
"Pagi Designer Lia?" sapa Rose yang melihat Lia sedang berjalan masuk ke lobby perusahaan.
"Pagi juga, apa bahan yang kemarin aku minta sudah kalian siapkan?"
"Tentu saja sudah, kami langsung mengambilnya setelah kamu memberi peritah"
"Aku jadi berasa seperti bos mendengar ucapan mu?" ujar Lia sambil senyum menggoda Rose
"Hehehe...kamu memang bos kami berdua kan" sahut Rose sambil menggaruk kepalanya yang langsung membuat Lia tertawa melihat tingkah konyol.
"Sudah ayo kita cepat absen jika terlambat nanti gaji mu akan dipotong" mendengar ucapan Lia, Rose baru sadar kalau dia harus cepat karena tinggal lima menit lagi akan terlambat.
"Kalau gitu aku duluan" Rose berlari mengejar Lift yang masih terbuka agar bisa sampai di department design sebelum pukul 7.30
Lia tertawa melihat tingkah Rose, untung saja dia kerja di YZ Collection tanpa ikat jam kerja kalau tidak tiap hari dia akan berlarian seperti yang Rose lakukan.
Saat Lia sedang meneliti bahan-bahan yang dia minta sang Mami mertua muncul di ruangannya di antar Denis.
"Maaf Designer Lia, ini nyonya Presdir yang kemarin ingin di buatkan gaun" jelas Denis penuh hormat.
"Hallo nyonya presdir, saya Lia senang bertemu dengan anda" ujar Lia tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya yang di sambut mami dengan acuh tak acuh.
"Ternyata designer Lia cantik juga, ayo cepat buatkan aku gaun" ucap Mami dengan nada sebel karena Lia bersikap tidak kenal padanya.
"Baik, silahkan nyonya presdir duduk dulu lalu kita diskusikan design gaun yang nyonya ingin kan" ajak Lia ramah dan penuh hormat membuat mami makin jengkel.
"Aku haus, tidak adakah yang akan mengambilkan ku minum" ucap mami setelah duduk.
"Denis maaf aku merepotkan mu, boleh buatkan teh untuk nyonya presdir" mendengar perintah Lia, Denis langsung keluar dari ruangan, menuju pantry.
Begitu Denis pergi, mami langsung menyentil jidat Lia. "Berani bersikap tidak mengenal mami dan menjaga jarak begitu" gerutu mami dengan wajah kesal.
"Mami jangan marah dong, kita kan sudah sepakat. Lia cuma karyawan disini bukan menantu mami, sebagai imbalannya Lia besok malam Lia buatin mami makan malam masakan Lia, gimana?"
"Tidak bisa, lusa mami harus ke Negara SG" sahut mami acuh tak acuh
"Ya sudah pas mami sudah pulang bagaimana?" ucap Lia manja di lengan mami.
"Kamu itu..." belum selesai mami bicara Denis masuk membuka pintu, Lia dengan cepat melepaskan pegangannya dari lengan mami.
"Huh" mami membuang nafas kasarnya tak mengerti kenapa menantunya ini begitu kekeh tak ingin statusnya diketahui orang.
"Jadi gaun seperti apa yang nyonya presdir inginkan?" Lia mencatat semua detail model gaun yang mami inginkan dan meminta Rose dan Denis membantu mami memilih warna untuk gaunnya dari bahan-bahan yang akan Lia gunakan untuk gaun mami serta melakukan pengukuran badan pada mami sementara Lia masih menggambar design sesuai dengan keinginan mami.
__ADS_1
Tak terasa hampir dua jam Lia bersama mami diruangannya akhirnya design gaun untuk mami selesai Lia buat.
"Nyonya presdir bagaimana? apa anda suka model gaun ini? apa sudah sesuai dengan yang anda maksud?" tanya Lia beruntun membuat alis mami mengerut dalam.
"Kamu bertanya apa mengintrogasi ku?" ucap mami ketus.
"Hehehehe....maaf nyonya presdir saya terlalu bersemangat" ucap Lia malu.
"Ini lengannya jangan model terbuka seperti ini, rasanya terlalu anak muda" ucap mami saat melihat hasil design.
"Nyonya presdir masih cantik dan terlihat masih sangat muda dari usianya, aku rasa model lengan seperti ini sangat cantik jika anda yang mengenakannya. Lagian ini tidak terlalu terbuka, ini ada tali selebar tiga cm dan juga bukaan lengan sabrina ini hanya beberapa cm untuk memberi kesan girlly sesuai dengan kepribadian nyonya presdir yang mempesona".
"Aduh, Designer Lia kenapa mulut mu manis sekali. Kalau begitu aku ikut saja dengan ide mu. tapi Awas kalau aku tidak jadi makin cantik karena gaun buatan mu" ancam mami lalu pergi meninggalkan ruangan Lia membuat Denis dan Rosi bernafas lega.
"Kalian kenapa?" tanya Lia melihat Rosi dan Denis membuang nafas berat begitu mami pergi
"Itu, ternyata nyonya presdir begitu sulit dilayani"
"Iya hampir dua jam mendesign baru sesuai dengan keinginanya"
mendengar komentar mereka berdua Lia hanya tersenyum manis sambil bergumam. 'Dia begitu karena kesal pada ku, aslinya orangnya sangat lembut dan penyayang'
"Design Lia kamu bicara apa?" tanya Denis yang samar-samar mendengar Lia bicara
"Aku menggunting saja, aku takutnya tidak membuat pola dengan benar" gumam Rose malu-malu sambil memainkan jari telunjuknya.
