
"Suam, kamu" ucap Lia saat melihat sosok suami tercintanya yang muncul dari balik pintu.
"Surprise" Sahut Ferry sambil tersenyum manis dan berjalan menuju Lia yang masih duduk dengan memangku gaun untuk sang mami.
Ferry meletakan makanan yang dia bawa diatas meja kerja Lia sebelum dia mendekati sang istri dan mendaratkan sebuah kecupan di kening Lia baru kemudian Ferry mendaratkan bokongnya di sofa
"Kamu kenapa kesini?"
Ferry memasang wajah masam begitu mendengar pertanyaan Lia yang terdengar tidak suka atas kehadirannya
"Kenapa? tidak suka aku kesini?" Ferry menjawab dengan ketus membuat Lia sadar kalau salah berucap
"Hehehehe....bukan gitu suam, kamu kan baru keluar dari rumah sakit koq malah kesini bukan istirahat" Lia berusaha menjelaskan agar sang suami tidak manyun kelamaan dan menunda pekerjaannya.
"Aku mana mungkin kesini kalau istri ku sudah sampai rumah" gumam Ferry setelah mendengar ucapan Lia
"Ehh....aku kan memang hari ini jadwalnya harus kerja setelah pulang dari kampus" sahut Lia sambil mengerutkan keningnya melihat tingkah kekanakan sang suaminya kambuh.
"Memang harus banget ngerjain gaunnya sampe harus lembur dan mengabaikan ponsel setengah harian" gerutu Ferry sambil menatap tajam ke arah Lia
"Iya mau gimana lagi, selasa mami sudah dijadwalkan untuk fitting gaun ini. Jadi mau tidak mau harus jadi paling telat senin" Lia kembali menjelaskan alasan dia kenapa harus lembur agar sang suami mengerti keadaannya.
"Sedangkan besok malam kamu mengajak ku ke negara S, mau dikerjain kapan lagi? Datelinenya terlalu mepet, bahkan rencana ku mau aku bawa ke rumah malam ini agar besok sebelum ke kampus aku bisa lanjut menyulam lagi sehingga senin bisa selesai gaunnnya"
Sambung Lia menjelaskan lebih rinci membuat Ferry terdiam cukup lama untuk mencerna ucapan sang istri dan memikirkan rencana terbaik agar istrinya tidak perlu sampai begadang menyelesaikan pekerjaannya.
'Kenapa dia malah diem aja sekarang?' Gumam Lia dalam hati setelah bicara panjang lebar tapi sang suami tak merespon sepatah kata pun.
"Hhhmm...kalau gitu kita pergi ke negara S hari sabtu pagi saja" ujar Ferry tiba-tiba setelah terdiam cukup lama dan asik dengan ponselnya.
"Memang bisa dirubah?" tanya Lia dengan wajah penuh tanya.
"Bisa istri ku, Jerry sudah mengurus semuanya. Jadi sekarang bisa istri ku temani suami mu ini makan malam"
"Tunggu sebentar, aku selesaikan bagian sulaman ini dulu"
"Oke" sahut Ferry lalu membiarkan Lia kembali menekuri pekerjaannya sedangkan Ferry beranjak pindah duduk ke meja kerja Lia,
Awalnya Ferry berniat mengecek emailnya dari komputer kerja Lia tapi niatnya teralihkan saat melihat sebuah file dengan judul Mr.Hans Prayoga.
'Aish,,kenapa ada file tentang orang itu. Apa Lia menyelidiki tentang Hans? Apa Lia punya perasaan dengan Hans?' pikiran Buruk menghantui jiwa Ferry membuat Jiwa keponya mengambil File tersebut.
'Hahahaha...ternyata file orderan stelan jas si Hans, syukur lah. Hampir aja aku berfikir yang tidak-tidak'
'Ehh..tunggu ini Stelan jas yang waktu itu. Ternyata pria yang Lia ceritakan kemaren itu si Hans, awas aja kalau sampai aku tau dia juga berani modus deketin Lia'
Ferry mulai merutuki Hans dalam hatinya, wajah sumbringahnya kini sudah jadi muram dan masam.
