Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Singa Kelaparan


__ADS_3

Sesampainya di rumah baru mama, rumah sudah kosong, tinggal satpam saja yang masih setia menjaga posnya.


"Sore tuan muda" sapanya saat Ferry membuka jendela bagian sisinya.


"Mama sudah jalan pindahan pak?" tanya Ferry sebelum kami masuk lebih dalam ke halaman rumah.


"Sudah pak kurang lebih satu setengah jam lalu tuan" Jelas pak Umar sang satpam. Ferry hanya mengangguk dan kembali melajukan mobil masuk ke depan rumah.


"Sayang kita disini dulu ya bersih-bersih, nanti malam baru ke rumah mama. Sekarang kamu order makanan online, aku lapar sekali karena dua jam lagi aku ada agenda metting, ini Jerry barusan kirim email" pinta Jerry saat kami berada tepat depan teras rumah.


"Oke boss siap laksanakan" ucapku sambil mengedipkan salah satu mataku. Ferry lalu mengusel kepalaku dan berbisik, "Sebelum mandi kita lanjutkan yang ditempat parkir tadi yuuk" mendengar perkatanya bulu kuduku langsung meremang wajahku pun memanas. Aku langsung mendorong dada Ferry agar menjauhi ku dan aku secepatnya keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Sialnya bebas dari kandang macan masuk kandang singa. Ferry mengejarku begitu aku tertangkap pergulatan panas pun terjadi dari mulai ruang tamu sampai kamar. Aku benar-benar terkapar tak berdaya dibuatnya. Hari ini dia benar-benar memakan ku sampai ke sumsun tulangku.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Ferry santai tak terlihat rasa lelah sambil tangannya berselancar diatas ponsel.


"apa aja yank, sekarang aku mau tidur dulu" ucapku yang tak lama langsung terlelap.


#POV Ferry#


Pagi ini aku berniat membalas kebaikan Lia semalam dengan membuat sarapan sederhana kesukaan ku Mie goreng seafood. Begitu bangun aku langsung ke minimarket di lantai basement untuk membeli perlengkapan membuat mie goreng seafood. Dan berkutat di dapur sampai tiba-tiba ku rasakan kehadiran Lia. Dia hanya memandangiku tanpa kedip terlihat terpesona sekali melihatku bisa masak, dan aku pun menggodanya yang membuatku mendapat hadiah pukulan manja dari istriku.


Aku meminta Lia menunggu di meja makan walaupun dia menggerutu tapi tetap saja menuruti permintaan ku dan duduk manis di meja makan sampai aku menyajikan mie goreng seafood diatas meja dan juga dua buah piring dan dua tidak lupa dua botol air mineral dingin.


Lia terus saja menatapku membuatku ingin memakannya pagi ini, tapi sayang mama hari ini pindah rumah jika aku melakukannya pasti kesiangan sampe rumah mama. Jadi simpan dalam-dalam hasratku sambil melanjutkan makan.


Namun siapa sangka saat aku memberi tau Lia soal mamanya dan Bimo yang hari ini pindah ke rumah lama mereka Lia malah memeluk ku membuat hasrat yang tadi ku tekan bangkit lagi tanpa bisa ku tahan. Pergulatan panjang penuh hasrat saling memuaskan akhirnya terjadi membuatku malas untuk beranjak dari ranjang karena memang aku baru terlelap 2 jam. Akhirnya aku pun tertidur pulas, sampai Lia membangunkan ku pukul 11.05.


"Sial sudah siang sekali" bathinku sambil bergegas mandi dan bersiap agar tidak terlalu kesiangan ke rumah mama siapa sangka baru juga masuk mobil Lia malah minta di antar ke rumah sakit. "Gadis ini benar-benar merusak moodku yang sedang indah saja" gerutuku dalam hati.


Dia sih berusah keras yakinkan ku bahwa tujuannya ke rumah sakit bukan untuk menemui Rendy tapi tetap saja dia pasti akan kesana walaupun Mira yang dijadikan alasan. Hatiku rasanya ada sembilu menggores perih, kesal karena wanita yang sangat ku cintai masih saja terus mengkhawatirkan pria lain.


Sepanjang perjalanan kami hanya diam, aku kesal sekali tiap membayangkan laki-laki brengsek itu sudah memeluk dan mencium istriku. Rasanya ini ku beri bogem mentah lagi pada wajahnya biar hancur sekalian. "Aaggghhh..." aku mengeratkan genggaman tanganku pada stir sampai ponsel Lia berdering ada panggilan telphon masuk, aku sudah hampir meledak jika yang telphon itu si Rendy tapi syukurlah ternyata Mira yang menelphon.


Mereka berdua asik mengobrol dan aku asik mencuri dengar sambil tetap fokus menyetir tentu saja. Betapa bahagia hatiku saat mendengar Lia berkata pada Mira "Seberapa tampan pun Rendy tak akan mampu menggoyah cintaku pada suamiku". Hatiku langsung berbunga-bunga mendengarnya dan segurat senyum mencuat dibibirku tapi buru-buru aku kembali pada mood kesal dan dinginku. "Memangnya aku semurah itu baru digombalin gitu langsung bersikap manis kembali tidak bisa Esmeralda" gumamku dalam hati sambil kembali fokus menyetir.