"Bukannya kalau tidak bisa justru harus rajin melakukan latihan agar jadi bisa" gumam Lia yang masih terdengar keduanya.
"Tapi ya sudah lah kalau begitu Denis kamu bantu aku buat pola" ujar Lia membuat Denis tak bisa menolak.
"Kamu kenapa Denis apa tidak bisa membuat pola juga?" tanya Lia ketika melihat raut wajah Denis masam.
"Bukan...bukan tidak bisa tapi aku juga punya kecemasan yang sama dengan Rose, biar bagaimana pun juga gaun ini untuk nyonya presdir"
"Hhhmm...jadi karena ini kalian berdua takut-takut mengerjakannya?"
"Iya" sahut keduanya bersamaan sambil manggut-manggut.
"Sekarang kalian berdua sama-sama buat pola berdasarkan ukuran tadi, aku beli waktu satu jam sudah harus jadi"
Mereka berdua langsung panik keluar dari ruangan Lia dan pergi membuat pola.
Lia mengeluarkan ponselnya mencari catatan ukuran tubuh mami yang sempat dia ukur waktu mami ke apartemen. Lia berencana membuat pola dengan skala 1:50 agar nanti saat Denis dan Rose selesai membuat pola dia bisa mudah memilih pola siapa yang paling sesuai.
__ADS_1
Kring...kriiing...kriiing
Bunyi telphon di meja kerja Lia. 'Ehh, siapa yang telphon kesini?' bathin Lia.
"Lia disini, ada yang bisa dibantu?" sapa Lia saat mengangkat telphon.
"Sayang kamu kenapa jadi seperti customer service gitu?" tanya Ferry mengawali pembicaraan.
"Ehh...suami, kenapa kamu bisa telphon kesini?" bukanya menjawab pertanyaan Ferry, Lia malah balik bertanya. 'Kebiasaan' bathin Ferry sambil menghembuskan nafas beratnya. Lia yang mendengarnya tau bahwa sang suami sedang menahan amarah tapi Lia tidak tau kalau yang bikin kesel dirinya sendiri.
"Kamu lihat lah ponselnya berapa kali aku menelphonnya tapi tak juga kamu gubris" ujar Ferry sudah pasrah.
"Maaf suam, tadi mami disini hampir dua jam. Jadi aku benar-benar tidak punya kesempatan untuk memegang ponsel" Lia berusaha menjelaskan agar Ferry tidak marah dan ngambek pada Lia.
"Memang sekarang mami masih disana?" tanya Ferry lagi
"Sudah tidak, tapi aku sedang sibuk membuat pola gaun untuk mami, gaun ini mau mami pakai untuk acara ulang tahun perusahaan yang tinggal lima minggu lagi" ujar Lia meminta pengertian Ferry kalau nanti dia agak sibuk saat di kantor.
"Gaun untuk mami? gaun untuk mu sendiri apa sudah punya?" tanya Ferry meledek Lia karena mikirin orang lain diri sendiri tidak dipikirkan.
"Hehehehe....kan ada suami ku yang akan selalu menyiapkan semuanya untuk ku" Mendengar jawaban Lia bukannya kesel Ferry malah tersenyum bahagia karena wanita yang dicintainya bergantung padanya.
"Iya aku akan siapkan" sahut Ferry dengan nada seperti orang terpaksa yang dibuat-buat.
"Sepertinya tuan muda Goucher tidak ikhlas, sudah biar nanti aku beli sendiri gaunnya tapi tetap pakai uang mu...hahahaha" Lia meledek Ferry membuat keduanya tertawa.
Di dalam mobil Jerry yang mendengar sang tuan muda kulkas dua pintu tiba-tiba tertawa langsung spontan meledek "Anda baik-baik saja kan tuan muda?" Ferry tidak menghiraukan pertanyaan Jerry.
"Udah ahh,,fokus. Suami ku telphon ada perlu apa?" Lia kembali ke inti pembicaraan.
"Memang aku telphon istri sendiri hanya jika ada perlu?"
"Ehh...bukan begitu,,sudah lah terserah" Lia mulai pasrah dia sudah tak tau lagi mau ngomong apa agar Ferry bicara alasan dia menelphon, karena jika hanya kangen dia tidak akan sampai tidak sabaran menelphonnya terus menerus.
"Hhehee...aku telphon karena mau bilang malam ini aku pulang agak telat karena ada undangan perjamuan keluarga Muncen, kamu mau ikut tidak?" Ferry yang sudah tau akan di tolak tetap bertanya pada Lia, namun saat Ferry mendengar penolakan Lia secara langsung rasanya ada perih yang membuat dada Ferry tak nyaman sampai membuatnya mengepal kuat genggamannya.
"Oke hati-hati di jalan, kamu pergilah sendiri agak tidak nyaman aku ikut dengan status karyawan mu" sahut Lia santai, dia tidak tau wajah sang suami sudah berubah muram membuat kedua orang yang duduk di kursi depan tak berani banyak tingkah.
"Ya sudah aku tutup telphonnya" ucap Ferry lalu langsung memutus sambungan telphon
'Koq terdengar marah sih' bathin Lia tapi akhirnya Lia memilih tak ambil pusing karena karena yang harus dia urus banyak.
Ditunggu Like, komen sama jadiin favorite ya biar kalian nggak ketinggalan lanjutan ceritanya. Yang baik hati mau bagi vote dan hadiah boleh banget ya...heheheheš¤
__ADS_1