Membuat Lia yang baru selesai dengan sulamannya, heran melihat suasana hati suaminya berubah 180 derajat. 'Kenapa lagi si tuan muda?' bathin Lia tapi tak begitu menggubris tingkah Ferry.
Lia sibuk merapikan gaun mami mertuanya dan juga alat serta benang sulam agar bisa dia bawa pulang dan mengerjakannya di apartemen.
"Sayang, katanya mau makan. Ayo cepat kesini" ajak Lia pada Ferry yang masih asik di depan komputer Lia.
"Suami, steaknya sudah dingin ini nanti jadi enggak enak low" Sambung Lia lagi saat membuka kotak makanan yang Ferry bawa tadi di meja depan sofa tempat biasa Lia menjamu para klien.
lagi,lagi dan lagi Ferry mengacuhkan Lia. Ferry masih asik mengutak atik komputer Lia. Akhirnya Lia terpaksa berdiri menghampiri sang suami yang nampak asik dengan pekerjaannya.
Lia merangkul manja tubuh sang suami dari belakang namum tidak seperti biasanya respon Ferry dingin dan terkesan acuh tak acuh pada Lia.
'Hhhmm...ini dia marah? aku bikin salah apa?' bathin Lia bingung sendiri melihat tingkah sang suami.
Kalau kaya gini mau sampai jam berapa disini sekarang sudah mau jam tujuh, kasian Deni kalau harus nunggu aku kelamaan disini.
__ADS_1
Ferry yang merasakan kegelisahan Lia sambil menatap jam dinding di ruangannya. "Aku sudah suruh Deni pulang tidak usah dipikirkan lagi"
"Suami ku emang paling hebat tau banget isi hati ku, sekarang kita makan yuk perut ku sudah kelaperan ini. Lanjut kerjanya nanti aja di apartemen" pinta Lia saat melihat Ferry sedang membuka file dari Jerry dengan nada manja sambil memainkan jari-jarinya di dada bidang sang suami.
Ferry yang tak tahan menghadapi tingkah manja Lia dan mulai memancing sang junior untuk bangun akhirnya segera menyudahi pekerjaanya dan bangkit dari duduknya tanpa sepatah kata pun terucap dari mulut Ferry yang biasanya bawel saat bersama Lia, Ferry melangkah menuju sofa untuk makan malam dengan tenang tanpa suara.
Lia hanya bisa menghembuskan nafas kasar melihat tingkah sang suami, Lia benar-benar tidak mengerti apa penyebab perubahan suasana hati sang suami.
Sampai Lia melihat File orderan milik Hans berubah posisi. 'Aish...ternyata ini penyebabnya' bathin Lia lalu ikut makan bareng duduk di sofa bersebrangan dengan Ferry.
Lia pun ikut diam selama menyantap steak yang dibawakan sang suami, Lia mau lihat sampai selama apa sang suami mampu mendiaminya.
'Kamu jual aku beli sayang' bathin Lia penuh dengan rencana meluluhkan hati sang suami agar mulai bicara duluan.
Usai makan Lia merapikan kotak makan dan membuangnya di dalam tempat sampah dipojok dekat pintu sambil mengambilkan air meneral botol untuk sang suami dan dirinya.
"Oke done, saatnya pulang" ucap Lia yang sudah memeluk gaun mami dan juga box berisi perlengkapan sulamnya sambil bersiap mengambil tasnya disamping meja kerjanya.
Melihat sang istri yang terlihat repot dengan bawaannya, Ferry mengambil gaun dan juga box dari tangan Lia tanpa sepatah kata pun.
Lia hanya tersenyum penuh kemenangan dia tau kalau Ferry tidak mungkin akan secuek itu melihat dia kerepotan sendirian.
Setelah melihat Lia sudah siap untuk keluar dari ruang kerjanya Ferry keluar duluan menuju parkiran.
Saat di depan Lift Ferry menunggu Lia cukup lama, membuat dia jadi gelisah. 'Tau gini kan mendingan tadi keluarnya barengan aja, huh' gerutu Ferry dalam hati.