__ADS_1


Sesampainya di perkiran rumah sakit, biar pun aku marah dan kesal aku tetap tidak bisa mengabaikan wanita satu ini. Aku pun tetap membuka pintu mobil dan safetybelt untuknya dan membiarkannya bergelayut manja dilenganku.


Aku pun luluh saat melihat air mata gadis itu mulai berjatuhan saat menatap papa yang tebaring tak sadarkan diri. Akhirnya wajah masam pun hilang seketika dari wajahku, berusaha memberinya kekuatan dan keyakinan bahwa papa pasti akan segera pulih kita hanya perlu bersabar dan terus merawatnya dengan baik.


Setengah jam lebih kami di kamar papa, sampai akhirnya aku terpaksa mengingatkan Lia tujuan kami masih banyak hari ini jika berlama-lama disini kami tidak akan sempat mengantar mama pindahan, belum lagi harus menjenguk cecunguk satu itu. Hatiku kembali meradang dan wajah masam ku langsung keluar diikuti aura dingin yang semakin menjadi saat kami makin dekat dengan kamar si brengsek Rendy.


Tapi siapa sangka Lia malah melakukan hal diluar dugaanku. Dia yang biasa malu-malu tiba-tiba saja melingkarkan tangannya dileherku tepat di depan pintu kamar Rendy dan menciumi bibirku awalnya aku jual mahal tak membalas ciumannya karena aku mau lihat sampai mana usaha gadisku ini membuatku lupa dengan rasa cemburuku. sampai akhirnya aku gk tahan juga lama-lama diem aja diciumin Lia, aku pun ******* habis bibir mungil nan memabukan ku itu sampai nafas kami hampir habis baru lah bibir Lia ku lepaskan dan kami pun masuk ke dalam kamar rawat Rendy.


Sialnya si cecunguk bukan makasih udah ku jenguk dia malah bicara berapi-api menunjukan ketidak senangannya akan kehadiran ku untung saja jawaban Lia sangat memuaskan hatiku, jadi tidak membuatku mengeluarkan bogem mentah pada Rendy lagi.


Tapi betapa sakit hati ku saat tau ternyata tujuan Rendy kembali untuk melamar Lia. "Katanya mereka tidak pernah ada hubungan apa-apa tapi kenapa si Rendy malah berniat melamar Lia? Aaaggghhh" emosiku sudah akan meledak kalau saja aku tidak ingat yang sedang ku hadapi seorang pesakitan tak berdaya sudah habis dia kena bogem mentah ku mungkin bukan hanya patah tulang kaki dan tangannya yang dalam beberapa hari sembuh tapi akan masuk ICU tak sadarkan diri.


Akhirnya agar aku tak makin emosi, aku pun mengajak Lia untuk pergi dari sana syukurnya Lia langsung setuju untuk pergi dan kami pun melangkah menuju parkiran dalam diam. Namun betapa sial hidupku hari ini, saat kami tiba di lobby ada seorang wanita paruh baya menyapa Lia dan mereka terlihat saling mengenal dan sangat akrab ternyata wanita itu mama dari si cecunguk. Melihat betapa baik hubungan mereka berdua bahkan Lia memanggilnya mama, hatiku terasa perih dan amarah makin bergemuruh. Aura dingin tak bersahabat sudah terpancar disekujur tubuhku saat Lia memperkenalkan aku sebagai suaminya si wanita paruh baya itu malah mengatakan kalau dia berharap Lia jadi menantunya. ibu dan anak benar-benar menguras emosiku, aku terus mengepal tanganku sampai memutih.


Aku pun mengajak Lia pergi dari sana karena aku sudah tidak tahan melihat betapa manis hubungan mereka.


Seperti biasa saat sampai diparkiran aku akan membukan pintu untuk Lia memakaikan safetybelt baru duduk di depan kemudi.


Siapa sangka tiba-tiba Lia kembali membuka safetybeltnya dan mendorong kursiku ke belakang sambil melepas CDnya dan naik keatas pangkuanku. "Gadis ini benar-benar gila demi meredakan amarahku dia bisa-bisanya jadi makin binal begini tapi aku suka". Hatiku berbunga-bunga menerima cumbuan demi cumbuan dari Lia membuat singa jantanku bangun dan minta haknya. Dengan cepat semuanya kulakukan kan karena kami melakukannya disiang bolong, benar-benar gila tapi sensasional. Usai sesi bercinta kilat nan menguras jantung amarahku benar-benar padam dan terus saja ingin tersenyum.


Jadi lah aku mengajak Lia untuk bersih-bersih dulu padahal itu hanya modus ku saja agar bisa bercinta dengan Lia karena si singa kelaparan.


