
Seperti biasanya, Ferry sudah otomatis terjaga sebelum matahari terbit untuk menjalankan ibadah sholat subuh lanjut olah raga kemudian mandi, sarapan dan berangkat ke kantor. Ferry sangat fokus bekerja setiap harinya dia ingin secepatnya menuntaskan semua pekerjaan agar bisa datang menemui istrinya yang sangat dia rindukan tapi dia tak berdaya pekerjaan menyita hampir seluruh waktunya.
Seperti biasanya begitu tiba di kantor dia akan melihat cctv untuk melepas rindunya pada sang istri yang merupakan mood booster untuk dirinya semangat memulai aktivitas.
'Kenapa dia nampak gelisah sekali? apa yang dia tunggu bolak balik mengecek ponsel, apa Lia menunggu ku menghubunginya? apa dia mulai merindukan ku seperti aku merindukannya? apa dia sudah tidak ngambek lagi?'
"Pagi tuan muda"
"Nyonya sedang apa?"
"Sedang berada di studio design bersama temannya, nyonya kemarin menerima tawaran dari dosennya untuk ikut lomba design"
"pria atau wanita temannya itu?"
"Pria tuan, bernama Joe. Dia adalah kakak kelas nyonya muda. Dan dia juga nampak berhasil membuat mood nyonya muda yang sempat uring-uringan menjadi ceria lagi"
"Uring-uringan?"
"Iya tuan muda, nyonya dari kemarin slalu mengurung diri di kamar, makan tidak begitu bernafas dan jarang skali tersenyum"
"Apa yang dialami nyonya muda sebelum terjadi perubahan?"
"Tidak ada tuan, nyonya hanya sering memandangi ponselnya saja tapi tidak melakukan apapun lalu kembali menyimpannya"
Ferry lama terdiam memikirkan tingkah Lia hampir sama dengan yang dia lihat di cctv tadi saat dikamar. 'Ada apa sebenarnya dengan gadis ini? apa dia merindukan ku sampai jadi begitu?' bathin Ferry mulai tersenyum membayangkan istri yang amat dia cintai merindukannya.
"Apa lagi yang kamu ketahui?"
"Kalau yang saya dengar dari ART di rumah, nyonya muda uring-uringan karena tuan muda tidak menghubunginya"
'Tuh kan, benar ternyata dia benar merindukan ku seperti aku merindukannya. Baiklaah nanti malam aku telphon Lia ya. Aku juga sudah kangen denger suaranya'
Ferry sibuk dengan pikirannya, sang bodygurd tidak berani menutup telphon tuan mudanya walau disebrang sana hening cukup lama.
"Tuan muda, nyonya muda sudah keluar dari ruang studio design. Ada lagi yang mau tuan tanyakan?"
Tanya sang bodyguard takut-takut. "Susul istriku lalu kirim kan padaku foto pria yang bernama Joe tadi" pastikan pria itu atau siapa pun tidak melakukan hal buruk pada istriku"
__ADS_1
"baik tuan muda" Dan telphon pun langsung dimatikan oleh Ferry. Dia kini tersenyum sendiri memandang wajah istri yang amat dicintai sambil membayangkan tingkah Lia beberapa hari saat mereka berjauhan.
'Ternyata bukan aku saja yang bucin, Lia juga mulai bucin pada ku. Senengnya ternyata cintaku berbalas sempurna'.
Dengan hati berbunga-bunga Ferry melanjukan aktivitasnya. Dia berusaha menyelesaikan semua pekerjaan hari ini secepat mungkin agar dia pulang lebih awal sehingga bisa menelphon Lia sebelum dia terlelap karena perbedaan waktu yang cukup lama tujuh jam.
Di negara IND
Lia selesai kuliah dia langsung pulang seperti biasanya, hari ini rumah terasa lebih sepi karena tidak ada Mira. Hari ini dia nginep di apartemennya karena takut pulang terlalu malam tidak enak mengganggu penghuni rumah ku yang pasti sudah pada terlelap.
Entah alasan saja agar Mira dan Rendy bisa menghabiskan sepanjang malam bersama atau memang seperti itu alasan yang sebenarnya, Lia tak mau ambil pusing.
Setelah makan malam Lia langsung naik ke atas menuju kamarnya mencari ponselnya untuk mengecek apa ada pesan dari suaminya atau tidak? ternyata zonk, tak ada satu pun pesan dari Ferry. sudah tiga hari ini Ferry mengabaikan Lia, membuat hati Lia kembali gundah gulana. Ingin menelpon duluan tapi Lia gengsi karena kemarin dia sedang ngambek dan tak mau membalas satu pun pesan dari Ferry, kini Lia sangat menyesal melakukan hal bodoh itu. Apa gunanya ngambek saat berjauhan seperti ini akhirnya malah dicuekin balik.
Untuk membunuh rasa sepi dan gundahnya akhirnya Lia menyibukan dirinya mendesign pakaian laki-laki dengan model prianya Ferry namun Lia memasangkan topeng pada bagian mata dan hidungnya sehingga tidak ada yang tau kalau pria yang dia jadikan model adalah suaminya.