Lia yang tau pasti sang suami sedang merutuki dirinya karena begitu lambat hanya senyum-senyum dalam hati karena dia memang sengaja menunda keluar dari ruangan begitu Ferry meninggalkan dia sendirian.
'Ayo marah, haahahaa....enak juga ngusilin Ferry pas dia lagi ngambek gini, jadi nggak ngomel-ngomel...hahahah'
Saat melihat sang istri santai memasuki lift tanpa merasa berdosa membuat sang suami berdiri menunggu dirinya cukup lama membuat Ferry yakin kalau Lia pasti sengaja melakukannya.
Sepanjang perjalanan dari perusahaan menuju apartemen mereka masih terus saling diam. beruntung saat di dalam mobil Jeni menelphon Lia, jadi perjalanan panjang nan sepi tidak terlalu membosankan buat Lia namun tidak untuk Ferry, hal itu justru membuat Ferry makin bete tingkat dewa melihat Lia tertawa renyah bahkan memanggil orang di telphon dengan mesra.
"Hei nyonya Goucher, kamu jangan bilang sedang perang dingin dengan tuan muda dan melibatkan aku ya...ckckck"
"Hahahaha...kamu benar-benar kesayangan ku, paling tau tentang ku....jadi kangen pengen peluk kamu"
"Lia jangan gila nanti suami mu yang posesif itu makin menggila"
"Hahahaha...aku juga berfikir sama dengan mu"
Mendengar obrolan Lia dengan orang di ujung telphon, Ferry hanya bisa memendam amarahnya...genggaman tangannya pada stir mobil makin mengerat seiring rasa cemburu yang makin membara di hatinya.
'Siapa yang menelphone Lia, mesra sekali. Apa Lia sengaja melakukan hal ini...aaaggghhh'
Amarah Ferry sudah ingin meledak, andai bukan Lia orangnya ntah apa yang akan terjadi saat ini
Ferry melajukan mobilnya dengan sangat cepat, beruntung hari sudah malam jalan sudah mulai sepi dan tidak macet.
Dalam waktu singkat mobil Ferry sudah terparkir di Lobby apartemen.
dan begitu sampai apartemen, Ferry menurunkan Lia di lobby apartemen. Tidak seperti biasanya Ferry akan menuju tempat parkir dan naik ke unit apartemennya bersama Lia.
rupanya Ferry sedang malas satu lift dengan Lia karena amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun, Ferry khawatir akan pecah jika terus bersama Lia.
"Kamu turun lah" ujar Ferry dan tanpa bantahan Lia langsung turun dan masih asik mengobrol dengan Jeni di telphon.
"Dasar rubah betina" gerutu Ferry sambil melihat Lia yang turun dan berjalan masuk kedalam lobby apartemen, begitu yakin sang istri sudah masuk barulah Ferry melajukan mobilnya ke parkiran basement khusus penghuni apartemen.
"Malam nyonya Goucher, tumben tidak turun bareng tuan muda di parkiran?" sapa salah seorang satpam pada Lia.
"Malam juga pak, karena saya mau beli strowberry cheeses cake dulu. Bapak mau saya beliin nggak?"
__ADS_1
"Wah, tidak usah repot-repot nyonya Goucher tapi saya tidak menolak rezki...hehhee" sahut sang satpam dengan wajah sumbringah
Lalu Lia mengeluarkan beberapa lembar uang seratus dollar untuk diberikan pada pak satpam
"Ini uang tolong bapak beliin saya strowberry cheeses cake, lalu tolong antar ke unit saya"
"Tapi ini terlalu banyak uangnya nyonya"
"Nggak apa-apa sisanya buat bapak beli cake buat makan rame-rame atau beli kopi"
"Baik-baik, terima kasih nyonya muda"
Lia pun mengangguk dan berjalan menuju lift untuk naik ke unit apartemennya.
"Malam cantik" sapa seorang pria begitu lift terbuka, membuat Lia mendongakkan kepalanya karena suaranya pria yang menyapanya begitu familiar.
