Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Aset


__ADS_3

Dreet...Dreeeet...Dreeeet


Getar ponsel Ferry diatas nakas samping ranjang, "Yank, bangun bentar boleh?, aku mau ambil ponsel bentar" Ujar Ferry sambil mengangkat kepalaku dari lengannya. Lalu aku bangkit duduk dan mengambilkan ponsel Ferry karen terletak di atas nakas sebelah ranjang bagianku.


"Ada apa?, bukannya harusnya kamu dipesawat sekarang". ucapnya begitu menggeser icon hijau.


"Oh, yang menelphon ternyata Jerry, asistennya..kirain siapa?" Bathin ku sambil nguping.


"Oke aku akan cek emailnya....ingatkan aku lagi besok 10 menit sebelum rapat di mulai...


Ada lagi?,,,baiklah kalo begitu cukup jangan ganggu aku lagi jika tidak ada yga urgent". ucap Ferry sambil mengakhiri pembicaraan.


"Sayang, aku boleh tanya sesuatu?" ucap ku ragu-ragu.


"Boleh, apa yang mau kamu tanyakan?" jawab Ferry sambil berbaring meletakan kepalanya diatas bantal yang kuletakan diatas pahaku menyanggah biar selimut tidak kemana-mana karena aku masih polos.


"Jerry itu orang sama orang ini sama nggak?" tanyaku sambil menunjukan akun Jerry dalam club deaigner.


"Kenapa memangnya kamu tanya hal ini?, apa dia mengganggu mu?". ucap Ferry mengerutkan alisnya.


"Bukan itu, harusnya aku kemarin janjian denganya untuk transaksi jual hasil karya design gaun malam couple gitu dengan harga yang sudah kami sepakati...tapi karena acara pindahan dan akad nikah aku kelupaan, cuma anehnya dia juga tidak menghubungi aku dan juga tidak online" jelasku yang hanya mendapat anggukan dari Ferry.


"Sayang, kami denger aku nggak sih?", gerutuku karena Ferry nggak respon.


"Denger koq", jawab Ferry males-malesan.

__ADS_1


"Jadi mereka orang yang sama bukan?", cecarku pada Ferry.


"iya sama" jawabnya


"Tuh kan, sudah ku duga...soalnya aku curiga koq kamu nyarani aku naekin harga dia oke aja padahal harganya aku naikin tiga kali lipat" ujarku bersemangat.


"Sekarang designnya mana?, sini biar aku yang bayar". ucap Ferry sambil menguruhkan tangannya meminta hasil design ku.


"Tidak jadi ku jual" ucapku sambil mendengus kesal


"Ternyata semua memang ulah mu....hufffttt,,,dasar bule tengiiiiiil". ucapku sambil mencubiti lengat dan perut Ferry.


"Ampun yank ampun, ini beneran sakitnya" ujar Ferry sambi menagkap kedua tangan ku dan merengkuhku dalam pelukannya.


"Done, udah ya sayang. Sekarang design mu itu sudah jadi milik ku. Lalu Ferry bangkit dan mengambil boxer dilantai kemudian memakainya dan berjalan ke arah meja kerjanya mengambil sebuah map berwarna hijau. "Apa lagi sekarang?" bathinku.


"Sekarang kamu harus tanda tangani akta jual beli design mu padaku".ujar Ferry sambil menyerahkan berkas itu dan juga pulpen. Aku benar-benar nggak percaya dia ngelakuin ini. "Emang dia pikir gw bakalan kabur gitu bawa itu design...ckckk" gumamku dalam hati sambil geleng-geleng nggak percaya sama kelakukan suamiku ini. Tapi biar begitu aku tetap menanda tanganinya.


"Nah kalau begini kan sudah jelas semuanya secara hukum", ujar Ferry.


"Emang harus banget kaya gitu?" celetuk ku


"Tentu saja sayang biar sama-sama enak dan nggak ada ganjelan nantinya di hati". ucap Ferry sambil meletakan kembali map itu di meja kerjanya. Baru kemudian kembali naek keatasa ranjang.


