
Usai mengobrol dengan mama aku merubah mode ponselku menjadi silent dengan getaran, karena aku mau mulai menonton drakor. Tapi tiba-tiba ponselku bergetar dan nama Mira yang tertera dilayar ponselku.
"Hallo seksi, ada apa malam-malam menelphone istri orang...hahahaaha" ucapanku langsung disembur omelan Mira.
"Kamu keterlaluan Lia, dari siang tadi tidak satu pun pesanku kamu balas. Dan sudah berkali-kali aku telphon pun kamu tidak angkat". Teriak Mira membuatku menjauhkan ponselku dari telinga.
"Maaf seksi, aku tidak sempat pegang ponsel...kamu nggak tau kan bagaimana susahnya aku menjinakan singa yang sedang cemburu itu, aku hampir mau mati karena deg-degan melihat tampangnya yang jutek dan ada aroma-aroma angker...hehehee" Jelasku sambil terkekeh berusaha mencairkan suasana hati Mira.
"Trus sekarang kalian sudah baik-baik saja? tidak dalam mode diam-diaman kan?" tanya Mira memastikan.
"Semua sudah kembali normal, si bule sudah tidak ngambek lagi...cuma aku takut kalau keluarga Rendy menuntut Ferry" ucapku mulai khawatir dengan nasib Ferry. "Owh iya gimna keadaan Rendy?".
"Setelah kedua tangannya dan kakinya dipatahin, bodyguard Ferry membawanya ke rumah sakit. Aku karena masih ada kuliah jadi tidak ikut mengantarnya ke rumah sakit, tapi begitu selesai kuliah aku ke rumah sakit yang tadi pak Herman infokan pada ku sebelum membawa Rendy. Sesuai perintah suami mu, Rendy tidak apa-apa hanya perlu pemulihan selama seminggu dia tidak bisa bergerak dari tempat tidur, itu info yang aku dapat dari dokter". Jelas Mira membuat mulutku ternganga tidak percaya ternyata benar dibikin patah tangan dan kakinya Rendy. "Malang benar nasib anak itu", bathinku saat mendengar cerita Mira.
"Trus kedua orang tuanya sudah tau Rendy di rumah sakit?" tanyaku mulai gelisah.
"Belum sepertinya, karena sampai saat ini aku belum melihat keluarga Rendy" ucapan Mira membuatku mengerutkan alis.
"Kamu masih di rumah sakit menemani Rendy?" tanyaku heran, melihat Mira peduli dengan Rendy padahal sebelumnya dia musuhan dan bertengkar terus.
__ADS_1
"Hehehehe....suami mu membayarku untuk menemani Rendy selama dia di rawat dan saat aku tidak ada jam kuliah?" Jelas Mira membuatku shock. "Apa rencana Ferry sebenarnya?" bathinku mulai mencoba menganalisa jalan pikiran suamiku. "Apa agar mereka dekat dan terjadi sesuatu" pikirku lalu buru-buru ku tepis sebelum semakin liar.
"Ferry membayar mu? jadi kamu akan menginap di rumah sakit?" tanyaku penasaran.
"iya nyonya Ghoucer betul sekali, saya akan slalu ada di rumah sakit saat tidak ada jam kuliah" ucap Mira penuh keyakinan.
"Berapa Ferry membayar mu sampai kamu mau diminta merawat Rendy?" tanyaku kepo melihat Mira begitu antusias merawat Rendy.
"hehehee....empat kali lipat kiriman bulanan dari orangtuaku" kekehnya saat menyebutkan uang yang dijanjikan suamiku.
"Wow, pantas saja kamu tidak menolaknya" ujarku saat membayangkan kerja seminggu dapat penghasilan dua ratus juta itu luar biasa. "boros betul bule ini" bathinku.
"kalau murah mana mau aku merawat cecunguk mulut ember kaya kaleng rombeng begini" ucap Mira mulai kesal mengingat harus merawat rivalnya, tak bisa ku bayangkan keributan yang akan sering terjadi di dalam kamar rumah sakit itu.
"Kamu tenang aja, suami mu sedah membayarku jadi aku pasti akan merawat dia dengan baik walau pun sebagian hatiku dongkol melakukannya" ujar Mira membuatku ingin tertawa tapi kutahan karena tak mau dianggap meledeknya.
