Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Semua Pemberian mu


__ADS_3

"kita bahas ini nanti ya sayang, sekarang kita bahas yang lebih penting dulu". ujar Ferry


"Apa yang lebih penting?" gumam ku


"Kita harus merubah rencana awal mu di Negara A, yang semula kamu akan jadi baby sitter dari anak teman om Bram". ucap Ferry to the poin.


"Tapi kenapa?" tanyaku merasa aneh dengan perubahan tiba-tiba.


"Karena Papi tau kita sudah resmi menikah, aku khawatir kalau kamu jauh dariku dan kita tinggal terpisah saat di Negara A, papi akan melakukan sesuatu pada mu untuk memisahkan kita". Ujar Ferry dengan wajah muram.


"Bagaimana bisa papi tau soal pernikahan kita?, bukan kah waktu itu kamu bilang Jerry sudah melakukan sesuatu untuk mengaburkan informasi perihal pernikahan kita?" tanyaku bingung.


"Karena mami, kedatangan mami kesini tercium papi, sehingga papi melakukan penyelidikkan tentang kita" ujar Ferry sambil menghela nafas panjang.


"Secepat itu papi tau?, padahal baru tadi siang kejadiannya....ckckckk". gumamku dalam hati kagum. "Bener-bener sulthan, selama ada duit informasi apapun yang dibutuhkan segera di dapatkan". bathinku.


"Sayang, apa alasan papi menolak ku menjadi menantunya?, apa karena status ku yang tidak sekaya keluarga mu?, atau karena usia ku yang lebih tua dari mu?". tanyaku tiba-tiba kerena penasaran.


"Bukan sayang, papi nggak mau aku nikah di usia muda, terlalu banyak planing papi untuk ku dan dia takut keberadaan mu sebagai istriku hanya akan menghalangi masa depanku". Jelas Ferry


"Yakin hanya karena itu?" ucapku tak percaya dengan penjelasan Ferry.


"Iya sayangku, papi sendiri yang mengatakannya saat aku minta izin menikahi mu, tapi papi menolaknya mentah-mentah dengan rentetan alasan. Aku sudah berusaha menjelaskan tapi papi tetap pada pendiriannya. Itu sebabnya aku memaksa mu menikah dengan ku secepatnya walau tanpa restu papi. Aku takut setelah tau jati diri mu papi akan melakukan sesuatu pada mu karena amarahnya padaku". jelas Ferry


"Terus apa yang mau kamu lakukan sekarang?". tanyaku sambil menangkup wajah suamiku agar menatapku.

__ADS_1


"Kita harus ketemu papi, meminta restunya baik-baik...mungkin akan sulit mendapat restunya tapi bukan tidak mungkin,,,solusi paling cepat agar mendapat restunya ya dengan kamu hamil anak ku". Ucap Ferry sambil tersenyum mesum.


"Sayang, aku belum siap hamil saat ini...kuliah ku benar-benar akan terganggu kalau sampai aku hamil". "Jangan minta aku hamil, please" mohonku sambil melipat kedua tanganku dengan wajah minta banget dikasihani.


"Iya, aku nggak akan pernah memaksa mu untuk hamil, semuanya ku serahkan pada mu saja, kapan kamu siap dan bersedia hamil anak ku" ucap Ferry dengan raut wajah tak bisa ku baca.


"Berarti aku harus mengabari om Bram prihal pembatalan aku menjadi baby sitter anak temannya" ucapku yang langsung mendapat gelengan kepala Ferry, membuat alisku mengerut bingung.


"tidak perlu yank, semua itu dari awal aku yang merencanakannya", ujar Ferry membuat mataku melotot kaget tak percaya dengan apa yang ku dengar.


"Maksudnya?" tanyaku bingung.


"Sebelumnya aku minta maaf ya sayang, aku nggak bermaksud membohongi mu selama ini, Hanya saja jika aku langsung datang pada mu menawarkan bantuan aku tidak yakin kamu akan menerima niat baik ku. Jadi dari sejak perusahan papa mu mengalami masalah keuangan beberapa bulan lalu, aku meminta Jerry membawa ku bertemu dengan om Bram, aku meminta bantuannya untuk membelikan mu rumah beserta isinya dan juga mobil dan juga sejumlah uang di bank dengan rekening atas namamu. Aku minta om Bram untuk tidak memberi tahukan identitasku pada mu". Jelas Ferry membuat mulut ku ternganga tak percaya.


"Semua pemberian mu?" gumamku yang terdengar Ferry.


"Bagaimana kamu tau perusahan papa mengalami masalah keuangan?" tanyaku bingung karena aku memang tidak mengerti sama sekali soal menjalankan perusahaan.


