
#POV Ferry#
Selepas kepergian Lia, Aku masih malas-malasan diatas ranjang sampai bunyi ponselku berdering, dan nama papilah yang tertera dilayar ponselku. Dengan males-malesan aku menggesel icon hijau ke atas.
"Hallo pi" sapaku mengawali percakapan.
"Kamu masih di Negara perempuan itu? kapan kamu berniat kembali ke Negara A?" ucap papi dengan nada sengit.
"Perempuan itu punya nama pi. Namanya Lia, dia sekarang istri sah Ferry, Menantu papi" ucapku datar.
"Ahhh...terserah. Papi tidak perduli siapa nama perempuan itu. Papi mau kamu kembali ke Negara A secepatnya". pinta papi dengan nada naik satu oktaf.
"Maaf pi, Ferry belum bisa kembali sekarang tapi papi tenang aja semua pekerjaan dan tanggung jawab Ferry di kantor akan tetap Ferry selesaikan dari sini" jelasku menyulut emosi papi.
"Bener-benar sudah di cuci otak mu itu oleh perempuan tua itu kamu rupanya" ucap papi dengan berapi-api mendengar jawabanku yang menolak permintaannya.
"Sabar pi, jangan pakai emosi begitu nanti jantung mu kumat. Lagian Lia anak baik Pi, mami suka dengan anak itu, terlihat berpendidikan, cerdas, mandiri dan juga cantik". Suara mami terdengar diujung telphon menenangkan papi yang sudah mulai emosi. Dan aku tersenyum mendengar pujian tulus mami untuk Lia.
"Mami itu sama saja dengan Ferry sudah kena pengaruh wanita murahan itu, papi yakin dia hanya ingin harta Ferry karena keluarganya sudah bangkrut". Suara Papi makin meninggi. Mendengar hinaan papi pada Lia aku sudah akan buka suara tapi keduluan mami.
"Papi jangan ngomong kasar gitu dong, mami sudah menyelidiki latar belakang gadis itu pi, Dia sangat bersih benar-benar belum terjamah pria mana pun, anak kita pria pertamanya. Dia juga dari keluarga berpendidikan dan juga terpandang di negara IND cuma saja ayahnya kenal sial, ditipu kaki tangannya sendiri jadi bangkrut" Ujar Mami berusaha membuka pikiran papi.
"Mami sekarang berpihak pada Ferry, tidak lagi mendukung papi?" tanya papi mulai kesal.
"Mami hanya ingin anak mami bahagia pi, dan mami lihat kemarin Ferry sangat bahagia bersama gadis itu pi, dan gadis itu juga terlihat tulus pada anak kita" mami lagi-lagi mencoba membujuk papi tapi gagal, papi tetap pada pendiriannya.
"Mami sudah diperdaya gadis itu" ucap papi tetap tak mau kalah. Aku hanya menjadi pendengar perbincangan mereka di balik telphon.
__ADS_1
"Mami capek ahh, papi nggak ngerti-ngerti dibilangin, Mending mami tidur sekarang". ucap mami sambil pergi meninggalkan papi, karena setelah itu suara mami tak lagi terdengar.
"nggak Anak nggak ibu sama saja mudah dibodoh-bodohi sama gadis miskin tak tau diri sudah tua mencari daun muda agar mudah diperdaya" ucapan papi membuatku tak mampu mengontrol emosiku.
"Papi kalau menelphon Ferry hanya untuk menghina istri Ferry lebih baik tidak usah telphon lagi" ucapku sambil memutus sambungan telphon dengan papi takut lidah tajamku akan membalas perkataan papi dan menyakitinya. Biar bagaimana pun dia tetap papiku, dosa besar jika aku menyakiti perasaannya walau papi sangat menyakiti perasaanku.
"Kalau papi sekasar tadi saat bertemu dengan Lia nanti, bagaimana perasaan Lia? Dia pasti akan terluka?" bathinku mulai gundah untuk membawa Lia menemui papi.
Dari pada pusing mending aku telphon istriku untuk membuat suasana hatiku ceria lagi. Tapi telphonku tak diangkat dan beberapa pesanku pun tidak dibacanya. Akhirnya aku mandi lalu pergi sarapan sambil terus berusaha menelphon dan mengiriminya pesan.
"Pagi den Ferry" sapa si mbok ramah ketika melihatku diruang makan.
"Pagi mbok, bisa tolong siapakan sarapan buat saya mbok?" ujarku pada si mbok
"Tentu saja bisa den, mau sarapan pakai apa den? biar si mbok siapkan" tanya si mbok ramah
"Bisa den, mau si mbok buatkan?" tanya si mbok memastikan. Aku menjawab dengan anggukan dan kembali mencoba menelphon dan mengirimi Lia pesan, tapi tetap tak di angkat dan balas hingga aku selesai sarapan.