Begitu selesai Lia langsung mempostingnya di group para design dengan caption "Slamanya Jadi Cahaya Hidup ku".
Dalam hitungan detik saja postingan design Lia sudah ramai dikomentari para designer yang tergabung dalam group.
"Designer Lia, kamu sudah punya kekasih ya? owh aku akan patah hati, aku begitu memuja mu" -Novri-
"Wah, Designer Lia kamu pindah aliran?" -Lulu-
"Ku rasa design Lia sedang merindukan seseorang" -Jerry-
"Jerry, sepertinya kamu tau banyak ya tentang designer Lia?" -Karenina-
"Tentu saja, aku ini salah satu fans berat designer Lia" -Jerry-
"Jerry awas ya kalau kamu berani menyukai designer Lia? Aku akan mengejar mu sampai keliang kubur" -Karenina-
"Kenapa? aku ini single bebas mau mendekati gadis mana saja? Apa urusannya dengan mu?" - Jerry-
"Beraninya kamu mengaku single, kamu anggap apa aku ini?" -Karenina-
"kamu jangan halu gitu deh nina, nanti aku salah paham menganggap serius ucapan mu bagaimana?" -Jerry-
__ADS_1
"Tuh kamu saja sudah memanggil nama kecil ku, masih bilang kita tidak ada hubungan?....ckckck" -Jerry-
"Kalau begitu kamu cepat lah datang ke apartemen ku nanti malam, kita rayakan hubungan kita" -Jerry-
"Kamu serius? aku datang" -Karenina-
"Aku tunggu" -Jerry-
"Kalian berdua menjijikan ngapain nyampah di postingan orang....ckckckck" -Melisa-
"Biasa lagi puber" -Lulu-
Aku tak membalas satu pun komentar mereka, aku hanya membacanya dan tertawa saat Jerry mulai sahut-sahutan dengan karenina seakan-akan mereja benar-benar sepasang ke kasih.
'Jika Jerry malam nanti benar-benar makan malam dengan Karenina di apartemennya, itu artinya suamiku tidak sibuk kan nanti malam' Bathin Lia mulai berharap Ferry menghubunginya malam ini.
'Tunggu disini lebih dulu tujuh jam, itu artinya disana saat ini masih jam satu siang' masih empat jam lagi jam kantor bubar. Itu artinya jam satu pagi disini Ferry baru sampai rumahnya...huuuftt'
'Pasti dia tidak akan menghubungi ku karena tau di sini sudah malam dan dia tau jam segitu aku pasti sudah terlelap biasanya'
Lia hanya bisa menarik nafas panjangnya kemudian mulai merapikan alat gambarnya dan membersihkan diri dikamar mandi lalu menggunakan skin care dan baju kemeja Ferry seperti tiga hari belakangan ini.
Siapa sangka saat Lia sudah bersiap untuk tidur ponselnya berdering, Dengan malas-malasan Lia mengambil ponselnya dari atas nakas dan betapa terkejutnya dia melihat nama "suamiku" tertera dilayar ponselnya.
Bukannya buru-buru diangkat Lia malah bangun dari tidurnya dan lompat-lompat kegirangan sampai akhirnya dering ponselnya berhenti, Lia baru sadar tingkah bodohnya tadi.
Kini dia menatap layar ponselnya berharap sang suami menelphon kembali tetapi sudah lima menit menunggu telphon dari Ferry tak juga masuk.
Sedangkan Ferry yang menatap cctv melihat tingkah konyol Lia, senyum-senyum sendiri dan sengaja tak langsung menelphon lagi mau melihat tingkah konyol apa lagi yang akan di buat wanita yang sangat dia rindukan.
Lia tidak pernah tau kalau Ferry memasang CCTV di seluruh rumahnya, itu sebabnya Ferry melarang Lia untuk tinggal di rumah mamanya, kalau mau mama saja yang menginap di rumah. Dan Lia pun menuruti saja semua ucapan suaminya.
'Iiihh...ini orang niat nelphon nggak sih? masa baru satu kali nggak diangkat udah nyerah...aagghhht" Lia mulai kesal kan merutuki kebodohannya sendiri karena bukan buru-buru angkat panggilan telphon dari Ferry malah joget-joget nggak jelas.
Dengan sedih Lia meletakan kembali ponselnya di atas nakas dan Lia kembali bersiap untuk tidur. Tapi bukan tidur Lia malah mengajak bicara bantal guling yang dipakai kan baju Ferry.
"Kamu nggak kangen aku ya? kenapa kamu nyuekin aku beberapa hari ini? Aku kangen kamu tau nggak sih" . Lia menciumi bantal guling yang mengenakan baju Ferry
__ADS_1
Melihat ulah Lia Ferry tersenyum kecut berharap dia berada disana dan dialah yang sedang diciumi istrinya bukan bantal guling....ckkck
Makasih ya Readers masih setia baca karya ku ini....ditunggu komen dan Likenya ya....semoga kalian nggak bosen ya.