Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Ngambek


__ADS_3

"Ya Tuhan, Sayang lepasin aku dong", ucapku ketika hendak bangun dan keluar dari pelukan Ferry malah ditariknya lagi untuk tetap dalam dekapannya. "Sayang ini udah sore banget, tuh liat matahari udah hampir tenggelam. aku belum ada baju untuk nanti malam". Ujarku mulai gemesh sama kelakuan ini bule tengil dengan suara mulai tinggi, membuat mata birunya akhirnya terbuka dan menatapku dengan tatapan sendu.


"Kamu itu kalau bicara dengan suami bisa tidak nggak usah teriak-teriak gitu, nggak sopan tau!" ujar Ferry dengan nada merajuk.


"Ya kamu sih, aku minta lepasin dari tadi malah makin di kekepin", Gerutuku membela diri. Ferry langsung melonggarkan pelukannya membuatku bisa bangkit dan langsung lari ke Kamar mandi untuk mandi kilat dan keluar tetap dengan baju yang sama karena aku nggak punya baju lagi. Selesai merapikan diri di cermin aku mengambil ponselku yang dari tadi aku mode senyap dan juga tas slempang kecil ku. Bersiap untuk keluar dari kamar pulang ke rumah mama ambil baju.


"Aku pergi dulu bentar ya sayang", pamitku pada Ferry yang masih duduk bersandar santai di ranjang sambil menatapku dengan dingin tanpa berkedip. Dia tidak menjawab ucapan ku, hanya diam menatapku makin tajam. "Keluar lagi deh ekspresi beruang kutubnya" bathin ku. Aku pun terpaksa mendekatinya, dan duduk di tepi ranjang sebelah Ferry sambil menghela nafas panjang, yang didekati tetep aja dengan posisi dan tatapan dinginnya, bikin bulu kuduk ku berdiri efek dinginya suasana.


"Ini sebenernya siapa yang cinta mati sama siapa sih?, kenapa jadi dia yang sering ngambekan gini...huuffft" bathinku sudah meronta-ronta dicuekin si bule tengil.


"Yank, aku salah apa lagi sih?. Yaa ampun masa baru nikah sehari udah ribet gini sih...tau gini mending aku nggak terima ni......" belum selesai ucapanku tiba-tiba Ferry membungkam mulutku dengan mulutnya.


"Dasar bule nggak ada akhlaq abis ngambek dan bikin bini emosi jiwa dia maen seenaknya aja nyium gw kaya gini...ckckckk". bathiku sambil menikmati dan membalas ciuman Ferry, tangannya Ferry mulai mau jalan-jalan ku tahan dan dorong dadanya hingga tautan bibir kami pun terlepas.


"Aku harus ambil baju ke rumah mama atau beli baju plus beli pin penunda kehamilan, jadi aku pergi dulu ya", ucapku sambil hendak berdiri tapi di tahan Ferry.


"Kamu tunggu aku mandi sebentar" ucapnya sambil melesat ke kamar mandi.

__ADS_1


"Udah gitu cuma pake ciuman kelar ngambeknya....ckckckk,besok-besok kalau dia ngambek tinggal gw cium aja berarti...hahahaaha" gumamku sambil terkekeh sendirian.


"Apa yang kamu tertawakan" tiba-tiba suara bariton suamiku terdengar membuat tawaku langsung berhenti.


"Cuma inget hal lucu aja koq, nggak penting",ucapku sambil bangun dan keluar dari kamar. "males liatin si bule ganti baju ntar malah otak gw jadi piktor", bathinku


"Mau kemana?" tanya Ferry melihatku jalan keluar kamar.


"Nunggu kamu di luar, males liatin orang nggak tau malu ganti baju" ujarku sambil lalu yang di sambut kekehan Ferry.


"Ahhh....sialan banget nih bule, koq dia bisa santai banget sedang gw masih aja malu-malu kucing begini...huffft" gerutuku dalam hati sambil menghempas bokongku diatas sofa dan mengecek ponselku.


Ada banyak panggilan dari mama, Bimo dan Mira. ada juga pesan masuk dari mereka, membuat jantungku berdetak kencang dan pikiran negatif tentang papa membuat keringat dingin mulai mengalir di punggung dan dahiku.