"ya sudah tuh pasien mu memanggil...met jadi perawat ya seksi" ucapku sebelum mengakhiri obrolan dengan Mira karena terdengar Rendy memanggil Mira.
Semoga kejadian ini akan membuat dua sahabatku ini memiliki hubungan yang baik, karena kalau di suruh memilih diantara mereka berdua aku benar-benar tidak bisa memilih. Masing-masing sudah berhasil mengisi hari-hariku dengan sangat indah. Aku tidak ingin kehilangan dua sahabatku ini, walau apa yang Rendy lakukan tadi siang sudah melewati batas tapi aku nggak bisa sepenuhnya menyalahkan dia, karena memang benar sebelum Rendy meninggalkan negara IND dia pamit padaku untuk melanjutkan kuliah di ausy karena neneknya di negara IND sudah meninggal jadi papa dan mama nya meminta Rendy untuk pulang dan kuliah disana. Di memintaku menunggunya. Mana aku tau maksud dari permintaannya adalah untuk tidak menjalin hubungan dengan pria lain, karena selama bersahabat dengan Rendy aku tidak memiliki perasaan lebih selain perasaan untuk sayang dengan sahabat.
__ADS_1
"Sayang...hei are you oke?" Ferry mengelus-elus lengan ku membuatku sadar dari lamunan.
"iya sayang, ada apa?" tanyaku begitu sadar.
"Kamu melamunin apa sih, sampai iced cappucinnonya mencair gitu dianggurin...ckckckck" ucap Ferry sambil mengelap Meja yang sudah basah banyak genangan air dari embun yang dihasilkan es yang mencair.
"Itu tadi..." ucapku terjadi ragu untuk menceritakan sesuatu terkain Rendy, takut membangkitkan amarahnya lagi.
"Kenapa berhenti bicaranya?" tanya Ferry sambil menoleh ke arah ku selesai membersihkan meja dan memegang iced cappuccino yang sudah mencair Ferry memberi lapisan tissue pada bagian luar cupnya agar tidak menetes kemana-mana air embunnya baru memberikannya padaku.
"Terima kasih" ucapku dengan senyum manis
"kan aku sudah bilang aku tidak menerima ucapan terima kasih dalam bentuk kata-kata" ujar Ferry sambil menatapku dengan tatapan yang membuat bulu kuduk ku merinding.
"lalu kamu mau aku berterima kasih dengan cara apa suamiku?" tanyaku menantang Ferry.
"Ciuman boleh" jawab Ferry. Lalu aku pun mendaratkan ciuman di pipi.
"Bukan di pipi tapi disini" ucap Ferry sambil memegang bibirnya. "Ahh...ini mah dasar aja bule mesum" bathinku tapi tetap saja ku lakukan maunya si bule. Aku pun mengecup bibir suamiku sambil mengucapkan terima kasih. tapi Ferry tidak membiarkan itu hanya jadi sebuah kecupan, dia menuntut lebih. Jadilah kecupan itu jadi ciuman panas yang memabukan, membuatku tak sadar kalau Ferry sudah melucuti dressku serta braku membuat bagian atas tubuhku terekspos sempurna dalam posisi duduk, saat Ferry membaringkan tubuhku di atas sofa dan menarik turun dress ku hingga sisa pakaian dalam bagian bawahku saja yang melekat ditubuhku. Saat Ferry sedang melancarkan aksinya membuat tubuhku menggeliat kenikmatan ponsel Ferry berdering terus menerus tanpa jeda.
__ADS_1
"Sayang angkat lah dulu telphonnya, siapa tau penting? ucapku membuat Ferry bangkit dari atas tubuhku. aku pun bergegas mengenakan kembali underware dan juga dressku, karena kalau melihat raut wajahnya Ferry itu artinya Ferry tidak bisa melanjutkan bergumulan kami tadi. Sebenarnya aku juga enggan menghentikan pergulatan penuh hasrat yang memabukan dan membuat ketagihan akan kenikmatan syurga dunia. Cuma aku juga tidak mau menjadi penghalang kemajuan karier suamiku.
"Sayang, aku metting dulu. kamu kalau mengantuk tidurlah lebih dulu" ucapnya sebelum berlalu meninggalkan kamar, menuju ruang kerjanya tanpa menoleh padaku lagi.