
"Maaf tuan, di luar ada nona Mira datang mencari nyonya. Apakah diizinkan....?"
"Suruh masuk, lain kali kalau nona Mira yang datang langsung izin kan masuk tidak perlu ditahan diluar"
Lia langsung memotong ucapan si pelayan. Dan saat pelayan itu hendak pergi dari ruang makan Ferry menahannya.
"Tunggu dulu, bukan kah aku sudah memberi data orang-orang yang diizinkan masuk ke dalam rumah ini?"
"Sudah tuan, maaf saya salah"
"Lain kali jangan diulangi" ucap Ferry sambil mengibas tangannya menyuruh si pelayan pergi.
"Morning.." sapa Mira begitu sampai ruang makan.
"Kamu sudah sarapan?" tanyaku saat melihat wajah Mira yang minta banget ditawarin makan.
"Sebenarnya sudah, tapi kalau liat makanan lezat ini mana bisa aku menolaknya" Mira langsung mengambil piring dan ikut sarapan.
"Kenapa tiba-tiba rumah mu jadi ramai begini?" tanya Mira dengan bodohnya.
"Ulah siapa lagi kalau bukan. Hhm"Lia menunjukan Ferry dengan dagunya.
"Hahaha...tuan Goucher anda benar-benar suami idaman, mau ninggalin istri pengasuhnya lengkap banget"
Mira langsung tertawa saat melihat ekspresi ku yang kesal dengan aturan baru si bule.
Mendengar ledekan Mira, Ferry langsung menatapnya tajam seperti elang akan memakan mangsanya.
"Maaf ... maaf aku salah bicara,, aturan tuan muda Goucher tentu yang terbaik. Iya kan Lia?"
"Jangan bawa-bawa aku kamu urus saja sendiri, siapa suruh menertawakan ku?"
Ucapku sambil tertawa dalam hati melihat Mira yang salah tingkah ditatap tajam Ferry.
"Itu...aku benar-benar minta maaf, mulut ku ini memang tidak ada remnya kalau bicara nyeplos aja" Mira memukuli mulutnya membuat ku tak tega sedangkan Ferry terus saja diam dan menatap Mira tanjam.
'Iiissshh...ini bule sadis bener dia mau bikin aku kehilangan satu-satunya sahabat apa..ck?' Lia mulai khawatir melihat Mira menganiaya dirinya sendiri agae mendapat maaf dari Ferry.
"Kamu selama aku tidak di sini, temani Lia dirumah ini. Biar istriku tidak kesepian. Mau tidak?"
Ucap Ferry membuat aku dan Mira saling pandang. 'Ehhh...ini si bule maksudnya apa lagi?' bathin Lia bingung dengan tujuan Ferry meminta Mira tinggal.
__ADS_1
"Tentu saja aku tidak keberatan, bisa makan enak gratis tiap hari ke kampus nggak perlu beli bensin...hahahaha"
"Bagus"
'Cuma bilang gitu doang? nggak ada bonus duit jajan gitu...ini bule pelit amat, gw disuruh jadi babysitter bininya masa nggak dapat bayaran'
'Tapi nggak apa-apa lah makan gratis udah mayan banget bisa berhemat banyak' Mira asik dengan pikirannya sendiri.
"Mira kami pelan-pelan makannya, kami naik keatas dulu" Aku pamit menemani Ferry yang sudah lebih dulu berdiri dan berjalan ke kamar.
"oke, have fun" goda Mira sambil mengedipkan matanya.
'Bocah satu ini otaknya mentok banget sih, untung dia sahabat ku kalau nggak udah ku buang ke laut biar dimakan hiu' bathin ku sambil tertawa senditi.
"Sayang, tunggu aku" teriak ku sambil menyusul Ferry.
"Koq ikut naik?" tanya Ferry saat melihat ku menyusulnya naik keatas.
"Kenapa kamu nggak suka aku ikut naik?" tanya ku dengan mimik sedih yang dibuat-buat dan nada manja.
"Suka,,,,suka sekali"
"Sayang..." Ferry menggendong ku ala bridal masuk ke dalam kamar. aku pikir dia akan mengajak ku bercinta ternyata tidak.
"Sayang, aku bakal kangen banget sama moment-moment gini nantinya" tiba-tiba suara Ferry terdengar lirih sambil mencumi puncak kepala ku dan memainkan rambut ku.
"Aku akan lebih kangen" ucap ku mendongkan wajah ku menatap mata biru suamiku.
"Kenap bisa begitu? kan cintaku lebih besar" jawab Ferry tak mau kalah.
"Karena tiap sudut kamar ini ada jejak mu...aku pasti akan jadi rindu banget nantinya" mendengar ucapan mu Ferry mengeratkan pelukannya.
"Maaf ya sayang, aku benar-benar tidak punya pilihan lain, kali ini jadi terpaksa meninggalkan mu disini" Ujar Ferry dengan nada putus asa.