"Sayang, kamu kenapa?" ucap Ferry khawatir dan berjalan cepat kearahku, ketika melihat kondisiku begitu tegang dengan keringat dingin. Aku hanya diam memegang ponselku. Aku nggak berani membuka pesan dari mereka. Ferry yang seakan mengerti keguncangan ku berasal dari ponselku, langsung jongkol didepanku, mengambil ponselku dan mebuka tiap pesan yang ada diponselku. Tapi raut wajahnya tidak terlihat membaca berita buruk.


"Yank, mama kirim pesen apa?", tanyaku takut-takut. Ferry menatapku sambil tersenyum. Lalu dia berdiri dan duduk disampingnya, aku memutar tubuhku menghadapnya.

__ADS_1


"Kamu terlalu berfikir berlebihan, lain kali jangan berfikir buruk dan terlalu berprasangka atas sesuatu yang belum pasti, itu hanya akan membuatmu cemas berlebihan". ujar Ferry sambil menggenggam tangan ku.


"Baca lah sendiri pesan-pesan dari mereka, biar kamu bisa membalas pertanyaan mereka" sambil mengembalikan ponselku. Belum juga aku sempat membaca isi pesan di ponselku si bule udah buka suara lagi, terpaksa aku masukan ponselku dalam tas. "Ayo kita pergi sekarang sekalian kita makan di luar perutku mulai laper nih". ujar Ferry sambil menggandeng tanganku, malembuatku terseok-seok karena tak siap dengan tarikan tangan Ferry yang tiba-tiba.


"Boleh jalannya santai sedikit suamiku, jangan kaya orang mau ambil gaji gitu jalannya" gerutuku langsung membuat si bule melambatkan ritme langkahnya.


"Sorry aku lupa kalau istri imutku ini kalau jalan kaya snail...hehehee" ujar Ferry sambil menoel hidungku. Aku hanya mencibikan bibirku yang langsung dikecup Ferry. Membuat pipiku langsung merona mendapat serangan tiba-tiba si bule.


"Udah, jalan yuuk..." ucap Ferry sambil meletakan tanganku dilengannya dan berjalan menuju lobby hotel. Disana sudah ada mobil alphard hitam menunggu kami. Suamiku memang cowo idaman banget deh tiap masuk mobil atau keluar mobil dia akan bukain pintunya untuk ku. Aku pun masuk ke dalam mobil dengan senyum manis terkembang. Begitu mobil jalan aku liat si bule asik sama ponselnya, nampak sibuk dan sesekali mengerutkan alisnya seperti sedang berfikir keras, entah ada masalah apa.


Aku males nanya dan ikut campur, jadi aku pun mulai berselancar dengan ponselku. bahkan aku sudah seperti orang nggak inget kalau lagi jalan sama suamiku. Aku membaca dab mebalas satu-satu pesan yang masuk sambil tersenyum-senyum saat membaca isi pesan mereka karena mama dan Mira, mereka berdua menanyakan hal yang sama, tentang malam pertama ku dengan si bule, gimana rasanya, yang paling gila si Mira nanya ukuran adiknya Ferry...sontak aku langsung merona saat membayangkannya adegan siang tadi. tapi aku hanya membalas pesan mereka dengan singkat.


"Luar Biasa, syurga dunia" pada Mira dan Mama yang membuat mereka makin kepo. tapi aku hanya menjawab singkat lagi. "sekarang tidak bisa diskusi tentang hal itu, karena si bule ada di sebelahku".


Sedangkan Bimo yang tidak tau aku menikah sibuk bertanya kenapa aku nggak pulang dan dimana aku sekarang, sedang apa. "Adik kecil ku ini sudah mulai bisa khawatir dengan kakaknya sekarang, kemajuan pesat", Bathin ku sambil tersenyum memikirkan adik kecil ku yang mulai dewasa. "Semoga ujian ini bisa mendewasakan kamu dan membuatmu lebih bertanggung jawab dengan hidup mu". do'aku untuk Bimo dalam hati.


Sepanjang perjalanan kami sibuk dengan diri sendiri tanpa mengobrol sama sekali. Rasanya kaya lagi naek angkot nggak kenal sama yang duduk disebelah kita jadi diem-dieman dan sibuk sama ponsel masing-masing.🤭

__ADS_1


__ADS_2