Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Rumah sakit (part 1)


__ADS_3

Selesai mandi dan bersiap dan menuju dapur untuk membersihkan dapur dan meja makan yang terbengkalai usai sarapan tadi karena kami bukan memebersihkannya justru memadu kasih diatas ranjang, mengingat kejadian membuat wajahku merona dan bulu kuduk ku meremang, rasanya masih terasa sekali setiap sentuhan dan kecupan yang Ferry lakukan pada hampir seluruh bagian tubuhku bahkan ada banyak jejak merah Ferry tinggalkan di tubuhku untung saja dia tidak meninggalkannya di lehrku kalau nggak aku akan kesulitan mencari baju untuk kekanakan hari ini.


Usai pergulatan ku dengan wajan dan piring di dapur aku membangunkan Ferry. Walau sebenernya nggak tega tapi sudah pukul 11.05 kalau tidak bangun sekarang yang ada mama sudah keburu pindah ke rumah lama kami.


"Sayang, bangun dong" ucapku sambil mengelus dan menciumi pipi suamiku tapi Ferry tak bergeming padahal bulu matanya kulihat sudah bergerak.


"Sayang bangun please atau aku cubit ya kalau masih pura-pura tidur" ancamku berhasil membuat Ferry membuka mata.


"Sudah bangun" ucapnya sambil tersenyum manis dan menarik ku ke dalam pelukannya.


"Ayo cepat mandi" pintaku sambil melepaskan diri dalam pelukan Ferry agar dia bangun.


"Siap Nyonya Goucher" celoteh Ferry membuat bibirku melengkung keatas mengukir sebuah senyum. "Kamu jangan minum pil itu lagi ya?" ucap Ferry sambil berlari menuju kamar mandi.


"Astaga hampir saja aku lupa meminum pil penunda kehamilan" gumamku lalu segera mengambil botol obat yang sengaja ku simpan dalam tas karena aku tak pernah tau kapan dan dimana bule itu akan memakan ku sampai habis.


Saat ingin meminum pil itu, terngiang ucapan Ferry yang menginginkan aku untuk tak lagi meminumnya. Namun aku mengabaikannya dan menelan sebutir pil pencegah kehamilan karena untuk saat ini aku belum bisa hamil, urusan ku masih banyak yang belum selesai.


Sambil menunggu Ferry mandi aku merapikan alat-alat gambar dan juga buku kuliahku agar tak tertinggal di apartemen sekaligus mengambil sisa risoles yang semalam ku buat dari frezer dan memasukannya ke dalam goodiebag.


"Sayang, ayo kita jalan sekarang" ucap Ferry sambil membawa goodiebag yang berisi risoles dan juga perabotan kuliahku.


"Ayo" sahutku dengan antusias mendekati Ferry yang sudah menyiapkan lengannya untuk ku gelayutin.


Kami pun berjalan menuju lift dan turun langsung dilantai tempat Ferry memarkir mobilnya.


"Sayang kita Ke rumah sakit dulu ya?" pintaku begitu sudah duduk manis di sebelah kursi pengemudi.

__ADS_1


"Mau ngapaind?" tanya Ferry dengan nada dingin sepertinya dia tau arah permintaanku.


"Sayang aku mau jenguk papa sekalian mau bertemu Mira disana" ucapku berusaha tidak membuat si bule kesal dan menyetujui permintaanku.


"Yakin hanya itu?" tanya Ferry penuh selidik sambil melirik kearah dengan ekspresi datar sekali.


"Hhhmm...ya sekali melihat Rendy kalau kamu mengizinkannya" ucapku ragu-ragu


"Lima menit tidak lebih" ucap si bule membuatku tak percaya.


"Beneran boleh?, makasih suamiku" ucapku sambil mengecup pipinya.


"Bahagia sekali bertemu manta pacar" celetuk Ferry membuatku tertawa.


"Sayang, kamu cemburu? Aku dan Rendy tidak pernah jadian ya" jelasku melihat wajah tampan suamiku mulai mengerut.


"Tapi dia mendamba mu dan menganggap mu kekasihnya selama ini" ucap Ferry makin masam.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit pun suasana di mobil hanya hening, si bule benar-benar membuat masalah kecil jadi rumit.


Untung saja ponselku berdering, jadi selama perjalanan aku nggak akan diam sendirian menghadapin si beruang kutub ini.


"Hallo Mir, ada apa?" ucapku mengawali pembicaraan usai menggesar icon hijau keatas.


"Kamu jadi ke rumah sakit?" tanya Mira dengan deru nafas seperti orang habis berlari.


"ini sedang on the way, kenapa nafas mu seperti itu?" tanyaku karena mendengar suara Mira agak aneh tidak seperti biasanya.