"Nilai saham perusahan papa mu terus anjlok perlahan, beberapa bulan terakhir makin parah turunnya, lalu aku minta Jerry menyelidikinya ternyata ada arus kas perusahan keluar terus tanpa progres dan dana segar masuk...Firasatku tidak lama lagi perusahaan papa mu akan collapse, ku lihat asset milik papa mu akan kena sita semuanya dan itu berbahaya untuk mu. Maka aku melakukan semua hal itu untuk membackup mu agar tidak jatuh terpuruk, karena aku nggak sanggup melihat mu menderita". mendengar cerita Ferry air mataku tak bisa lagi ku tahan, buliran bening itu sudah berjatuhan.


"Ternyata dia yang melindungi ku selama ini, Ya Tuhan terima kasih Engkau mengirimkan malaikat tak bersayap MU untuk melindungiku, bahkan malaikat itu sekarang tlah menjadi suamiku". bathinku penuh rasa syukur sambil menatap wajah tampan suamiku.


"Sayang, jangan nangis dong. Aku nggak kuat liat kamu nangis gini" ucap Ferry sambil mengusap butiran bening yang mengalir di pipiku. Aku tak mampu lagi berkata-kata, langsung berhambur ke dalam pelukan suamiku tangisku pun semakin menjadi.


"Sayang udah dong nangisnya, nanti matamu bengkak kaya panda, lagian ceritaku belum selesai masa kamu udah nangis aja...ckckck" ucap nya berusaha menghiburku sambil mengelus punggungku. Aku berusaha keras menghentikan air mata ini karena aku masih mau mendengar kelanjutan cerita suamiku.

__ADS_1


"Masih ada lagi?" ucapku sambil mendongakan kepala menatap wajah suamiku dengan wajah polos penuh air mata.


"Masih yank, cerita ku belum selesai. Jadi berhentilah menangis!", pinta Ferry padaku.


"Lanjutkan lah aku mau mendengar semuanya" ucapku masih dalam pelukan Ferry.


"Karena aku tidak yakin uang dalam rekening yang ku berikan cukup untuk membiayai hidup mu, mama dan juga Bimo, sedangkan aku tak mungkin mentransfer sejumlah uang lagi dalam rekening mu maka aku minta tolong lagi pada om Bram untuk menawari mu pekerjaan di Negara A sebagai baby sitter, karena aku yakin kamu akan mengambil kesempatan ini, sekaligus menerima beasiswa dari perusahaan ku" Jelas Ferry membuatku makin kagum pada bule tengil yang berstatus suamiku.


"kenapa kamu bisa yakin aku akan menerimanya?" tanyaku tak percaya Ferry bisa merencanakan semuanya dengan begitu sempurna hingga aku tak memiliki celah untuk mencurigai semua hal yang terjadi.


"Jelas saja aku yakin akan setiap tindakanku, suami mu ini memiliki tingkat kecerdasan diatas rata-rata" ucapnya jumawa. "Aku semakin yakin kamu akan menerimanya saat Jerry memberi tahu ku kalau kamu mulai masuk group kumpulan designer bahkan menjual karya mu disana. Itu artinya kamu memang membutuhkan banyak uang dan sama tak yakinnya dengan ku kalau uang di rekening itu cukup untuk biaya perawatan papa, kuliah mu, biaya hidup mama dan juga kuliah Bimo yang ingin masuk fakultas kedokteran". Lanjut Ferry membuatku takjub dengan prediksinya.


"Bagaimana bisa kamu membaca pikiranku?, kamu bukan dukun kan?" gumamku yang sontak membuat si bule terkekeh dan mengetuk jidatku.


"Hahahaaha,,sayang kamu hidup di zaman serba canggih gini masih aja percaya dukun". Suasana haru itu kini mulai kembali hangat karena derai tawa kami karena celetukan-celutakan unfaedah dari ku.


"Jadi semua yang terjadi sebulan terakhir ini dalam hidupku semua rencana mu?" tanyaku penasaran.


"Tidak semua, hanya soal yang terkait dengan keuangan saja...selebihnya normal kehidupan mu" jelas Ferry.


"Soal berita tentang papa bangkrut yang tiba-tiba beritanya tenggelam hingga aku bisa tetap menjalankan kehidupan ku dengan normal, apa itu kamu juga yang melakukannya?" tanyaku penasaran, yang dijawab dengan anggukan.


"Sayang, makasih ya sudah begitu menjagaku bahkan disaat kita belum memiliki ikantan apa-apa". ucapku dengan senyum mengembang.


"Kamu mungkin tidak pernah sadar kalau dari dulu kamu juga mencintaiku, buktinya sampai sekarang tak ada satu pria pun yang mampu menaklukan hati mu kecuali aku, kamu begitu menjaga dirimu hanya untuk ku. bahkan kamu melukis sketsa wajahku tanpa sadar, itu artinya kamu mencintaiku tanpa kamu sadari". Ucap Ferry kepedean.

__ADS_1


"Aku memang tidak suka pria-pria kaya yang mengandalkan harta orang tuanya tapi kemampuan dirinya nol besar cuma modal uang dan tampang untuk mendekati gadis-gadis dan merenggut kehormatannya...jadi kamu jangan kepedean" Jelasku sambil menjulurkan lidah. Membuat Ferry mencubit hidungku.


__ADS_2