"Mbok, mama kemana koq tidak terlihat? tanyaku karena sejak keluar kamar tak melihat mamanya Lia.
"Tadi nyonya ke rumah sakit keluar bareng dengan den Bimo" jelas si mbok yang ku angguki kemudian kembali ke dalam kamarku. mencoba lagi menelphon dan mengirimi istriku pesan tapi tetap blm ada balasan. Akhirnya karena tak juga diangkat telphon ku maupun di balas pesanku. Aku pun memutuskan untuk memulai pekerjaanku yang semalam belum selesai sudah terpaksa ku tinggal untuk menemani Lia tidur.
Saat aku sedang memeriksa berkas-berkas pekerjaan ku pesan Lia masuk tapi tak langsung ku balas, aku hanya membacanya dari layar depan tanpa masuk ke dalam aplikasi chat.
"I love you more suamiku".
"Siap Cinta, ini baru selesai kelas sedang menuju kantin untuk sarapan".
__ADS_1
Begitu membacanya senyumana langsung terkembang di wajah murungku. Rasanya ingin segera membalas pesan istriku itu, tapi aku menahannya aku ingin Lia menelphon ku tapi sepuluh menit sudah aku menunggu jangan kan telphon, pesan dari Lia lagi pun tak jua datang lagi.
"Sesibuk itu kah dia jika sudah dikampus?...ckckckck", Gerutu Ferry dalam hati mulai kesal karena Lia mengacuhkannya.
"Apa aku susul dia ke kampus aja ya? tapi aku ada metting sore nanti sedangkan tumpukan kerjaan ku belum selesai." peperangan bathin ku dimulai antara cinta dan pekerjaan.
Setelah menunggu dua puluh menit akhirnya aku tidak tahan dan langsung menelphon istriku. Lagi-lagi telphonku tak juga diangkatnya. "Apa yang sedang dia lakukan sebenarnya?" gumamku.
"Hallo, istriku sedang apa dikampus?" tanyaku pada bodyguard yang ku minta menjaga Lia seperti bayangan tanpa sepengetahuan Lia.
"Sedang makan di kantin bersama dua orang temannya, satu wanita dan satu lagi pria" jelas si bodyguard.
"Kirimi aku foto-foto istriku sejak dia dikampus sampai sekarang dikantin" perintahku sebelum menutup telphon.
Tak lama masuk pesan dari si bodyguard berisi beberapa foto Lia diparkiran dengan Mira, Lia masuk ke dalam kelas, Lia keluar kelas semua dengan Mira sampai foto Lia memainkan ponsel lalu menabrak pria dan foto pria itu memeluk istriku, foto pria itu dan Mira bertengkar Lalu Lia berlalu pergi duluan, Lia Dikantin sendirian memainkan ponsel sebentar Lalu muncul Mira dan di susul si Pria tadi.
Wajahku saat melihat Foto Lia dipeluk pria lain rasa ingin membunuh pria itu sangat kuat. "Siapa dia, berani-beraninya dia memeluk istriku" ucapku penuh amarah.
"Cari data lengkap pria yang bersama istriku, sedetail mungkin cari informasi apa hubungan dia dengan istriku" perintahku pada Jerry setelah aku mengiriminya foto Lia di peluk seorang pria.
Sambil menunggu Info dari Jerry aku menghisap rokok sambil berdiri di dekat jendela kamar Lia untuk mengurangi ketegangan di otak dan hatiku. setelah habis tiga batang rokok akhirnya Jerry menelphon ku.
"Namanya Rendy Permadi, anak dari pengusaha funiture terbesar di negara IND, dia dan Nyonya muda satu sekolah dari sejak SMP hingga Lulus SMA, mereka berteman sangat akrab sampai saat lulus SMA Rendy melanjutkan kuliahnya di Negara Ausy mereka terpisah dan tidak saling menghubungi satu sama lain. jadi kemungkinan besar reaksi pertama kali pria itu bertemu dengan Nyonya muda setelah hampir tiga tahun tidak bertemu dengan memeluk nyonya melepas rindu berjumpa dengan sahabat masa kecilnya". Jelas Jerry membuatku sedikit lega karena mereka ternyata hanya bersahabat.
"Ok, terima kasih infonya Jerry" ucapku sambil memutus sambungan telphon.
"Berteman si berteman tapi mana boleh peluk-peluk istriku begitu" gerutuku kesal.
__ADS_1