"Iya nggak apa-apa yank, aku ngerti koq. Lagian cuma sebulan diluar sana yang LDRan lebih lama mereka bisa bertahan. Kita juga pasti bisa"
Aku berusaha tegar dan berdamai dengan takdir, karena di ratapi pun tidak akan membuat semuanya jadi lebih baik.
"Harus bisa, kamu jangan pernah berfikir untuk lari atau selingkuh dari ku. Mengerti?" Ferry mengucapkannya dengan nada tegas membuat bulu kuduk ku merinding.
"Kamu tuh yang punya potensi selingkuh, aku sih nggak" jawab ku santai sambil menjulurkan lidah ku menjilati dada Ferry yang dari tadi kancing kemejanya ku buka membuat si bule tertawa lepas kegelian.
__ADS_1
"Kamu...benar-benar cuma kamu yang bisa bikin aku tertawa saat dibantah"
"Sayang, aku mau kamu" ntah kenapa rasanya aku ingin dicumbu Ferry, aku sudah menggodanya berkali-kali tapi si bule tak bergeming.
"Ehh...serius? nanti kamu kelelahan kan harus ke kampus nanti sore"
"Tapi aku mau, please suami ku" aku memohon agar Ferry mencumbu ku tapi pria itu tak juga melakukannya.
"Kamu nggak usah aneh-aneh, aku nggak mau bikin kamu sakit. kamu bisa deman jika aku melakukannya lagi pada mu karena semalam saja aku sudah sangat menyiksa mu"
"Dasar pelit tak berperasaan" aku mulai menggerutu karena Ferry menolak ku.
"Sayang saat mandi tadi aku lihat **** * mu sudah lecit dan memerah jika aku melakukannya lagi aku khawatir lukanya makin jadi dan bikin kamu demam"
"Alesan" aku terus merengek. Sebenernya aku cuma lagi cari cara agar Ferry tidak pergi hari ini. Berharap kalau habis bercinta kami akan ketiduran dan Ferry melewatkan jam keberangkatannya tapi usaha ku terus gagal. Ferry terus saja menolak ku.
"Sudah sayang hentikan, aku tidak akan melakukannya seberapa besar pun usaha mu dan seberapa besar pun aku ingin melakukannya. Aku akan tetap menahan diri ku tidak melakukannya"
Mendengar pernyataan Ferry pun akhirnya aku menyerah menggodanya. "Kamu nyebeliin" aku memukul dada Ferry lalu bangun dan berlari ke atas ranjang. Aku bersembunyi di bawah selimut sambil menangis.
'Kenapa sih aku jadi melow gini, nyebelin banget' aku trus merutuki tingkah ku yang jadi kaya anak ABG yang lagi sayang-sayangnya trus ditinggalin.
"Sayang, kamu kenapa? hei kenapa malah nangis gini? sebegitu inginnya bercinta dengan ku? oke-oke aku memyerah kamu mau kita bercinta, let's do it"
Ucap Ferry membuatku menurunkan selimut dan mengintip apa yang mau dilakukan Ferry. 'Auu dia seriusan mau bercinta sekarang'
"Aaa...tidak aku nggak mau" teriak ku sambil berlari saat ku lihat Ferry sudah melepas pakaiannya cuma pake boxer doang.
'Astaga Lia, kamu kenapa lagi sih? sebenernya dia mau apa sih sebenernya?' Ferry menjambak rambutnya sendiri frustasi melihat tingkah Lia sepagian ini bener-bener aneh.
Tok...tok...tok
Ferry mengetuk pintu kamar mandi, dimana Lia bersembunyi di dalam dari setengah jam yang lalu tak juga keluar.
"Sayang ayo dong keluar, kamu kenapa? kamu mau apa bilang sama aku jangan kaya gini aku bisa gila...ahhhgghhh" teriak Ferry frustasi karena Lia tak juga menggubrisnya.
"Oke aku hitung sampai tiga, kalau kamu nggak bukan juga pintunya, aku dobrak" Ferry mwngamcam Lia membuat Lia gundah dan jadi serba salah.
'Semoga saja Lia membuka pintu nya, karena sekuat apa pun aku mendobraknya pintu kaca ini tidak akan bisa pecah dan terbuka karena kacanya bukan kaca biasa. Melainkan cystal glass anti peluru dengan sistem smart glass jadi di dobrak tidak akan hancur bahkan peluru pun harus menembak di satu titik berkali-kali baru bisa membuatnya pecah.
"Oke aku hitung sekarang ya...satu.....dua.....ti..."
__ADS_1
ceklekk...kreeek (suara pintu ceritanya)
Pintu kamar mandi pun akhirnya dibuka oleh Lia. "Mainannya ngancem, malesin" gerutu Lia melewati Ferry yang berdiri mematung.