Siapa sangka usai sesi bercinta yang sangat memuaskan dahaga ku membuat Lia langsung terkapar tak berdaya. Aku pun membersihkan intinya dengan air hangat agar nyaman karena aku tadi menggempurnya berkali-kali. Baru setelah itu aku menyelimutinya agar tidurnya makin nyaman. Kemudian aku mandi dan bersih-bersih, lalu keluar memastikan kalau makanan yang aku order online sudah tiba.


"Pak Umar saya order makanan apa sudah sampai?" tanyaku pada pak Umar lewat intercom yang tersambung dengan line di pos satpam.


"Belum tuan, mungkin sebentar lagi" jawab pak Umar


"Owh baiklaah kalau nanti sudah datang tolong antar ke dalam ya pak" pintaku pada pak Umar


"Siap tuan" jawabnya langsung dengan sigap.


Aku kembali ke kamar dan ku lihat Lia masih dengan posisi yang sama tidur sangat pulas seperti bayi menggemaskan sekali.

__ADS_1


Tapi aku tak bisa lama-lama memandanginya karena sebentar lagi harus metting. Aku pun mengambil laptop dan juga beberapa berkas yang ada dilaci samping tempat tidur dan membawanya keluar kamar dan menyalakannya diatas meja makan, biar nanti bisa sambil makan saat metting karena perutku lapar sekali.


Ting tong....bunyi bel rumah yang aku yakin itu pak Umar, aku pun langsung memencet tombol intercom dan meminta pak Umar untuk langsung masuk.


"Ini tuan makanannya" ujar pak umar sambil menyerahkan dua buah kantong plastik yang salah satu kantong berisi makanan untuk pak Umar dab satu kantong lagi untuk aku dan Lia.


"Makasih pak" ucapku sambil menyambut kantong kresek yang diberikan pak Umar.


"Kalau begitu saya kembali ke pos" ujar pak Umar.


"Tunggu pak, saya juga membelikan makan untuk pak Umar cuma saya tidak tau apa bapak akan suka atau tidak dengan makanan yang saya pesan" ucapku sambil memeriksa isi kantong kreseknya.


"Kalau saya pemakan segalanya tuan, tidak ada pantangan dalam makan semuanya saya sikat habis selagi halal dan mengenyangkan...hehehe" jawab pak Umar sambil terkekeh


"Ini pak, td saya pesankan nasi dengan beef lada hitam dan sayur capcay seafood. Bapak bisa makan dengan tenang karena ini 100% halal" ujarku sambil memberikan kantong kresek kepada pak Umar.


"Alhamdulillah terima kasih banyak tuan, semoga rezkinya makin berlimpah dan cepat punya momongan" Doa pak Umar saat menerima pemberianku. "Luar biasa sekali ekspresi orang ini padahal cuma ku belikan makanan seporsi dengan harga murah cuma 158.000, gimana kalau aku beliin yang harga satu juta" bathinku cukup terkejut melihat reaksi pak Umar.


"Aamiin" sahutku begitu pak Umar selesai mendoakan ku. Dia pun kembali ke pos dengan wajah sumbringah menenteng kresek berisi seporsi nasi beef lada hitam dengan capcay seafood.


Masih ada waktu sepuluh menit sebelum rapat di mulai. Aku pun memakan makanan ku di depan laptop yang sudah stanby dan masuk dalam link yang diberikan Ferry hanya mic dan video belum ku nyalakan.


Telphon ku bergetar nama Jerry yang muncul, langsung ku geser icon hijau ke atas dan ku tekan speaker agar aku tidak perlu memegang ponselnya jadi bisa tetap lanjut makan.


"Tuan Muda, rapat akan segera dimulai" ucap Jerry padaku


"Aku sudah tau, kamu memang tidak lihat aku sudah masuk dan on" ucapku kesal.


"Lihat Tuan Muda tapi mic dan videonya belum tuan muda nyalakan jadi saya pikir tuan mudah belum standby" ujarnya lagi.


"Bawel sekali, aku sedang makan itu sebabnya tidak ku aktifkan semuanya. kamu mulai saja rapatnya kila memang sudah waktunya. Video dan mic akan aku aktifkan ketika selesai makan" jelasku pada Jerry.


"Baik mengerti" jawab Jerry yang langsung ku matikan sambungan telphonnya.

__ADS_1


Aku langsung memasang earphone bluethoot ditelinga ku dan lanjut memakan makan siang siang yang kesorean sambil mendengarkan laporan bagian pemasaran memaparkan tentang strategi dan konsep pakaian yang akan digunakan untuk musim panas tahun ini. baru setelah itu melihat para designer memamerkan hasil karya mereka agar aku pilih untuk digunakan pada musim panas nanti. dan baru lah bagian keuangan akan menghitung dan melaporkan biaya produksi tiap baju dan untuk biaya promosi. Sampai metting break menunggu aku memilih dan bagian keuangan menghitung pengeluaran jam sudah menunjukan pukul 20.10 Lia tak juga kelihatan batang hidungnya. akhirnya aku masuk ke kamar untuk melihat kondisinya, dan Lia masih asik tidur dengan memeluk guling.


__ADS_2