"Sayang kamu sebenernya seberapa kaya sih?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Ini kamu nanya assetku diluar warisan dari papa, apa semuanya?" tanya Ferry padaku membuatku glagapan bingung mau jawab apa.


"Yang kamu miliki bukan yang papa mu miliki", ujarku.


"Kesinilah mendekat padaku", Pinta Ferry dan aku pun menggeser tubuhku kesisinya. Tapi malah merangkulku sehingga wajahku tenggelam di dadanya.


"Dengar baik-baik asset suami mu ini", ucap Ferry sambil menunjukan ponselnya padaku. Dia mulai membacakan asset-asset yang di milikinya, dia memiliki banyak saham di bidang perhotelan hampir diseluruh negara yang sering dia kunjungi, karena awalnya dia itu ingin punya satu kamar privasi yang hanya akan ditempati olehnya saja. tidak disewakan pada pengunjung.


Termasuk hotel yang sedang kami gunakan, Ferry memiliki saham 10% memang tidak besar tapi dari tujuh hotel di tujuh negara yang Ferry memiliki penghasilan tahunan 16,5 milyar. Bukan hanya itu Ferry memiliki dua buah unit apartemen dan sebuah rumah di negara A. Dan itu cukup membuatku menganga karena shock mendengar kenyataan suamiku sudah orang tuanya kaya raya dia sendiri punya kekayaan diluar kekayaan orang tuanya diusia yang lebih muda dariku dua tahun. "Dia orang atau bukan?".


"Tidak usah heran dari kecil aku didik papi dengan cara tidak biasa, otak ku memang sudah di setting untuk bisa menghasilkan uang, sehingga dari aku masih di high school aku sudah mulai belajar jual beli saham sampai aku mengerti saham apa yang akan menjadi aset berguna untuk ku menghasilkan uang. maka jadilah aku seperti saat ini" jelas Ferry sambil mengendikan bahu.


"Haacchhhuuuhhh.....haaachhuuuh" tiba-tiba aku bersin-bersin. Ferry langsung bangkit mengambil dress dan underware ku yang berserakan dilantai.


"Pakai baju mu sayang" ucap Ferry sambil memberikan pakaian ku. Lalu ngeloyor keluar, dan aku pun mengenakan pakaian ku.


"Sayang minum ini" ucap Ferry sambil menyodorkan segelas air.


"Apa ini?" tanyaku dengan alis mengkerut melihat air agak mutek disodorkan ke depan wajahku.


"Air jahe plus madu, minum lah biar kam tidak demam". jelas Ferry sambil duduk disisiku karen gelas itu tak juga ku ambil.


"Sayang, jangan sampai aku yang minumin air jahe ini ke mulut mu" ancam Ferry dengan wajah kutub esnya, membuat bulu kuduk ku meremang ngeri, terpaksa aku minum karena matanya tak berkedip sedikit ku sampai ku tenggang habis minuman itu baru dia mengambil gelasnya dan membawanya keluar dari kamar lagi. "Dasar ditaktor, suami super tengil, beruang kutub" , maki ku kesal diintimidasi si bule tengil. Umurnya dia boleh lebih muda tapi dia benar-benar jago sekali mengintimidasi orang hanya dengan tatapannya, benar-benar mengerikan pantas saja dia sukses dan banyak asetnya...ckckckk. Nampaknya papinya benar akan sulit ditaklukan, "PR banget nih" gumamku dalam hati sambil menghela nafas panjang.


Ferry yang sudah kembali dari mini kitchen langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang dan menarik tubuhku agar bisa dia posisikan dengan nyaman dalam dekapannya. "Gila nih bule, nggak ada rasa bersalahnya banget sama bini udah bersikap arogan maksain kehendak, ya walau itu baik untuk ku tetap saja harusnya dia tau dunk, aku tuh nggak suka digituin". Gerutuku dalam hati. Tak lama malah ku dengar dengkuran halusnya, sampai aku mendongakan kepala melihat kedua manik mata si bule yang terpejam. "Dia malah udah pulus...ckckck"...gumamku pelan. Lama kelamaan aku pun ikut tertidur pulas dalam pelukan suamiku.

__ADS_1


__ADS_2