"Kak Hans" ujar Lia begitu melihat wajah tampan yang dia kenali
"kamu baru pulang, tadi aku liat suami mu juga baru masuk ke unit pas aku baru keluar"
"kalau begitu aku duluan naik ya kak, takut si tuan muda kelamaan nungguin manyun" sahut Lia langsung masuk kedalam lift.
Saat Lia sampai pant house semua ruangan sudah terang, 'Sepertinya ucapan kak Hans benar Ferry sudah naik duluan. Cepet juga dia geraknya'
Lia pun masuk kedalam kamar dan meletakan ponselnya di atas nakas samping ranjangya lalu menuju dapur untuk mengambil air minum karena rasanya tenggorokannya kering sekali.
'Sepertinya wanita itu sudah sampai, eh itu ponselnya Lia' Ferry pun melangkah cepat menuju ranjang dan mengambil ponsel Lia untuk melihat siapa orang yang menelphon Lia dan membuat Lia begitu mesra mengobrol dengannya.
'Ahh...sial ternyata Jeni, beraninya wanita ini membodohi ku' geram Ferry kesal tapi juga senang mengetahui Jeni lah yang bicara di telphon tadi.
Ferry buru-buru masuk ke walk in closed dan meletakan kembali ponsel Lia diatas nakas. Lia yang melihat pintu kamar mandi sudah terbuka langsung menuju kamar mandi untuk mandi.
Walau sedang perang dingin mereka tetap melakukan sholat berjamaah seperti biasanya.
'Saatnya permainan dimulai' ujar Lia dalam hati begitu keluar dari walk in closed dengan baju tidur super seksi
Ferry yang tadinya mau melangkah keluar menuju ruang kerjanya langsung kembali duduk di sofa begitu melihat Lia
'Wanita ini berniat menggoda ku? tapi dia yang begitu sudah sangat menggoda junior ku' Pikiran Ferry mulai kacau, dihantui oleh gairah yang membakar habis rasa kesalnya pada Lia.
Lia yang melihat respon Ferry pura-pura acuh tak acuh malah sibuk melenggak lenggok menuju cermin untuk mengaplikasikan perawatan wajah sebelum tidur.
'Mau lihat dia kuat tahan berapa lama?' bathin Lia sambil menggunakan cream wajahnya.
'Junior tahan lah dulu, aku ini sedang marah dengannya masa baru begini sudah nyerah. Biar dia usaha sedikit' bathin Ferry berusaha menekan hasratnya.
Lia malah sengaja berjalan melenggok di depan Ferry. "Ups, tangan ku licin sekali" ucap Lia saat menjatuhkan majalah tepat di depan Ferry yang sedang duduk kaku menahan diri agar tidak tergoda dengan Lia.
'Wanita ini, ahhhgghhh' geram Ferry saat melihat tonjolan yang begitu ranum tumpah saat Lia menundukan badannya untuk mengambil majalah yang terjatuh di depannya
Ferry langsung bangkit dan membopong tubuh Lia. Dia sudah tak sanggup lagi menahan dirinya untuk tidak menerkam istrinya.
"Jangan salahkan aku wanita nakal, kamu benar-benar rubah betina penggoda. Aku akan menghukum mu sekarang"
Bukannya takut saat mendengar ucapan sang suami, Lia yang tubuhnya sudah ditekan oleh Ferry diatas ranjang malah mengalungkan tangannya di leher sang suami.
"Dengan senang hati aku menerima hukuman ku" mendengar ucapan Lia Ferry langsung menlancarkan serangan yang membuat Lia mengeluarkan suara-suara erotis menambah panas suasana.
"Kamu jangan menyesal ya" ujar Ferry dengan seringai penuh arti membuat bulu kuduk Lia merinding.
Malam panjang yang tak berkesudahan penuh peluh nan menggairahkan sekaligus melelahkan menjadi penutup malam sepasang suami istri yang saling mencintai.
jangan lupa like, komen dan jdiin favorite kalian "suamiku brondong"
__ADS_1