__ADS_1


"Baru semalam aku merawatnya, aku sudah dibuat kelelahan olehnya" keluh Mira pada ku.


"Maaf merepotkan mu ya Mir, tapi kan suamiku sudah membayar mu. kenapa juga masih mengeluh padaku?" ujarku saat sadar Mira melakukan semuanya karena uang yang diberikan Ferry padanya.


"hahahaha...kamu itu kenapa sejak menikah jadi perhitungan sekali dengan ku?" tawa Mira diikutin suara lenguhan dan desahan. "Ehh...kenapa aku seperti mendengar suara Mira dan pria sedang memadu kasih diatas ranjang?". Apa aku salah dengar? Masa iya Mira bercinta dengan Rendy? kakinya kan sedang patah.


"Hei Nyonya Goucher, kamu masih disana tidak?" teriak Mira membuyar lamunanku.


"Mira kamu sedang apa?" kenapa aku tadi seperti mendengar....Ahhh sudah lupakan saja" ujarku malas membahas hal itu ada Ferry disebelahku.


"Aku sedang membantu Rendy membersihkan tubuhnya agar saar kamu datang dia sudah tampan" jelas Mira.


"Seberapa tampan pun Rendy tidak akan bisa menggoyah cintaku pada suamiku" ucapku sambil menatap wajah tampan suamiku yang aku yakin dia mendengar ucapanku.


"zz mulai jatuh cinta nampaknya sahabatku ini dengan si bule?" ledek Mira


"Sudah ya, ini aku sudah sampai parkiran rumah sakit" ucapku mengakhirin pembicaraan dan menyimpan ponselku ke dalam tas.


Ferry tetap seperti biasanya manis dan romantis walaupun sedang diliputi rasa cemburu.


"Sayang kita ke ruangan papa dulu ya" ucapku saat mulai bergelayut manja dilengan suamiku. Ferry hanya menjawab ucapanku dengan anggukan.


"Iiiishhh ini bule nyebelin amat sih, mau sampai kapan dia kaya gini? bodo amat lah" bathinku sambil terus melangkah menuju ruang rawat papa.


Papa sudah tidak lagi diruang ICU seperti sebelumnya, papa sudah diruang rawat kamar VVIP yang di jaga 24 jam oleh dua orang perawat khusus yang disewa Ferry untuk bergantian menjaga papa. Sejak menikah aku benar-benar kembali ke kekehidupan normal ku seperti saat papa belum bangkrut dan dirawat di ICU, Ferry keberadaan Ferry disisi ku mampu membuatku lupa dengan kemalangan yang menimpaku sampai saat aku melihat tubuh pria yang amat ku sayangi terbaring tak sadarkan diri di ranjang pesakitan. Air mataku pun tak bisa ku tahan langsung mengalih deras.


"Pa, Lia kangen banget sama papa. Pa, Lia sekarang sudah menikah, papa nggak usah khawatir Lia nggak sembarangan menikah koq apa lagi hamil diluar nikah. Lia nikah sama cowo yang bikin papa dulu ngajakin kita pindah dan menyuruh orang menghapus semua jejak tentang Lia agar dia tidak bisa menemukan Lia, tapi takdir mempertemukan Lia lagi dengan anak bule rese itu pa, bahkan Lia sekarang sudah resmi jadi istrinya" celotehku sambil menggenggam tangan papa dan menciuminya sesekali.

__ADS_1


"Papa cepet sadar dong biar Lia bisa kenalin papa ke suami Lia, dia ganteng banget low pa, udah gitu tajir abis duitnya nggak ada serinya. Sekarang bahkan mama dan Bimo akan kembali menempati rumah kita yang sempet di sita bank. owh iya satu lagi pa, Bimo sudah di terima di fakultas kedokteran. Jadi papa udah nggak usaha khawatir lagi semua masalah sudah diatasi oleh Ferry pa, sekarang papa cepet sembuh ya kasian mama pa, jadi harus tidur sendirian dikamar bahkan terkadang mama menangis saat merindukan papa" aku terus bercerita tentang semua hal yang terjadi saat papa terbaring tak berdaya diatas ranjang pesakitan.


"Sayang, udah yuk kita kan masih harus ke rumah mama nanti keburu mereka berangkat ke rumah lama mu" ujar Ferry mengingatkan rencana kami hari ini sambil menyentuh bahuku, membuatku mendongakan wajah menatap wajah tampan yang dari tadi pasang muka masam kini tersenyum manis sambil mengusap air mata yang masih tersisa dipelupuk mataku. Aku hanya menggangguk dan pamit pada papa, setelah puas menciumi tangan dan juga pipi papa aku pun kembali bergelayut manja dilengan suamiku menuju ke kamar rawat Rendy yang tak jauh dari kamar papa, karena ternyata Ferry memberinya kamar VVIP juga.


__ADS_2