanya Ferry lagi. Aku kembali menggeleng.
"Kamu mau apa sayangku? ayo bilang jangan bikin aku bingung" ujar Ferry dengan wajah yang mulai bingung dan masam.
"a..aku...aku..." aduh kenapa sih dengan ku? gerutuku dalam hati. Sambil bangkit duduk di atas ranjang.
"Lia, kamu kenapa?" ucap Ferry memegang daguku agar menatapnya. "ayo bilang" ucapnya sambil menyatukan jidatnya dengan jidatku.
"Aku cuma mau minta peluk" sontak si bule auto ngakak begitu mendengar ucapaku.
"Tuh kan...pasti gitu diketawain" rajuk ku lalu kembali berbarik dengan menarik selimut menutupi seluruh tubuhku.
__ADS_1
"Maaf sayang, tapi kamu beneran lucu banget cuma minta peluk aja sampe bikin jantung ku deg-degan dan mikir macem-macem. "Udah dong jangan ngambek, katanya minta peluk" ujar Ferry sambil mengelus-elus punggungku agar mau membuka selimut.
"Kamu nggak ngerti aku tuh lagi sedih" ucapku dengan mata mulai berkaca-kaca saat membuka selimut dan duduk di depan Ferry.
"Heeehh...kenapa jadi nangis gini sih" Ferry langsung menarik ku masuk dalam pelukannya dan mengelus lenganku. "Udah dong jangan nangis" ujarnya mulai khawatir melihat tangisku malah makin menjadi.
"Kamu cerita, kamu kenapa? kalau kamu nangis gini aku nggak ngerti. Aku kan bukan cenanyang yang bisa baca isi hati mu" mendengar ucapannya yang nyeleneh membuatku mencubit perutnya.
"Auuuu...sakit sayang" ucap Ferry sambil mengelus perutnya yang ku cubit. "Sayang, kalau gemesh sama aku please jangan nyubit dong. asli sakit yank" keluh Ferry dengan wajah manyun, membuatku nggak tahan pengen nyium bibirnya yang lagi manyun. "
"Kenapa malah ngeliatin aku gitu, hah?" tanya Ferry belum sempat ku jawab malah si bule duluan yang ******* bibirku.
Ciumannya makin dalam membiusku mebuat suasana kamar menjadi panas penuh gairah tapi semua harus berakhir karena ketukan pintu kamar dan teriakan trio bocil di depan kamar.
Dengan wajah kesal Ferry pun bangkit dan membuka pintu, selagi dia buka pintu aku pun berlari ke kamar mandi untuk bersih-bersih dari pada nanti dimakan habis sama bule tengil itu.
Saat aku keluar dari kamar mandi, Ferry sudah tidak ada di kamar. Aku pun melangkahkan kaki ke walk-in closed memilih baju santai dengan bahu model sabrina dan hot pants tanpa make up dan rambut ku kuncir kuda lalu turun ke bawah Ku lihat Ferry sibuk dengan berkas dan laptopnya di mini bar.
"Sayang, kamu udah sarapan?" tanyaku sambil memeluk Ferry dari belakang karena semuanya nampak sudah pergi keluar dan meja makan kosong nggak ada apa-apa. Yang dijawab Ferry dengan gelengan.
"Mau makan apa biar aku bikinin?" tanya ku langsung membuat si bule menghentikan kerjanya dan memutar tubuhnya kearahku.
"Apapun yang kamu masak akan aku makan" ucapnya sambil menangkup ke dua pipiku dan mengecup bibirku membuat wajahku terasa panas.
"Sudah sering ku cium masih saja malu seperti ini" ujarnya sambil memeluku erat. Aku pun menenggelamkan wajahku dalam dada bidangnya.
"Kamu belum bilang low, kamu sedih kenapa tadi sampai nangis?" tanya Ferry membuatku makin malu ingat kejadian tadi.
"Sebenernya sepele, aku terancam dapet nilai B untuk mata kuliah pencampuran warna" ujarku dengan wajah murung.
"Kenapa bisa begitu?" karena aku sudah tiga kali tidak hadir pada mata kuliah ini, itu semua gara-gara kamu" ucap ku sambil memainkan jariku di dadanya Ferry.
"Koq jadi aku?" tanya Ferry bingung.
"Iya sebenernya yang dua bukan kamu sih, pertama waktu aku kena demam sehabis hujan-hujanan di puncak sama anak-anak pecinta alam, kedua karena mengurus papa di rumah sakit dan ketiga hari ini...huaahhaaaaaa" jelasku membuat Ferry ngerutkan alisnya.
"owh gitu, ya udah sih cuma nilai diatas kertas apa artinya, yang penting itu pengaplikasian ilmu pada kehidupan nyata...sudah tidak usah sedih lagi" ujar Ferry.
"Sekarang mending istriku bikin aku pasta untuk makan siang karena cacing di perutku mulai demo nih" pinta Ferry dengan wajah memelas yang dibuat-buat.
__ADS_1
"Baiklah tuan muda akan segera saya buatkan" ucapku yang langsung mendapat cubitan dihidungku.
Aku pun sibuk di dapur membuat pasta dan Ferry sibuk dengan pekerjaannya.